Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 35


__ADS_3

Suara bel apartemen Arga berbunyi. Sepertinya dokter Sadam sudah datang? Arga pun bergegas untuk membukakan pintu. "Salwa aku buka pintu dulu ya," ucap Arga pada Salwa yang tengah terbaring pingsan. ia pun pergi membuka pintu.


"Ah, dokter akhirnya dateng juga!" Arga langsung segera meminta dokter masuk setelah mengetahui dokter pribadinya itu sudah datang. "Sini Dok, ke kamar saya."


"Loh, bukan kamu yang sakit?"


"Bukan!"


"Trus siapa?"


"Udah nanti dokter juga lihat sendiri!" Arga sampai menarik tangan dokter Sadam ke kamarnya.


"Itu dok yang sakit."


"Perempuan?" Dokter Sadam agak tak percaya melihat ada perempuan di kamar Arga. Karena baginya, ini untuk pertama kali dokter Sadam dipanggil oleh Arga, tapi bukan untuk mengobatinya.


"Cepet dok, periksa istri saya!" Ujar Arga, yang sepertinya tidak sadar kalau telah mengatakan Salwa sebagai istrinya. Dalam hati dokter Sadam dia pun merasa terkejut mendengar perkataan Arga barusan. Tapi karena tugas utamannya adalah memeriksa pasien, sang dokter pun langsung mengabaikan perkataan Arga dan berjalan ke arah Salwa untuk memeriksanya. Dokter Sadam mengeluarkan stetoskopnya memeriksa denyut jantung, tekanan darah Salwa dan suhu tubuhnya secara berkala. Arga yang berdiri didekatnya pun, tanpa melengos terus memperhatikan Salwa sambil berharap agar gadis itu segera sadar.


"Gimana dok, dia sakit apa?" Arga terlihat sangat ingin tahu hasil pemeriksaan yang dokter lakukan pada Salwa.


Dokter Sadam menepuk pundak Arga. "Kamu tenang aja, istri kamu... dia cuma pingsan karena kurang asupan makanan dan cairan aja kok! Tapi tadi saya udah kasih suntikan vitamin. Jadi nanti kalau dia udah sadar, tolong kamu kasih makan sama minum yang cukup aja."


Arga menghela napas, "Syukur deh!"


"Eh tapi Arga, saya mau nanya. Kamu kapan menikah sama anak cantik ini? Kok nggak bilang-bilang sama saya," ujar dokter Sadam.


Arga sampai mengerutkan dahi mendengar pertanyaan dokter Sadam. "Dokter tau darimana kalau saya udah nikah?"


"Loh, kan kamu sendiri tadi yang bilang dia istri kamu. Masa kamu lupa?"


Sialan, gue tadi panik sampe keceplosan nyebut Salwa istri gue di depan dokter Sadam. Tapi kan emang istri gue sih! Arga pun langsung kikuk dan salah tingkah dibuatnya."Emー iya dok, Salwa istri saya, kita nikah belom ada sebulan yang lalu."


Dokter tersenyum penuh arti, lalu lagi-lagi menepuk pundak Arga. "Jadi, kamu udah bisa setia sama satu perempuan sekarang?"


"Eh, dokter becanda! Saya kan dari dulu setia, cuma emang saya suka aja nguji banyak cewek!" Arga menanggapi dengan guyon ucapan dokter yang usianya hampir sebaya dengan orang tuanya itu.


Dokter Sadam hanya bisa menggelengkan kepala, "Arga... Arga... kamu itu. Eh tapi jujur istrimu cantik ya. Agak beda sama perempuan yang dokter pernah lihat sebelum-sebelumnya sama kamu."

__ADS_1


"Ah bisa aja si dokter! Tapi dok, ini kan udah malem. Mending dokter pulang gih. Dokter bawa supir kan?"


"Iya, iya. Saya juga mau pulang ini!" Ucap dokter Sadam yang sudah menenteng tasnya dan bersiap pulang.


Arga pun mengantar dokter pribadinya itu keluar apartemennya. "Sekali lagi makasih ya dok!"


"Iya, eh tapi kamu nanti jangan lupa kasih makan istrimu kalau udah sadar."


Arga mengangguk paham. "Siap dokter Sadam Fahrezi!"


"Yaudah saya pulang dulu!" Ucap sang dokter yang kemudian pergi.


