Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 27


__ADS_3

"Cie... Kayaknya... bakal ada yang CLBK nih? " goda Irsyad pada Mayang.


Mayang terlihat senang dan agak malu-malu mendengar ucapan Irsyad. "Apa sih lo, Irsyad," ujar Mayang sambil semyum-senyum girang.


"Tapi seneng kan lo gue gituin?"


"Apaan deh!" Meski protes namun Mayang terlihat senang sekali mendengar ledekan Irsyad tersebut. Apalagi melihat Arga yang dimata Mayang semakin memukau dirinya, bukan hal aneh jika Mayang menaruh harapan besar.


"Tapi May, gue mau nanya serius sama lo. Sebenernya, dulu alesan lo putus sama Arga apasih?"


Mayang tampak membisu, ia hanya menghela napas dan berkata, "Terlalu ruwet ceritanya."


"Apa sih?" Irsyad makin penasaran.


"Udahlah, itu nggak ada hubungannya juga sama lo. Anyway, gue duluan ya!"


"Eh kita nggak jadi ngopi?"


"Lain kali aja Syad, Bye!" ujar Mayang yang kemudian pergi meninggalkan Irsyad.


"Jiah, malah ditinggal sendirian lagi gue!" Gerutu Irsyad. "Coba ada Salwa, pasti mukanya yang cantik dan gemesin itu bisa bikin mood gue up lagi."


**


Salwa yang baru saja selesai mengecek e-mail dan data statistik pengunjung kafe, tampak lelah. Ia pun beristirahat dengan melentingkan tubunya ke sandaran kursi, dan menghela napas. "Pegel juga berjam-jam baca laporan," ucap Salwa. Ia pun langsung mengambil smartphone miliknya yang berada di atas meja lalu segera membuka chat yang masuk ke handphone-nya. "Coba kita lihat pesan siapa aja yang masuk?" Mata bulat Salwa seketika menganga lebar melihat ada nama kontak Arga tertera di chat whatsapp. "Eh, gue pikir dia nggak bakal bales? Ternyata dibales." Tanpa pikir panjang lagi, Salwa langsung membuka balasa chat dari Arga. Dan isi balasan itu adalah ;


IYA SAMA-SAMA ADIK SEPUPU PURA-PURAKU...


NAH, KARENA KAMU UDAH AKU KASIH COKLAT BERARTI KAMU UTANG SAMA AKU. KAPAN-KAPAN KALAU AKU MINTA PIJIT NGGAK BOLEH PROTES!


.


.


.


.


PS : kalau protes, balikin coklatnya! Wkwkwk


^^^Tertanda -Arganatha Yudhistiara laki-laki tampan stok terakhir.^^^


"Idih!" Salwa langsung dibuat gemas sekaligus geli membaca balasan dari suaminya itu. "Apaan sih, ngucapin baik-baik balesnya malah bikin emosi!" Salwa sampai mengusap dadanya. "Sabar Salwa... sabar..." Salwa menghela napas, lalu kembali menggerutu. "Mana tulisan capslock semua lagi! Bener-bener deh itu laki! Betah ya, dulu mendiang kak Salma sama nih laki-laki error satu." Salwa geregetan sampai-sampai ia ingin sekali membanting handphone miliknya tapi tidak jadi. "Ih... sebel! Tapi jangan banting hape deh, soalnya ini mahal," tutur Salwa sempat-sempatnya.

__ADS_1


**


Sementara itu di kediamannya. Papa Ramdani dan Mama Rania terlihat tengah asyik mengobrol di teras pekarangan rumah sambil menikmati secangkir teh di sore hari. Ramdani tampak menghirup aroma teh lemon miliknya itu lalu menyeruputnya. "Ah, nikmatnya memandangi sore hari ditemani secangkir teh," ucap Ramdani.


"Iya Pa, bener. Apalagi kalau ada anak-anak kita," sahut Rania sambil memandangi pekarangan rumahnya, yang dipenuhi banyak tanaman hias hasil bercocok tanamnya.


"Mama kangen sama Salwa?" Tanya Ramdani melihat istrinya seperti menahan rindu.


Rania tersenyum namun tatapannya sendu. "Mama nggak cuma rindu sama Salwa Pa, mama rindu juga sama Salma. Mama kangen sama anak-anak gadis mama." Seketika mata Rania berkaca-kaca. "Mama jadi inget, waktu Salma dan Salwa kecil, mama seringー banget, nemenin mereka main lari-larian di pekarangan ini sambil nyuapin mereka makan kalau sore-sore. Dan Mama inget, pohon mangga itu." Rania menunjuk pohin mangga dipekarangan rumahnya. "Disana dulu Salwa pernah jatuh gara-gara mau manjat ngambilin mangga buat mama. Dan akhirnya Salma ikutan nangis." Ramdani yang berada disebelah Rania pun langsung merangkul dan memeluk sang istri yang tengah bersedih itu. Ia mengelus-elus kepala sang istri dan mencoba menenangkannya.


