
" Hehehe, maaf." ucapnya.
" Sudahlah nanti saja kita lanjutkan ceritanya, sekarang kita memasak dulu. Nanti mereka nggak ada yang makan, dan jadinya kita yang kena semprot sama ketua." ucap Sasya.
" Yang kau bilang sangat benar, dan hal itu sungguh sangat memalukan. Karena pastinya, kita akan dimarahi di depan mereka semua." balas Anaya.
Semuanya langsung segera memasak, dan akhirnya kini semua masakan telah selesai. Semua siswa kini segera bergegas untuk membersihkan diri, pukul 08.00 pagi mereka semua berkumpul di lapangan. Mereka melakukan sarapan pagi terlebih dahulu, kemudian mereka pergi untuk melakukan kegiatan sesuai dengan tim masing-masing.
Sasya dan anak-anak divisi konsumsi masih tetap berada di tempat perkemahan, mereka berusaha menyiapkan makanan dan juga minuman yang akan dibawa ke tempat kegiatan. Mereka terus saja memasak camilan, karena mereka tidak mungkin membawa nasi ke tempat kegiatan. Sambil memasak, mereka semua mengobrol.
" Ternyata kegiatan seperti ini seru juga ya?" tanya Cahaya.
" Iya seru banget, apalagi pas tadi pagi kau masih di alam mimpi. Tapi uda pergi ke dapur, hehehe." ucap Anaya.
" Ya ibu, ngga enak banget." ucap Cahaya yang kesal.
" Uda, kalian ini. Seharusnya ibu dan keponakan itu akur, eh ini malah bertengkar." ucap Sasya.
" Eh mereka saudara, aku kira Cahaya hanya meledek Anaya karena sikap Anaya seperti orang dewasa." ucap Arfia.
" Apa kau bilang." ucap Anaya dengan tatapan sinis ke arah Arfia.
" Aku kan cuma bilang sikap mu dewasa, apa ada yang salah?" tanya Arfia dan membuat semuanya menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah Anaya, kau akan capek menjelaskan nanti. Saat ini Arfia sedang dalam keadaan lola (loding lama), jadi lebih baik kau simpan saja tenagamu." ucap Sasya dan Anaya pun mengangguk.
" Ternyata mereka berdua sama." ucap Anaya.
" Jangan gitu, gitu-gitu Cahaya keponakan mu ibu Anaya." ucap Sasya sambil tersenyum.
" Kau buat aku kesal tau nggak." bentak Anaya.
Edo yang sedang lewat pun menjadi kaget, dan ia pun segera menuju ke sumber suara.
" Ada apa sih? Kalian sangat ribut, dan membuat kami panitia peralatan terganggu." ucap Edo.
" Eh, maaf Edo. Kami sedang berbincang saja." ucap Sasya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Untung ada kau Sya, kalau nggak kami pasti uda habis di omelin sama dia." ucap Arfia.
" Iya, yang dikatakan Arfia benar. Edo itu orangnya sensitif, makannya kami nggak pernah mau cari masalah sama dia. Tapi anehnya, malah banyak cewek yang suka sama dia." jelas Anaya.
" Apa segitu mengeringkannya Edo, aku jadi penasaran. Kalau sisi Edo yang disukai banyak orang itu kan, Edo sih cuek tapi cool. Tapi kalau Edo yang kalian benci gimana sih?" ucapnya dan Anaya langsung melihat ke sekitar, karena ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar obrolan mereka.
" Jadi sih Edo it…"ucapnya yang terhenti.
" Kalian ngomongin apa sih?" tanya Andre yang baru saja tiba.
" Nggak ada kok Dre, kami cuma lagi ngomongin tentang masakan tadi pagi yang asih. Hehehe, ya kan teman-teman." ucap Anaya sambil tertawa.
" Aku jadi penasaran siapa sih yang masih sayur itu." tanya Andre.
" Yang masak itu si…" ucap Anaya yang terhenti karena di tutup oleh Sasya.
" Ya kami semua lah yang masak." jawab Sasya.
