Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 17


__ADS_3

" Au sakit Ira." ucap Pena.


" Makannya jangan ngomong sembarangan." ucap Ira yang kesal.


" Iya-iya maaf, kalau gitu ayo sekarang kita pergi." ucap Widia dengan semangat.


Kapan segera pergi ke tempat tujuan mereka, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di sana. Mereka tertawa dengan sangat gembira, bahkan mereka tidak menyadari kehadiran teman-teman yang lain. Pada awalnya mereka tidak menyadari kehadiran Edo dan juga teman-temannya, tetapi tiba-tiba saja sorot mata Ira menangkap wajah Edo.


Ira pun memberi kode kepada Sasya, kalau ada Edo dan teman-temannya. Tetapi kode itu diberikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti oleh siapapun, hanya mereka saja yang mengertinya. Bahkan Wina yang sudah lama bergabung dengan mereka juga tidak mengetahuinya, karena Ira dan Sasya sudah cukup sangat dekat dan hubungan mereka dengan yang lainnya memang dekat tetapi mereka berdua lah yang paling dekat.


Sasya yang mengetahui kode dari Ira, ia pun langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ira. Dan benar saja di sana ada Edo dan juga teman-temannya, Sasha merasa kesal. Karena sejak kejadian itu, Edo menjadi selalu mengikutinya. Dan semakin hari hubungannya dan Wina semakin hancur, tetapi ia juga tidak bisa berkata apapun karena Wina sudah mengambil keputusannya sendiri untuk keluar dari rombongan mereka.


Tiba-tiba saja nafsu makan Sasya menjadi hilang, dan ia pun terlihat sangat cemberut. Teman-temannya yang pada awalnya tidak menyadari itu, dengan melihat tingkah aneh dari Sasya. Mereka menjadi mengintai ke semua sudut, dan akhirnya mereka menemukan Edo dan juga teman-temannya.


" Guys kita pindah tempat aja, kita mau ke rumah aku. Jadi kita ke rumah aku aja ya, daripada begini untungnya kita masih baru pesan cemilan." ucapannya yang diangguki oleh semuanya.


" Eh kayaknya mereka mau pergi deh." ucap Fatur yang melihat mereka berkemas.


" Kayaknya begitu sih." memperhatikan Sasya dan teman-temannya.


" jadi gimana kita ikuti lagi apa nggak?" tanya Andre yang langsung to the point.


" Kayaknya nggak usah deh, mereka juga pergi karena lihat kita." ucap Edo dan membuat semuanya kaget.


" Kau tahu dari mana Do?" tanya Fatur yang memang sangat penasaran.


" Tadi awalnya si Ira lihat kita, terus dia sama Sasya kayak kode-kodean gitu. Eh terus muka si Sasya berubah nggak enak, dan tidak lama setelah itu mereka memutuskan pergi." jelas Edo dan membuat semuanya kaget kaget.

__ADS_1


" Eh jadi mereka pergi gara-gara kita." ucap Putra yang memang baru menyadarinya.


" Kemungkinan besar sih begitu, karena kan tidak lama setelah ia mengetahui kita di sini. Mereka semua langsung pindah lokasi." jelas Edo dan diangguki oleh semuanya.


" Kalau gitu kita salah taktik, kita susun taktik baru aja gimana." ucap Andre yang tiba-tiba saja muncul sebuah ide di otaknya.


" Terserah kalian aja, aku uda pasrah." ucapnya dengan sorot mata murung.


" Lah kau gimana sih, buat kami emosi aja." ucap Andrea yang kini sangat kesal.


" Aku sebenarnya juga suka sama Sasya, tapi demi persahabatan kita aku tidak mengutarakannya. dan sekarang kamu menyerah, kalau memang kamu ingin bicara aku akan merebutnya." batin Andre.


" Terus gimana dong?" tanyanya kembali.


" Yang intinya jangan menyerah Edo." ucap Putra dengan menepuk pundak Edo.


" Oke aku nggak akan menyerah, makasih semuanya udah dukung aku." ucapnya kemudian mereka berpelukan.


...----------------...


Ia melihat ke sekitar, melihat dirinya yang tidak direspon oleh teman-temannya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan momen-momen bersama Sasya dan teman-temannya yang lain, Sasya yang sebenarnya adalah orang yang pendiam. Sebenarnya bisa berubah menjadi orang yang cerewet ketika mereka bersama. d6an itulah momen-momen yang sangat dirindukan oleh Wina.


Wina terus saja hanyut dalam lamunannya, hingga tiba-tiba saja ia tersadar dengan mendengar sebuah suara. Yah itu adalah Putra, Putra tiba-tiba saja muncul di tempat itu. Dan itu membuat ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mencari Edo tetapi tidak menemukannya.


Puta yang menyadari, Wina seperti mencari seseorang. Ia pun mulai berpikir kalau Wina sedang, karena Ia memang biasanya sering bersama dengan Edo. Dan kini Iya semakin meyakini, apa yang dikatakan Wulan memang benar adanya.


Putra menjadi kebingungan, ia tidak tahu harus menghampiri mereka atau tidak. Tiba-tiba saja ada teman SMP Putra yang memanggilnya, dengan catatan Putra langsung menghampiri temannya tersebut. Dan ia mencoba melupakan apa yang baru saja ia pikirkan, dan dengan begini tidak akan ada kecanggungan di antara ia dan juga teman-teman sekelasnya itu.

__ADS_1


...----------------...


Sampai di rumah Pena, karena sebelumnya Pena sudah menghubungi pembantunya. Kini mereka langsung disuguhi dengan begitu banyak hidangan, dan jujur saja nafsu makan Sasya yang sempat hilang. Kini tiba-tiba saja menjadi menggebu-gebu, dan tanpa pikir panjang mereka semua langsung menyantap hidangan yang ada. Kemudian mereka tertawa dengan sangat gembira, karena sebenarnya mereka belum pernah berkunjung ke rumah Pena.


" Pena rumahmu kenapa kelihatan sepi?" tanya Desi.


" Biasalah orang tuaku lagi kerja." balasnya.


" Ya biasalah, kalau kalian berkunjung ke rumahku atau ke rumah Sasya juga begitu." ucap Ira.


" Krang tua kalian sibuk banget ya, gimana kalau kita sering main bareng. Kita nggak akan suntuk." ucap Desi.


" Kau yakin Des, nanti kau kenak marah karena sering pulang sore." ucap Ira menanyakan kembali.


" Eh iya juga ya, bisa bahaya aku." ucapnya yang baru menyadarinya, dan sontak saja mereka menjadi tertawa melihat tingkah Desi.


" Kau ini aneh Des, kau yang ngajak. Eh malah dirimu yang dalam bahaya." ucap Widya.


" Ya maaf, aku melupakan hal itu." jelasnya.


" Udalah, sekarang mending kita happy-happy aja." jelas Pena.


" Yap bener banget tu, mari happy-happy." ucap Widya.


" Memang ya, kalau uda kumpul sama kalian. Suasana hatiku pasti membaik." ucap Sasya.


" Harus membaik dong, kalau nggak jangan bilang kami teman mu, hehehe." ucap Desi dengan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


" Yoi, yang dibilang sama Desi bener banget." ucap Widya mengingatkan perkataan Desi, dan memberikan dua jempol untuk Desi.


Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka, hingga tanpa sadar sore hari pun telah tiba. Kini satu persatu dari mereka mulai pulang, dan rumah Pena kembali menjadi sepi. Bahkan pembantu pena yang baru saja merasakan kebahagiaan adanya keributan, kini menjadi merasa aneh kembali.


__ADS_2