
Bak dihantam batu besar, hati Salwa terasa sakit dan nyeri mendengar perkataan Mayang yang dilontarkan padanya. Salwa seolah hanya bisa terdiam menatap penuh rasa emosional pada Mayang yang saat ini bertingkah begitu jumawa di hadapannya.
"Kenapa Salwa, kamu mau marah? Atau mau apa?"
Salwa mencengkeram dress yang dikenakannya dengan jemarinya. Ia tidak tahu jawaban apa yang harus ia lontarkan kepada Mayang untuk membela dirinya saat ini.
Mayang tergelitik kecil seraya mengejek Salwa. "Huh, baiklah...." Mayang tiba-tiba mengambil tasnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Salwa menatap seolah bertanya pada Mayang mau kemana.
"Aku rasa udah cukup, apa yang aku mau bilang udah aku bilang semua. Intinya aku cuma mau berpesan sama kamu agar, jangan terlalu mengharapkan Arga, oke."
Salwa membelalak ke arah Mayang.
"Udahlah, nggak usah syok ngelihatin aku kaya gitu. Mending kamu segera ambil tindakan, buat cerai sama Arga deh!"
"Mayang cukup!" Salwa tak kuasa lagi menahan diri, ia langsung bangun dari duduknya dan memperingatkan Mayang agar menjaga ucapannya. "Aku harap kamu jaga ucapan kamu, karena asal kamu tau! Apapun yang kamu katakan tadi, atau sejauh apapun hubungan kamu sama Arga dulu, tetap aja kamu nggak bisa menapik fakta kalau aku adalah istri sahnya Arga sekarang, jadi tolong hormati itu."
Mayang menampilkan raut wajah menyepelekan perkataan Salwa. "Hormatin kamu? Jangan ngimpi! Lagian, kamu sadar nggak sih? Kamu itu dinikahin bukan atas dasar cinta jadi jangan berharap lebih, karena pernikahan kamu... aku jamin nggak akan bertahan lama."
Emosi Salwa semakin membuncah, ia merasa harga dirinya sebagai istri direndahkan oleh Mayang. Tapi Salwa tetap merasa harus menahan diri di tempat umum. "Terus mau kamu aku cerai sama Arga, supaya kamu bisa balik lagi sama dia, gitu kan yang kamu mau? Huh, jangan berkhayal Mayang!"
Mayang berkacak pinggang dan menatap Salwa dengan rasa penuh kesombongan. "Kamu inget ya, nama aku Mayang Bestari, kata best dinama aku artinya "terbaik" so... Mayang Best- ari pasti akan jadi yang terbaik buat Arga, bukan kamu."
"Wow, sungguh percaya diri sekali!" Sahut Salwa tak habis pikir.
"Oh iya Salwa, satu lagi yang kamu harus tau kalau, pengganti itu... selamanya hanya akan jadi pengganti dan nggak akan pernah bisa jadi yang teistimewa. Dan itu berlaku buat kamu, yang hanya dijadikan pengganti dihati Arga, paham!" Mayang mengibaskan rambutnya lalu pergi dengan kepala mendongak penuh rasa jumawa bak seorang juara.
**
Setibanya dirumah, Salwa langsung pergi ke kamarnya. Di dalam kamar Salwa langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Langit-langit kamar berwarna putih nampak jelas di pandangan mata Salwa. Ia terdiam dan hanya terus memandangi langit-langit itu. "Apa semua yang dibilang Mayang adalah benar? Pengganti tetap akan selamanya jadi pengganti? Apakah itu yang kini sedang terjadi sama aku?" Salwa memejamkan matanya perlahan.
__ADS_1
Malam hari pun tiba, Arga terlihat baru pulang kerja pukul sembilan malam. Saat tengah membuka sepatu, ia mendengar suara gelas yang tengah beradu dengan benda stainless steel. Arga pun sepertinya sudah bisa menduga siapa yang malam-malam begini ada di dapur. "Pasti Salwa!" Arga yang sudah melepas sepatunya pun langsung saja berjalan ke dapur untuk memastikan perkiraannya, sekalian ia mengambil air putih untuk menghilangkan dahaga.
Dari arahnya datang, Arga melihat Salwa tengah mencuci gelas dan piring. Salwa yang sepertinya tidak menyadari kedatangan Arga pun langsung di tegur oleh sang suami. "Ehem, tumben cuci piring malem-malem gini?" pungkas Arga sambil menuang air putih ke dalam gelasnya lalu diminum. "Ah.... seger!" Alih-alih mengira sang istri akan membalasnya dengan sewot karena kaget, Salwa justru masih saja terus mencuci piring. Arga yang merasa aneh pun langsung mendekati Salwa, ia melihat Salwa terus saja membilas gelas yang bersih itu di bawah air mengalir sambil melamun. "Salwa kenapa?" bisik Arga heran. Arga pun segera mematikan keran airnya lalu menepuk pelan pundak sang istri. "Hei, kenapa bengong sih?"
