
Salwa terus menunggu Arga hingga tak terasa boba drinknya sudah habis. "Uh? Udah habis aja," ucap Salwa melihat gelas bobanya yang telah kosong. Ia pun beranjak dan berjalan ke arah tempat keranjang sampah berada, lalu membuang sampah gelas bobanya itu ke tempat sampah. "Boba udah habis, tapiー"
"Tapi apa?" Ujar seseorang dari arah belakang Salwa.
Gadis itu pun segara menoleh ke belakang, dan ternyata. "Arga?" Akhirnya seseorang yang ditunggu Salwa sejak tadi muncul juga dihadapannya. Arga yang masih mengenakan kemeja dan jas itu pun berjalan menghampiri Salwa dan meminta maaf. "Sorry ya udah buat kamu nunggu lama."
"Nggak apa-apa, belum terlalu lama juga," balas Salwa sambil menahan senyum. Di dalam hati Salwa begitu membuncah senang, orang yang dia pikir tidak akan datang ternyata datang menghampirinya.
"Oh ya, ada apa minta aku kesini? Kangen ya...?" Tanya Arga dibalut nada gurauan.
Salwa hanya mencebikan bibir bawahnya dan bergumam. "Pede banget deh!"
"Eh, pede itu wajib, kalo nggak kita bakal diremehin orang lain."
"Iya... iya... terserah Bapak Arganata aja deh."
"Formal amat manggilnya?"
"Ya kamu juga dandanannya formal gitu?"
Arga pun langsung memandangi penampilannya yang memang masih terlihat formal. Seketika ia langsung membuka jas dan menggulung lengan kemejanya sampai siku. "Kalo gini udah nggak formal kan?" Tanya Arga pada Salwa tentang penampilnnya sekarang.
Salwa pun mengangguk sambil senyum tipis. Dia malah makin ganteng kalo dandan gak terlalu formal, pikir Salwa melihat suaminya saat ini.
"Hei! Malah bengong lagi, terpesona lihat orang ganteng?"
__ADS_1
"Idih apaan!"
"Jiah malu-malu ngakuin suaminya ganteng."
Salwa yang salah tingkah digoda suaminya begitu. "Ah udah deh, sekarang kita pergi aja yuk udah mau gelap juga nih."
"Ya kan daritadi aku tanya kamu mau kemana?"
"Iya, yaudah ayuk ke mobil aja dulu," balas Salwa yang kemudian langsung berjalan menuju ke tempat Arga memarkir mobilnya.
**
Di dalam perjalanan, keduanya saling diam. Arga sesekali melirik istrinya yang sejak tadi hanya diam dan bersandar memandang keluar kaca mobil. Tidak tahan suasana kaku begini Arga pun mengeluarkan suara batuknya. "Uhuk, uhuk!" Alhasil Salwa pun merespon suara itu dengan melirik Arga. "Kamu semalem kemana?" Tanya Salwa tiba-tiba.
Arga pun tersentak dan sedikit dibuat gugup ditanya begitu, pasalnya kemarin dirinya pergi ke bar untuk minum hingga tidak pulang ke rumah.
Hal itu justru membuat Arga jadi semakin merasa bersalah. "Aku..., semalem aku ke bar."
"Kamu mabuk lagi?"
Arga menghela napas panjang. "Iya, aku mabuk."
"Kamu berantem juga kan disana?"
Arga terkesiap dan menoleh ke arah Salwa. "Kamu, tau dari mana?"
__ADS_1
Dengan nada datar Salwa pun mengatakan, jika bekas lebam di pipi Arga masih terlihat meski samar-samar. "Kamu mabuk, dan berantem terus kamu tidur dimana?"
Tidak mau ada salah paham dan membuat Salwa penasaran, akhirnya Arga pun menceritakan kejadian semalam hingga dirinya yang semalam tidur di rumah Irsyad.
Setelah mendengar cerita Arga, Salwa pun mengangguk dan cukup percaya dengan ucapan sang suami.
"Maaf ya...," ucap Arga tiba-tiba dengan nada lembut.
"Nggak ada yang perlu dimaafinー" Salwa sadar, Arga pergi minum pasti karena merasa penat setelah kejadian semalam itu. "Oh iya, kita berhenti di taman itu ya," tutur Salwa saat mobil Arga sudah dekat dengan lokasi yang ingin ia sambangi. Arga pun langsung mengikuti apa yang di instruksikan oleh sang istri. Tak lama ia pun menepikan mobilnya di dekat area taman yang dimaksud Salwa.
