
Salwa sudah menduga, pasti sang mama yang akan pertama kali menanyakan dimana suaminya itu berada, dan kenapa dirinya hanya datang sendirian?
"Emー"
"Ma, udah ya... nanti aja nanya-nanyanya, biarin sekarang Salwa duduk dulu," tandas Papa Ramdani yang tidak ingin melihat sang putri terlalu dicecar oleh ibunya. "Salwa, duduk nak."
Salwa mengangguk, "Iya Pa." Salwa pun duduk untuk bergabung dengan papa dan mamanya di meja makan.
Jujur saja perasaan Salwa kali ini agak tidak nyaman, apalagi melihat mimik wajah sang mama yang sepertinya sebentar lagi akan kembali bertanya tentang Arga.
"Kita mulai makan malamnya yuk!" Ujar papa Ramdani yang kemudian memimpin acara dinner keluarga malam ini.
**
Sementara Salwa tengah makan malam bersama papa dan mamanya, Arga justru terlihat sibuk menemani Mayang mengelilingi mall untuk membeli kado. Keduanya berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih, dan yang lebih mengejutkannya lagi, Mayang seolah tanpa sungkan merangkul lengan Arga. Tidak mustahil jika banyak orang yang berpikiran bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Arga melirik tangan Mayang yang menggelendot ke lengannya.
"Arga kita ke toko itu yuk!" Mayang menarik lengan Arga, mengajaknya memasuki sebuah toko merek ternama. Di dalam toko banyak sekali koleksi pakaian pria dan wanita disana, berhubung Arga yang tidak terlalu suka berbelanja pakaian ia pun bertanya pada Mayang. "Kita ngapain kesini? Lagian kamu dari tadi cuma keliling mall doang tapi nggak beli apa-apa. Jadi sebenernya kamu mau beli kado buat siapa sih?!"
"Udah kamu diem dulu," tiba-tiba Mayang memadankan dasi ke diri Arga. Sepertinya Mayang ingin membelikan kado buat Arga.
"Kamu ngapain madanin aku dasi?" Tanya Arga heran.
"Ya aku mau beliin kamu dasilah." Sontak Arga pun tercengang. "Ma- maksud kamu apa beliin dasi?" Mayang masih saja sibuk memadankan beberapa dasi yang sudah dipilihnya tadi. "Ya aku mau beliin dasi sebagai kado aja, emang kenapa?"
Arga mengerutkan keningnya. "Kadoー jadi kamu bilang mau beli kado itu, kado buat aku gitu?"
"Iya," ucap Mayang dengan lugas dan kemudian memutuskan mengambil satu dasi berwarna marun untuk ia berikan pada laki-laki yang disukinya itu.
__ADS_1
"Em- May, kayaknya kamu nggak perlu deh repot-repot beliin aku dasi aku kanー"
"Sstt..." Mayang meletakkan jemarinya di bibir Arga seraya memintanya untuk tidak protes. "Udah ya, kamu nurut aja," kata Mayang yang kemudian langsung meminta pelayan toko, untuk membungkus dasi yang sudah dipilihkannya tersebut untuk Arga.
**
Salwa dan kedua orang tuanya pun sudah selesai makan malam bersama. Sejak mulai makan sampai akhir tampak terasa sekali kecanggungan yang dirasakan Salwa, apalagi saat dirinya menatap sang mama. Entah mengapa Salwa merasa yakin sekali kalau mamanya itu pasti akan kembali membahas soal suaminya.
"Salwa, mama mau tanya, sebenernya Arga kemana? Kenapa dia nggak ikut buat dinner bareng? Padahal mama kan udah kasih tau dia kemarin."
Tepat sepert yang diyakini Salwa mamanya akan bertanya demikian. "Umー itu Ma, jadi sebenernya tadi itu Arga udah mau dateng kok, cumaー emang ternyata dia ada meeting penting sama klien tiba-tiba, jadinya mau nggak mau terpaksa deh dia batal buat dateng." Salwa mencoba menjelaskan dengan sebijak mungkin tidak hadiran sang suami pada ibunya. "Tapi Arga tadi udah titip pesen kok, dia bilang minta maaf karena nggak bisa dateng ke undangan dinner Mama sama Papa."
Mama Rania mendengus, sepertinya raut wajahnya tetap menunjukan kekecewaan meski sudah dijelaskan oleh sang putri.
"Salwa!"
