
Arga menelepon Mayang, ia berencana membahas soal kakek Tamin yang memintanya untuk menjodohkan dirinya dengan Mayang. Namun saat Arga menghubungi Mayang beberapa kali panggilannya tidak diangkat. "Kok aneh? Mayang nggak angkat panggilan gue?"
Sementara itu Salwa yang tengah duduk di ruangannya memikirkan masak-masak semua masalah di rumah tangganya saat ini, ia merasa sudah saatnya segala kemelut dan kesimpang siuran pernikahannya dengan Arga ia bereskan, apakah harus terus atau memilih berpisah. Jauh di lubuk hati Salwa yang terdalam ia ingin mempertahankan pernikahannya dengan Arga. "Aku berharap kamu (Arga) juga berkeinginan sama dengan aku." Salwa terdiam dan berpikir sejenak. "Nggak bisa, gimana pun aku harus bicara ini sama Arga secepatnya."
*
Setelah beberapa kali menelepon Mayang dan tidak diangkat, kini giliran Mayang menelepon Arga. "Akhirnya dia telepon juga." Arga pun segera mengangkat panggilan tersebut.
Arga : Halo May
Mayang : Arga sorry banget ya tadi aku nggak angkat panggilan kamu, soalnya tadi aku habis antar kakek sama om dan tante aku ke bandara.
Arga : Bandara? (Arga terlihat tidak paham)
Mayang : Iya bandara, jadi hari ini kakek bakal ke jerman buat berobat.
Arga : Berobat? Bukannya baru minggu depan berangkatnya?
Mayang : Iya awalnya begitu, tapi entah kenapa Kakek tiba-tiba ingin mempercepat pengobatannya.
Arga : Oh jadi gitu.
Mayang : Iya gitu.
Arga : Oh kalo gitu aku doain pengobatan kakek lancar ya, oke kalau gitu udah ya.
Mayang : Oh iya ada apa kamu telepon aku Ga?
Arga : Sebenernya aku mau ajak kamu ketemuan sepukang kantor nanti. Itupun kalau kamu bisa.
Mayang : Bisa kok bisa! Dimana?
Arga : Ketemuan di restoran biasa kita datangin.
Mayang : Oke bye, see you.
Arga : Bye!
Arga pun langsung mematikan sambungannya dan meletakan ponselnya itu di atas meja. Arga terlihat lalu memijat pelipisnya. "Gue harus selesain semua ini sama Mayang hari ini juga." Arga bertekad untuk membicarakan soal perjodohan yang dibuat oleh kakek Mayang hari ini juga.
**
Di tempat kerjanya, Salwa yang tengah beristirahat nampak bengong duduk disalah satu meja dipojok kafe. Nina yang sejak tadi melihat Salwa melamun terus jadi penasaran, hingga akhirnya ia berinisiatif menghampiri Salwa. "Hai mbak!" Seru Nina dengan suara keras, sengaja agar Salwa tidak bengong lagi. "
"Eh kamu Nin, kebiasaan banget deh bikin kaget saya!"ujar Salwa jengkel.
"Hehehe, maaf deh Mbak, habisnya... Mba Salwa bengong gitu. Sebenarnya mbak kenapa sih? Aku lihat beberapa hari ini mbak Salwa kayak kurang fokus gitu.
"Nggak ada apa-apa kok Nin, aku cuma bingung aja."
"Bingung apa?"
Salwa akhirnya mengajak ngobrol Nina, dimana ia bercerita tentang sebuah pilihan. Tentang menyerah demi logika atau bertahan karena cinta, meski logikanya sering kali tak sejalan dengan hati.
__ADS_1
"Hem... kalo menurut aku, kata hati itu yang paling bener mbak, karena suara hati itu adalah kejujura terdalam hati.
Salwa mengangguk dan mempertimbangkan ucapan pegawainya tersebut.
