
Mayang yang sudah pergi, akhirnya membuat Arga merasa lega. Ia pun langsung bergegas menghampiri kamar Salwa dan mengetuk pintu kamarnya. "Salwa... buka pintunya dong," pekik Arga dari luar.
Salwa sebenarnya malas sekali membukakan pintu untuk Arga. Namun, jika dia biarkan terus begitu bisa-bisa malah dirinya yang pusing karen terus menerus mendengar suara Arga menggedor pintunya.
"Sumpah ini orang berisik banget!" Keluh Salwa yang kemudian bergegas membukakan pintu.
"Apaan lagi sih Arga...?" Ucap Salwa dengan raut wajah betenya.
Arga tersenyum kecil, jujur saja Arga kali ini sedikit merasa tidak enak pada Salwa, karena sudah menyuruh istrinya itu sembunyi dikamarnya.
Salwa mengerutkan dahinya melihat Arga yang hanya mesam-mesem dengan tampak sok polosnya itu. "Arga please ya, kalo emang nggak ada yang mau diomongin yaudah jangan ganggu-ganggu aku!"
"Siapa yang ganggu coba? Aku itu..." Arga sebenarnya ingin minta maaf pada Salwa. Sayangnya, rasa gengsinya seolah membuat mulut Arga seolah kaku untuk mengatakannya.
Sementara itu, Salwa yang semakin lama menununggu Arga menyelesaikan ucapannya keburu hilang kesabaran. "Aduh... udah deh, kamu kalo nggak niat mau ngomong sama aku mending sono gih hus, minggir!" kata Salwa yang lalu ingin menutup pintu kamarnya namun dihalangi oleh Arga. "Eh eh... tunggu-tunggu, jangan ditutup dulu!" Arga menahan Salwa agar tak menutup pintu kamarnya.
"Ya makanya ngomong cepetan!" Salwa akhirnya tidak jadi menutup pintu kamarnya itu.
"Ok, jadi aku mauー" Kali ini, bukan Arga yang sengaja berhenti bicara, melainkan tiba-tiba ada panggilan masuk di handphonenya.
"Huft," Salwa menghela napas pasrah. Sedangkan Arga mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. "Mama Rania?" Ucap Arga tertegun. Salwa pun ikut mengerutkan alis kala Arga menyebut nama sang mama. Dan tanpa berlama-lama Arga pun mengangkat panggilan tersebut.
Arga : Iya halo ma...
Rania : Halo Arga, kamu lagi sama Salwa kan? (Dengan nada tinggi dan terdengar agak ngegas.
Arga : I- iya Ma, ini orangnya disebelah aku.
Rania : Yaudah hadapin kamera ke Salwa, Mama mau video
Arga : Eh, mau ngapain video call Ma?
Rania : Udah kamu jangan cerewet, alihin aja sekarang!
Arga : Ya- yaudah deh Ma, ini Arga arahin ke Salwa kameranya.
Rania : Oke!
Dan tak lama kemudian wajah mama Rania pun muncul di layar ponsel Arga menghadap Salwa.
Salwa : Hai mam, (melambaikan dengan ekspresi takut kena marah sang mama.)
Rania : Salwa, jawab mama, kenapa tadi kamu reject panggilan dari mama?
Aduh, beneran tadi suara hape Salwa yang bunyi pas ada Mayang ternyata dari mama, duh bodoh banget gue, masa mertua sensiri gue reject.
Salwa : Umー itu, (Salwa tampak kebingungan menjawab pertanyaan sang mama, ia malah melirik Arga,berharap sang suami yang akan bantu dirinya mencari alasan)
Arga pun dengan sigap langsung menghapkan wajahnya ke depan layar ponsel untuk berdialog langsung dengan mama Rania.
Arga : Jadi gini Ma, tadi itu Salwa lagi kebelet pipis dan karena udah keburu diujung, akhirnya hapenya di lempar deh tanpa tau itu panggilan dari siapa.
Rania : Oh gitu (tampak percaya)
Salwa : I- iya Ma, gitu ceritanya. (Salwa dengan polosnya mengiyakan alasan karangan sang suami)
__ADS_1
Arga : Emangnya, ada apa ya Ma tadi mama telepon?
Rania : Ohー tadi itu mama mau nanya sama Salwa, mau nggak besok kita sama-sama ke makam mendiang Salma. Soalnya udah lama nggak ziarah bersama.
Salwa : Oh gitu, yaudah Salwa mau mah.
Rania : Syukur deh, kalau begitu besok berarti kita ketemuan di makam aja ya, jam empat sore. Okey?
Salwa : Siap Ma!
Rania : Good! Oh iya Arga kamu besok ikut ya.
Arga : Oh besok ituー
Rania : Jangan alesan terus, kamu udah berapa kali skip pertemuan kita, jangan gitu dong nak! Kamu kan menantu mama satu-satunya.
Arga : I- iya deh Ma, besok Arga usahain bisa.
Rania : Harus loh ya....
Arga : Iya Mama...
Rania : Oke yaudah ya, see you.
