
Salwa pun mengangguk, ia mencoba untuk menahan tangisnya.
"Yaudah, intinya... sekarang kamu mau makan apa? Biar aku pesenin."
Mendengar tawaran dari Arga, Salwa yang matanya sendu langsung berubah ceria. "Beneran kamu mau pesenin aku makan?"
"Iyaー"
"Yey, asyik!" Salwa tampak girang.
Arga pun memesan makanan melalui aplikasi ojek online. Ia memesan beberapa makanan dari berbagai restoran untuk sang istri. "Udah aku pesenin, tinggal nunggu aja," ucap Arga.
"Terus kamu mau kemana?" Tanya Salwa melihat Arga yang mau melangkah pergi.
"Aku mau ambil minum ke dapur, kenapa mau ikut?"
Salwa menggeleng.
"Yaudah diem aja tunggu sini." Arga pun pergi meninggalkan Salwa untuk mengambil air minum di dapur.
Di dapur Arga mengambil segelas air putih dan meminumnya. "Huh..." Arga meletakkan gelasnya. "Salwa tadi hampir mau nangis pas gue tanya, apa tadi gue terlalu keras ya, sama dia?" Saat Arga sedang bermonolog tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. "Wah udah dateng tuh kayaknya makanannya," tukas Arga yang kemudian langsung bergegas membukakan pintu.
"Dengan bapak Arganatha?" ucap si driver ojol yang sudah membawa tentengan makanan.
"Iya saya, itu pesenan saya kan?"
"Iya Pak, ini silakan." Pengemudi ojek online itu menyerahkan pesanan makanan yang telah dipesannya itu kepada Arga.
"Oke makasih, oh ya tunggu dulu pak!" Arga menghentikan driver ojol itu sebentar.
"Ada apa lagi Pak? Kan tadi udah dibayar lewat aplikasi," terang si bapak pengemudi ojek tersebut.
"Iya saya tau, tapi..." Arga merogoh kantung celananya. "Ini buat bapak." Arga memberikan selembar uang seratus ribu kepada pengemudi ojek online tersebut. Sang pengemudi pun tampak senang sekali. "Ini tips buat saya pak?" tanya si driver ojol sebelum mengambil uang itu.
"Ya!"
"Terima kasih ya pak!" Tukang ojol pun menerima uang tersebut lalu pergi.
**
Arga pun langsung membawakan, makanan yang sudah dipesannya itu kepada Salwa yang masih ada di kamarnya. "Nih cepet makan, udah gue pesenin banyak makanan dari restoran terbaik di kota ini."
Melihat tentengan Arga mata Salwa langsung berbinar-binar. Entah kenapa, Salwa jadi sangat ingin makan kali ini, berbeda dengan tadi saat di restoran dirinya sama sekali tidak nafsu makan. "Wah kamu pesenin aku ini!" Salwa senang sekali karena Arga memesankan bubur kampiun di restoran favoritnya. "Ih kok kamu tau aku suka bubur kampiun yang dijual restoran ini?" Tanya Salwa penasaran.
__ADS_1
"Aku pesen asal aja yang direkomendasiin."
"Oh...." Salwa tampak sumringah sekali karena Arga sudah mau repot-repot pesan makanan untuk dirinya.
"Udah jangan dilihatin aja, buruan makan nanti pingsan lagi!"
"Iya iya...," balas Salwa yang kemudian mulai memakan makanannya. "Hem..." Salwa terlihat menikmati dengan lahap makanannya, dan hal itu membuat Arga senang melihatnya.
"Oh iya makasih ya, kamu udah mau pesenin aku makanan," ucap Salwa disela-sela dirinya makan bubur kampiun.
"Iya."
"Eh tapi kok kamu nggak makan juga sih Ga?"
"Udah buat kamu aja, aku takut nanti kamu kurang, kalo aku ikut makan," ledek Arga.
"Ih emang makan aku sebanyak itu apa?" Protes Salwa. "Kamu makan juga dong, aku jadi risih kalo makan sendirian gini."
Karena Salwa terus menerus memintanya makan, akhirnya Arga pun ikut makan makanan yang sudah dipesannya. Keduanya pun makan bersama di kamar. Sambil makan, Arga bertanya soal kunjungan Salwa tadi pagi ke rumah orang tuanya. "Papa dan Mama nanyain aku nggak?" Selidik Arga.
"Nanyain sih, tapi cuma ya hal-hal lumrah aja." Salwa tidak ingin Arga tau, soal mamanya yang mengeritik dirinya tadi. Apalagi bercerita soal obrolannya dengan papa Ramdani di mobil tadi pagi tentang papa yang merasa curiga dengan hubungan pernikahan mereka.
Berbeda dengan Arga, Salwa justru jadi ingat soal tadi siang yang melihat Arga bersama Mayang di restoran. Gue tanyain nggak ya? Tapi kalau nggak gue tanya gue jadinya makin kepo malahan. Salwa tidak mau terkesan kepo sekali di depan Arga. "Oh iya Ga, aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa?" sahut Arga dengan sangat santai sambil menikmati sate taichan yang dipesannya.
