
Akhirnya, meski dengan amat sangat terpaksa Arga pergi ke minimarket untuk membelikan pembalut untuk sang istri. Sesampainya di dalam minimarket, Arga langsung disambut oleh pegawai minimarket yang bergaya ala none betawi sambil berkata, "Selamat datang di minimarket kami."
Arga celingak celinguk mencari rak tempat dimana pembalut berada. Sayangnya, karena seumur hidup ini pertama kalinya bagi Arga membeli benda kebutuhan wanita, ia pun malah bingung dibuatnya. Yaelah, bentukannya pembalut aja gue kaga paham! Tapi... seinget gue dulu sempet lihat punya nyokap gue warnanya pink! Arga hanya bisa menggaruk kepalanya. Dahlah! Daripada pusing gue tanya sama pegawainya aja. Arga pun akhirnya bertanya pada salah satu pegawai laki-laki yang kebetulan lewat di dekatnya. "Eh mas," tegur Arga pada pegawai itu.
"Iya Mas, ada yang bisa dibantu?"
Arga agak malu sebenarnya bertanya soal pembalut pada pegawai itu, tapi mau bagaimana lagi, dirinya sudah terlanjur janji pada Salwa mau membelikannya pembalut, jadi sudah tidak bisa mundur lagi. Untungnya sifat cuek Arga masih terpelihara dengan baik jadi rasa malunya tidak terlalu nampak. "Mas mau nanya, pembalut adanya dimana ya?"
"Oh, ada dilorong sebelah sana Mas," jawab si pegawai sambil menunjukan arah tempat lorongnya. "Oh, oke!" Arga kemudian langsung ke lorong tersebut untuk mengambil pembalut. Sayangnya, saat sudah berada dilorong tempat pembalut dipajang, Arga lagi-lagi mengalami kebingungan karena ada banyak merek pembalut disana terpajang. Pasalnya dia tidak tahu merek mana yang harus ia beli. "Ini semuanya pembalut, tapi kenapa beda-beda sih!" Gerutu Arga. "Arga mengambil dua merek pembalut, dia mencoba membaca apa perbedaannya." Tapi setelah membacanya bukannya mengerti ia malah makin tidak paham. "Buset dah, pembalut fungsi sama segala ada merek beda, bikin bingung aja!" Arga pun mengambil lagi dua pembalut dengan merek yang sama tapi tampilan berbeda. "Ini lagi! Merek sama pake dibeda-bedain segala ada extra wings dan non wings, emang bedanya apa? Emang kalo extra wings jadi ada sensasi berasa terbang gitu pas dipake?" Tutur Arga.
Ternyata celetukan Arga itu malah membuat mbak-mbak customer disebelahnya dan salah satu pegawai tergelitik. Arga pun menoleh ke pegawai yang menertawainya itu. "Eh mbak, daripada ngetawain saya mending bantuin saya milih pembalut!" Ujar Arga.
Pegawai itu pun menghampiri Arga untuk membatunya memilih pembalut. Pegawai itu pun memberi tahu Arga perbedaan pembalut bersayap dan tidak bersayap. Tapi karena Arga tetap bingung akhirnya ia mengambil pembalut lebih dari satu. "Oh iya mbak makasih ya udah bantuin saya milih pembalut."
"I- iya mas," ucap si pegawai malu-malu.
"Emang buat siapa sih Mas pembalutnya?" Pegawai itu kepo.
"Buat istri saya!" Balas Arga spontan.
"Oh udah punya istri ya, saya kira belom." Pegawai itu menggoda Arga.
"Emang kenapa kalo saya udah beristri?" Tanya Arga iseng.
"Ya, kali aja kalo belum beristri masnya mau sama saya," balas si pegawai yang jadi salah tingkah. Arga yang melihatnya pun hanya bisa tergelitik keheranan. "Aneh-aneh aja sih mbak. Tapi sekali lagi makasih bantuannya ya," ucap Arga yang kemudian ke kasir untuk membayar belanjaannya.
**
Setelah selesai membeli pembalut Arga pun kembali ke apartemennya. Kebetulan jarak apartemen Arga dan minimarket tidak jauh, alhasil Arga pun hanya jalan kaki saat berangkat dan pulanh. Dan ketika Arga memasuki area apartemennya, dirinya malah dibuat kaget dengan hadirnya Irsyad di depan pintu masuk apartemennya. "Itu kan Irsyad ngapain dia kesini malem-malem?" Arga pun langsung menghampiri Ir
__ADS_1
teman sekaligus asisten pribadinya itu. "Irsyad!" Seru Arga.