"Kenapa waktu berjalan begitu cepat Pa? Kenapa Salma pergi begitu cepat meninggalkan kita, dan Salwa? Dia udah bukan lagi sepenuhnya milik kita." Air mata pun tak kuasa menetes dari pelupuk mata seorang ibu yang tengah merindukan anak-anaknya.


"Mama harus kuat ya, dan mama harus merenima kenyataan. Mama nggak mau kan lihat Salma atau Salwa sedih, karena lihat mamanya nangis?" ucap Ramdan dengan nada lembut dan bijaksana.


"Iya Pa..." lirih Rania mendengarkan nasihat sang suami.


**


Malam harinya, Salwa yang sudah pulang sejak tadi sore, tampak sedang asyik mengemil sambil menonton drama korea di TV. Sialnya, saat sedang asyik-asyiknya menonton tiba-tiba TVnya mati.


"Loh kok mati sih?"


"Aku yang matiin!" ujar Arga yang berdiri dibelakang sofa tempat Salwa duduk dan nonton TV. Salwa pun langsung menoleh ke belakang dan melakukan protes pada suaminya itu. "Kamu tuh bisa nggak sih, sehariー aja, kalau dirumah itu nggak mengusik aku?!"


"Kamu mau ngapain?!" Tanya Salwa sewot.


"Ngapain aja suka-suka akulah, ini kan apartemen aku!"


"Iya oke apartemen kamu, tapi please balikin remotnya sini, aku lagi nonton drakor!" Salwa mecoba merebut remot TV itu dari Arga. "Eits nggak dapet, nggak kena, nih coba ambil dari aku kalau bisa?"


"Arga bisa nggak sih jangan usil?" Salwa mulai kesal.


"Bisa, asalー"


Salwa membuang napas. "Asal apa? Pasti kamu mau nyuruh aku kan?"


"Nah, pinter!"


"Nyuruh apa?"


Arga tiba-tiba memunggungi Salwa dan berkata, "Pijitin dulu abis itu boleh nonton drakor."


Salwa mencoba untuk tidak kesal. "Oke... tapi habis itu kamu harus janji balikin remotnya."

__ADS_1


"Siap, lagian... kan tadi di WA udah aku bilang, sebagai ganti atas coklat yang udah aku kasih ke kamu, kamu harus mijitin aku."


"Iya!" Salwa pun mulai memijat bahu Arga. Huh, tau gitu nggak gue ambil tuh coklat. Bos besar kok minta pamrih, dih apaan tuh! Dengan bibir komat kamit Salwa menggerutu dalam hati.


"Nggak usah ngegerutu," celetuk Arga.


"Siapa juga yang gerutu? Sotoy!" Kok dia tau ya gue lagi gerutu dalam hati.


"Kamu diem gitu, aku tau kamu lagi gerutu."


"Iya udah jangan bawel, mau dipijitan nggak?"


"Iya, gitu aja ngambek. Oke nih gue diem, satu, dua, tiga diem!" Arga pun berhenti bicara.


...


Hampir tiga puluh menit, Salwa memijit bahu dan pudak suaminya itu. Ia pun merasa mulai lelah. "Arga, udahan ya mijitnya?"


"Baru lima menit."


"Enak aja lima menit! Udah setengah jam keles..." ucap Salwa yang mulai malas-malasan memijit. Sebenarnya Arga sendiri bisa merasakan kalau istrinya sudah lelah. "Yaudah deh, lama-lama pijitannya kayak nggak ada tenaganya." Arga pun mengeluarkan remot yang ia simpan disakunya. "Nih ambil tuh remot, sono gih nonton Lee Min Ho sampe pagi!"


"Ye... orang bukan dramanya Lee Min Ho, pake sok tau."


"Ya siapalah, Lee Min ho, Lee Min He, atau Lee Min*ral sekalipun ter- se-rahー gue mau tidur!" Arga melakukan peregangan otot sebelum akhirnya melenggang pergi menuju ke kamarnya.


"Huh! Dasar, bos tukang bossy!" ejek Salwa saat Arga sudah pergi.


**


Keesokan harinya, saat Arga tengah menyiapkan dokumen penting yang harus ditanda tanganinya hari ini di ruang kerjanya. Ia baru ingat kalau dokumen itu ia letakan di atas nakas saat ia sedang pakai dasi. "Argh... Sial! Kenapa gue pake segala lupa bawa dokumennya!" Sambil mondar mandir Arga pun memutar otak, "Oh iya Salwa! Gue minta tolong dia aja buat bawain itu dokumen kesini." Arga pun segera mengambil hape disakunya dan menghubungi sang istri.


Bersambung...


🌹🌹🌹


Hai jangan lupa di like, comment, dan di vote juga supaya aku makin rajin update ya gengs... kritikannya juga ditunggu loh. 😄


Follow juga akun IG aku di @chrysalisha98


Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :


>>LOVE PETAL FALLS (udah tamat)

__ADS_1


__ADS_2