
Salwa masuk ke kamarnya. Di kamar Salwa langsung naik ke atas ranjang bersandar di papan ranjang, meringkuk sambil memeluk bantal dan bertopang dagu. Sorot mata gadis berusia dua puluh dua tahun itu jelas menunjukan rasa kekecewaan atas perkataan dan perlakuan Arga. Bagaimana bisa dia tega berbohong hanya demi seorang wanita lain. Meski Salwa sadar kalau dirinya memang tidak memiliki tempat dihati Arga. Salwa pun menoleh ke sebuah pigura merah jambu di atas nakas yang berada disebelahnya. Diraihnya pigura tersebut dan diusapnya gambar foto sang kakak didalam pigura itu.
"Kak... aku kangen banget sama kak Salma," ucap Salwa sambil menatap foto itu dengan tatapan sendu dan berkaca-kaca.
"Apa kakak tau, hari ini aku untuk pertama kalinya, merasakan kecewa dengan pernikahan ini. Pernikahan yang awalnya aku pikir akan baik-baik aja selama kami tidak menggunakan hati. Nyatanya aku salah. Justru aku rasa pernikahan ini semakin sulit rasanya." Salwa menyeka air matanya yang tidak tidak terasa jatuh dari pelupuk matanya. "Aku nggak berharap apapun dari Arga awalnya, tapi entah kenapa semakin hari aku jalani hidup satu atap sama dia, rasa ingin memiliki itu seperti muncul tiba-tiba. Seperti percikan api yang tanpa sadar perlahan membesar saat diletakan dekat sekam."
Salwa menarik napas dan memejamkan mata hingga air matanya semakin menetes. Hati Salwa seperti bergolak tanpa arah dan tujuan. Ia tidak tahu kenapa semakin hari hatinya terasa ngilu jika mengetahui kalau suaminya bersama wanita lain selain dirinya. "Kakー sekali lagi maafin aku. Tapi aku mau jujur satu hal sama kakak, aku mulai nggak suka kalau denger atau lihat Arga sama wanita lain. Bahkan, aku merasa cemburu saat Arga membandingkan kakak sama aku." Air mata Salwa kembali berlinang menatap foto mendiang kakaknya. "Maafin aku yang mulai berharap lebih sama Arga."
Di dalam hatinya kini, Salwa seolah hanya bisa belirih menumpahkan segala isi tanpa bersuara.
Mungkin awalnya aku nggak berharap apapun dari pernikahanan ini.
Tapi nyatanya, saat ini aku berharap lebih dari apa yang aku tidak pernah pikirkan sebelumnya.
Berharap lebih pada pernikahan yang tidak di dasari rasa cinta dari keduanya. Aku seperti pengelana yang tak punya tempat tinggal, namun akhirnya ingin menetap pada satu tempat yang paling nyaman.
"Bagaimana kalau, pada akhirnya aku ingin memiliki hatinya?"
Salwa tertegun, ia menaruh kembali pigura itu ke tempat semula dan mengusap bekas air matanya yang basah menjatuhi pipi.
Suara ringtone handphone Salwa pun tiba-tiba berdering. Dari ekor matanya yang melirik, Salwa bisa melihat nama kontak Irsyad tertera memanggilnya. Namun, oleh Salwa tidak diangkat, bukan dirinya jahat, hanya saja saat ini Salwa memang tidak ingin diganggu.
**
Keesokan harinya, di jam-jam mendekati istirahat makan siang. Di lobby kantor Arga terlihat Mayang yang tengah berlenggok. Sepertinya perempuan itu ada urusan dengan Arga, entah urusan pribadi atau urusan kantor yang membuat Mayang datang ke kantor Arga kali ini.
Kebetulan, saat Mayang sedang menunggu pintu lift terbuka, dirinya malah berpapasan dengan Irsyad yang juga ingin menaiki lift yang sama.
"May!" ujar Irsyad yang tampak seperti habis terburu-buru.
__ADS_1
"Hei Syad, dari mana kamu kayak buru-buru?"
Irsyad mengusap peluh di keningnya. "Ah iya nih, gue barusan tadi abis buru-buru ngejar kurir yang salah anter paket ke gue," jelas Irsyad. "By the way, lo kok tiba-tiba disini? Oh! Biar gue tebak, pasti bukan urusan kantor melainkan urusan... Ini nih...!" Irsyad membentuk betuk hati dengan kedua tangannya yang diletakan di depan dada sebelah kirinya.