**
Setelah pulang kantor, seperti yang sudah di sepakati d
Arga dan Mayang di telepon tadi, Arga mengunjungi restoran tempat biasa dirinya dan Mayang bertemu. Arga yang datang lebih dulu dari Salwa pun memesan minuman terlebih dulu sembari menunggu Mayang datang.
"Ini Mas minumnya," kata pelayan restoran yang sudah datang menyuguhkan segelas minuman pesanan Arga.
"Oh oke, thanks."
"Maaf, Masnya mau pesan makan apa?"
Arga yang sibuk dengan ponselnya pun menjawab, "Nanti aja mas, saya lagi nunggu orang."
"Yaudah, kalau mau pesan lagi nanti panggil aja ya
Mas," ungkap si pelayan yang kemudian permisi pergi.
Tak lama selang beberapa menit kemudian, Mayang pun akhirnya datang juga. "Hai Ga!" Sapa Mayang dengan sumrigah.
"Hai!" Balas Arga seperti biasa bangkit dari duduknya untuk menyapa balik Mayang. Sayangnya kali ini Arga menghindar saat Mayang ingin memeluknya dan bercipika cipiki.
"Loh kenapa?" Tanya Mayang heran.
"Nggak apa-apa, oh iya... silakan duduk May," ucap Arga yang kembali duduk.
"Oh iya May, mau pesen apa, atau kamu mau aku pesenin?" Arga meminta Mayang pesan makan sebelum akhirnya ia mengatakan maksud dan tujuannya.
"Yaudah, boleh kamu yang pesenin," kata Mayang.
Arga pun memanggil pelayan ke meja mereka dan memesankan beberapa menu untuk dirinya dan Mayang.
"Baik, kalau gitu silakan ditunggu ya," ujar pelayan.
Sambil menunggu pesanan datang Arga pun menanyakan perihal pengobatan kakek Tamin yang dipercepat keberangkatannya.
"Iya, awalnya kan memang minggu depan. Tapi nggak. tau kenapa, tiba-tiba kakek minta dipercepat, alhasil aku nggak bisa nolak. Kebetulan om dan tante aku ada waktu juga jadinya berangkat deh."
"Oh, jadi gitu." Arga mengangguk paham.
"Permisi, silakan pesanannya," ucap pelayan yang datang menyuguhkan menu pesanan Arga.
"Makasih mas," ucap Arga.
Setelah semua pesanan datang, Arga pun langsung mengajak Mayang menyantap hidangannya.
Lagi-lagi Mayang memberikan tatapan aneh pada Arga. Sebenarnya, Arga kenapa ya? Dan apa yang mau dia bicarain sebenernya sama aku.
Sambil menyantap makanannya, akhirnya rasa penasaran Mayang pun tak terbendung lagi. Ia pun menanyakan maksud Arga mengajaknya bertemu saat ini. "Jadi sebenernya kamu mau bahas apa sih Ga?" Tanya Mayang santai.
__ADS_1
Arga pun menelan makanan dalam mulutnya lalu minum. Ia merasa ini memang saatnya bicara. "Jadi gini May, aku langsung ke intinya aja. Aku mau kamu jujur sama aku."
"Ju- jujur apa?" Mayang sedikit merasa terusik dengan perkataan Arga.
"Jujur, kalau kamu sebenarnya udah tau kan soal hubungan aku sama Salwa."
Mayang yang tengah memotong daging pun tiba-tiba berhenti. Ia langsung menatap Arga dengan mata sedikit terbelalak.
"Jawab May..."
Mayang terpojok, kalau Arga sudah tanya begitu mana mungkin ia bisa bekilah lagi. "Emー soal ituー"
"Jawab aja iya atau enggak dengan jelas," Arga memberikan tatapan serius tanda memperingatkan Mayang agar tidak berkata bohong padanya.
"Huh... iya," ucap Mayang.
Arga mengangguk, "Okey.... terus kenapa kamu pura-pura nggak tau?"
