Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 23


__ADS_3

Salwa tampak lesu di tempatnya kerja. Dirinya yang biasanya berada diruang kerjanya pun, kini malah memilih untuk duduk dekat meja customer service bersama Nina. Melihat manajernya lesu begitu Nina sebagai salah satu yang sering ngobrol dengan Salwa pun bertanya. "Mbak Salwa puasa ya?"


"Puasa? Puasa apaan?" tanya Salwa heran.


"Ya itu, buktinya mbak Salwa lemes kayak orang lagi puasa."


"Huf..." Salwa menghela napas lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Lagi bete aja, bosen aja gitu."


Nina memandangi manajernya itu dengan jarak dekat, sambil memperhatikan raut wajah Salwa dengan seksama. "Hem, kayaknya Mbak Salwa lagi gegana."


"Gegana? Apaan tuh?"


"Gegana itu artinya, gelisah, galau, merana," jelas Nina dengan gesturnya yang centil dan polos. Maklum saja Nina ini tergolong masih muda, usianya saja baru mau menginjak 20 tahun.


Salwa pun dibuat tergelitik mendengarnya. "Aku baru denger tuh ada singkatan itu. Baru ya?"


"Ah mbak Salwa mah nggak gaul! Kalau anak jaman now itu emang suka punya kosakata yang disingkat-singkat."


Salwa hanya memasang tampang pasrah dengan mengiyakan ucapan-ucapan Nina yang bisa membuatnya sedikit terhibur, karena beberapa hari ini sering dibuat bete oleh Arga dirumah.


"Tapi mbak, kalau saran aku sihー kayaknya mbak Salwa harus cari pacar deh. Mbak Salwa kan udah dua puluh dua tahun. Udah cocok tuh buat cari yang serius, nah tingga Mbak Salwa rada centil dan ngeksis dikit aku jamin, pasti semua laki-laki pada ngantri. Beneran, percaya deh sama aku!"


Lagi-lagi Salwa dibuat tergelitik dengan ucapan dan polah pegawainya itu. Karena gemas, Salwa pun mencubit pipi Nina yang agak chubby. "Kamu itu, masih kecil udah sotoy... banget soal kayak begitu."


"Aw... aduh... sakit tau nggak sih mbak." Dengan wajah bete Nina mengusap-ngusap pipinya yang habis dicubit oleh Salwa. Melihat Nina Salwa malah semakin terkekeh dibuatnya. "Malah ketawa lagi!"


"Habisnya kamu tuh gemesin," celoteh Salwa dengan ekspresi gemasnya.


"Hu... dasar manajer kejam," balas Nina masih agak bete.


"Uluh uluh... cayangku ngambek, nih aku kasih permen karet."


"Tau ah, bete sama Mbak Salwa."


"Ciee... ngambek," goda Salwa. Saat tengah asyik berkelakar dengan Nina tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita marah-marah. "Siapa yang teriak marah-marah?" tanya Nina. Salwa pun hanya bisa menggeleng tidak tahu, dan langsung medatangi TKP.

__ADS_1


*


Salwa menghampiri seorang wanita yang tengah memarahi salah satu pegawai di kafenya. "Um, permisi Bu, kebetulan saya manajer di kafe ini apakah ibu ada masalah dengan pelayanan kami?"


Perempuan itu langsung mengalihkan perhatiannya dari pelayan menjadi ke Salwa. "Oh jadi kamu yang bertanggung jawab di kafe ini!"


"Iya Bu, saya yang bertugas dicabang ini. Maaf sebelumnya, bisa ibu jelaskan kenapa ibu memarahi pegawai kami?" Perempuan itu langsung menganbil ice coffee pesanannya, dan menunjukkannya pada Salwa. "Nih mbak, coba mbak lihat sendiri!" Salwa pun mengecek kondisi ice coffee tersebut, ternyata ada helai rambut yang terjatuh diatas minumannya.


"Katanya kafe terbaik dikota ini, tapi pelayanannya jorok, masa bisa ada rambut diminuman saya!"


Salwa terlihat tetap tenang, "Kalau begitu, mbak tunggu dulu sebentar biar saya konfirmasi sama barista dan pelayan dulu." Salwa meminta barista yang membuat ice coffee itu datang dan bertanya soal rambut tersebut.


"Sumpah mbak, tadi itu udah saya lihat nggak ada apa-apa diminumannya pas saya selesai buat, dan lagipula saya kapan pakai penutup kepala dan sarung tangan," jelas Joni si barista.


Bener juga sih yang dibilang Joni, setau gue kebersihan disini itu terkenal paling diutamakan.