**


Setelah dokter Sadam pulang, Arga langsung kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan Salwa setelah diperiksa dokter Sadam. "Ternyata belom sadar juga." Arga pun duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah cantik istrinya. Bibir merah dan bulu mata Salwa yang lentik tak bisa menahan Arga untuk tidak memujinya. "Ini cewek emang cantik sih... dan jujur aja, dibanding Salma dia lebih manis. Tapi... ya gitu deh, suka telmi dan bawelnya kaya beo jatinegara," terang Arga lalu tersenyum kecil. Arga tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Salwa. Entah kenapa Arga malah dibuat fokus dengan bibir merona Salwa, hingga membuat dirinya menelan ludah. Bak ada magnet yang menarik Arga untuk mendekati wajah sang istri yang belum sadar dari pingsannya. "Kenapa sih bibirnya gemesin banget, kan jadi pengen cium." Untungnya Arga ingat akan perjanjiannya, sehingga dirinya bisa langsung menarik diri untuk tidak melakukan hal tersebut. "Tapi diperjanjian gue kan kaga boleh sentuh dia tanpa izin. Ah tau gitu dulu nggak gue tulis poin yang itu," celoteh Arga menyesali."Eh tapi kalau pegang muka doang mah boleh kayaknya."


Arga pun mengulurkan telapak tangannya bermaksud menyentuh kening Salwa. Namun sayangnya, hal itu tidak jadi ia lakukan karena dirinya sudah keburu dibuat kaget oleh Salwa, yang tiba-tiba bergerak dan membuka mata. Arga pun langsung terbelalak saat melihat mata Salwa terbuka, hingga akhirnya membuat keduanya saling beradu pandang untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, Salwa langsung sadar dan mendorong Arga yang ia pikir mau berbuat yang aneh-aneh kepadanya. "Ih mau ngapain kamu!" Salwa langsung menarik selimutnya dan meringsek mundur menutupi dirinya dengan selimut rapat-rapat.


Arga seketika memasang tampang malas. "Udah sehat?" ucap Arga.


"Ngapain-ngapain! Kamu itu udah aku tolongin malah curiga sama aku. Bener-bener nggak punya akhlak!"


"Nolongin aku?" Salwa masih belum paham.


"Kan.... mulai telmi dan linglung lagi."


"Tunggu dulu, tadi aku kanー" Salwa mencoba mengingat kejadian sebelumnya.


"Udah inget?"


"Oh iya aku inget, tadi aku di dapur minum terus tiba-tiba aku lemes dan abis itu aku bangun udah disini."


Arga menghela napas panjang dan menatap Salwa dengan tatapan malas." Kamu itu tadi pingsan!"


"Pingsan?"


"Iya pingsan, untungnya ada aku jadi aku tolongin kamu dan aku gendong ke kamar aku."

__ADS_1


"Seriusan?" Salwa mencoba memastikan cerita Arga itu.


"Seriuslah, ngapain aku bohong sama kamu. Nggak ada faedahnya juga."


"Owh..."


"Owh doang lagi!"


"Ya kanー"


"Sstt..." Arga menyuruh Salwa diam. "Sekarang aku mau tanya, kamu nggak makan apa-apa kan sejak tadi?"


" Aku... "


"Jangan alesan, jawab aja iya atau enggak!" Arga terlihat sangat serius.


"I- iya," jawab Salwa pelan.


Arga bedecak kesal "Kenapa nggak makan? Keasyikan kerja, sampe lupa makan? Iya?"


Salwa tidak berani menatap suaminya itu karena ia tau Arga terlihat sedang marah padanya. "Salwa, jawab aku kalau aku nanya," tutur Arga pelan tapi penuh penekanan dalam kalimatnya.


"Akuー" Aku nggak mungkin bilang ke Arga, kalau aku tiba-tiba jadi males makan, karena lihat dia sama Mayang tadi di restoran.


"Salwa Natasha Adnan!" Seru Arga dengan keraz


"Um... Aku cumaー" Bibir Salwa terlihat gemetar, ia seperti mau menangis, matanya pun terlihat mulai berkaca-kaca.


Arga langsung menepuk keningnya, dan melunak. "Okey... oke, gausah dijawab, tapi please! Jangan nangis. Okey?"


🌹🌹🌹


Hai... Jangan lupa buat di VOTE LIKE DAN COMMENT ya...


Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :


LOVE PETAL FALLS (udah tamat)

__ADS_1


__ADS_2