Arga & Salwa : Bye Mama, salam buat papa ya.
Rania: Oke.
*
"Jadi besok aku wajib ikut ya?" Pungkas Arga.
"Kalo nggak mau, ya nggak usah dipaksain!" balas Salwa terdengar menyindir.
"Yaelah, bisa kok bisa!"
"Bagus deh kalau gitu. Terus, kenapa lihatin aku terus?" ujar Salwa.
"Ye... kamu kali yang terpesona sama aku!"
"Dih pede!" Sangkal Salwa lalu memalingkan wajahnya.
Arga yang awalnya mau minta maaf pun jadi buyar, ditambah dirinya memang gengsi untuk bilang maaf pada Salwa. Trus gue harus gimana ya, buat nebus rasa bersalah gue sama Salwa? Arga berpikir dan berpikir hingga akhirnya menemenukan ide. Oh gue tau! Arga tiba-tiba langsung menyuruh Salwa ganti baju dan bersiap.
"Emangnya mau kemana sih?" Salwa tidak paham maksud Arga menyuruhnya siap-siap.
"Udah bawel ikutin aja, cepet ganti baju aku tungguin di ruang tengah, oke?" Arga mendorong pelan Salwa ahar segera masuk kamar untuk ganti baju.
"Iya- iya! Sabar!" Seru Salwa yang kemudian masuk kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap.
Arga bertolak pinggang dan tersenyum bangga."Ya... seenggaknya ide gue ini lumayan brilian sebagai permintaan maaf buat si beo itu!"
**
Setelah menunggu Salwa kira-kira lima belas menit, Salwa pun tiba dan menghampiri Arga di ruang tengah.
__ADS_1
"Arga aku udah siap nih!" ucap Salwa.
Arga yang tengah duduk tertunduk menunggu pun langsung menolehkan wajahnya memandang sang istri dari ujung kaki ke ujung kepala. "Udah?" Arga cukup terpesona sekaligus tergelitik dengan dandanan kasual Salwa yang membuatnya semakin imut bak anak SMP.
"Kok kamu ketawa sih! Jelek ya aku?" Kata Salwa yang merasa tampilannya ditertawakan oleh Arga.
"Enggak kok, cuma..."
"Cuma?"
"Cuma kamu jadi kayak anak SMP kelihatannya, " jelas Arga diikuti tawa kecilnya
Salwa pun sebal dan mengerucutkan bibirnya.
"Tuh, tuh... bibir begitu jadi makin mirip anak SMP," ledek Arga lagi.
"Ih... nyebelin kamu mah, dahlah kalo gitu nggak usah aja keluar!" Salwa bersungut-sungut sambil berkacak pinggang dan memalingkan wajah.
Arga pun bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri Salwa. "Cielah... ngambek, udah deh kamu cantik kok! Udah yuk!"
"E- eh... Arga... kok ditarik" Arga yang juga sudah memakai jaket kulit pun menarik pelan tangan Salwa agar bisa segera pergi.
*
Di dalam kabin lift menuju basement Salwa bertanya pada Arga, "Sebenernya kamu mau ajak aku kemana sih?"
"Nanti juga kamu tau," balas Arga yang sibuk memandangi hall indicator yang memperlihatkan dimana posisi lift saat ini.
*
Keduanya pun akhirnya tiba dilantai basement, setelah keluar dari lift Arga langsung mengajak Salwa ke arah dimana sebuah motor sport berwarna hitam terparkir.
"Kok kita kesini sih? Mobil kamu mana?" Tanya Salwa bingung.
"Mobil aku ada, sekarang nih kamu pake helm aja!" Arga memberikan helm berwarna putih untuk dipakai Salwa. Salwa makin tidak paham dengan Arga yang menyuruhnya memaki helm. "Kamu mau kita naik motor?"
"Bukan naik becak, udeh jangan bawel mending pake aja," Titah Arga yang sudah memakai helm berewarna hitam dengan sedikit sentuhan warna biru.
"Iya, iya...! Nggak bisa lebih manis apa nyuruhnya?" Gerutu Salwa yang kemudian memakai helm ditangannya.
Arga yang sudah menunggangi motornya pun meminta Salwa untuk naik dibelakanganya. "Udah siap?" Tanya Arga pada Salwa yang sudah membonceng.
"Iya udah!"
"Yakin? Aku ngebut loh kalo bawa motor." Maksud Arga berkata demikian adalah agar Salwa berpegangan. Tapi sayang, Salwa kurang paham. Heh! Dasar telmi, Arga pun langsung tancap gas hingga Salwa reflek memeluk pinggangnya.
"Kan aku dah bilang aku ngebut bawa motornya!" Seloroh Arga sambil terus melajukan motornya.
Huh dasar nyebelin! Bilang aja minta gue biar pegangan! Gerutu Salwa dalam hati.
🌹🌹🌹
Hai maaf ya telat up, soalnya kemarin-kemarin nggak enak badan. 🙏
Jangan lupa Like, vote, comment 😄
__ADS_1