"Kalau kamu nggak mungkin, coba tadi siapa yang ngenter minuman ke ibu ini,"


"Ibu, ibu! Tolong ya, gue masih gadis jadi jangan dipanggil ibu!" Pelanggannya masih aja sempet komplen soal panggilan loh...! Capek deh!


"Oh iya maksud saya Mbak," ralat Salwa.


"Oh kamu jamal, kok bisa ada rambut?"


"Sumpah mbak berani dipecat saya kalau bohong, tadi pas saya nganterin itu minumannya clean kok! Mbak itu aja kali rambutnya rontok!"


"Eh lo pelayan songong, malah nuduh gue!" si pelanggan itu pun malah murka.


"Eh tapi mungkin bener juga kata Jamal," Nina tiba-tiba buka suara.


"Ini lagi mau pembelaan apa kamu!" Bentak si pelanggan gantian ke Nina.


"Mbak, mbak saya mohon sabar ya..." Salwa mencoba menenangkan si pelanggan yang dari tadi marah-marah terus. "Nina, coba jelasin apa maksud kamu bilang gitu?"


Nina pun menjelaskan pada semuanya kalau bisa jadi rambut itu memang milik si cewek galak itu. Karena buktinya rambut yang jatuh itu ukurannya panjang, sedangkan baik Jamal atau Joni sama-sama rambutnya pendek.

__ADS_1


"Jadi kamu nuduh saya! Huh?"


"Bukan menuduh mbak, tapi kami hanya menduga kemungkinan mbaknya mungkin nggak sadar kalau rambutnya ada yg jatuh, jadinya salah paham." Salwa mencoba menetralisir keadaan, tapi sayangnya si pelanggan itu tetap saja angkuh dan tidak mau disalahkan sedikitpun. Bahkan Salwa sampai menawarkan untuk menukar minumannya dengan yang baru, namun si pelanggan malah memilih untuk pergi dan tidak jadi pesan. "Dengar ya, kafe kalian ini samas sekali nggak berkualitas dan pekerjanya penipu semua!"


"Mbak tolong jaga bicara anda ya!" Tegur Salwa tak terima pegawainya dihina begitu. "Mbak tanya aja sama member vip di kafe kita, apa pernah mereka dapat pelayanan buruk dari kami, apa pernah mereka ditipu?"


Para pelanggan lain pun membela, dan semuanya mengatakan kalau pelayan di kafe Lorena sangat memuaskan sejauh ini. "Nah lihat kan?" Si pelanggan itu justru terlihat makin panas dan tidak terima. "Terserah, yang jelas buat saya kafe ini kualitasnya buruk! Alias nggak banget!" Si pelanggan itu pun pergi permisi. Para pelanggan lain pun terdengar saling bergosip membicarakan perempuan tadi. Merasa tidak enak pada pelanggan lain dengan keributan tadi, Salwa pun memutuskan untuk memberikan diskon setengah harga pada pelanggan yang ada di kafe saat itu.


Di ruangannya yang ber-AC, Salwa menghela napas dan menenangkan dirinya. "Sumpah, pelanggan tadi judesnya kayak mak lampir! Padahal dia yang salah, eh malah dia yang lebih galak." Salwa menenggak minumannya. "Huft... segalak itu, gue jadi penasaran, tuh cewek kalau punya suami, suaminya diomelin mulu kali ya?" Tebak Salwa mengingat kejudesan si cewek tadi.


**


Di ruangannya Arga yang tengah mengecek ulang hasil meeting tadi bersama klien, tiba-tiba diganggu dengan suara ketukan pintu.


"Masuk aja Mel," ujar Arga yang sudah tau kalau yang mengetuk pintunya itu Amelia.


"Umー maaf Pak mengganggu."


"Ada apa?"


"Itu, di luar ada tamu nyariin bapak."


"Tamu? Perasaan saya nggak ada janji hari ini."


"Saya juga udah bilang pak sama dia, tapi dianya maksa. Dan malah bilang katanya bapak kenal deket sama dia," jelas Amel.


Arga menyipitkan matanya, dirinya penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Amel tersebut. "Oke kalau begitu, kamu keluar dan suruh dia masuk ruangan saya."


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


Sambil memainkan bolpoin dengan jemarinya, Arga pun bertanya-tanya. "Siapa sih orang yang katanya kenal baik sama gue itu?"


🌹🌹🌹


Hai jangan lupa kalau suka ceritanya kasih aku vote, like dan juga comment.😘

__ADS_1


Bantu di share juga ya biar makin banyak yang baca. Sedih nih yang baca baru dikit hehehe, canda dikit.


JANGAN LUPA JUGA BUAT FOLLOW MY IG @chrysalisha98


__ADS_2