"Ih apaan sih," balas Mayang malu-malu tapi senang. Dan tidak lama pintu lift yang mereka tunggu terbuka, keduanya pun masuk dan memencet tombol nomor lantai yang mereka tuju. Untuk Irsyad ia menuju naik 9 lantai, untuk Mayang sudah pasti dia naik 12 lantai menuju ke ruangan Arga.
Di dalam kabin lift mereka yang hanya berdua pun mengobrol. Tampaknya Mayang membuka perbincangan dengan menanyakan soal Salwa pada Irsyad. "Oh iya Syad, gue mau tanya."
"Soal?"
"Gue mau nanya sama lo, sebenernya Salwa yang kata Arga sepupunya itu dia sebelumnya tinggal dimana sih! Dan, kalaupun dulu dia diluar kota, tapi kok rasa-rasanya Arga nggak pernah tuh bilang punya sepupu cewek seumuran Salwa?" Mayang tampak keheranan.
Irsyad pun tergelak kecil lalu menyandarkan tubuhnya di sisi kabin lift.
"Kok malah ketawa gitu sih lo?" Ujar Mayang heran dengan reaksi Irsyad.
"Oh, jadi lo juga ngerasa aneh? Tapiー jujur aja ya, gue kurang suka sepupu Arga itu," ungkap Mayang dengan nada sinis.
Irsyad pun seketika membalas Mayang dengan ledekannya. "Alah, lo kurang suka sama Salwa karena Salwa lebih cantik dan lebih muda dari lo kan? Ngaku lo!"
"Iyuh, apaan sih!" Mayang tampak kesal dan tak terima dengan ucapan Irsyad itu. "Gak usah sotoy deh lo Syad!"
"Cie... sewot, cie Mayang Bestari insecure sama sepupunya Arga cie.... "
Mayang pun sudah sampai tahap jengkel yang tak terbendung, ia terlihat ingin mengamuk pada Irsyad. Untungnya, tombol lift sudah menunjukan lantai 9 sehingga saat pintu tebuka Irsyad pun bisa langsung pergi meninggalkan Mayang. "Bye Mayang," ujar Irsyad lalu keluar lift.
"Huh sialan si Irsyad, enak aja gue dibandingin sama tuh cewek yang sok iyeh itu!" Gumam Mayang dengan nada ketus.
**
__ADS_1
Di kafe, Salwa terlihat lesu dan uring-uringan terus. Bahkan saat mengerjakan laporan pun ia jadi kurang konsen. "Ih, kenapa sih aku tuh kepikiran Arga mulu?" tukas Salwa sambil menopang dagu. Salwa melihat ke arah layar laptopnya yang sudah menunjukkan waktu makan siang. Sayangnya, Salwa sama sekali tidak merasa lapar hari ini. Tiba-tiba ponsel yang ada ditangan Salwa tertera nama Irsyad memanggil. Melihat nama kontak Irsyad, Salwa jadi merasa tak enak, karena semalam sudah mengabaikan panggilannya. Akhirnya Salwa pun mengangkat panggilan Irsyad saat ini.
Salwa : Iya halo Irsyad?
Irsyad : Halo Salwa, akhirnya... kamu angkat telepon aku setelah semalem kamu nggak angkat-angkat.
Salwa : Hehe, maaf ya, semalem aku ketiduran dan handphone aku silent jadinya nggak tau denger deh. kamu telepon. (Salwa berbohong)
Irsyad : Iya nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah angkat telepon aku. Soalnya hari ini aku mau ajak kamu makan siang bareng mau kan?
Salwa : Eh kamuー ( Jujur saja Salwa sedang sama sekali tidak nafsu untuk makan apa-apa. Namun, Salwa yang merasa tidak enak karena semalam sudah mengabaikan Irsyad pun, sepertinya tidak tega jika harus menolak ajakan Irsyad kali ini.)
Irsyad : Salwa...?
Salwa : Oh iya Syad, emーoke deh aku mau. Kalo gitu kita janjianー
Irsyad : Eh nggak usah janjian, mendingan kamu siap-siap aja trus keluar kafe. Soalnya, sekarang aku udah ada di parkiran kafe kamu.
Salwa : Huh, serius? Umー kalau gitu yaudah deh, aku siap-siap terus aku samperin kamu ya, oke!
Irsyad : Oke siap, aku tunggu ya...*
🌹🌹🌹
LIKE, VOTE, COMMENT
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)
__ADS_1