Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 10


__ADS_3

'' Pak tadi saya telat mengumpulkannya, jadi gimana itu pak?'' tanya Sasya.


'' Ya nggak ada nilai la.'' jawab bapak itu dengan santai.


'' Ih pak, jangan gitu la. Apa nggak ada acara gitu?'' ucapnya.


'' Nggak ada.'' jawabnya singkat.


Sasya akhirnya pergi meninggalkan sekolah, ia pun bertanya kepada Febri.


'' Febri, tadi di ruangan sebelah tepatnya di ruanganmu. Ada nggak yang sama kayak aku, telat mengumpulkan?'' tanya Sasya.


Febri pun mulai mengingat, dan akhirnya ia pun mengingat sebuah nama.


'' Iya aku ingat, tadi Si Edo bilang dia terlambat juga.'' jawabnya.


'' Yang bener, Si Edo?'' tanyanya.


'' Iya Si Edo.'' ucapnya kembali.


Tanpa perlu waktu lama, Sasha pun segera mengeluarkan handphonenya. Ia pun segera mengecat Edo.


'' Edo, aku mau tanya dong. Apa benar, tadi kamu juga terlambat mengirimkan ujian?'' tulisnya dalam chat tersebut.


Tidak perlu waktu lama, Edo pun langsung menjawabnya.


'' Iya.'' jawabnya singkat.


'' Terus kalau ada tanya sama guru atau siapa gitu?'' tanya Sasya kembali.


'' Nggak ada.'' jawabnya.


'' Sya, aku mau nanya sesuatu boleh?'' tambahnya.


'' Ya boleh, mau tahunya apa?'' balasnya.


'' Kamu mau nggak jadi pacar aku?'' tulisnya.


Sasya yang menerima chat tersebut, dia pun merasa bingung. Dan ia menjelaskannya kepada Febri.


'' Feb, coba baca ini!'' perintahnya.


'' Memang ada apa?'' tanya Febri yang penasaran.


'' Udah sini, coba kau baca!'' seru Sasya kembali.


'' Aku nggak salah baca?'' tanyanya yang kaget.

__ADS_1


'' Nggak, kau nggak salah baca. Terus aku balasnya gimana?'' tanya Sasya yang bingung.


'' Coba tanya, dia udah makan apa belum!'' seru Febri.


Sasya pun langsung menuliskan apa yang dikatakan oleh Febri, dan dalam waktu singkat Edo pun membalasnya.


'' Uda.'' ucapnya.


'' Jadi gimana, yang ini udah bisa dijawab.'' tambahnya dengan menandai chat sebelumnya.


'' Febri gimana ini, aku harus jawab apa?'' tanyanya yang bingung.


'' Jawab saja, aku juga nggak tahu harus balas apa. Terserah mu aja mau jawab apa.'' ucap Febri yang sudah bingung.


" Hahaha, kau pasti lagi prank kan?" balasnya.


" Aku nggak lagi prank, aku beneran suka sama mu. Jadi gimana, mau nggak jadi pacarku?" tanyanya dan membuat Sasya tambah kebingungan.


Ia sebenarnya ada rasa pada Edo, tetapi ia mengingat Wina. Karena bimbang ia pun menjawab dengan "Nggak tau." Begitu terus berulang-ulang. Hingga tiba-tiba Edo menghapus semua pesannya.


Dengan Edo menghapusnya, ia bertambah yakin kalau Edo sedang ngeprank dia. Dan ia pun tidak mengambil pusing, dan langsung pulang ke rumah Febri. Karena saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Febri.


...----------------...


" Uda la, jangan sedih, kita bantuin Lo Do. Kita yakin nggak mungkin dia tanpa alasan, dan kalau memang dia nggak mau. Masih banyak wanita di luar sana yang menyukai mu, tidak seperti dia yang cuek dan tidak peka." ucap Putra.


" Tapi caranya gimana?" tanya Edo.


" Aha, aku punya ide." ucap Putra, dengan menatap Andre.


" Ide apa, tapi kok aku punya firasat nggak enak ya." tanya Andre dengan antusias.


" Memang ini ada hubungannya dengan mu Dre, hehehe." ucap Putra.


" Kan pantas aja firasat ku nggak enak." ucap Andre.


