
Akhirnya mereka telah selesai menyolatkan jenazah, kini keranda pun di bawa menuju pemakaman. Tampak banyak teman-teman dari Bintang yang ikut untuk mengantar ke tempat peristirahatan terakhir, Wahyu terus saja menguatkan dirinya. Setelah kepergian kedua orangtuanya, kini adiknya juga harus menyusul. Hal tersebut sungguh mengguncang mental Wahyu, kini ia hidup sebatang kara.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar, dan satu-persatu orang-orang mulai pergi meninggalkan pemakaman. Kini tinggallah Wahyu sendirian, ia terus saja menangisi kepergian sang adik. Cahaya yang awalnya ingin pulang, niatnya menjadi luntur. Dan kini ia pun menghampiri Wahyu.
" Wahyu, ikhlas Bintang." ucapnya.
" Memangnya kau pernah merasakannya?" tanya Wahyu dengan nada tinggi dan Cahaya pun menjadi berkaca-kaca.
" Aku sudah pernah merasakan kehilangan yang cukup menyakitkan, dari kehilangan mamaku. Kemudian aku juga harus kehilangan kedua adikku dalam waktu yang bersamaan." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.
" Ma-maafkan aku Cahaya, aku tidak mengetahuinya." ucapnya yang merasa bersalah.
" Sudahlah Wahyu, semuanya sudah terjadi. sekarang terserah kepadamu saja, aku pulang dulu dan kau jaga dirimu baik-baik." ucap Cahaya kemudian pergi meninggalkan Wahyu di pemakaman sendirian.
" Cahaya, tunggu…" teriak Wahyu tetapi cahaya tidak merespon dan terus saja berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.
" Maafkan aku Cahaya, aku tidak menyangka ternyata kau mengalami hal seperti itu." batinnya Dengan menatap punggung Cahaya yang perlahan-lahan menghilang.
...----------------...
Kini semuanya masih berkumpul di rumah Uza, banyak teman-teman Bintang dan juga Andre yang menunggu di rumah tersebut. Hanya beberapa saja yang ikut ke pemakaman, selebihnya memutuskan menunggu Wahyu untuk kembali. Semuanya tampak sedang menunggu kepulangan Wahyu, dan mereka sudah menyiapkan amplop yang sudah memang mereka sediakan.
" Kak Wahyu kenapa belum pulang ya?" tanya Wulan yang masih belum melihat kepulangan Wahyu.
" Mungkin Kak Wahyu masih butuh waktu untuk semuanya, kepergian bintang sangat mendadak untuknya. Aku yakin ia pasti sangat terpukul dengan kepergian Bintang, apalagi yang aku dengar kini Kak Wahyu hanya tinggal sebatang kara." jelas Sasya dan semuanya pun mengangguk.
" Yang kau katakan ada benarnya juga, apa kita susul saja ya Kak Wahyu ke pemakaman." usul Febri yang mulai khawatir.
__ADS_1
" Kita tidak perlu menyusul Kak Wahyu sampai ke pemakaman, aku akan menghubungi William untuk menyusul Kak Wahyu." ucap Wulan dan keduanya pun mengangguk.
Wulan pun segera menghubungi Wiliam, dan ia pun meminta William untuk menyusul Wahyu di pemakaman. Awalnya William tidak mau melaksanakan permintaan bulan, tetapi setelah mendengar bujuk rayuan dari Wulan akhirnya William pun mau untuk menjemput Wahyu.
Alangkah terkejutnya semua orang ketika melihat kondisi Wahyu, kini Wahyu tanpa kemas dengan mata yang sudah sangat merah. Banyak para warga dan orang-orang yang merasa kasihan kepada Wahyu, tetapi mereka tidak bisa berkata apa-apa untuk membantu Wahyu. Wahyu pun langsung disambut oleh Yesya, dan William pun membimbing Wahyu untuk sampai ke dalam sebuah kamar.
Setelah mengantarkan Wahyu untuk istirahat di kamar, William pun segera kembali untuk bertemu dengan Wulan. Belum sampai pilihan berkata tentang Wahyu, tiba-tiba saja ia dirundung dengan banyak pertanyaan oleh Febri.
" Apa yang terjadi dengan Kak Wahyu?" Tanya Wulan yang penasaran.
" Aku juga tidak mengetahui kejadian pastinya, yang jelas aku melihat Kak Wahyu sedang melamun sendirian di pemakaman. Itu pun aku harus membujuknya dulu untuk pulang, tampaknya dia sedang memikirkan banyak hal tadi." jawabnya.
" Wajar si jika Kak Wahyu seperti itu, kan ia baru saja kehilangan adik semata wayangnya." ucap Febri dan mereka pun mengangguk.
" Yang kau katakan memang benar, dan sepertinya Kak Wahyu sangat terpukul." ucapnya.
Mereka pun menyetujui perkataan Sasya, kini mereka pun menemui Yesya. Mereka memberikan apa yang telah mereka siapkan, kemudian mereka izin untuk pulang. Karena waktu sudah menunjukkan hampir sore hari, dan mereka juga masih ingin ke rumah sakit.
Kini mereka sudah tiba di rumah sakit, mereka langsung mengecek keadaan Andre, Putra dan juga Uza. Sasya mendapat amanah untuk menjaga Uza, karena saat ini Yesya sedang mengurus Wahyu. Dengan santainya ia memasuki ruangan Uza, dan ia pun sedang melihat hujan yang sedang disuapin oleh perawat.
" Biar saya saja yang suapi sus." ucapnya yang mengagetkan Uza dan juga suster tersebut.
" Kebetulan ada yang datang, kalau begitu saya tinggal dulu ya." ucap suster tersebut dengan menyerahkan makanan kepada Sasya.
" Kau ngapain di sini?" tanya Uza yang penasaran.
" Mamimu yang meminta aku untuk ke sini." jawabnya dengan menyuapkan makanan ke mulut Uza.
__ADS_1
" Oh rupanya begitu, bagaimana keadaan Kak Wahyu?" tanyanya yang penasaran.
" Kak Wahyu pastinya sedang sangat terpukul, bahkan ia seperti dalam seribu bangunan." jelasnya yang mengingat ekspresi Wahyu saat pulang dari pemakaman.
" Sungguh kasihan sekali Kak Wahyu, aku tidak bisa menjaga adiknya dengan baik dan benar." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.
" Yang kau katakan memang benar, apalagi kak Wahyu hanya memiliki bintang saja. Dan kini bintang telah pergi meninggalkannya, tentunya Kak Wahyu pastinya sangat tersakiti." ucapnya.
" Dan ini semua adalah salahku, karena aku tidak bisa menjalankan amanah yang telah dititipkan oleh kak Wahyu. Seandainya saja kejadian ini tidak terjadi, pastinya senyum di wajah Kak Wahyu tidak akan luntur seperti saat ini." ucapnya yang merasa bersalah.
" Jangan pernah menyalahkan dirimu, Ini semua adalah kecelakaan. Dan jangan pernah pikirkan tentang kejadian ini, untuk saat ini yang harus kau pikirkan adalah kesehatan." ucapnya.
" Terima kasih ya, aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau tidak ada di sini. Kau memang ada orang yang sangat baik, aku yakin kau pastinya akan mendapatkan pasangan yang sangat baik pula." ucapnya dengan tersenyum.
" Terima kasih atas doanya, tetapi kau terlalu memuji diriku. Aku masih jauh dari kata sempurna, dan aku masih lama manusia yang masih memiliki banyak dosa. Untuk melihat kebaikan, tidak bisa hanya dilihat dalam sekejap mata. Semua yang dapat terlihat oleh mata, semua itu bisa diatur. Jadi jangan pernah menilai seseorang dari sekali lihat saja, karena apa yang terlihat baik belum tentu itu adalah aslinya." jelasnya dengan menatap wajah Uza dan Uza pun mengangguk.
" Sepertinya kau pernah mengalami pengalaman yang cukup pahit, dan orang tersebut mengajarkan dirimu untuk berhati-hati kepada sikap orang." ucapnya yang melihat ada misteri dibalik perkataan Sasya.
" Yang kau katakan memang benar, orang tersebut telah mengajarkanku banyak hal tentang bersikap." jawabnya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
__ADS_1
4. Azilla Aksabil Husna