Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 63


__ADS_3

Mayang dan Tania kini berada di salah satu restoran. Disana keduanya tampak bercerita mengenang masa-masa kuliah mereka saat masih sama-sama mengenyam pendidikan di australi. "So... kapan kamu balik dari australi, kamu bilang mau berkarir disana kan?" Tukas Tania lalu menyeruput minumannya.


"Aku udah sekitar dua - tiga bulanan kok baliknya," jelas Mayang.


"Oh gitu..., tapi jujur, kamu jadi makin wow loh," puji Tania melihat Mayang saat ini.


"Ah bisa aja kamu," balas Mayang kemudian tersenyum percaya diri


"Bedeway, kamu kerja dimana sekarang?" Kata Tania yang penasaran.


"Aku kerja jadi perusahan Buana Semesta, sebagai GM," terang Mayang.


"Wow! Itu perusahaan elit loh!"


"Kamu sendiri gimana?" Kini gantian Mayang yang bertanya tentang Tania. Tania pun menjelaskan pada Mayang kalau dirinya kini menjalankan bisnis kafe yang mana sudah memiliki tiga cabang kafe.


"Wow it's good," ujar Mayang. "Emang, kafe kamu apa namanya, kali aja aku bisa mampir kapan-kapan."


"Kafe aku terkenal lagi, kafe aku itu namanya kafe Lorena."


Seketika Mayang yang sedang menikmati minumannya dibuat hampir tersedak karena mendengar Tania menyebutkan nama itu. "Jadi kafe kamu itu kafe Lorena!?"


"I- iya, emang kenapa kok kayak kaget gitu?" Tania heran kenapa Mayang bereaksi seperti itu saat mendengar dirinya pemilik kafe Lorena.


"Jadi sebenernyaー" Akhirnya Mayang menceritakan kepada Tania soal dirinya yang waktu itu bersitegang dengan manajer salah satu kafe milik Tania yang mana itu adalah Salwa. Mayang menceritakan kepada Tania soal Salwa, ia seolah mengatakan hal tentang Salwa yang tidak becus mengurus pelayanan kafe.


"Oh jadi orang pernah komplen di kafe aku waktu itu kamu? Yang sampe hampir viral itu?" Tania tak menyangka kalau orang yang pernah memberikan rate jelek di kafenya adalah teman lamanya sendiri.


"Maaf ya Tan, habisnya aku sebel sama manajernya. Nggak profesional banget!"


Tania memberikan tatapan seolah tak percaya. "Tapi masa sih, Salwa kayak gitu? Setau aku dia anak yang punya loyalitas dan dedikasi tinggi deh, masa sih dia sampe nyudutin kamu May?"


"Ya ampun Tan, namanya orang cari muka sama bos gimana sih? Lagian, kok kamu bisa memperkerjakan dia sih, kayaknya si Salwa itu juga kelihatan masih bocah!" Tutur Mayang.


"Dia dulu adik kelas aku pas SMA, dan dia juga termasuk lulusan terbaik di angkatannya, ditambah pengalaman dia yang bagus, makanya aku ambil dia jadi manajer di kafe yang baru."


"Jadi kamu kenal deket sama dia?"


"Nggak deket sih, tapi cukup paham sm dia. Kan kakaknya dulu temen les aku."


Mengetahui Tania sudah kenal lama dengan Salwa, Mayang pun mulai untuk melancarkan aksinya yakni mencari tahu latar belakang Salwa. "Jadi dia punya kakak?"


"Punya namanya Salma, tapi udah meninggal beberapa bulan lalu karena kecelakaan."


"Terus si Salwa itu udah nikah belum sih?"


"Setau aku belum, nah justru si Salma ini yang mau nikah tapi nggak jadi."


Mayang semakin menggebu-gebu. "Kamu tau siapa calon suami si Salma itu?"

__ADS_1


Tania menggeleng tidak tahu.


"Kamu punya foto mendiang Salma?" Kata Mayang semakin ingin tahu.


”Ada kok, bentar." Tania mencari foto Salma digaleri ponselnya untuk ditunjuka pada Mayang. "Nah, ini fotonya." Tania memperlihatkan foto wajah Salma pada Mayang.


Oh jadi ini yang namanya Salma kakaknya Salwa? Agak mirip sih sama si Salwa yang enggak banget itu. Ujar Mayang dalam hati.


"Eh iya, ngomong-ngomong kok kamu malah kayak semangat banget sih kepo soal Salwa dan Salma, emang ada apa sih sebenernya?"


"Oh bu-bukan apa-apa kok, cuma kepo aja gitu kan, soalnya kalo inget si Salwa manajer kamu itu aku jadi kayak naik darah!" Terang Mayang guna menutupi kecurigaannya pada Salwa dari Tania.


"Yaudah kalo gitu, nanti biar gue tegur si Salwa." Tania melihat jam tangannya. "Eh iya, ini udah mau sore, kayaknya kita harus udahan dulu deh, tapi aku mau ke kamar kecil dulu ya," terang Tania yang kemudian pergi ke kamar kecil.


