
Keesokan paginya, Salwa yang masih mengenakan pakaian tidur nampak sibuk berkutat di dapur. Ternyata Salwa terlihat tengah membuatkan secangkir kopi dan sarapan untuk sang suami. Dengan suasana hati riang dan wajah berseri-seri ia membuatkan roti isi untuk Arga.
"Pagi...," Ucap seseorang yang tidak lain adalah Arga yang baru saja keluar dari dalam kamar sambil mengikatkan dasi di kerah kemejanya.
"Selamat pagi...," sahut Salwa diikuti senyum sumrigah menyapa balik sang suami. "Arga, kamu mau sarapan roti isi? Aku udah buatin loh..."
"Hem gimana ya, aku itu sebenernya nggak biasa sarapan dirumah sih...."
"Oh," Salwa nampak agak kecewa.
Sadar akan hal itu Arga pun mencoba untuk menghiburnya. "Tapi kamu bisa bawain aja, nanti biar aku makan di kantor."
"Beneran, mau dibuat bekal aja?"
"Iya..."
Wajah kecewa perempuan cantik itu seketika berubah jadi kembali semangat. "Oke, kalau gitu nanti aku masukin ke tempat makan. Mau kopinya juga dibawa sekalian?"
"Nggak usah, kopinya biar aku minum dirumah aja."
"Oke....," Salwa dengan cekatan langsung membawakan kopi buatannya itu untuk Arga.
"Tara....kopi buatan Salwa datang." Disuguhkannya secangkir kopi buatannya itu dihadapan Arga yang sudah duduk di kursi meja makan. Arga terlihat tak sabar mencicipi untuk pertama kalinya, kopi racikan sang istri. "Aku minum ya."
"Silakan," ucap Salwa yang terlihat excited.
Disesapnya secangkir kopi itu oleh Arga perlahan.
"Gimana, gimana...?" Salwa penasaran dengan komentar Arga soal rasa kopi racikannya.
Wajah Arga nampak datar mengecap lidahnya. "Umー enak sih... cumaー"
__ADS_1
"Cuma enakan kopi buatan di kantor kamu ya? Maaf deh ya kalo akuー"
"Hadeh... bukan gitu, kopinya enak kok, kekentalannya juga pas, cuma ada satu kurangnya yaitu, ke-ma-ni-san."
"Kemanisan?" Salwa mengerutkan keningnya.
"Iya kemanisan, karena biasanya aku minum kopi itu tanpa gula."
Salwa langsung tersipu, ia jadi merasa malu karena sudah baper duluan, mengira sang suami tidak suka kopi buatannya. "Maaf ya Ga, aku belum tau persis apa yang kamu suka dan nggak suka jadinyaー"
"Jadinya apa?" Arga tersenyum lalu meraih kedua tangan Salwa dan menciumnya. "Udah nggak usah baper gitu ah, nggak cocok beo jatinegara banyakan manyun gitu. Biasanya juga cerewet," goda Arga mencairkan suasana agar tidak teralalu drama.
"Ih kamu mah, ngeledek aku terus!" Salwa kesal menahan senyum malu-malu.
"Justru itu salah satu yang aku suka dari kamu, bisa diledekin," gurau Arga diikuti gelak tawanya.
"Ih apaan sih, nyebelin kamu mah...." Salwa pun membalas dengan mencubit-cubit mesra suaminya. Dan pagi hari pasangan suami istri ini diawali dengan senda gurau ala keduanya.
**
**
Setelah selesai minum kopi Arga pun pamit berangkat kerja. "Aku berangkat kerja duluan ya," pamit Arga sambil memakai jas.
Salwa mengangguk sambil memperhatikan penampilan Arga. "Eh tunggu dulu," Salwa seketika membetulkan dasi dileher Arga yang ikatannya tidak rapih. "Kamu tuh aku lihat sering banget kalau pasang dasi ikatannya gak rapi, kan malu kalau klien besar lihat! Nanti dikiranya istrinya nggak merhatiinlah, itulah...."
