Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 20


__ADS_3

" Kasihan banget kalian, untuk aku anak IPA⁵. Hehehe." ucap Widya.


" Iya bener, untung juga aku anak IPA⁴. Kan yang sama ibu itu IPA¹ sampai IPA⁵." ucap Ira menekankan kembali.


" Iyalah tu, yang keenakan. Tapi walaupun galak dan nggak ada di internet jawabnya, soal-soal ibu ini sering masuk pas tes OSN." ucapnya dan membuat semuanya kaget.


" Apa." Teriak semuanya serentak.


" Eh tunggu, bukannya kau ngga ikut club OSN fisika ya. Kenapa kau bisa tau?" tanya Widya.


" Ya dari teman-teman aku la, masa lewat mata batin. Hehehe." ucapnya dengan tertawa.


" Ye dasar kau ya Sasya, orang lagi serius. Ini kau malah bercanda." ucap Ira.


" Ya Habis kalian si, aku beneran loh. Eh ngomong-ngomong tentang OSN, dua minggu lagi kan seleksi untuk OSN." ucap Sasya.


" Eh iya, hampir aja lupa. Kalian ikut seleksi kan?" tanya Ira.


" Tentu dong." jawab mereka serentak.


" Semangat untuk kita, walaupun peluang menang kecil. Tapi kita ngga boleh menyerah." Widya menyemangati.


" Iya benar kita harus semangat." ucap Pena dengan tersenyum.


Semuanya terus saja membahas tentang OSN, hingga tanpa disadari waktu sudah larut. Dan akhirnya mereka pun mematikan sambungan telepon, dan kemudian beristirahat.


...----------------...


Paga ini sungguh pagi yang cerah, para sahabat ini berkumpul di gerbang. Mereka pun melanjutkan pembahasan mereka kemarin malam, mereka membahasnya dengan sangat bahagia. Hingga akhirnya beberapa dari teman mereka pun juga menjadi penasaran, tidak jarang dari teman-teman yang berlalu-lalang menguping pembicaraan mereka.


" Senang deh bareng kalian, yang di bahas pelajaran terus." ucap Pena.


" Memang kalau bukan pelajaran, apa pagi yang mau kita bahas?" tanya Sasya yang lola.


" Sasya…" teriak mereka serentak dan Sasya pun melarikan diri, dan tanpa sengaja ia pun menabrak seseorang. Dan ternyata orang itu adalah Edo.

__ADS_1


" Sya, kau nggak apa-apa?" tanya Widya yang belum melihat siapa yang di tabrak oleh Sasya.


" Aku nggak apa-apa." ucap Sasya.


" Maa…" ucapnya yang terhenti.


" Nggak apa-apa, kau gimana?" tanya Edo dengan mengulurkan tangannya untuk membantu Sasya.


Sasya pun mengambil ukuran tangannya, karena tidak enak hati dengan Edo. Tetapi dengan sekejap ia dan Edo menjadi topik pembicaraan, dan dengan cepat berita itu menyebar hingga sampai ke telinga Wina.


Wina pun merasa kesal, semangkin hari ia semangkin tersakiti karena berita tentang Edo dan Sasya. Walaupun hingga kini Sasya dan Edo belum jadian, ia jadi membayangkan betapa sakitnya hatinya nantinya jika Sasya dan Edo sudah jadian.


Tiba-tiba saja ada yang mengagetkannya, dan ternyata itu adalah Tara. Teman dekat Wina setelah ia menjauh dari Sasya, Tara tertawa melihat respon dari Wina yang seperti orang baru bangun tidur.


" Wina kau ngelamunin apa si, sampai kayak orang bingung gitu. Wajahmu itu kayak orang baru bangun tidur tau." ucap Tara.


" Kau ini ya Tara, ngagetin aja. Jadi sebel aku sama mu." jawab Wina kemudian langsung pergi meninggalkan Tara.


" We ini anak, apa si yang buat dia jadi begitu." tanyanya dengan melihat ke arah kepergian Wina.


...----------------...


" Wah, mangkin aja ni. Mudah-mudahan cepat ada kemajuan." ucap Joko dengan tersenyum.