Irsyad pun menoleh, "Woy Ga, kebetulan kita ketemu disini, gue baru aja mau ke apartemen lo buat bahas something soal kerjaan."
"Bahas apa, emang ada yang belum clear tadi?" Arga menelisik Irsyad.
"Iya ada, makanya yuk bahas di apartemen aja!"
"Hah? Apartemenー apartemen gue maksud lo?"
"Yaiyalah, emang ini apartemen siapa?"
Arga jadi gelagapan, mengingat di apartemennya saat ini ada Salwa. Mustahil untuk Arga membawa temannya itu ke apartenmennya sekarang, karena bisa-bisa status Arga dan Salwa ketahuan oleh Irsyad.
"Arga! Malah bengong aja lo! Ayok bahas kerjaan dulu bentaran di tempat lo."
"Iyalah penting banget, makanya gue rela malem-malem kesini."
"Oke, kalo gitu lo kirim aja berkasnya via e-mail biar gue baca."
Irsyad mengerutkan kening. "Loh kok gitu, tapi kanー"
Arga menatap Irsyad dengan tajam. "Saya juga butuh istirahat!"
Kalau sudah Arga begitu tandanya Irsyad tidak bisa lagi melakukan apa-apa. "Yaudah bos, okey... gue kirim e-mail aja," kata Irsyad yang padangannya tiba-tiba jadi tertuju pada tas tentengan Arga yang tidak sengaja isinya terlihat oleh Irsyad. "Arga, lo beli pembalut buat siapa?" Irsyad kaget mengetahui isi dari tas belanja Arga. Tentu saja hal itu membuat Arga panik didalam hatinya. Mampus gue si Irsyad pake lihat isi belanjaan gue lagi!"
Arga pun bersikap sesantai mungkin. "Oh ini pembalut buat mbok Darmi."
"Ta- tapi kok lo yang beli?" Irsyad makin keheranan dibuatnya.
__ADS_1
"Yaー emang kenapa? Masalah?"
"Ya, enggak sih! Cumaー"
"Aelah banyak banget nanya dah lu Syad! Udah ya, soal berkas itu lo tinggal kirim. Sekarang gue mau masuk dulu, lo pulang gih!" Titah Arga yang kemudian pergi memasuki apartemen meninggalkan Irsyad. Masih ditempat yang sama, Irsyad sambil mengusap dagunya merasa janggal dengan alasan Arga membeli pembalut barusan. "Eh tunggu, tunggu!" Irsyad sadar akan satu hal. "Setau gue mbok Darmi itu kan udah monopause kok bisa haid lagi?" Irsyad makin penasaran dengan sahabatnya itu. "Wah kacau! Si Arga kayaknya mulai main cewek lagi nih pasca ditinggal mendiang Salma!" Irsyad meyakini hal itu. "Gue yakin banget itu pembalut bukan buat mbok Darmi." Irsyad menampakan tatapan curiga.
**
Setibanya di dalam apartemen, Arga langsung ke kamar Salwa untuk menyerahkan pembalut itu padanya. "Nih," kata Arga memberikan tas berisi pembalut itu pada Salwa.
"Hehehe... makasih ya Arga," ucap Salwa sambil ketawa ketiwi. Namun, tiba-tiba pandangan mata Salwa berubah heran kala melihat Arga yang sepertinya agak gusar. "Arga, kamu kok kayak tegang gitu sih mukanya? Kenapa kamu, abis dikejar hantu pembalut ya?" Ledek Salwa.
"Sembarangan kalo ngomong!"
"Ya kan cuma nebak, emang sebenernya kenapa sih?" Salwa ingin tau hal apa yang membuat seorang Arganatha Yudhistira tampak gusar.
"Nggak ada apa-apa, cuma panik tadi ada cewek jadi-jadian."
Sontak Salwa pun langsung tertawa geli mendengar cerita barusan. "Udah..., malem-malem jangan kebanyakan ketawa, nanti dikira nyai kunti!" Kata Arga yang kemudian pergi dari kamar Salwa.
"Dih, ngambek dia," ejek Salwa sambil tertawa.
🌹🌹🌹
Halo jangan lupa ya vote, comment, dan likenya :)
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)
__ADS_1