Arga yang hanya diam saja ternyata sambil senyum-senyum memperhatikan Salwa yang membenarkan dasinya sambil terus mengoceh. Pertama kalinya Salwa kayak gini sama gue, dan biasanya kalo dicerewetin orang gue paling kesel, tapi sama dia... gue justru seneng banget dibawelin gini.
"Dah rapi deh," ucap Salwa senang melihat tampilan suaminya sudah lebih rapi. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu lihatin aku?" Ucap Salwa heran melihat Arga seperti itu memandanginya.
"Nggak apa-apa seneng aja."
__ADS_1
"Ih, aneh deh kamu Ga,"
"Nggak apa-apa aneh, tapi kan kamu cinta."
"Ih gombal banget sumpah!" Ujar Salwa malu-malu menahan rasa senang karena, digombali seperti itu oleh suaminya.
"Yaudah aku berangkat dulu ya," Arga pun langsung mencium kening Salwa dan berbalik badan.
"Bye Arga.ー"
"Eh ada yang lupa," Arga kemudian balik badan lagi menghadap Salwa.
"Apanya yang lupa?"
"Ini yang lupa," Arga seketika langsung mendaratkan ciuman singkat dibibir Salwa. "Bye, sayang...," ucap Arga lalu benar-benar pergi berangkat ke kantor.
"B- bye..." Salwa dibuat diam dan agak terkejut dengan Arga. "Kenapa sih dia tuh suka banget ngelakuin hal spontan gitu?" Ujar Salwa sambil memegangi bibirnya.
**
Irsyad yang sudah sampai dikantor pagi-pagi sekali tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. Diruangannya ia membuka galeri berisi foto-foto candid Salwa yang seringkali ia abadikan sebelum ia tau kalau Salwa adalah istri Arga. Ia menggeser slide demi slide foto-foto itu. Senyumnya pilu mengamati tiap slide foto-foto tersebut. "Kayaknya gue yang harus perlahan buang memori dan rasa suka itu, gue nggak mau mencintai perempuan yang gue rasa juga gak punya perasaan sama gue." Dan dengan pertimbangan yang sudah ia pikirkan matang-matang akhirnya Irsyad pun memutuskan untuk menghapus semua foto-foto Salwa yang ada di galeri ponselnya. Setelah menghapus foto-foto Salwa di galeri ponselnya Irsyad berencana membeli kopi dulu diluar.
Ternyata saat ia berjalan di lobby, ia langsung melihat Arga yang tengah berjalan menuju ruangannya. Irsyad pun langsung menghampiri sahabatnya itu dan menyapanya. "Pagi bos! Ceria banget kayaknya?"
Dengan wajah sumringah Arga menatap Irsyad. "Iya dong... soalnya dibawain ini sama istri gua!" Arga menunjukan tentengan berisi roti isi yang dibawakan oleh Salwa tadi.
Dengan wajah keheranan Irsyad menatap Arga. "Istri maksudnya?"
"Ya Salwalah emang siapa lagi istri gua!"
"Ja- jadi maksud lo?"
__ADS_1
"Ya gitulah pokoknya, eh iya gue ke ruangan dulu ya, ada yang harus gua tanda tanganin soalnya," ungkap Arga sambil menepuk pundak Irsyad dan pergi dengan senyum sumrigah. Melihat temannya sebahagia itu Irsyad pun merasa senang, karena sudah lama sekali tak melihat Arga se-semangat ini. "Huft! Kayaknya langkah gue buat lupain Salwa udah yang paling tepat," Irsyad mencoba tersenyum kuat. "Huft... gue cuma bisa doain, semoga lo sama Salwa bahagia terus ya Ga, dan... semoga gue juga bisa nemuin kebahagiaan gue sendiri kelak."
**Bersambung....