
" Terima kasih karena telah menilai ku seperti itu, tetapi aku rasa apa yang terlihat di depan mata belum tentu adalah yang kebenarannya." jelas Edo.
" Yang kau katakan memang benar Edo, tetapi aku yakin dengan filing ku. Kamu pastinya adalah orang yang baik, walaupun di masa lalu kau telah menyakiti seseorang." jelasnya dan membuat Edo menjadi kaget.
" Aku menyakiti seseorang, memangnya aku menyakiti siapa?" tanyanya yang kaget karena ia merasa tidak pernah menyakiti seseorang.
" Kau memang tidak pernah menyakiti seseorang itu yang kau rasakan, karena kau tidak menyakiti dirinya secara fisik melainkan secara mental." jelasnya dan membuat Edo tambah terkejut.
" Apa, kau tahu siapa dia? jujur saja aku tidak menyadarinya, dan aku sangat ingin meminta maaf kepadanya jika memang ia tersakiti dengan diriku." jelasnya.
" Aku tidak bisa memberitahumu siapa dia, tetapi yang jelas dia selalu ada di sekitarmu. Dan bahkan dia juga ada orang yang baik, berprinsip, dan sangat patuh dengan perintah kedua orang tuanya." jelasnya dan membuat Edo menjadi sangat penasaran dengan siapakah orang tersebut.
" Ya sudah kalau kau tidak mau memberitahuku, setidaknya bisakah kau memberitahukan ini yang namanya!" ucapnya dengan ekspresi memohon.
" Dia adalah seorang gadis yang cukup cantik, nama gadis itu berinisial A. Untuk nama lengkapnya aku tidak bisa memberitahu, tetapi aku yakin kamu pasti sudah mengetahuinya siapa dia." ucapnya dengan tersenyum.
" Aku tidak mengenalnya, aku akan berusaha untuk mengingat siapa dirinya." ucapnya.
" Kalau begitu selamat berpikir dengan keras, karena aku tidak bisa memberitahu nama aslinya. Itu adalah aturan yang telah aku pegang, Maaf ya." ucapnya dengan tersenyum.
" Aku tidak masalah dengan hal itu, setidaknya aku sudah mengetahui inisial namanya. Dan aku juga sangat berterima kasih kepadamu, kalau bukan karena mu aku juga tidak akan mengetahui hal ini." ucapnya yang memang tidak pernah menyadarinya.
" Tidak menyadari kesalahan yang kita perbuat itu adalah hal yang wajar, karena apa yang kita rasa itu benar belum tentu benar. Menurut kita tinggal kita adalah tingkah yang biasa, tetapi belum tentu juga itu pendapat dari orang yang kita ajak berbicara." jelasnya dan Edo pun mengangguk.
" Sepertinya kalian sedang asyik mengobrol ya, kalau begitu kalian lanjutkan saja mau ngobrolnya terlebih dahulu." ucap Putra yang kini sudah bisa berjalan dan menghadiri ruang rawat Uza.
" Kau sudah bisa berjalan Putra?" tanya Edo yang sangat bahagia dan langsung memang sahabatnya itu.
__ADS_1
" Alhamdulillah, tadi pagi dokter mengatakan aku sudah bisa berjalan." jelasnya.
" Alhamdulillah." ucap keduanya serentak.
" Lalu kau ngapain ke sini?" tanya Edo.
" Aku ingin melihat kondisi Uza." jawabnya.
" Ngapain kau melihatku, saat ini kau kan masih masa pemulihan. Jadi seharusnya kau istirahat, jangan membuat aku merasa bersalah." ucap Uza.
" Aku nggak apa-apa Uza, nggak usa kayak gitu." ucap Putra.
" Tapi tetap aja, aku merasa nggak enak Put." ucapnya.
" Yang seharusnya merasa tidak enak itu aku Uza, kalau bukan karena kau ikut untuk menyelamatkan Andre. Mungkin saja saat ini kondisimu tidak akan seperti ini, dan kau pasti dengan bahagia bisa pergi ke sana kemari." jelas Putra.
