
"Astaga Arga, kok kamu sampai keselek gitu. Pelan-pelan nak minumnya," ujar Mama Rania yang terlihat begitu peduli pada Arga.
"Uhuk- uhuk! Iー iya Ma. Tadiー Arga cuma agak kaget aja."
"Kaget, kaget kenapa?"
"Emー Maksud Arga, Arga itu kaget denger Mama sama Papa bilang mau nginep disini, sedangkan Arga sama Salwa belum nyiapin kamar buat kalian. Begitu kan sayang maksud kamu?" Salwa melihat ke arah Arga menyenggol kakinya, sebagai kode agar suaminya itu mengiyakan perkataannya.
"Iー iya Ma, maksud Arga gitu."
Keduanya sama-sama berpura-pura tersenyum pada Rania dam Ramdan. Hal itu tentu saja karena baik Arga maupun Salwa tidak ingin berpura-pura romantis lebih lama lagi. Ramdan pun langsung dibuat tertawa geli melihat mimik wajah anak dan menantunya itu.
"Papa kok malah ketawa?" Salwa keheranan melihat sang papa malah terbahak-bahak seperti itu.
"Iya Pa, kamu kok malah ketawa geli gitu, malu atuh sama anak-anak." Mama Rania menepuk-nepuk punggung Papa Ramdan agar berhenti tertawa. Ramdan berusaha menghentikan tawanya, ia bahkan sampai mengusap air matanya karena terlalu geli tertawa. "Sebenernyaー papa bilang mau nginep itu cuma bercanda aja sama kalian."
"Jadi, Papa tadi itu cuma pura-pura aja bilang mau nginep disini?" tanya Salwa memastikan.
Ramdan menyeruput tehnya kembali untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena habis tertawa. "Iyalah bercanda, gini-gini Papa juga paham kok kalian kan lagi anget-angetnya pasangan pengantin baru, pasti nggak mau diganggu."
"Jadiー"
"Jadi kamu sama Arga kena prank!" sahut Ramdani merasa puas.
Seketika Arga perpelatuk, "Papa tau istilah prank juga?"
"Jelas tau dong, biar usia udah nggak muda lagi, tapi wawasan tentang apa yang lagi trend Papa pasti tau banget!"
"Wuih mantab, Papa keren!" sambil memberikan acungan jempol pada sang ayah mertua.
"Arga!" Salwa menyikut lengan Arga, namun oleh Arga malah tidak dipedulikan. Justru Arga seketika jadi begitu bersemangat ngobrol dengan ayah mertuanya itu. "Oh kalau gitu Papa juga pasti update banget tentang banyak hal yang lain lagi dong?"
"Oh sudah pasti...dari mulai hiburan, komedi, film, musik, sampai otomotif papa tau banyak hal pokoknya."
__ADS_1
"Otomotif? Papa tertarik otomotif juga?"
"Loh, kamu baru tau?" Ramdani menyeruput tehnya lagi.
"Papa suka mobil klasik?"
Mata Ramdani seketika berbinar-binar ketika Arga menyebutkan soal mobil klasik. "Nah itu mobil klasik, eh kamu suka mobil klasik ya?"
"Iya Pa, Arga suka banget mobil klasik."
"Wah, jarang-jarang papa lihat pemuda jaman now suka sama mobil klasik."
Arga juga memberitahukan pada Ramdani kalau dirinya punya beberapa koleksi miniatur mobil klasik disini. "Sini Pa, Arga tunjukin koleksi miniatur punya Arga." Arga pun mengajak sang ayah mertua untuk melihat koleksi miniaturnya.
"Papa sama Arga mau ngapain?" tanya Rania.
"Udah ini urusan laki-laki, Mama sama Salwa pasti nggak akan paham," ujar Ramdani mengikuti langkah Arga.
Rania dan Salwa saling memandang karena tidak paham bahasan para lelaki itu tentang otomotif. Salwa pun hanya bisa mengangkat bahunya tanda pasrah dengan apa yang ingin mereka lakukan.