Salwa akhirnya sadar dari lamunannya karena terperanjat ditepuk oleh Arga. "Ehー em, kamu udah pulang?" ucap Salwa gelagapan yang baru sadar dari lamunannya.
"Iya, aku udah pulang."
"Oh... gitu, tapi kok kamu malah disini?"
"Huh?" Arga mengangkat satu alisnya. "Ya ini apartemen aku ya suka-suka aku dong mau ada dimana aja."
"Iya-ya... ini kan rumah kamu," lirih Salwa yang kemudian langsung menunduk dan kembali membereskan alat makannya ke dalam rak.
Arga semakin aneh memperhatikan sang istri yang tidak seperti biasanya. Sebenernya ada apa sama Salwa? Kenapa dia jadi diam gini, biasanya dia kan paling bawel kalo habis gue kagetin, tapi ini kok beda. Apa jangan-jangan dia lagi banyak banget masalah?
Salwa tampaknya sudah selesai merapikan cucian piringnya, ia pun bergegas untuk kembali ke kamar. Namun sayangnya langsung ditahan, dengan ditarik tangannya oleh Arga.
"Kamu itu kenapa sih, narik-narik tangan aku? Sakit tau!" Pungkas Salwa sambil memegangi area tangannya yang jadi kemerahan karena cengkeraman tangan Arga.
"Harusnya aku yang nanya sama kamu, sebenernya kamu itu kenapa tiba-tiba jadi diem gitu, ada masalah? Apa kamu lagi sebel sama aku? Bilang aja jangan diem!"
Mendengarnya Salwa justru melempar senyum kecut dan berkata, "Tumben kamu perhatian sama diri aku."
"Maksud kamu apa bicara gitu?" Tanya Arga dengan nada serius.
"Nggak apa-apa, cuma heran aja sama kamu yang tiba-tiba perhatian nanya aku kenapa," ungkap Salwa dengan nada datar dan memalingkan wajahnya dari Arga.
Arga semakin serius ia melangkah mendekati Salwa, memegang dagu sang istri dan mengarahkan pandangannya ke hadapan Arga. "Salwa, aku udah pernah bilang kan... aku paling nggak suka kalo orang yang aku ajak ngomong, tapi buang muka."
__ADS_1
Melihat betapa serius raut wajah Arga saat ini Salwa pun seketika ingin menangis rasanya. Melihat kamu sedeket ini natap aku, hati ini jadi semakin sadar, aku beneran jatuh cinta sama kamu Arga... Tapi mengingat kamu yang selalu menempatkan kak Salma diatas segalanya aku jadi seolah meyakini perkataan Mayang jika, pengganti itu selamanya memang hanya akan jadi pengganti.
Arga pun melepaskan tangannya dari dagu Salwa, ia menahan rasa kesal melihat Salwa yang baginya bicara tidak jelas. "Sekali lagi aku tanya, kamu itu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa," sekali lagi jawab Salwa dengan intonasi datar namun matanya nampak mulai berkaca-kaca.
"Kamu bohong Salwa!"
"Bohong?" Salwa tersenyum hambar. "Bukannya bohong atau enggaknya aku nggak penting ya buat kamu?"
"Salwa, aku suami kamu, dan aku berhak tau kamu kenapa?"
"Istri ya?" Salwa sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. "Ya, aku emang istri kamu, istri yang hanya akan jadi istri disaat kita dirumah aja. Gitu kan maksud kamu."
"Kamu itu ngomong apa Salwa?" Geram Arga yang sepertinya mulai habis kesabaran.
"Aku hanya bicara fakta Arga, fakta dimana aku hanya seorang istri yang kamu nikahin karna sebuah keterpakasaan! Fakta dimana aku hanya bisa mengakui status aku saat aku ada disini!" Akhirnya air mata Salwa menetes.
"Sa- Salwa?" Arga kaget melihat sang istri menangis.
"Maaf aku akhirnya nangis dihadapan kamu, tapi aku rasa kita nggak bisa kayak gini karena aku udah mulai capek, akuー"
"Jadi mau kamu apa?" Sorot mata Arga begitu dingin. Gerahamnya mengatup menahan emosi.
"Aku mauー"
Arga tiba-tiba menarik tubuh Salwa ke dekapannya hingga Salwa kaget. "Arga...?"
Arga menatap Salwa lamat-lamat dan... "Hum," Arga seketika mengecup bibir merah sang istri.
__ADS_1
*))Bersambung.....
Jangan lupa di vote, like, comment :)