
Keesokan harinya, sebelum pergi berangkat kerja Salwa menyempatkan diri dulu untuk memilah-milah dan mengelompokan pakaian kotor yang akan dicuci. Kegiatan memisahkan pakaian yang putih dengan berwarna, ataupun yang harus ia cuci dengan tangan memang sudah jadi kebiasaan Salwa. Terlebih lagi, Salwa suka tak tega jika harus membiarkan mbok Darmi yang sudah bersedia mencuci pakaian, masih harus repot-repot memilah-milah antara pakaian putih dengan yang berwarna yang akan dicuci. Akhirnya ia pun memilih untuk memisahkan mana yang harus dicuci dengan mesin mana yang manual. Karena untuk scraft dan perintilan kecil Salwa memang memilih untuk mencucinya sendiri dengan tangan.
"Nah, udah deh!" Salwa pun mengangkat keranjang cucian tersebut. Tapi tidak sengaja kemeja Arga yang baru dipakainnya kemarin terjatuh, alhasil Salwa pun harus meletakkan kembali keranjangnya dan memungut kemejanya dari lantai. Tapi, saat Salwa memungut kemeja itu, tanpa sengaja Salwa mencium aroma parfum di kemeja suaminya itu. "Kok baunya kaya campuran parfum cewek?" Ucap Salwa kemudian kembali menghidu aroma kemeja itu lagi. "Bener, ini bau parfum Arga bercampur parfum perempuan!" Salwa pun tiba-tiba jadi gusar karenanya. Pikirannya pun mulai depenuhi pertanyaan-pertanyaan negatif. "Apa jangan-jangan bener, kalau kemarin malem itu Arga nggak meeting dan malah..." Salwa jelas sekali merasa cemas dan panik, ia tidak mau meneruskan sangkaannya tersebut. Ia pun memilih untuk segera melempar kembali kemeja itu ke keranjang cucian dan memilih untuk segera pergi.
**
Di ruangannya, Arga membuka laci mejanya. Ia mengambil sebuah kotak yang berisi dasi berwarna maroon hadiah yang diberikan oleh Mayang kemarin. Arga mengeluarkan dasi itu dari kotaknya, lalu memandanginya dengan seksama. "Bagus, tapi gue masih penasaran apa maksud Mayang kasih hadiah ini sama gue. Apa jangan-jangan yang dibilang Irsyad itu bener, kalo sebenernya Mayang lagi kasih kode ke gue buat balikan lagi?" Arga mengusap-usap dagunya. "Tapi kalaupun iya, kakek Tamin kan juga beberapa hari lalu jodohin gue sama Mayang. Apa mungkin ini pertanda kalo gue harus balikan sama Mayang?" Seketika pikiran Arga jadi semrawut, kala dirinya ingat Salwa.
Meski diketahui oleh orang lain Salwa adalah sepupu Arga, namun pada kenyataannya gadis itu adalah istri sah Arga. "Tapi gimana mungkin, sedangkan gue aja udah nikah secara sah sama Salwa!" Arga pun jadi bingung sendiri saat itu memikirkan itu semua.
**
Di kafe, Salwa yang agak sedikit santai tampak datang menghampiri Nina yang sudah hampir selesai jam tugasnya, maklum saja Nina memang masih magang di kafe ini. Saat itu Salwa iseng saja membuka ibrolan, menanyakan soal kakak ipar Nina yang katanya baru datang kemarin dari kampung. "Jadi gimana terusnya kakak ipar kamu Nin?"
"Udah kok mbak, jadi kemarin saya sama ayah saya yang jemput di bandara. Sekarang kakak ipar saya di rumah saya sekalian nunggu abang saya pulang dinas dari tasik," jelas Nina.
"Oh gitu. Trus, jadinya kamu sama kakak ipar kamu kemarin udah sempet jalan-jalan belum?"
"Belum lah Mbak, tapi untungnya kemarin pas sore sampe malem, aku sempet ajak dua ponakan aku buat jalan-jalan ke mall,"
"Oh..."
"Eh iya mbak, tau nggak?" Ucap Nina dengan nada dan ekspresi yang sangat antusias
"Eh, kenapa?" Salwa pun jadi ikutan antusias dan penasaran dengan apa yang akan diucapkan Nina.
"Jadi kemarin malem itu di mall aku ketemu sama Pak Arganatha Yudhistira. Sepupu mbak Salwa yang ganteng itu."
Salwa langsung terkesiap dan memicingkan matanya, ia belum yakin dengan perkataan Nina barusan. "Masa sih? Kamu salah oranga kali."
"Ih nggak mungkin, orang aku lihat langsung pas depan orangnya kok! Dan, yang paling bikin aku shock banget adalahー"
"Adalah apa?" Salwa semakin dibuat penasaran dengan cerita Nina.
"Jadi kemarin aku lihat pak Arganatha ituー" Nina menceritakan kalau kemarin di mall Arga sedang bersama seorang perempuan.
__ADS_1
"Tunggu! Tapi kok kamu bisa tau Arga sama cewek?"
"Yaiyalah tau, orang kemarin nggak sengaja dua ponakan saya numpahin minuman ke baju ceweknya pak Arga! Ya mau nggak mau saya harus minta maaf deh sama si lampir itu!" Terang Nina dengan nada kesal.
"Lampir apa, kok kamu bilang lampir?"
Nina pun menceritakan dengan detail kejadian kemarin di mall, dimana ponakannya menumpahkan minuman ke baju perempuan yang jalan bersama Arga, dan perempuan itu tidak lain adalah perempuan yang sama yang pernah marah-marah di kafe ini beberapa waktu lalu. "Pokoknya tuh cewek parah banget deh mbak, ih amit-amit judesnya. Saya aja heran kok bisa pak Arga suka cewek model gitu! Ya dia sih emag bisa dibilang cantik, tapiー" Nina bergidik geli. "Amit-amit judesnya kaya mak lampir serem!"
