Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 70


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Arga dan Mayang langsung menuju ke ruangan tempat kakek Mayang dirawat. Keduanya pun masuk ke ruang inap vip tempat dimana kakek Tamin dirawat.


"Hai Kek!" Ujar Mayang baru masuk sambil menenteng keranjang buah, melihat sang kakek yang tengah santai membaca buku, lengkap dengan selang infus menempel ditangannya. "Halo sayang...," balas sang kakek. Disusul Arga yang kemudian masuk ke ruangan dan langsung menghampiri kakek Tamin dan menyapanya. "Hai Kek, udah sehat?"


"Ya... seperti yang kamu lihat."


Arga tersenyum simpul dan bertanya soal kesehatan kakek Tamin. "Kakek, kenapa bisa dirawat di rumah sakit, apa kakek mulai mengabaikan kesehatan lagi?"


Dengan suara paraunya kakek Tamin pun menjelaskan kepada Arga kenapa dirinya bisa tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit. "Ya sebenernya kakek nggak mau, tapi Mayang dia maksa kakek buat di rawat inap," jelas kakek Tamin sambil mengusap kepala cucu perempuannya itu.


"Kakek mau Mayang kupasin buah?" Tanya Mayang yang tengah mengeluarkan buah-buahan yang tadi ia bawa.


"Boleh sayang," jawab kakek lembut.


"Umー syukur deh kalo Kakek udah sehat," ucap Arga yang sebenarnya sudah tidak tahu mau mengucapkan apalagi selain bertanya kabar, karena jujur Arga sendiri datang kemari karena ajakan dari Mayang di telepon tadi.


"Oh iya Arga, sebenernya ada hal yang mau kakek bahas sama kamu."


Arga memicingkan matanya penasaran. "Pembicaraan apa?"


Mayang yang tengah mengupas buah melirik ke arah kakeknya dan Arga yang tengah ngobrol. Ia ingin mendengarkan langsung percakapan yang dilakukan oleh sang kakek pada lelaki idamannya itu. Apakah yang akan dibicarakan kakek, akan sama seperti yang ada dibenak Mayang yang berpikir kalau kakeknya akan segera menjodohkannya dengan Arga. Cepetan dong kek, kenapa mereka berdua malah diem gitu sih? Pikir Mayang. Tapi pada akhirnya Mayang berpikir untuk izin keluar sebentar, hal itu ia lakukan agar kakeknya dan Arga segera berbicara berdua. "Oh iya Kek, Mayang izin keluar bentar ya..."


"Iya sayang," jawab kakek.


Mayang pun akhirnya pergi keluar dari ruangan. Sekarang tersisa Arga dan kakek Tamin saja di ruangan tersbeut. Kakek pun akhirnya mulai membicarakan apa yang ingin ia katakan pada Arga. "Arga, kamu tau apa yang mau kakek omongin sama kamu?"


"Enggak kek, emang ada apa?"


"Begini, Kakek ini kan sudah tua, dan kakek sayang banget sama Mayang, jadi kakek cuma berharap yang terbaik buat Mayang di masa depan."


"Maksud kakek apa?" Arga agak bingung dengan perkataan kakek Tamin.

__ADS_1


"Kamu masih inget kan tentang permintaan kakek waktu kita main golf beberapa waktu lalu?"


Arga mengerutkan keningnya mencoba mengingat permintaan apa yang dimaksud kakek Mayang. "Oh maksud kakek permintaan ituー"


"Iya, permintaan Kakek waktu itu supaya kamu mau dijodohkan dengan Mayang."


Arga langsung terkesiap, bagaimana ini? Apa yang harus Arga katakan pada kakek Tamin, apakah harus jujur sekarang tentang dirinya yang sebenarnya sudah menikah? Tapi melihat keadaan kakek Tamin yang baru saja pulih, membuat Arga tak kuasa mengatakan sesuatu yang pasti akan mengecewakannya. "Kakek... kalau soal ituー"


"Kamu nggak perlu jawab langsung saat ini juga, kakek tidak mau jadi orang tua kolot yang memaksakan kehendak. Tapi... mengingat kedekatan kakek dengan kakek kamu dulu, dan juga kekerabatan keluarga kakek dengan keluargamu yang cukup dekat, membuat kakek merasa yakin sekali kalau perjodohan kamu dengan Mayang pasti akan sangat bagus untuk kedua keluarga."


