Reinvent Of Love

Reinvent Of Love
Eps. 8


__ADS_3

"Iya kesepakatan antara lo dan gue dalam menjalani rumah tangga ini," terang Arga.


"Ma- maksudnya kesepakatan gimana sih?" Salwa masih belum paham dengan maksud dan ucapan Arga mengenai kesepakatan. Dan lagi-lagi Arga terdengar menghela napas sebelum lanjut bicara dengan Salwa. "Sini gue jelasin!"


"Apa?"


"Lo tadi lihat kan reaksi nyokap lo waktu kita saling manggil dengan bahasa lo dan gue?"


"Iya... terus?"


"Duh please banget ya Salwa, lu jangan pura-pura oneng deh di depan gue!"


Salwa pun tertawa kecil, karena sejatinya dia sudah paham sebenarnya maksud Arga dan hanya pura-pura tidak paham."Iya deh, jadi lo maunya gimana? Kita saling panggil dengan sebutan apa? Emang lo mau gue panggil sayang, honey, baby, darling atau apa?"


"Ya nggak usah lebay gitu juga, intinya mulai sekarang lo, eh maksud gue kamu sama aku itu panggilnya begitu. Jadi jangan pake lo gue lagi," terang Arga.


Salwa mengagguk paham, ia pun mencoba menerapkan bahasa itu pada Arga. "Oke, jadi aku sama kamu, kita dialognya kaya begini?"


Arga mengangguk. "Oh iya ada lagi selain itu."


"Apa lagi Arga? Gue, eh aku tuh mau mandi!" Salwa mulai jengkel karena dirinya yang sejak tadi mau mandi malah ditahan-tahan terus oleh Arga. Lelaki itu pun menyuruh istrinya untuk diam dan menunggu disitu, sedang dirinya berjalan mengambil sebuah lembaran kertas dan memberikannya pada Salwa."Nih baca!" Titah Arga pada Salwa.


"Apa nih?"


"Udah baca aja!"


Salwa pun membaca tulisan yang ada dikertas yang diberikan oleh sang suami. Setelah selesai membacanya Salwa langsung memberikan tatapan aneh pada Arga yang berdiri disebelahnya. "Maksud kamu apa sih bikin peraturan kayak di kertas ini? Jadi maksud kamu orang-orang nggak boleh tau gitu kalau kita udah menikah?"


"Yes!"


"Tapi kenapa?"


"Loh kok kenapa? Bukannya itu lebih bagus? Kan jadinya kamu ataupun aku bisa lebih leluasa kalau diluar. Nggak perlu ingat kalau kita itu udah menikah. Lagipula, kita menikah juga kan cuma karena Salma yang minta di detik-detik terakhir hidupnya, nggak ada alasan yang lain."


Mendengar perkataan Arga barusan membuat Salwa terdiam dan berpikir. Emang bener sih yang dibilang Arga, kita menikah karena ini semua permintaan terakhir kak Salma, tapi kan mau bagaimana pun juga pernikahaan itu bukan mainan yang bisa di kaya giniin.

__ADS_1


"So... Gimana?" Tanya Arga mempertegas.


Salwa yang sempat terdiam pun kembali buka suara, "Gini ya Arga, aku tau kok ini semua emang cuma pernikahan yang terjadi karena permintaan mendiang kak Salma. Tapi... yang namanya pernikahan kan bukan mainan, jadiー"


Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Salma, alhasil Salma pun dibuat salah tingkah karenanya."Jadi kamu maunya aku bilang ke seluruh dunia kalau kamu adalah istri aku, begitu?"


"Um, bu-bukan gitu, maksud aku..." Ya Tuhan gimana ini? Kok malah jadi aku yang terpojok gini.


Arga kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Salwa. "Ya terus kamu maunya gimana? Kalau buat aku jujur aja, aku nggak mau gerak gerik aku dibatasi hanya karena pernikahan yang bukan mau aku ini! Tapi kalau kamu ngarep banget aku untuk ngakuin kamu sebagai istri yaー"


"Eh sorry ya, aku bukan ngarepin kamu buat ngakuin aku sebagai istri kamu. Aku cuma nggak mau seolah mainin yang namanya pernikahan. Dan kalau emang kamu maunya begitu okey... aku setuju! Jadi deal ya diluar circle keluarga kita, kita bebas ngaku sebagai single atau apapun terserah kita, itu kan mau kamu?"


"Of course Salwa, gitu dong pinter!" Puji Arga yang sebenarnya tidak terdengar seperti pujian bagi Salwa.


"Sekarang kamu tanda tangan!" Tutur Arga sembari memberikan sebuah bolpoin pada Salwa.


"Tanda tangan apa?"


"Iya tanda tangan dikertas ini sebagai bukti kalau kesepakatan kita ini resmi, jadi diantara kita nggak ada yang merasa saling dirugikan nantinya."


"Udah tuh, sekarang gueー"


"Kok gue lagi?"


"Iya maksudnya aku mau mandi dulu."


"Nah gitu dong, silakan mandi yang lama nona Salwa...," balas Arga sambil tersenyum bangga melihat Salwa yang melenggang pergi.


"Nah kalau kayak gini kan gue jadi bebas mau ngapain aja diluaran sana. Enak aja gua diatur-atur sama aturan pernikahan yang absurd gini!" Arga terlihat senang memandangi kertas perjanjiannya bersama Salwa. Namun tiba-tiba raut wajah Arga berubah menjadi kelabu kala dirinya ingat Salma. "Maafin aku sayang, aku nggak bisa jadi suami yang kamu mau untuk adik kamu, karena jujur aku belum bisa menerima ini semua. Maafin aku yang egois."


