Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 59


__ADS_3

" Ternyata kehidupannya seperti itu, aku tidak menyangka. Pastinya selama ini sangat tersakiti, rasanya aku ingin berada di dekatnya dan memeluknya. Sekarang aku mengetahui, alasan mengapa ia sangat mementingkan persahabatan. Ternyata karena ia merasakan rasa nyaman saat bersama sahabatnya, bukan ketika bersama dengan keluarganya." batin Edo.


" