
Di dalam mobil Arga yang tengah menyetir mobilnya, terus saja menceramahi Salwa disepanjang perjalanan terkait acara tadi. "Lagian ngapain coba kamu dateng, ini kan bukan acara reuni sekolah kamu!"
Karena terus saja disalahkan Salwa yang masih terlihat merasakan perih dikulitnya karena tersiram kuah panas pun hanya bisa menggerutu kesal. "Emangnya kenapa sih, kan aku bosen kalo dirumah doang."
Arga menoleh kesamping melihat Salwa yang bersungut-sungut sambil mengerucutkan bibirnya. Antara kesal tapi juga ingin tertawa melihat ekspresi istrinya saat ini. "Kamu itu, dikasih tau suaminya malah gerutu terus, tuh lihat bibir panjangnya dah kayak menara dubai," ledek Arga.
"Apaan sih nggak lucu tau!" Salwa tampak menahan perih luka melepuh ditangannya sambil sesekali meniupnya. Melihatnya hal itu, Arga jadi tidak tega dibuatnya.
Tiba-tiba Arga membelokan setir kemudinya.
"Loh, Ga kok kamu belok sih! Kan jalan ke apartemen kamu nggak lewat sini?" Salwa terheran-heran melihat sang suami yang kini malah melajukan mobilnya ke arah jalan yang sejatinya bukan membawa mereka menuju pulang.
"Udah deh kamu nggak usah cerewet, diem aja oke? Nggak capek apa jadi beo."
"Orang cuma nanya doang," Salwa bete, dirinya pun pada akhirnya hanya bisa pasrah memasang wajah masam sambil terus bersandar duduk tanpa menoleh ke arah suaminya itu.
*
Ternyata Arga membelokan mobilnya itu menuju ke salah satu rumah sakit. Salwa pun langsung keheranan dibuatnya. "Arga, kita ngapain ke sini?"
"Renang!" Sahut Arga yang kini tengah memarkirkan mobilnya.
"Ih aku serius!"
"Ya aku juga serius, lagian kamu tuh telminya udah sampe level apa sih? Masa kamu nggak mikir alasan orang.kalo kerumah sakit ngapain!" Arga pun tampak kesal sambil matikan mesin mobilnya.
Salwa baru sadar kalau, Arga membawanya kemari adalah untuk mengobati lukanya. Padahal dari awla Salwa berpikir lukanya tidak terlalu serius jadi tidak perlu ke rumah sakit.
"Ayok turun!" Arga yang sudah melepas sabuk pengamannya mengajak Salwa turun dari mobil. Dan akhirnya Salwa dan Arga pun turun dari mobil. Karena hari sudah gelap, dan udara semakin dingin. Salwa yang mengenakan gaun model sabrina pun merasa kedinginan bingga mengusap pundaknya. Lantas Arga yang sadar akan hal itu, langsung membuka blazernya dan memberikannya pada Salwa. "Nih pake!" Kata Arga. Namun karena respon Salwa yang lambat, akhirnya Arga sendiri yang langsung menutupi pundak sang istri dengan blazer miliknya itu.
"Ma- makasih ya," balas Salwa yang agaknya masih sungkan karena tidak menyangka Arga akan melakukan hal itu padanya.
"Iye, dah yuk masuk!" Arga dan Salwa akhirnya masuk ke dalam rumah sakit.
*
__ADS_1
Setelah ke tempat resepsionis, Salwa pun langsung ditangani oleh dokter. Di ruangannya, dokter teserbut memeriksa luka Salwa yang bisa dibilang lumayan agak besar. "Untungnya segera di siram air dingin jadi agak mengurangi efek melepuhnya," ungkap dokter yang kini memeriksa Salwa.
"Tuh, untung aku pinter cepat tanggap nyiram kamu pake air es! Coba kalo disana cuma ada Irsyad atau cowok lain, paling nggak kepikiran tuh mereka," ungkap Arga dengan hangganya.
"Idih, orang kok muji diri sendiri, aneh banget!" Sahut Salwa yang masih duduk sambil diperiksa oleh dokter.
"Ya biarin aja, orang kenyataannya emang begitu kok! Mau apa?"
Salwa memandang Arga dengan lirikan ilfil. "Dasar over proud sama diri sendiri."
"Biarin over proud sama diri sendiri, dari pada over telmi kayak kamu," ledek Arga.
"Huh, dasar mister narsis,"
"Bodo amat, dasar miss telmi!"
Keduanya malah saling melempar ejekan, dilain sisi dokter yang memeriksa Salwa malah justru jadi keki dan tidak tau harus apa selain menegur mereka. "Ehem! Mbaknya sama Masnya apa bisa tolong tenang dulu? Saya nggak bisa konsentrasi kalo mas sama mbak dari tadi ribut terus."