~~


Dikamarnya, Salwa yang baru saja selesai mandi dan sudah berganti mengenakan piyama kini tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Sambil mengeringkan rambut Salwa tampak termenung mengingat kembali surat kesepakatannya dengan Arga tadi. "Aku nggak tau deh pernikahan ini mau dibawa kemana, baru beberapa hari aja udah serumit ini rasanya hidup. Segala ada perjanjian si Arga yang aneh itu pula, terus pake acara pura-pura mesra di depan mama, belum mungkin nanti pas berhadapan sama papa." Hal itu membuat Salwa menghela napas berkali kali-kali. "Pusing deh gue rasanya, dimana-mana orang nikah itu happy, gue malah sebaliknya nikah malah bikin hidup gue jadi ribet kaya gini." Beruntung, kegalauan Salwa bisa sedikit terobati kala dirinya ingat jika ia kini sudah memiliki pekerjaan pasti. "Untungnya dibalik kerumitan hidup ini Tuhan tetap memberikan gue kebahagiaan berupa jabatan yang bagus dipekerjaan gue, jadi gue masih bisa happylah seenggaknya dan besok udah bisa kerja jadi gue bisa menyibukan diri di tempat kerja," ujar Salwa berusaha menghibur diri.


~~

__ADS_1


Malam pun berganti pagi, Salwa yang tampak begitu anggun dengan setelan baju kerja, kini tengah sibuk di dapur memanggang roti untuk sarapannya. Ia memanggang dua lembar roti dan memadukannya bersama telur ceplok setegah matang dan irisan tomat, ditambah dengan segelas jus jeruk yang sudah ia buat tadi. Salwa pun sudah siap menyantap menu sarapannya. Sayangnya, momen sarapannya tiba-tiba harus terganggu dengan suara Arga yang terdengar tengah marah-marah sendiri. "Duh... kenapa sih si Arga! Bikin sarapan orang terganggu aja deh!" Salwa awalnya mengabaikannya dan tetap ingin melanjutkan sarapan, namun ucehan suaminya itu malah semakin membisingkan telinga. Akhirnya dirinya yang merasa terganggu memutuskan untuk menghampiri Arga yang kini berada di ruang tengah.


~~


"Pagi-pagi udah marah-marah, ada apa sih?" Tukas Salwa menghampiri Arga yang terlihat masih berantakan (Kemeja masih belum rapih, ikat pingganh belum dipakai) Benar-benar belum siap untuk berangkat kerja.


"Udah deh kalau nggak bisa bantu mending nggak usah nanya-nanya!," balas Arga.


"Hey kalau kamu nggak berisik juga aku nggak nyamperin, masalahnya suara kamu itu keras dan itu buat sarapan aku keganggu! Emang kamu nyari apa sih, grusak grusuk nggak jelas sambil teriak dimana, dimana. Emang kamu lagi cari apa?"


Arga pun berhenti membuka-buka laci dan berkata pada Salwa, "Aku itu lagi cari kaus kaki!"


"Huh, kaus kaki? Ya ampun orang kaya masa kaus kaki aja nggak punya sih!"


"Bukan nggak punya tapi nggak ada di laci biasanya! Nggak tau deh dikemanain sm mbok Dar!"


Salwa yang tidak yakin dengan ucapan Arga pun mengecek sediri laci tempat dimana Arga biasa menyimpan kaus kakinya. Dan setelah dilihat ternyata memang kosong, dan kebanyakan kaus kaki yang tidak ada pasangannya. Melihatnya pun membuat Salwa tertawa sambil meledek Arga, "Ini laci isinya kaus kaki sebelah-sebelah doang? Ya ampun Arga laci kamu tuh kaya laci orang susah tau nggak sih, bahkan lebih parah!"


"Apaan sih, nggak usah ngeledek!" Arga terlihat agak malu diledek oleh Salwa, namun cepat-cepat ia menutupi rasa malunya itu dengan kembali mengomel. "Udahlah, kamu mah emang nggak bisa bantu apa-apa, gue nggak usah pake kaus kaki aja hari ini." Dengan wajah cemberut bercampur marah Arga merapikan bajunya. Dan bersiap ke kantor meski tak pakai kaus kaki. Lucunya, ekspresi Arga yang seperti itu membuat Salwa jadi senyum-senyum sendiri karena melihat Arga tampak seperti anak sekolah yang sedang ngambek tidak mau sekolah.


"Kenapa senyum-senyum? Ngeledek gue?" ujar Arga pada Salwa.


"Ih siapa coba yang ngeledek, ge er!"


Arga sudah berpakaian rapi, sekarang ia mau memakai sepatu, dan benar saja ia sungguh-sungguh tidak memakai kaus kaki. Salwa yang melihatnya pun tak tega dan akhirnya menawarkan Arga kaus kaki yang ia punya. "Mau nggak pake kaus kaki aku?"


Bak gayung bersambut Arga pun langsung mengiyakan tawaran Salwa itu. "Oke kalau gitu aku ambil dulu di kamar!" Salwa meminta Arga menunggu, sementara dirinya mengambil sepasang kaus kaki dikamarnya.


Kemudian ia memberikannya pada Arga. "Ini!" ucap Salwa memberikan sepasang kaus kaki kepada sang suami yang tampak tengah mengecek ponselnya. Arga pun langsung menerima sepasang kaus kaki tersebut dari Salwa. Namun, saat Arga melihat sepasang kaus kaki yang diberikan oleh istrinya itu, seketika ia langsung memasang ekspresi wajah tak biasa kemudian protes pada Salwa. "Kamu yakin aku suruh pakai kaus kaki ini!"


🌹🌹🌹


Hai gengs jangan lupa di Like, Comment, Vote ya... 😘


IG @chrysalisha98

__ADS_1


-Love C


__ADS_2