" Amin." ucap mereka semua serentak.


" Doain aja yang we, karena seperti mendekati Sasya itu sulit." ucapnya.


" Bukan kayaknya, memang iya kalik." ucap Fatur.


" Iya dia itu diam, tapi sekalinya marah ngeri banget. Dan dia itu setia kawan kali." ucap Andre.


" Wah, sudah mengamati Sasya ya Dre." ucap Putra.


" Nggak juga ya, tapi itu yang kalian suruh waktu itu." ucapnya.

__ADS_1


" Iya kami tau, lagian mana mungkin kau suka sama Sasya. Kan kau sudah punya pacar." ucap Putra dan membuat mereka kaget.


" Wah, kapan dapat pengganti. Kita kok nggak tau ya." ucap Joko dengan menatap serius ke arah Putra dan Andre.


" Kalian ini percaya aja apa yang dibilang Putra, aku tuh belum ada pacar lagi." ucapnya dengan menggelengkan kepala.


" Ya maaf Dre, habisnya kan biasanya si Putra yang paling tahu segalanya. Dan apa yang dia bilang itu seringnya benar, tapi kami nggak tahu kalau hari ini dia nggak jujur." ucap Joko dengan wajah memelas.


" Iya maaf deh, sebenarnya aku cuma menggoda Andre. Dan kirain siapa tahu dia udah punya cuma dia belum ada publik ke kita, sama kayak kau Joko." ucap Putra dengan menatap karena Joko, dan Joko pun kaget mendengar penuturan dari Putra.


" Jadi kau tahu aku udah punya pacar?" tanyanya dan Putra hanya mengangguk saja.


" Kau tahu dari mana?" tanyanya kembali yang tambah penasaran.


" Ada deh, kau nggak perlu tahu aku tahu dari mana. Yang perlu saat ini adalah siapa itu pacarnya, nggak seru tahu main rahasia-rahasiaan. Ya kan semuanya." ucap Putra dan meminta persetujuan dari teman-temannya.


" Ya udah aku akan ceritain siapa dia, namanya itu bintang." ucapnya sambil tersenyum dan menghayalkan wajah bintang.


" Sepertinya aku tidak asing dengan nama bintang." ucap Joko sambil berfikir.


" Ya kau memang mengenalnya." ucap Andre dengan tersenyum.


" Kan bener kan, oh iya aku baru ingat. Bintang itu anak Pramuka dari SMK Citra kan?" ucap Joko dan Andre hanya tersenyum saja.


" Sepertinya tebakan mu benar Joko, soalnya Andre senyum-senyum." ucap Edo.


" Tapi aku masih nggak percaya mereka bisa jadian, asal kalian…" ucap Joko yang tiba-tiba terhenti karena Andre menutup mulutnya.


" Andre, biarkan Joko ngomong. Kami masih penasaran tau." ucap Fatur yang memang sudah menanti-nantinya.


" Nggak seru kalau kalian tau semuanya, nanti suatu saat aku akan kasih tau." ucapnya dengan tersenyum, dan menatap Joko dengan sangat tajam.


Mereka semua yang melihat ekspresi Andre pun tidak mau mengungkit lagi, dan akhirnya mereka melupakan tentang bintang sejenak. Dan kini mereka kembali membahas perkembangan hubungan Edo dan Sasya. Namun, tiba-tiba saja bel berbunyi, dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas.


Mereka kini bermain akting sama seperti semalam, dan Edo mendapatkan kesempatan dekat dengan Sasya. Tetapi Edo sangat kesal, Karena Paska selalu saja mengambil kesempatan untuk dekat dengan Sasya. Edo pun mulai mencurigai kalau Sasya sebenarnya ada hubungan dengan Paska.

__ADS_1


Edo pun mengirim pesan kepada teman-temannya di grup, dan mengutarakan kecuriannya kepada teman-temannya. Untung saja tiba-tiba saja Putra langsung mengingatkan tentang kejadian lalu, kejadian sewaktu mereka masih kelas 10. Saat itu Sasha pernah menolak Paska, dan kisah itu juga tersebar hingga penjuru sekolah.


__ADS_2