"Dia duluan tuh dok!" Sahut Salwa menyalahkan suaminya.
"Iya tapi kanー"
"Haduh stop!" ucap dokter yang bukannya tenang malah semakin terganggu dengan pasangan suami istri ini. "Gini aja, saran saya kalian terusin aja ributnya nanti di atas kasur berdua, sekarang saya mau ngobatin luka mbaknya dulu!"
Salwa seketika tertunduk malu, "kok jadi bawa-bawa kasur sih dok?"
"Udah dok jangan diladenin, obatin aja kalo perlu vaksin anti bawel dan telmi sekalian," seloroh Arga.
Salwa pun membalas Arga dengan mencebikkan bibirnya karena tidak mau berisik lagi kalau membalas dengan ucapan, sementara dokter mengobati lukanya.
**
Acara reuni akhirnya selesai, Irsyad memberi tumpangan pulang untuk Mayang yang tidak membawa mobil dikarenakan tadi datang bersama Arga. Di perjalanannya diantar pulang oleh Irsyad, tiba-tiba Mayang menanyakan satu hal pada temannya itu. "Irsyad!"
"Ya?"
__ADS_1
"Menurut kamu, ada yang aneh nggak sih sama cara Arga merlakuin Salwa?"
Irsyad pun langsung mengerutkan dahinya, "Makud lo gimana May?"
"Ya..., menurut gue Arga sama Salwa tuh kayak bukan sepupuan gitu."
"Trus menurut lo kayak apa?" Tanya Irsyad yang jadi penasaran dengan pandangan Mayang tentang Arga dan Salwa.
"Kalo menurut gueー Arga tuh terlalu lebay dan terlalu dalam aja gitu bereaksi dan cara ngelihatin Salwa. Padahal kalo sepupuan gue rasa terlalu berlebihan aja."
"Gitu ya, menurut lo..." Irsyad mengangguk-angggukan kepala sambil menyetir dan mencoba menelaah perkataan Mayang soal Arga dengan Salwa. Sebenernya, gue juga sempet beberapa kali ngerasa kalo cara Arga merlakuin Salwa tuh beda. Gue suka ngerasa kalo Arga natap Salwa itu bukan kayak sodara cowok ke sodara ceweknya, melainkan kayak tatapan laki-laki ke lawan jenisnya. Takut dirinya salah menerka, Irsyad pun membuang pemikiran itu. Tapi mengingat, Arga yang begitu marah saat melihat Salwa diganggu Tomi dan caranya khawatir pada Salwa, seolah makin menguatkan terkaan Irsyad. Ah tapi bisa aja karena guenya yang terlalu jeles sama makanya gue jadi kepikiran gitu. Irsyad mencoba untuk yakin dengan asusmsinya sendiri.
**
Setibanya Salwa dan Arga di apartemen setelah dari rumah sakit, Salwa yang tangannya kini diperban pun berniat untuk bersih-bersih dan istirahat. Tapi sebelum pergi ke kamarnya, gadis cantik itu ingin mengucapkan terima kasih pada suaminya karena sudah mau peduli padanya. "Umー Arga,"
"Hem?" Sahut Arga yang kini fokus mengecek pesan masuk di handphonenya.
"Arga...." panggilnya lagi dengan intonasi lebih panjang.
"Iya apaan?" Arga akhirnya melihat ke arah Salwa.
"Aku cuma mau bilang, makasih ya udah mau peduli sama aku, udah mau bawa aku ke rumah sakit dan bawa aku pulang." Dengan agak malu-malu Salwa mengucapkan hal itu pada sang suami yang kini menatapnya.
Arga pun berjalan mendekati Salwa. Alhasil Salwa pun jadi agak gerogi dan mencoba mundur menjauhinya tapi keburu kedua lengannya dipegangi oleh Arga. Dengan tatapan yang cukup hangat Arga pun berkata, "Nggak usah terima kasih, karena gimanapun, kamu itu tanggung jawab aku."
Salwa seolah tak bisa berkedip menatap Arga yang tiba-tiba bicara seperti itu, jantungnya pun seketika berdegup dengan cepatnya. Aduh kok deg-degan gini sih?
"Hayo... mikirin apa, mikirin aku ya?" bisik Arga dengan usilnya. Alhasil Salwa pun langsung jadi malu dan gelagapan dan menarik dirinya kebelakang. "Ih kamu apaan sih kaya gitu, nggak lucu tau! Huh nyebelin!" Salwa yang jadi bete pun langsung pergi meninggalkan Arga.
Sementara itu, Arga hanya bisa tertawa puas melihat polah Salwa yang kesal karna ulah dirinya yang memang sengaja menggodanya. "Dasar beo, diusilin gitu aja langsung bete."
🌹🌹🌹
Like, comment, vote...
__ADS_1