"Nak jujur, mama kecewa sama suami kamu. Mama hanya nggak habis pikir aja gitu sama Arga!" Mama Rania sampai memegangin keningnya karena tak habis pikir dengan suami putrinya itu. "Nggak tau kenapa Mama tuh aneh sama Arga."
"Aneh? Maksud Mama?"
"Ya, aneh aja! Kenapa dia itu selalu aja mentingin kerjaannya dibanding keluarganya. Bahkan, dari sejak kalian nikah mama yakin kalian pasti belum pernah yang namanya quality time berdua? Iyakan?"
Salwa tentu saja langsung terperangai mendengar perkataan sang mama barusan. Bagaimana bisa mamanya bilang begitu?
"Emー kalo soal itu...." Salwa jelas terlihat bingung menjawab ucapan sang mama, pasalnya apa yang dikatakan sang ibu barusan adalah kenyataan kalau dirinya dan Arga memang tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Tapi kalau Salwa iyakan, dirinya takut sang mama akan semakin marah dan kesal pada suaminya itu.
Tapi untungnya ada Papa Ramdani, sebagai Ayah, Ramdani seolah tau apa yang dirasakan oleh putrinya itu saat ini. Ramdani pun mencoba untuk mengalihkan ketegangan diantara sang istri dan anaknya. "Uhuk! Ma, tolong obat kolesterol papa dong!" ucap Papa Ramdani pada Rania. Sebagai istri Rania pun langsung sigap, mengambilkan obat sang suami. Oh ya, Ramadani memang diketahui memiliki riwayat kolesterol tinggi makanya beliau sering minum obat.
__ADS_1
Sementara Mama mengambil obat, Salwa menoleh menatap sang papa lalu tersenyum dan bekata di dalam hati. Pa, makasih ya selalu jadi penolong Salwa di saat yang tepat.
Papa Ramdani pun hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum balik pada Salwa.
Sekembalinya Rania mengambil obat sang suami, ia pun langsung memberikannya pada Ramdan untuk diminum. Salwa yang sepertinya sudah harus pulang pun pamit pada kedua orang tuanya. "Oh ya Ma, Pa, Salwa pulang dulu ya. Udah malem soalnya." Sebenarnya Salwa ingin pulang juga bermaksud agar tidak kena cecaran pertanyaan lagi dari sang mama.
"Loh kamu udah mau pulang?" Tanya Mama Rania yang terlihat sibuk membereskan kembali obat sang suami.
"Iya Ma, soalnya besok Salwa kan harus kerja, kebetulan juga besok Salwa harus berangkat pagi, jadi mending Salwa pulang aja."
"Kamu nggak mau nginep disini aja? Udah malem juga lagian," usul Ramdani.
"Oh, engー nggak usah Pa, lain kali aja. Lagian Salwa kan harus pulang, kalo nggak nanti siapa yang nungguin Arga pulang?"
Ramdani tersenyum kecil mendengar jawaban putrinya itu. Ia senang melihat putrinya semakin dewasa, dalam berkata. "Yaudah, kalo gitu kamu boleh pulang, kali aja suamimu juga udah mau pulang kan?" kata Papa Ramdani dengan tutur kata yang begitu bijak terdengar. Hal itu membuat Salwa jadi tenang mendengarnya, dan ia pun akhirnya berpamitan dengan kedua orang tuanya. "Salwa pulang dulu ya Pa, papa jaga kesehatan," ucapnya lalu mencium tangan dan memeluk sang papa. "Iya Sayang," kata Papa Ramdani. Setelahnya ia mengampiri sang mama dan melakukan hal yang sama. "Salwa pamit pulang ya Ma..."
"Iya sayang, hati-hati ya..." Mama Rania seketika memeluk erat sang putri lalu berpesan layaknya seorang ibu pada putrinya. "Kamu sehat-sehat ya sayang, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk. langsung hubungin mama, okey?"
"Iya Mamaku sayang," balas Salwa dengan sangat manis kepada sang ibu yang sepertinya masih belum ingin anaknya meninggalkannya kembali. Maklum saja Rania memang cukup protektif dengan putri-putrinya, sehingga dirinya seringkali tidak rela dan khawatir kalau anaknya jauh darinya dan tampak tidak bahagia.
"Udah ya Ma, Pa.. Salwa pamit pulang dulu." ucap Salwa yang kemudian berjalan pergi menuju pintu keluar sambil diantar papa dan mamanya.
🌹🌹🌹
Hai jangan lupa vote, like, comment
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
__ADS_1
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)