Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 18


__ADS_3

Kini Sasya sudah tiba di rumahnya, dan ia pun berbincang dengan sang adik. keduanya terus berbincang, hingga tanpa sadar mereka pun terlelap.


Saat ini masih pukul 09.00 malam, dan Putra masih berkumpul dengan teman-temannya. Ia pun menceritakan kejadian siang tadi saat ia tanpa sengaja bertemu dengan Wina, dan ia pun mulai memberitahu tebakannya kepada teman-temannya. Dan jujur saja hal itu justru membuat Edo tambah kebingungan, tetapi entah kenapa hatinya masih berpihak kepada Sasya.


Terus saja membicarakan tentang Wina dan juga Sasya, dan jujur saja mereka sangat bimbang. Mereka terus membicarakan rencana-rencana mereka, hingga tanpa sadar waktu pun sudah menunjukkan malam hari. Dan akhirnya tepat pukul 12.00 malam, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Dan akan melanjutkan diskusinya esok hari.


...----------------...


Hari ini cuaca sangat cerah, Edo dan teman-temannya kini berada di dekat pintu gerbang. Hari ini mereka sengaja hadir lebih awal, karena mereka ingin menjalankan rencana yang sudah mereka siapkan. Mereka tahu kalau sasha selalu datang pukul 07.05, karena itu mereka janjian untuk tiba di sekolah sebelum jam 07.00.


Mereka sangat bahagia, Karena setelah penantian yang lumayan lama. Akhirnya mereka melihat kehadiran Sasya, tetapi kini Sasha bersama dengan Citra. Teman satu kampungnya yang merupakan anak IPS, Sasya tampak mengobrol dengan asik. Dan tidak memperdulikan sekitar, dan akhirnya rencana mereka pun gagal.


" Kenapa sih harus ada Citra, Kita kan nggak jadi akting musuhan sama Si Edo. Dan jadinya kita nggak bisa menyatukan Sasya dan juga Edo." ucap Fatur yang kesal.


" Udahlah Fatur jangan marah-marah, lagian Kau seperti tidak kenal dengan Sasya. Sasya itu adalah sosok yang pendiam, tetapi sebenarnya Ia adalah orang yang friendly dan membuat orang-orang nyaman di sekitarnya." jelas Andre dan membuat semuanya kaget.


" Wah tampaknya kau sudah mulai memahami Sasya." ucap Putra membuka suara.


" Siapa suruh kalian pernah nyuruh aku buat awas si Sasya, dan akhirnya aku ketemu banyak fakta tentang dia." jelas Andre.


" Eh bener juga yang kau bilang." ucap Joko.


" Tapi awas ya jangan sampai naksir, nanti hubungan pertemanan kita jadi hancur." ucap Putra mengingatkan, dan Andre mengangguk.

__ADS_1


" Iya aku tahu kok, lagian aku mana mungkin sama Sasya. Kan aku udah punya pacar, kalian lupa ya." ucapnya.


" Eh bener juga yang kau bilang, nanti kau habis lagi. hehehe." ucap Joko dengan tertawa.


" Kalau gitu kita jalankan rencana yang kedua, yaitu kita pura-pura bertengkar di kelas. Apalagi hari ini kan ada jam kelompok Edo dan juga Sasya, Jadi mereka pasti akan dekat." jelas Putra.


" Siap pak bos." jawab mereka dengan serentak.


Tidak lama setelah itu bel pun berbunyi, kini mereka semua pun segera masuk ke ruangan kelasnya masing-masing. Dan benar saja hari ini ada jam fisika, dan di mana jam fisika adalah jam pelajaran yang menggunakan media kelompok. Dan tentunya Edo satu kelompok dengan Sasya.


Sebelum pembelajaran dimulai, mereka memainkan sebuah drama. Yang di mana kini yang menjadi korban adalah Edo, karena mereka memukul Edo tanpa sebab. Dengan sigap Sasya pun langsung menolong Edo, dan ia langsung membawa Edo duduk di meja kelompok mereka. Kemudian ia menanyakan apa yang terjadi dengan hubungan persahabatan mereka, di sini Edo tidak menjawab apapun dan membuat Sasya kebingungan.


Edo tidak menjawab satupun perkataan Sasha, Iya hanya diam dan cemberut. Tidak hanya Sasya saja yang merasa heran, tetapi satu ruangan mereka yang ikut merasa heran. Mereka menjadi penasaran dengan alasan pertengkaran Edo dan juga teman-temannya, tetapi Edo tidak mau menjelaskannya dan mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.


" Ada apa dengan hari ini?" tanya ibu guru itu yang merasa sangat heran, dan tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan guru itu.


" Edo Kenapa Kau tampak pucat, apakah kau sakit?" katanya guru itu walaupun tidak dijawab oleh Edo.


Karena Edo tidak menjawab, ibu guru pun melanjutkan proses pembelajaran. Dan tanpa terasa jam pelajaran pun telah habis, ibu guru itu pun keluar dari kelas itu. Dan kemudian menceritakan situasi Itu di dalam kantor. Sontak saja semua guru merasa kaget, karena hal seperti ini belum pernah terjadi.


Para guru pun menjadi penasaran, dan diam-diam memperhatikan Edo dari pintu kantor. Dan mereka melihat Edo yang pucat dan juga pendiam sangat berbeda dengan I


ia yang biasanya.

__ADS_1


" Benar yang kau katakan, Sepertinya kita harus mendekati Edo. agar kita tahu masalah apa yang sedang dipikirkan oleh Edo." Ucap salah seorang guru yang berada di kantor.


Para guru pun mulai menyusun rencana, agar Edo mau menceritakan masalahnya. Dan kini giliran Pak Rifki yang melakukannya, Karena setelah habis jam istirahat. Yang masuk ke kelas Edo adalah Pak Rifki, dan mau tidak mau ia harus menjalankan rencana tersebut.


" Apa kabar anak-anak bapak semua." ucapkan pak Rifki untuk memulai percakapan, dan semuanya pun menjawab dengan bersemangat.


" Baik kita mulai pembelajaran kita hari ini." tambah pak Rifki.


Semua siswa terus memperjuangkan pak Rifki dengan serius, hingga waktu jam pelajaran 1 les telah habis. Kini mereka semua keluar dari kelas, untuk melakukan olahraga.


Semuanya tampak sangat happy, kecuali Edo dan teman-temannya yang tampak seperti musuhan. Pak Rifki terus memperjuangkan Edo, hingga ia akhirnya tau kalau ternyata Edo sedang bertengkar dengan teman-temannya.


" Oh jadi ia sedang bertengkar dengan teman-temannya, pantas saja ia tidak seperti biasanya." batin pak Rifki, kemudian ia langsung pergi meninggalkan siswanya dan pergi ke kantor. Untuk memberitahukan kepada teman-temannya, mengenai situasi Edo.


...----------------...


" Wah enak banget kelasnya Sasya, mereka lagi olahraga. Pakai praktek lagi, kami kemarin nggak. Tapi mereka kan gurunya pak Rifki, sedangkan kami pak Amir." batin Ira.


" Woy, lagi mikirin apa sih. Tampaknya serius kali." ucapnya.


" Aku lagi mikirin, enak banget ya kelas yang di luar. Mereka bisa praktek karena gurunya pak Rifki, sedangkan kita sama Pak Amir materi mulu." ucap Ira dan di angguki oleh temannya.


" Ya mau gimana lagi, kan kita nggak bisa milih siapa yang bakal jadi guru kita." ucap temannya itu menasehati Ira.

__ADS_1


" Yang kau katakan memang benar banget, ya udalah terima nasib aja." ucapnya.


__ADS_2