Sial! Arga pake nanya lagi! Cih! Pasti istrinya yang resek itu yang ngadu, sial! "So- soalnyaー"
"Soalnya kamu tau rencana perjodohan kita yang dibuat sama kakek kamu, begitukah alasannya May?"
Mayang benar-benar sudah dibuat terpojok oleh ucapan Arga. Nggak, aku nggak mau ngalah gitu aja. "Iya, aku emang tau soal kamu dan Salwa, dan aku juga tau soal perjodohan itu. Lalu masalahnya apa?"
Arga menatap Mayang serius. "Kamu nanya masalahnya apa?"
"Iya apa masalahnya, toh kamu juga menikah sama Salwa cuma karena terpaksa kan? Jadi nggak masalah dong...!"
"Mayang... Mayang, tau darimana kamu aku menikahi Salwa terpaksa, kamu pikir aku orang yang bisa dipaksa untuk hal itu?"
Mayang semakin naik pitam dan mulai bicara dengan nada tinggi. "Jadi maksud kamu apa? Kamu mau bilang kalau kamu senang menikah sama Salwa, dan nggak mau ikutin perjodohan kita yang dibuat kakek gitu!?"
Arga tersenyum miring. "Bagus kalau kamu udah paham."
Mayang makin tak kuasa mengontrol amarahnya. Ia pun bangun dari duduknya dan bicara dengan keras. "Arga, asal kamu tau, kamu nggak bisa gitu aja batalin perjodohan yang udah kakek aku buat!"
"Kenapa emangnya? Kan tadi aku udah bilang, aku bukan orang yang bisa dipaksa-paksa, termasuk kakek kamu."
"Oh, jadi kamu lupa sama jasa kakek aku buat keluarga kamu dulu, huh!?"
"Oh tentu aku nggak akan pernah lupa dengan jasa kakek Tamin. Tapi, untuk hal pribadi kayak gini, nggak ada yang boleh mengatur selain diri saya sendiri! Paham?" Arga seketika bangkit dari duduknya, tangannya merogoh saku dalam jas yang dikenakannya. Ia tampak mengeluarkan tujuh lembar uang seratus ribu, posisi mata Arga masih menatap tajam Mayang. "Ini uang buat membayar semua pesanan kita, terima kasih udah mau jujur dan datang bertemu, permisi!" Arga meletakkan lembaran-lembaran uang itu di atas meja lalu pergi meninggalkan Mayang.
"Arga tunggu! Kamu mau kemana?" Mayang yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Arga pun emosi dan terus meriaki Arga yang sudah pergi. "Arga! Arganata! Aku nggak terima hal ini Arga! Arga....!"
Bahkan Mayang tidak sadar kalau jadi pusat perhatian para pengunjung lain.
**
Di apartemennya Salwa terilihat gusar, sejak tadi terus saja mondar mandir di ruang tengah, ia sebenarnya deg-degan menghadapi Arga jika tau dirinya meminta untuk membatalkan surat kontrak pernikahan mereka. "Kira-kira Arga bakal mau nggak ya nurutin permintaan aku ini, soalnya dia itu kanー"
ting tung...
Tiba-tiba bel berbunyi, Salwa pun bergegas untuk membukanya. "Arga, tumben?" Ucap Salwa saat melihat suaminya yang ternyata baru pulang. Tapi tumben sekali Arga memencet bel, biasanya dia selalu pulang tanpa membunyikan bel. Salwa memandangi Arga yang tampak lelah. "Yaudah masuk, aku ehー" Tiba-tiba saja Arga memeluk Salwa dan berkata, "Maafin aku ya..."
__ADS_1
"Maaf?" Salwa agak bingung dibuatnya. Arga melepaskan pelukannya danbergantu membelai kedua pipi sang istri lalu menatapnya dalam-dalam dan langsung mencium bibir meronanya. Salwa yang awalnya kaget pun tak kuasa untuk tidak menyambut kecuapan itu, hingga akhirnya sepasang suami istri itu berciuman mesra.
**Bersambung.....