Sementara itu, Mayang jadi teringat soal cerita Irsyad yang mengatakan Arga ditinggal menikah olah kekasihnya. "Kalo cewek yang dimaksud sama Irsyad calon istri Arga yang udah meninggal adalah kakaknya Salwa, fix! Arga sama Salwa bukan sepupu." Mayang tersenyum penuh intrik. "Lihat aja, setelah ini semua bakal kebuka."


**


Malam hari tiba, Arga yang baru saja pulang dari kerjanya langsung mencium aroma lezat dari arah dapur. "Wah bau enak nih?" Ia pun segera berjalan menuju dapur. Terlihat dari arah Arga datang ia melihat Salwa yang tampak belakang tengah mengenakan dan celemek berkutat dengan kompor. Tumben Salwa masak?


"Salwa...," ujar Arga.


"Eh, kamu udah pulang? Kamu udah makan belum?"


Arga hanya terdiam dan agak melongo.


"Oh! Emー belum, aku belum makan."


"Nah kebetulan, aku masak sop ayam sama tempe goreng tepung, kalo kamu mau kita makan sama-sama."


Arga kembali terdiam memandangi sang istri, ia sedang berpikir tumben sekali sang istri memasak makan malam, dan mengajaknya makan bersama. "Salwa, tunggu."


"Kenapa?" Kata Salwa yang sudah selesai memasak dan bersiap menuang sop buatannya itu ke dalam mangkuk.


"Kamuー lagi kenapa?" Tanya Arga heran.


"Nggak apa-apa kok, aku cuma lagi mengerjakan apa yang biasanya istri lakuin." Salwa tersenyum manis pada Arga. Sepertinya ini kali pertama Salwa tersenyum manis pada Arga. "Udah, kamu jangan bengong gitu. Mendingan kamu bersih-bersih terus kita makan malem bareng deh," kata Salwa menyuruh sang suami segera bersih-bersih. Dan entah kenapa, Arga yang biasanya akan banyak tanya kali ini langsung melakukan apa yang dibilang oleh istrinya itu. "Iya, nih aku mandi," Arga pun bergegas pergi untuk bersih-bersih. Sementara sang suami mandi, Salwa pun menyiapkan peralatan makan untuk dirinya dan Arga.


**


Di perjalanan menuju pulang, ponsel Irsyad tiba-tiba saja berbunyi. Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut lewat earphone wireless.


"Halo, kenapa May?"


....


"Harus banget sekarang?"


....

__ADS_1


"Yaudah, terus dimana kita ketemuannya?"


.....


"Oke, gue kesana."


*Memutus percakapan.


"Hal apa yang mau diobrolin sama si Mayang ya, sampe dia maksa ketemuan malem ini juga?" Irsyad bertanya-tanya. "Apa mungkin ada hubungannya sama Arga dan Salwa?" Irsyad pun putar balik menuju ke restoran tempat ia dan Mayang sudah janjian ketemu.


**


"Gimana enak nggak?" Salwa ingin tau komentar Arga tentang masakannya. Arga yang baru sekali menyuap terdiam tanpa ekspresi.


"Kok diem, nggak enak ya?" Salwa merasa tidak percaya diri dengan masakannya.


Arga pun hanya tersenyum miring. "Iya nggak enakー"


"Tuhkan bener," gumam Salwa kecewa.


"Tapi boong!" Ujar Arga diikuti tawa kecilnya.


"Ih... yang bener, enak apa enggak?"


"Enak kok enak, dikomentar gitu aja udah hopeless gimana kalo dikomen juri masterchef, pingsan kali ya?" Ledek Arga yang kembali menyuap sop buatan sang istri.


"Tapi bener enak kan?" Salwa masih mencoba memastikan apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya.


"Iya Salwa... enak, kalo nggak enak mah udah aku buang!"


Salwa mencebikan bibirnya.


"Udah nggak usah mutung gitu, ntar tuh bibir jatoh lagi," ledek Arga lagi. "Eh iya, soal puding, makasih ya puding buahnya enak!"


Salwa yang tadinya mutung berubah ceria. "Kamu suka?"


Arga mengangguk sambil menikmati sup ayamnya.


"Syukur deh kalo kamu suka," ucap Salwa yang kemudian jadi senyum-senyum sendiri, hingga dirinya tak sadar kalau sang suami memperhatikannya. Salwa kalo lagi senyum-senyum gitu, jadi tambah manis.


"Eh, ngapain ngelihatin aku?" Kata Salwa yang akhirnya sadar diperhatikan.


"Emangnya kenapa, kan mata aku ya suka-suka aku mau lihatin apa, lagian yang dilihat cantik kok...!" Ujar Arga sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih apaan sih...?" Dan Salwa pun langsung tersenyum kecil sambil tersipu malu, mendengar perkataan dari Arga.


🌹🌹🌹


Hai jangan lupa like, komentar, votenya ya...

__ADS_1


__ADS_2