"Sini Pa, lihat deh!" Arga mengajak Papa Ramdani masuk ke kamarnya untuk memperlihatkan koleksinya miniatur mobil klasiknya. "Wah bagus Ga, papa nggak nyanka loh, biasanya anak seumuran kamu kan sukanya mobil-mobil super car, atau mobil listrik yang kekinian. Ternyata kamu pecinta mobil klasik juga, keren!" Ramdani memuji Arga karena tidak menyangka jika menantunya itu memiliki kegemaran yang sama dengannya yakni penyuka mobil klasik.
"Nah, yang ini kesayangan Arga Pa," Arga menunjukkan pada sang ayah mertua replika mobil klasik yang diberikan oleh mendiang kakeknya. Replika mobil itu adalah replika yang tadi dipegang oleh Salwa yang membuat Arga akhirnya mengalah dengan sebuah pigura pink.
"Ini sih bagus banget Arga, detailnya juga persis sama ukuran aslinya." Arga tampak senang melihat mertuanya itu suka dengan koleksinya.
"Iya ini dikasih sama opa pas Arga umurー sekitar enam tahun kalau nggak salah,"
"Oh pantesan setau papa udah jarang cari replika yang sedetail ini." Ramdan menepuk pundak Arga layaknya anak sendiri. "Kamu bagus koleksi barang kayak gini, yang nggak bagus itu kalau ngoleksi perempuan," gurau Ramdani.
"Idih si Papa..." balas Arga ikut tergelak.
"Tapi kali ini serius. Arga, Papa cuma mau pesan sama kamu. Jikalau suatu hari Salwa udah tua dan nggak kelihatan cantik lagi. Ibaratnya mobil klasik, kamu harus tetap perlakukan dia dengan sangat berharga, karena bagaimanapun dia istri kita adalah perhiasaan paling bagi kita. Jadi jangan bosan-bosan sama istrimu." Mendengar wejangan itu Arga hanya bisa mengangguk saja. "Dan satu lagi nak," Ramdan kembali menepuk punggung Arga. "Apa Pa?'
__ADS_1
"Sama seperti pesan Papa pertama kali ke kamu, tolong jangan pernah sakiti anak papa."
Arga tiba-tiba jadi kikuk mendapati obrolan serius ini. Alhasil Ramdani kembali menepuk pundak Arga. "Heh, santai aja kali nggak usah tegang. Mertuamu ini nggak galak kok!" Ujar Ramdani sambil tertawa
~~
Sementara itu, di dapur Salwa dan mamanya terlihat tengah sibuk menyiapkan makan siang. Mereka membuat sup iga sapi sebagai menu makan siangnya. "Sayang, tolong kamu masukin daun bawang yang udah kamu iris ya."
"Iya Ma," sahut Salwa yang baru saja selesai memotong daun bawang.
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu udah masakin apa aja buat Arga?"
"Huh?" Salwa yang tengah mengaduk sup pun dibuat melongo dengan pertanyaan sang mama. Pasalnya sampai detik ini, jangankan memasak makanan untuk Arga. Makan bersama dirumah saja belum pernah.
"Hei kok diem?"
"Um, iya Ma."
"Iya apa?"
"I- iya maksudnya, Salwa belum sempat masakin Arga. Soalnyaー kita kan sama-sama sibuk kerja."
Rania pun memberi nasihat pada putrinya itu, bahwa sanya sebagai istri sempatkanlah untuk memanjakan lidah suami dengan masakannya. Karena sesederhana apapun masakan itu, jika dibuat oleh istri dengan cinta maka akan terasa begitu nikmat. "Paham nak?"
"Iya Ma." Padahal bukan karena nggak mau masakin Ma, masalahnya Arganya aja nggak cinta sm anakmu ini. Ditambah, gue bingung sama konsep rumah tangga yang dilandasi kontrak ini.
"Hm... udah harum banget baunya. Kalau gitu Mama mau siapin ke meja makan. Kamu tolong panggil papa sama suamimu ya, bilang kalau makan siangnya udah jadi."
"Iya Ma," Salwa pun memanggil papa dan suaminya itu untuk segera ke meja makan, karena makan siangnya sudah matang.
🌹🌹🌹
Hai temen-temen kalau kamu suka sama cerita ini jangan lupa ya untuk di VoTe, LIKe, dan Comment juga aku tunggu ya....
__ADS_1
Love -C
ig @chrysalisha98