Arga pun langsung memandangi Salwa dengan mata tajamnya. Alhasil Salwa pun dibuat salting olehnya dan jadi tidak berani menatap balik. Kenapa malah ngelihatin gue sih?
"Kamu mau tau banget ya emangnya?" Arga seperti menggoda sang istri. Dan Salwa pun berhasil dibuat semakin salah tingkah ditanya begitu. "Yaー aku kan cuma mau tau aja, tapi kalau kamu nggak mau jawab juga nggak masalah kok!" terang Salwa yang masih tidak berani menatap suaminya.
"Oh gitu, yaudah berarti nggak usah aku ceritain gak apa-apa dong, soalnyaー nggak ada urusannya juga kan sama kamu," jawab Arga dengan entengnya dan kembali makan. Sayang sekali, padahal perkataan Salwa itu berbanding terbalik dengan keinginan hatinya yang sangat ingin tahu soal masa lalu suaminya itu dengan Mayang. Tapi mau bagaimana lagi? Salwa sendiri yang terlalu gengsi untuk to the point mengatakan apa yang sebenarnya ia ingin ketahui. "Oh, yaudah kalo gitu!"
"Yakin, yaudah? Beneran nggak mau aku ceritain?" Arga menggoda Salwa.
"Ya- yakin kok! Apaan sih sok pengen dikepoin." Salwa mulai bad mood.
"Jujur, aku sih mau aja cerita. Tapi... kasih tau dulu alesan kamu kenapa pengen tau." Arga tersenyum licik sambil melirik dengan tatapan usil ke arah Salwa."Oh jangan-jangan, kamu cemburu sama Mayang ya?"
Seketika Salwa terkesiap dan jadi kikuk. "Ih apaan sih! Pede banget kamu. Udah ah, aku udah kenyang, dan mau bersih-bersih terus istirahat. So.. sisa makanannya tolong kamu yang beresin ya!" Salwa yang sudah selesai makan pun langsung beranjak pergi meninggalkan kamar Arga dengan raut wajah yang tampak bete.
"Idih, curang banget makan doang!" Arga pun jadi agak bete dibuatnya, karena tempat tidurnya jadi berantakan, ditambah Salwa malah langsung pergi.
"Heh, untung aja tuh anak lagi nggak enak badan jadi gue masih berbaik hati. Lagian tuh orang kenapa tiba-tiba bete gitu? Orang dia yang ngomongin Mayang malah dia yang jadi bete nggak diceritaian. Si beo aneh!" Arga pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
**
Keesokan harinya, Salwa yang tengah bekerja di ruangannya terlihat kurang fokus bekerja. Dirinya ternyata masih penasaran dengan hubungan Arga dan. Mayang di masa lalu. "Ih sebel! Kenapa sih semalem gue nggak langsung aja bilang kalo gue tuh kepo sama hubungan mereka dulu. Pake sok bilang nggak diceritain juga nggak apa-apa. Uh... dasar Salwa oneng!" Salwa sampai geregetan sendiri pada dirinya.
Ia menopang dagu denga tangannya. "Huft, kalo gini mah namanya gue-gue juga yang terjebak dalam ke- kepoan," keluh Salwa.
Tiba-tiba handphone Salwa berbunyi. Ia pun segera mengambil ponselnya, dan ternyata Irsyad yang menghubunginya.
Salwa: Iya, halo Syad!
Irsyad : Halo Sal! Kamu sibuk ya?
Salwa : Oh nggak juga kok, emang ada apa?
Irsyad : Enggak, aku telepon cuma mau nanya sama kamu. Hari minggu nanti, mau nggak kamu temenin aku ke acara pameran budaya?
Salwa sepertinya agak tertarik dengan ajakan Irsyad itu
Salwa : Umー gimana ya Syad, aku nggak tau juga nih hari minggu bisa atau enggak. Gimana kalau aku bisa aku kabarin kamu. Itupun kalau kamu belum ada temen kesana.
Irsyad : Oh gitu ya? Emー oke deh, kalau gitu aku tunggu kabar kamu selambat-lambatnya hari minggu sebelum jam sepuluh ya.
Salwa : Oke deh.
Irsyad : Oke! Kalau gituー semangat kerjanya ya Sal!
Salwa : (Tersenyum kecil) Iya, kamu juga semangat kerja ya...
Irsyad : Iya... umー kalau gitu aku tunggu kabar kamu ya, dan aku berharap banget kamu bisa hari minggu nanti.
Salwa: Mudah-mudahan ya Syad. Udah dulu ya... bye!
Irsyad : Bye Salwa.
*
Salwa berpikir ulang, "Hem, padahal harusnya gue iyain aja ya ajakan Irsyad soalnya gue suka ke acara gitu. Tapi masalahnya, hari minggu nanti kan niatnya gue emang mau ke rumah mama dan papa lagi."
🌹🌹🌹
HALO JANGAN LUPA DI LIKE, COMMENT, VOTE
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
__ADS_1
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)
Follow juga ig aku @chrysalisha98