
Setibanya di kantor. Arga yang tengah berjalan di lobby sambil menyapa balik para karyawannya yang mengucapkan selamat pagi, tiba-tiba langsung disambut oleh Irsyad yang entah datang dari arah mana langsung dengan akrab merangkul Arga. "Wei, pagi Bos!" ucap Irsyad. Dengan ekspresi datar, Arga pun menjawab, "Pagi." Kedua lelaki itu berjalan memasuki lift.
Di dalam lift mereka saling bercerita layaknya teman akrab. "Bro Arga, lo udah baca belom chat WA di grup SMA?" Dengan agak penasaran Arga melirik sahabatnya itu. "Nggak tau, gue aja nggak pernah buka WA grup sama sekali." Ya maklum saja, Arga memang tidak aware soal percakapan di grup manapun kecuali soal pekerjaan. Irsyad pun langsung menepuk pundak sang bos dan bergurau padanya."Pak bos sibuk terus, mana tau soal grup WA, ya nggak?"
"Emang ada apa sih di grup WA?" tanya Arga yang sepertinya juga jadi penasaran dengan isi grup WA SMA-nya. Irsyad menjelaskan bahwa akan ada reuni sekolah hari sabtu nanti di salah satu kafe.
"Oh!" balas Arga singkat dan datar.
"Oh doang? Padahal gue pikir lo bakal antusias banget."
"Biasa aja. Lagian disono palingan cuma gibah, sok akrab-akrab dan segala kemunafikan Tommy dan lainnya."
"Iya juga sih," tutur Irsyad sambil mengusap dagunya.
Saat membahas itu, tiba-tiba Arga teringat Salwa yang kemarin pergi dengan Irsyad. "Irsyad!"
"Apa pak bos?"
"Lo kemarin pergi sama Salwa kan?"
Mendengar nama Salwa Irsyad langsung sumringah. "Iya kok bener, kemarin gue pergi sama Salwa ke pameran, emangnya kenapa bro?"
"Nggak apa-apa, cuma lain kali kalo lo mau pergi sama Salwa bilang dulu sama gue!"
Irsyad merasa Arga agaknya seperti kurang suka mendengar dirinya pergi dengan Salwa. "Kenapa gue harus bilang lo, kan Salwa udah gede, dia juga cuma sepupu lo, dan bukan ortunya kan? Aneh deh!" Ujar Irsyad merasa aneh dengan Arga.
Arga hanya mengatupkan gerahamnya, ia merasa tidak senang dengan pernyataan Irsyad barusan. Dan setelah pintu lift terbuka, Arga malah langsung pergi keluar duluan diikuti langkah Irsyad. "Bos!" Irsyad memanggil untuk menyelesaikan obrolannya tapi Arga malah tidak peduli dan langsung pergi menuju ke ruangangannya.
"Aneh banget deh si Arga! Tadi nanya, dijawab malah langsung melengos pergi. Untung aja si Arga bos sekaligus sahabat gue, jadi gue maklum." Irsyad geleng-geleng keheranan.
**
Mayang dan kakek Tamin terlihat sedang menikmati sarapan bersama di meja makan. tiba-tiba Mayang yang sedang sibuk mengoles selai bertanya pada sang kakek. "Oh iya Kek, sebenernya kemarin kakek sama Arga buat kesepakatan apa sih, setelah kakek menang lawan Arga main golf?"
"Kenapa? Kamu penasaran?" Tanya kakek yang kemudian menyeruput tehnya.
Tentu saja Mayang penasaran, pasalnya kemarin Mayang sempat melihat raut wajah Arga seketika tegang setelah obrolannya dengan sang kakek. "Makanya kakek cerita dong ke aku."
"Jadi, kemarin ituー" Kakek Tamin menceritakan pada cucunya itu tentang rencananya untuk menjodohkannya dengan Arga. Mengingat Kakek Mayang dan Kakek Arga dulu adalah teman lama.