Sementara itu, Salwa hanya terdiam dan tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Yang jelas hatinya kini terasa nyeri tiba-tiba setelah mendengar cerita dari Nina.
Jadi bener yang aku pikirkan, ternyata dia beneran bohong kemarin? Dan bau parfum perempuan di kemeja Arga, itu parfum Mayang? Tapi kenapaー kenapa aku ngerasa kecewa banget pas tahu dia bohong, padahal kan aku cuma istri secara hukum, tapi bukan istri sesungguhnya. Kenapa?
"Mbak Salwa? Hei!" Nina menepuk Salwa yang terlihat termenung dengan tatapan sendu.
"Eh iya Nin, ada apa?"
"Mbak Salwa kenapa sih, kok jadi diem gitu? Mbak Salwa sebagai sepupu ikutan shock ya denger cerita saya?"
"Oh, ituー emー nggak juga sih! Eh yaudah aku balik ke ruangan dulu ya." Salwa yang tidak mau suasana hatinya terlihat oleh Nina pun bergegas ke ruangannya untuk menenangkan perasaannya kini yang tengah kalut.
**
Tiba-tiba Arga yang baru pulang pun ke dapur untuk minum. Salwa sendiri tidak sadar hal itu karena bengong. Arga yang melihat sang istri yang justru malah bengong sambil memutar-mutar mie dengan garpu pun sontak bertanya, " Kamu tuh kalo lagi makan ya makan! Jangan malah bengong dan di diemin aja mie-nya, tuh lihat jadi ngembang gitu mie-nya!".
Baru sadar dengan kehadiran Arga, Salwa pun langsung melihat mienya yang memang sudah mengembang. "Ya Tuhan, aku lupa!" ujar Salwa yang langsung melepas garpunya.
"Dasar! Makanya kalo makan jangan bengong! Mikirin apa sih?!" Kata Arga yang baru selesai minum.
"Eh, Arga!" Kata Salwa memanggil Arga yang baru saja mau melangkah pergi.
"Apa?"
"Boleh aku tanya sama kamu?"
Arga mengangkat sebelah alisnya. "Tanya aja, emang mau nanya apa sih! Kayak serius banget."
__ADS_1
"Aku mau nanya, sebenernya alesan kamu meeting kemarin itu bohong kan?"
Bak dihantam karang besar, Arga pun langsung kaget mendengar ucapan Salwa barusan. "Tunggu, maksud kamu apa tanya gitu? Kamu nuduh aku bohong?" Arga masih Berkelit dengan percaya diri.
"Aku nggak nuduh aku cuma nanya, dan kalau pun itu bener juga akuー"
"Kamu kenapa bisa bilang gitu? Oh... ya... kamu mata-matain aku, iya?" Arga sedang berusaha agar dirinya tidak terpojok oleh pertanyaan Salwa, meski nyatanya yang dikatakan Salwa memang benar adanya.
Salwa tersenyum hambar. "Kalo kamu nggak bohong santai aja kali."
"Kamuー"
"Lagian, aku tegasin sekali lagi. Aku kan cuma nanya, kamu mau jawab syukur enggak yaudah. Tapi aku rasa kamu nggak perlu jawab, karena dari cara kamu ngomong aja udah ngejawab semuanya kok."
"Apa maksud kamu?" Arga tampak marah dan tersinggung.
Sekali lagi Salwa hanya mengulum senyum hambar. "Aku nggak ada maksud apa-apa, aku cuma mau mastiin aja, karena kemarin nggak sengaja Irsyad telepon dan bilang ke aku kalau hari itu sama sekali nggak ada meeting. Tapiー aku pikr bisa aja kamu meeting sama klien sendiri, iya kan?" Salwa menatap Arga yang jelas sekali sudah hampir skakmat dibuatnya.
Arga menyeringai licik. "Oh, jadi mata-mata kamu itu Irsyad ya? Wow, kayaknya Irsyad emang udah sebucin itu ya sama kamu, hebat!" Ucap Arga yang malah mencoba berbalik menyerang Salwa.
"Oh aku sih nggak hebat, justru kamu yang hebat. Aku salut aja sih sama orang yang bisa ngelakuin apapun yang dia mau, tanpa orang lain tahu. Iya kan, Bos Arganatha Yudhistira?"
Arga mendengus dan tergelak meremehkan. "Kamu mau mojokin aku, karena kamu nggak terima aku kemarin nggak dateng kan?"
Salwa hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum hambar. "Yaudah terserah kamu aja, intinya aku cuma mau nanya soal itu. Kalau kamu nggak mau jawab ya itu urusan kamu."
"Mau kemana kamu?" Tanya Arga melihat Salwa yang terlihat ingin melangkah meninggalkan dapur.
"Ke kamar, kan udah nggak ada yang perlu dibahas lagi. Oh iya satu lagi, tadi pas aku misahin cucian, nggak sengaja kecium bau parfum yang nempel di kemeja kamu kemarin, sekilas mirip bau parfumnya Mayang. Oh tapi sekali lagi itu bukan urusan aku, aku cuma bilang ke kamu aja," ujar Salwa yang kemudian pergi. Arga sendiri hanya bisa mengatupkan gerahamnya dan menahan emosi. "Ternyata gue ketahuan juga ya pada akhirnya? Sial!"
🌹🌹🌹
Like, vote, comment!
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
__ADS_1
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)