Setelah parkir keduanya pun turun dari mobil, Salwa berjalan duluan diikuti Arga dari belakang. Sejatinya Arga tidak tahu Salwa ingin kemana, tapi karena hari sudah gelap dan penerangan pun hanya dari lampu-lampu taman yang berjejeran, ia pun hanya bisa mengikuti langkah Salwa yang pada akhirnya terhenti di pinggir sebuah danau kecil yang sejujurnya Arga tidak pernah tau sebelumnya. Danau kecil itu tampak indah, dipermukaannya seolah bersinar karena cahaya lampu dan terangnya bulan yang menyirami permukaannya.
"Aku baru tau disini ada danau sekeren ini?" Ujar Arga yang sepertinya dibuat cukup terpukau dengan pemandangan danau dihadapannya tersebut. Kebalikan dengan Arga, Salwa justru terlihat lebih tenang, sorot matanya sendu memandangi keindahan danau di malam hari. "Dulu, waktu masih duduk di bangku sekolah, aku sama kak Salma sering banget dateng ke sini," ucap Salwa tiba-tiba. Salwa tersenyum seolah tengah mengingat masa kecilnya. Arga dari samping terus memandangi Salwa. Dari samping aja dia cantik banget! Puji Arga melihat wajah Salwa dari samping bak seorang dewi bermandikan sinar rembulan.
"Jadi, danau ini tempat kenangan kamu sama Salma?" Telisik Arga.
"Hem," Angguk Salwa, yang kemudian menceritakan momen-momen berharga yang pernah ia lalui ditempat ini bersama mendiang kakaknya. "Serunya masa itu, dulu setiap aku sama kak Salma berantem, papa sama mama seringkali ajak kesini. Disini kita main berdua, serasa tempat ini milik aku sama kak Salma aja, soalnya dulu masih jarang orang tau tempat ini jadi kita berdua suka ngaku-ngaku jadi ratu di tempat ini." Salwa tergelitik, "Konyol nggak sih? Tapi menyenangkan kalau diingat-ingat," Ungkap Salwa.
Seketika Salwa langsung tampak sedih, mengingat jika momen itu sudah tinggal kenangan yang tidak mungkin bisa terulang lagi, terlebih Salma sang kakak sudah tiada sekarang.
Mata Salwa pun berkaca-kaca kala mengingat janjinya dulu dengan mendiang Salma. "Dulu, aku sama kak Salma pernah berjanji, kalau kita udah besar nanti, kita akan datang kesini lagi tapi dengan pasangan kita masing-masing. Tapi sebelum itu terwujud kak Salma udahー hiks!" Pada akhirnya air mata Salwa mengalir dari pelupuk matanya. Isaknya pun mulai terdengar. Arga yang melihatnya pun entah mengapa ikut merasa sedih melihat Salwa menangis seperti itu. Arga tidak tega melihat Salwa menangis, ia pun langsung saja mengusap air mata dari pipi Salwa.
"Arga..."
"Jangan nangis ya, burung beo cantik kalau nangis nanti jadinyー" Arga seketika terkesiap melihat Salwa yang tiba-tiba saja langsung memeluknya dengan erat lalu menangis di dalam pelukannya. Tanpa berpikir lagi, Arga pun langsung membalas pelukan Salwa dan mengelus-elus kepala dan punggung Salwa untuk menenangkan istrinya itu. Salwa terus menangis di dalam dekapan hangat suaminya. Bagi Salwa dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi tentang perasaannya pada Arga. Aku nggak bisa mengelak lagi, aku udah nggak mungkin pura-pura lagi, aku nggak bisa lagi Arga..., aku beneran jatuh cinta sama kamu. Aku mau kamu selalu peluk aku kayak gini, aku mau kamu dan hati kamu hanya buat aku. Maaf kak Salma, aku beneran jatuh cinta sama Arga, aku hanya ingin hatinya dan dirinya saat ini sampai seterusnya hanya buat aku. Dan aku berharap Arga juga begitu sama aku.
__ADS_1
Arga masih terus memeluk dan menenangkan Salwa, sesekali iapun menciumi rambut Salwa yang harum. Ingin rasanya kayak gini terus, tapi... bagaimana mungkin? Arga seketika ingat obrolannya dengan kakek Tamin di rumah sakit tadi. Bagaimanan pun Arga harus mengambil keputusan, manakah yang akan ia pilih, memilih memenuhi permintaan orang yang sudah berjasa dalam hidup keluarganya atau, mengikuti keinginan dari sanubari terdalam di hatinya.
**Bersambung....