" Kau ya Sasya, nggak pernah mau ada yang terlihat salah. Sebenarnya siap sih yang masak, karena kalau kau yang masak kau nggak mungkin seperti ini. Sekarang jujur siapa yang masak?" tanya Andre kembali.
" Kan sudah aku bilang, yang masak itu kami semua. Jadi salahkan aja kami semua." jawab Sasya dengan berani.
" Ya lagian ini semua nggak ada urusannya sama mu, jadi nggak usa ikut campur. Lagian nggak ada juga siswa atau siswi yang komen tentang masak tadi pagi." ucap Sasya.
" Sasya, kau mau ku hukum?" tanya Andre dengan emosi yang sudah meledak.
" Sudahlah jangan bertengkar, itu yang masak sayur tadi pagi aku. Jadi kalau mau marah, atau menghukum. Ya hukum aku aja, jangan yang lain." ucap Cahaya.
" Nggak bisa gitu Cahaya, kita disini sebagai tim. Berarti satu salah, semua juga harus ikut bertanggung jawab. Kita disatukan menjadi tim, jangan hanya senangnya saja berbagai. Tetapi susahnya di tinggalkan sendiri." ucap Sasya.
" Kau memang pantas menjadi pemimpin, kau sangat hebat Sasya. Prok, prok." ucap Andre sambil bertepuk tangan, dan semuanya pun mulai mengikuti.
" Eh, maksudnya apa ini?" tanya Sasya.
" Maaf Sya, aku cuma mau ngetes aja. Soalnya lagi butuh orang untuk anggota OSIS." ucap Andre.
" Apa, ya ampun. Aku kira tadi beneran loh, eh tapi tunggu. Tadi kau bilang butuh anggota OSIS, lalu apa hubungannya dengan ku?" tanya yang tidak mengerti.
__ADS_1
" Ya, mau ngajak kau masuk OSIS." ucap Andre.
" Apa, aku nggak salah denger?" tanya Sasya.
" Nggak Sya, ini faktanya. Apakah kau mau mengisi tempat kosong?" tanya Andre.
" Emm…gimana ya." ucapnya dengan berfikir.
" Tidak perlu kau jawab sejarah, tapi ketika kegiatan ini selesai. Kau harus memiliki jawaban, dan aku berharap kau mau bergabung." jelas Andre, kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Gabung aja Sya, orangnya seru-seru loh." jelas Anaya untuk membujuk Sasya.
" Akan coba ku pikirkan dulu." jawabnya, kemudian merapikan makanan yang akan dibawa ke tempat kegiatan.
Sasya terus saja memikirkan apa yang dikatakan oleh Andre, tiba-tiba saja Edo pun datang untuk mengambil makanan dan ia antar ke salah satu tempat kegiatan.
" Sya, minta makannya." ucap Edo tetapi tidak di gubris oleh Sasya.
Edo pun akhirnya mengambil makanan tanpa seizin siapapun, Sasya yang merasakan sentuhan. Ia pun akhirnya tersadar, dan ia pun melihat ke arah Edo.
" Edo, kau ngapain?" tanya Sasya.
" Mau ambil makanan lah, apa lagi." ucapnya.
" Kenapa ambil sendiri, kan tinggal bilang aja." ucap Sasya.
" Kan tadi aku uda manggil kau, tapi kau nggak ada respon. Sedang memikirkan apa sih?" tanya Edo yang penasaran.
" Nggak, aku nggak ada mikirin apa-apa." jawabnya.
" Yauda deh kalau nggak mau bilang, tapi aku butuh cepat makanan itu. Kasihan mereka sudah menunggu." ucap Edo, dan Sasya mengangguk pertanda mengerti siapa yang dimaksud oleh Edo.
" Yauda, sana cepat bawak." ucap Sasya.
Edo pun segera membawa makanan itu, ia pun bertemu dengan Putra yang kini menatapnya dengan sangat sinis.
" Kenapa makanan baru datang?" tanya Putra.
__ADS_1
" Maaf Put, ada keterlambatan sedikit. Soalnya ada kendala di dapur tadi." jawab Edo dan Putra pun menjadi penasaran.