Arga termenung diam, dirinya pun langsung teringat akan jasa kakek Tamin dulu. Dua puluh tahun lalu saat perusahaan keluarga Arga hampir saja bangkut karena terlilit hutang, kakek Tamin dengan senang hati membantu keluarganya dengan menyuntikan modal yang cukup besar kala itu. Tentu saja hal itu tidak bisa Arga lupakan, terlebih Arga adalah tipe orang yang akan selalu mengingat jasa orang lain padanya, sekecil apapun jasa itu.


"Jadi Arga, Kakek mohon kamu pikirkan baik-baik ya. Kakek kasih kamu waktu satu minggu sebelum kakek berangkat ke luar negeri untuk pengobatan."


"Kakek...?"


Kakek Tamin tersenyum bangga pada Arga. "Kakek tau, meski kamu anaknya suka keras kepala dan suka bengal, kamu anak yang baik Arga. Oleh sebab itu kakek berharap kamu mau mendampingi Mayang."


**


Setelah selesai bicara dengan kakek Tamin Arga pun izin keluar ruang kamar. Saat keluar dari kamar Arga langsung dihadapkan oleh Mayang yang entah sejak. kapan berada di depan pintu kamar. "Mayang? Kamu kenapa di depan pintu gini dan bukannya masuk?" Cecar Arga.


"Oh, umー itu... " Aduh aku nggak boleh sampe kelihatan kalo abis nguping. "Itu, tadi aku emang mau masuk sebenernya, tapi lihat kamu kayaknya lagi bicara serius sama kakek, makanya aku nggak jadi masuk deh, hehe..."


"Oh... gitu," Arga tidak memandang Mayang singkat, sambil memikirkan pembicaraannya dengan kakek Tamin di dalam tadi.


"Oh iya, emang... kamu sama kakek ngomongin apa sih?" Mayang mulai mengulik Arga.


"Bukan apa-apa, cumaー" Tiba-tiba saja ponsel Arga berdering.


"Cuma..?"

__ADS_1


"Sorry May, aku harus angkat telepon." Arga pun meraih ponsel yang ada disakunya. Raut wajah Arga berubah dari serius menjadi agak lebih tenang namun diselimuti rasa penasaran saat melihat nama di layar ponselnya.


"Iya, halo...?"


.....


"Aku, udah pulang kok! Ada apa?"


.....


"Dimana?"


....


"Oke, kalau gitu aku kesana sekarang."


-*tut...


"Siapa Ga," tanya Mayang penasaran dengan orang yang barusan menelepon Arga.


"Bukan, siapa-siapa, eh iya aku pamit pulang dulu ya May..."


Mayang langsung menunjukan wajah tidak senang. "Pasti kamu mau ketemu orang yang barusan telepon kamu ya?"


Sayangnya Arga enggan memberitahu. "Udah ya aku pamit dulu, tolong salamin salam aku ke kakek, maaf langsung pulang tanpa pamit." Arga tampak ingin terburu-buru sampai-sampai rela untuk langsung pergi tanpa pamit terlebih dahulu dengan kakek Tamin. "Aku duluan ya May, bye..." ucap Arga yang kemudian langsung pergi.


Melihat Arga terburu-buru seperti itu membuat Mayang semakin merasa geram dan cemburu, pasalnya ia yakin sekali kalau yang barusan tadi menelepon Arga adalah Salwa. "Heh! Kamu pikir aku nggak tau Ga, itu tadi telepon dari siapa? Ck! Arga... Arga... kamu pikir aku nggak tau soal hubungan kamu sama Salwa?" Mayang menyilangkan tangan dan mendongak dengan penuh rasa jumawa. "Tapi tenang aja, aku tau kok kamu terpaksa nikahin Salwa. Oleh karena itu, aku Mayang Bestari pasti bakal bantu kamu terlepas dari Salwa. "


**


Sementara itu, tampak Salwa duduk sendirian di sebuah taman dekat kafe Salwa. Dengan segelas boba drink Salwa duduk termenung sendirian. "Masih lama nggak ya Arga sampenya? Kira-kira kali ini dia beneran dateng nggak ya, buat jemput aku?" Salwa agaknya merasa takut kecewa jika Arga tidak datang lagi seperti waktu itu.

__ADS_1


** Bersambung....


__ADS_2