"Jadi kakek sama kakeknya Arga udah lama saling kenal?" Mayang baru mengetahui hal tersebut.
Kakek meletakan teh yang baru disruputnya lagi itu. "Iya, kakek dan Seno kakeknya Arga itu berteman sejak kami remaja. Awalnya kakek nggak tau kalau Arga itu cucunya Seno, tapi setelah tau kakek langsung memutuskan untuk jodohin kamu sama Arga."
"Jadi Kakek Seno sama Kakek emang udah ngejodohin aku sama Arga dari dulu gitu?" Mayang terlihat antusias sekali menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Tidak juga, cuma kakek merasa dengan kamu menikah dengan Arga, maka persahabatan kakek dengan mendiang Seno akan jadi semakin abadi. Karena keturunan kita bisa bersatu."
"Oh gitu." Mayang menyeringaikan senyum dengan penuh arti. Bagus! Dengan adanya perjodohan ini, maka semakin besar juga jalan aku buat kembali sama Arga. Sepertinya semesta emang berpihak sama aku.
**
Arga baru saja pulang dari kantor kira-kira pukul depalan malam. Lagi-lagi, ia melihat kondisi apartemennya sepi dan tidak ada sosok Salwa. Pikiran Arga pun langsung kemana-mana. "Jangan-jangan Salwa?" Arga mengira istrinya itu sakit lagi, ia pun dengan segera berjalan ke kamar Salwa untuk memastikan kalau sang istri baik-baik saja.
"Salwa! Salwa...! Buka pintunya!" Arga menggedor-gedor pintu kamar Salwa. Karena nggak ada jawaban, Arga pun langsung mengambil kunci duplikat kamar tersebut dan membukanya. "Salwa!" Arga melihat sang istri tengah berada diatas ranjang sambil memegangi perutnya, dan terlihat kesakitan. Sontak Arga pun was-was dan langsung menghampiri. "Kamu kenapa?" Arga bisa menyaksikan Salwa meringis kesakitan. Tidak tega melihatnya Arga pun langsung meraih handphonenya yang ada disaku.
"Kamu mau ngapain?" Kata Salwa melihat Arga yang ingin telepon.
"Telpon dokterlah!"
"Nggak usah!" Dengan menahan sakit Salwa menghalangi Arga untuk menelpon dokter.
"Nggak usah gimana! Lihat tuh muka kamu udah kaya orang kesiksa." Tapi lagi-lagi Salwa menghalangi Arga, hingga akhirnya handphone arga terjatuh di ranjang lalu diambil oleh Salwa.
"Balikin hp aku!" Titah Arga kesal.
"Nggak!"
"Eh, aku itu mau nolongin kamu lho! Sini cepet balikin!" Arga kesal melihat tingkah sang istri yang malah menghalanginya untuk menghubungi dokter. Sementara itu Salwa yang tengah kesakitan itu malah tergelak antara menaha sakit dan tertawa.
Nih anak waras nggak sih! Kesakitan gitu masih bisa tawa-tawa.
"Kamu mau nolongin aku kan?"
"Iya," Arga mengangguk.
"Yaudah tolong ambilin aku air anget."
"Air anget?" Arga pun bingung kenapa Salwa memintanya membawakan air hangat.
"Udah cepet ambilin aja."
Arga akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Salwa, dan mengambil air hangat di dapur.
"Ini," ucap Arga yang langsung menyerahkan segelas air hangat yang diambilnya tadi. Salwa pun langsung menerima segelas air hangat itu dan meminumnya. Arga melihat Salwa sudah tidak nampak begitu kesakitan setelah meminum air hangat itu. Sebenernya dia kenapa sih? "Kamu udah nggak kesakitan lagi?" Tanya Arga memastikan.
"Masih, tapi udah mendingan kok! Oh iya, nih hp kamu." Salwa memberikan kembali hp Arga yang ia ambil tadi.