" Aku tidak masalah dengan hal itu Putra, karena aku sudah menganggap Andre sebagai temanku juga. Apalagi semua ini berhubungan dengan bintang, sejak dulu mamaku sudah menganggap Bintang sebagai anaknya. Jadi bagiku Bintang adalah saudaraku, jadi semuanya adalah tanggung jawabku." jelasnya.
" Apakah seperti itu, aku tidak menyangka ternyata bintang hanya tinggal berdua dengan Kak Wahyu. Aku jadi ingin melihat kondisi Kak Wahyu, pastinya saat ini ia sangat terpukul dengan kepergian Bintang." ucap Putra dengan ekspresi sedih.
" Ekspresi Kak Wahyu memang sangat terpuruk, jangankan melihatnya untuk membayangkannya saja hal itu sangat menyedihkan. Bahkan aku menyaksikan Kak Wahyu yang menangis tanpa suara, ia terus aja memandangi makam adiknya itu. Untungnya adakah Cahaya, ia berusaha untuk menenangkan Kak Wahyu." jelas Edo dan membuat Putra menjadi penasaran.
" Apa hubungannya Kak Cahaya dengan Kak Wahyu?" tanya Putra yang penasaran.
" Kalau untuk soal itu, aku juga tidak mengetahui hubungan keduanya. Tetapi sepertinya keduanya cukup akrab, dan mungkin saja mereka berdua adalah teman lama." jelas Edo.
" Sepertinya aku tidak asing dengan nama Cahaya, dia itu siapa sih?" tanya Uza yang penasaran.
__ADS_1
" Cahaya adalah kakak Andre, dan kami cukup dekat dengan mereka." jelas Edo dengan menatap wajah Uza.
" Sepertinya aku harus mencari tahu siapa ini Cahaya, walaupun saat ini infonya hanya mengatakan dia adalah Kakaknya Andre. Tetapi aku harus terus mencari tahu siapa dia sebenarnya, apakah mungkin Cahaya yang mereka maksud adalah Cahaya yang merupakan pacar dari Kak Wahyu sewaktu SMP. Tetapi hal itu sangat sulit untuk dipercayai, karena hal ini sangatlah sulit dunia ini sangat kecil." batinnya.
" Kau sedang memikirkan apa?" tanya Edo yang melihat Uza sedang melamun.
" Aku tidak sedang memikirkan apa-apa kok." jawabnya dengan tersenyum sebenarnya ia sedang menutupi sesuatu.
" Kau tidak usah tersenyum Uza, entah kenapa aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami." jelas Putra dan membuat Uza kebingungan.
" Aku tidak ada menyembunyikan sesuatu, aku memang sedang ada pikiran tetapi itu mengenai Bintang dan juga Kak Wahyu. Saat ini aku sedang memikirkan tentang Kak Wahyu, aku yakin saat ini dia pasti sedang bersedih. Dan aku harap ia dapat menemukan tambatan hatinya, agar ia segera bisa melupakan kejadian ini. Dan bisa menjalani hidup yang sangat bahagia, bersama seorang wanita yang bisa mengisi hari-harinya." jelasnya.
" Yang kau katakan ada benarnya juga, kalau begitu kami juga akan ikut berdoa. Agar dalam waktu dekat ke Wahyu dapat menemukan seseorang yang bisa menjadi tambatan hatinya, dan kesedihan yang melanda hidupnya akan hilang dalam sesaat walaupun kesedihan itu pastinya akan tetap tertanam dalam hatinya." jelas Putra dan keduanya pun mengangguk.
" Amin…" ucap ketiganya serentak.
" Astaghfirullah Putra, kamu buat aku cemas tahu. Dari tadi aku sudah nyari kamu keliling-keliling, dan ternyata rupanya kamu ada di sini." ucap Febri yang khawatir.
" Maafkan aku Febri, tetapi mengapa kamu ada di sini?" tanya Putra yang penasaran.
Tiba-tiba saja Edo langsung memukul Bunda Putra, ia pun menatap Putra dengan tatapan yang sangat tajam. Dan Edo seperti memberikan pesan isyarat kepada Putra, untuk memberitahunya kalau memang selama kondisinya kurang baik Febri selalu ada bersama dengannya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
__ADS_1
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna