
"Loh, kamu itu kan manajer kafe Lorena yang amatiran waktu itu kan? Yang nggak becus memanage pegawai!" Tukas si perempuan yang tidak lain adalah Mayang, dengan nada sinis.
"Iya bener, saya emang manajer kafe Lorena. Tapi sorry saya mau ralat dikit, soal saya amatiran atau enggak, yang bisa nilai itu cuma bos saya dan pelayan lain , bukan perempuan judes kayakー" Salwa memutar matanya seperti ingin menyindir Mayang yang dari awal bicaranya ngegas terus.
"Kayak siapa? Kamu ngatain saja judes, huh?!" Mayang benar-benar tidak suka dengan Salwa sepertinya.
"Eh aku nggak nyebut loh mbak," balas Salwa santai. "Eh tapi kalau mbak ngerasa sendiri ya bagus deh kalau sadar diri."
"Heh, kamu kurang ajar! Udah bikin baju saya kena kopi, bukan minta maaf malah ngeledek saya! Kamu nggak tau siapa saya?" Dengan sorot mata angkuh, Mayang bicara keras pada Salwa hingga pegawai lain yang ada disana jadi memperhatikan mereka.
"Oh kalau soal kopi ketumpahan, saya minta maaf ya mbak, soalnya saya beneran nggak sengaja. Tapiー
kalau mbak nanya saya tau mbak atau enggak, jujur saya mah nggak tau mbaknya siapa, orang saya kesini cuma mau ketemu bapak Arganatha Yudhistira."
"Arga? Urusan apa kamu sama Arga!"
"Ih kok kepo sih," balas Salwa dengan ekspresi tidak suka.
Dijawab seperti itu Mayang semakin naik pitam, bahkan wajahnya pun kini mulai terlihat merah padam. "Kamu itu, dari waktu itu sampe sekarang ketemu saya selalu bikin saya kesel!" Mayang tiba-tiba menarik tangan Salwa. "Ih apaan sih pegang-pegang!" Salwa tak suka dirinya ditarik oleh Mayang dan melepaskannya. "Kamu mending keluar deh dari sini!" Mayang menyuruh Salwa pergi.
"Kok saya keluar, saya kemari karena ada perlu sama Arga. Udah mbaknya mending minggir deh! Soal baju mbak yang kena kopi, nanti uang laundrynya saya ganti kok tenang aja." Salwa mencoba melewati Mayang namun Mayang menghalangi, dan akhirnya keduanya pun cekcok di lobby sampai-sampai pegawai lain pun dibuat heboh.
"Mbak jangan bikin malu dong, ini kan kantor!"
"Ya makanya kamu go away dari sini!"
"Salwa, Mayang stop!" Seru suara Arga yang barjalan ke arah mereka.
Salwa dan Mayangpun berbarengan menengok ke arah datangnya Arga, yang diikuti Irsyad dibelakangnya.
"Semuanya kembali kerja!" Ujar Arga dengan keras supaya karyawan lain tidak diam dan ikut menonton cek cok yang terjadi antara Salwa dan Mayang.
"Kenapa kalian ribut disini?" Tanya Arga menghampiri kedua perempuan itu.
__ADS_1
Mayang yang posisinya memang lebih dekat dengan Arga pun langsung reflek mengadu pada Arga. "Arga perempuan ini udah bikin baju aku kena kopi, terus dia bukannya minta maaf malah ngeledek aku."
Salwa tentu tak terima Mayang berkata begitu. "Ih mbak jangan suka ngarang deh, saya kan tadi udah minta maaf. Malah si mbaknya aja tuh yang langsung ngegas sama saya duluan!"
"Eh kamu tuh!"
"Mayang aku bilang stop!" Arga memperingatkan Mayang lagi agar berhenti bicara. Mayang pun akhirnya berhenti bicara. "Salwa, mana dokumen aku?"
"Ini," Salwa menyerahkan dokumen yang diminta oleh Arga. Melihat Salwa yang sepertinya memang kenal baik dengan Arga, Mayang justru merasa semakin jadi tidak suka pada Salwa. Jadi ini cewek beneran kenal sama Arga? Mayang melirik sinis pada Salwa.
"Oke bener ini dokumennya, thanks ya," ucap Arga pada Salwa, setelah memastikan kalau dokumen yang dimaksud adalah sesuai dengan yang ia diminta. Salwa pun mengangguk, "Sama-sama Arga." Suasana diantara empat orang itu tiba-tiba jadi canggung dan hening, sampai akhirnya Arga buka suara. "Ehem, oh iya Mayang aku ada perlu sama kamu, bisa kita ngomong berdua?"
"Oh bisa kok," balas Mayang sambil melirik Salwa dengan tatapan jumawa, merasa kalau dirinya lebih dipedulikan oleh Arga.
"Kalau gitu kita ke ruangan aku," ujar Arga yang kemudian pergi meninggalkan Salwa dan Arga.
Ditempatnya berdiri, Salwa terus melihat ke arah Arga, seolah meratapi kepergian Arga bersama Mayang. Padahal yang istrinya gue, tapi kenapa malah perempuan itu yang dia lebih peduliin? Dan entah kenapaー tiba-tiba perasaan gue jadi aneh gini rasanya lihat Arga sama perempuan itu. Salwa menghela napas. "Perasaan yang aneh," ucap Salwa diikuti senyum getirnya.
"Apanya yang aneh?"
"Iya, kamu bilang barusan perasaan aneh, emang perasaan siapa yang aneh?" Irsyad yang sejak tadi memperhatikan Salwa menyadari kalau gadis yang ia sukai itu terus-menerus melihat ke arah Arga dan Mayang pergi. "Kenapa sih kamu ngelihatin mereka mulu, kamu kepo sama Mayang?"
"Mayang?" Salwa mengerutkan alisnya.
"Iya, perempuan tadi namanya Mayang."
"Oh... namanya Mayang," Salwa mengangguk paham.
"Di emang orangnya ya agak judes, dan berasa ratu sejak dulu. Apalagi kalau ada Arga," jelas Irsyad. Salwa pun jadi dibuat makin penasaran dengan sosok Mayang. Sebenernya ada apa sih antara Arga sama Mayang? Jadi kepo deh.
"Salwa, kamu masih disini emang nggak ke kafe?" Tanya Irsyad. Dan lagi-lagi Salwa malah terlihat bengong, alhasil Irsyad pun menepuk pundak Salwa. "Hei Salwa!"
"Eh iya, kenapa Syad?" Salwa yang habis bengongpun jadi tidak fokus.
__ADS_1
Irsyad menghela napas pasrah, "Kamu dari tadi begong-bengong mulu, padahal aku nanya, kamu nggak ke kafe?"
Salwa reflek menepuk jidatnya. "Oh iya, aku lupa!" Ia pun gelagapan dan langsung pamit pada Irsyad. "Yaudah Syad, kalau gitu aku pamit ke kafe dulu, bye Irsyad...!" Dan Salwa pun langsung melenggang pergi.
"Heh... dasar cewek aneh, untuk gue suka!" Ujar Irsyad memandangi kepergian Salwa.
**
Di ruangan Arga, Mayang yang baru dari toilet diruanganya langsung menemui Arga. "Udah bersih?" tanya Arga soal baju Mayang yang terkena noda kopi.
"Udah sih, tapi masih kotor! Ini semua gara-gara tuh cewek resek!" Mayang tampak sangat kesal.
"Kamu kenapa sih bisa ribut gitu sama Salwa?"
Mayang terksiap, "Tunggu dulu, aku jadi penasaran sebenernya si Salwa itu siapa kamu sih?" Mayang menatap wajah Arga.
Heh, lagi deh gue harus bohong soal siapa Salwa sebenernya. "Salwa ituー dia adik sepupu aku yang baru balik dari luar kota," jelas Arga dengan tetap tenang. Mayang menyipitkan matanya, "Tapi... seinget aku, perasaan kamu tuh nggak punya sepupu perempuan seumuran si Salwa deh."
"Umー kalau soal itu, karena Salwa sama keluarganya emang lebih lama tinggal diluar jakarta, jadinya kamu nggak tau." Arga berusah menjawab setenang mungkin supaya Mayang yakin.
"Oh gitu ya?" Mayang mengangguk tampak percaya. "By the way, kamu mau ngomong apa sama aku? Sampe minta aku kesini," tanya Mayang.
"Oh ituー aku ada perlu sama kamu soal bahas kerjasama perusahaan bareng pak Atma."
"Oh soal itu, coba sini biar aku lihat dokumennya." Arga memberika dokumen yang ada ditangannya itu untuk dibaca oleh Mayang. Sementara Mayang mempelajari dokumen, Arga justru masih bertanya-tanya penyebab Salwa dan Mayang bertengkar, tadi. Apa iya cuma gara-gara kopi tumpah?
Bersambung。。。
Hai jangan lupa di like, comment dan masukan ke favorit ya..
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
"LOVE PETAL FALLS" (udah tamat)
__ADS_1
Makasih 🙏