"Kamu sebenernya sakit apa sih?" Tanya Arga yang terlihat sangat penasaran dicampur cemas.
Dengan ekspresi malu-malu akhirnya Salwa menjelaskan pada Arga, tentang kondisinya. "Sebenernya akuー"
__ADS_1
Arga pun melongo setelah mendengar penjelasan Salwa. "Jadi kamu dari tadi kesakitan gitu karena datang bulan?" Arga sampai-sampai menggaruk kepalanya tidak habis pikir. Ia kira istrinya kesakitan karena sakit serius. "Nyesel aku khawatirin kamu, tau gitu."
"Idih, kok gitu sih? Ya lagian, siapa juga yang minta kamu khawatirin aku, hayo?" Salwa mencebikan bibirnya merasa kesal dengan perkataan Arga barusan.
"I- iya emang, tapi kan Yaー ya aku kan cumaー" Arga jadi malah kehabisan kata-kata, pasalnya ia tidak ingin diketahui kalau ia sebenarnya tadi khawatir dengan istrinya itu. "Ya, intinya kamu tuh pasti ngerepotin kalo sakit lagi!"
Salwa tentu semakin merengut jadinya mendengar ucapan Arga seperti itu. Dih nyebelin banget sih, jadi suami!
Salwa yang sejak tadi bersandar di ranjang, tiba-tiba bergerak ingin turun dari atas ranjangnya. Arga yang melihatnya pun langsung kembali cemas melihat Salwa yang masih terlihat kesakitan namun berusaha turun dari ranjang. "Eh, Eh... mau ngapain kamu?"
"Bukan urusan kamu!" Sahut Salwa jutek.
Arga yang cemas, langsung cepat-cepat menyuruh Salwa untuk tidak turun dari ranjang. Tentu saja Salwa pun makin bingung dan jengkel dibuatnya. "Kamu tuh apa sih, tadi bilang nyesel khawatir sama aku, sekarang aku mau bergerak kamu larang, maunya apa sih? Labil banget!"
Arga menghela napas, "Yaudah, gini aja sebenernya kamu mau apa biar aku aja yang lakuin."
Salwa mencembungkan matanya, "Serius kamu mau lakuin buat aku?"
"Iya!" Angguk Arga.
"Beneran? Yakin? Sumpah?" Salwa benar-benar bertanya untuk meyakinkan Arga.
"Iya, yakin, cius, sumpah! Udah deh jangan bawel kaya beo jatinegara. Cepetan bilang kamu mau aku ngapain?" Arga jadi sewot melihat Salwa tidak segera to the point.
"Oke, kalau gitu sini kamu aku bisikin!" Arga pun mendekatkan telinganya untuk mendengarkan bisikan Salwa.
"Gila! Kamu becanda ya?" Arga shock mendengar permintaan Salwa.
"Ya mau gimana lagi, namanya butuh. Tapi kalau kamu nggak mau tolongin juga nggak apa-apa aku juga bisaー"
"Eits, iya iya! Udah biar gue aja!" Arga menghalangi Salwa yang kembali ingin turun dari ranjangnya. "Nanti aku dikira suami kdrt lagi, gara-gara biarin istrinya kesiksa pas lagi haid pergi keluar sendirian."
"Cie ngakuin aku istri," ledek Salwa tertawa kecil.
"Udah nggak usah ngeledek! Kamu diem sini ya, aku pergi dulu sebentar ke minimarket dibawah!"
"Siap pak Bos!" jawab Salwa yang tampak senang melihat Arga mau pergi membelikannya pembalut meski dengan terpaksa.
"Lucu juga si Arga pas tau gue suruh beli pembalut," ucap Salwa cekikikan melihat sang suami yang baru saja pergi.
🌹🌹🌹
Hai jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE ya...
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
__ADS_1
LOVE PETAL FALLS (udah tamat) Follow juga ig aku buat trailer or bocoran @chrysalisha98