" Udalah Dre, demi teman sendiri juga." ucap Fatur yang menyemangati.


" Iya, iya. Jadi apa rencananya?" tanyanya yang malas basa-basi.


Mereka pun berkumpul melingkar, kemudian Putra menjelaskan rencananya.


" Gini, kan besok kita masih ujian. Jadi masih banyak kesempatan, terus si Febri kan satu ruangan sama kita. Dan dia teman baik dari Sasya, Jadi pastinya dia akan datang ke kelas kita..." ucap Putra, yang disela oleh Fatur.


" Kalau itu tau, terus rencananya apa?" tanya Fatur.


" Aku belum siap ngomong Fatur, main nyelah aja." ucapnya yang sudah mulai kesal.

__ADS_1


" Uda jangan berantem, katanya mau bantuin aku. Kok malah berantem." ucap Edo dengan menggelengkan kepalanya.


" Habis dia buat kesal Do, yauda kita lanjutkan lagi. Do besok kau harus jaga sikap ya, kau coba dekati si Sasya lagi. Kami akan selalu ada di sekitar mu, untuk membantu mu." ucap Putra, tetap Edo tidak setuju.


" Tapi aku masih belum siap untuk ketemu sama Sasya Put." ucapnya.


" Kau harus siap Do, kalau nggak kau nggak akan bisa bersama dengan Sasya." ucap Putra dengan lantang.


" Yauda deh, aku coba. Tapi kalau aku masih nggak bisa gimana?" tanya Edo.


" Ya kita jalankan rencana kedua, yaitu kita mengkode si Sasya. dengan cara bilang "baru nolak cowok mangkin cantik." Kalian mengerti." tanya Putra untuk memastikan.


" Mengerti." jawab mereka serentak.


" Tunggu, lalu tugas ku apa?" tanya Andre.


" Tugas mu, untuk selalu memantau Sasya. Karena kita harus cari alasan kenapa dia menolak Edo." ucap Putra.


" Ya ampun, harus aku ya?" tanyanya yang sebenarnya malas.


" Harus dong, kita harus cari alasannya. Dan orang yang paling dekat dengannya, adalah dirimu Andre. Ngkau kan duduk di depan Sasya, jadi engkau pasti bisa mengorek informasi darinya. Ya nggak perlu banyak, yang penting ada lah." ucap Putra meyakinkan Andre.


" Ya aku memang duduk di depan Sasya, tapi kan aku nggak deket sama dia." ucapnya yang menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.


" Tapi setidaknya, kau punya waktu untuk memantaunya. Dan kau harus mengabari kepada kami, apa saja yang dilakukan Sasya. Siapa tau kan dia lagi gabut, terus dia bingung mau cerita ke siapa. Dan akhirnya dia cerita sama mu, karena kau duduk di depannya." ucap Putra mengutarakan apa yang sedang ada dalam pikirannya.


" Yang dibilang Putra ada benernya, siapa tau tiba-tiba dia cerita samamu. Itu bisa jadi informasi yang sangat dibutuhkan." uca Fatur mendukung perkataan Putra.


" Ya mudah-mudahan aja, kalau nggak juga apa mau dikata." ucap Andre dengan pasrah.


" Thank you ya bro, kalian mau bantu aku." ucap Edo dengan menatap teman-temannya.


" Tenang aja Edo, kita kan sohib. Jadi harus saling bantu, iya nggak teman-teman." uca Putra meminta persetujuan dari teman-temannya.


" Yoi bener banget." ucap mereka dengan serentak.


...----------------...


" Sya jadi gimana tentang Edo?" tanya Febri yang penasaran.


" Ntahlah Febri, aku juga nggak tahu. Lagian chatnya juga udah dihapus, mungkin cuma sekedar prank." ucapnya yang saat ini sedang berada di atas kendaraannya.


" Bener juga, bisa jadi dia nge-prank." ucap Febri.


" Ya udah aku pulang dulu ya, udah sore nih. Orang tuaku pasti nungguin, aku bisa habis nih dimarah-marah." ucapnya kemudian langsung mengendarai motornya pergi meninggalkan rumah Febri.


" Dasar si Sasya, naik kereta nggak bisa pelan." ucapnya dengan menatap kepergian Sasya.

__ADS_1


__ADS_2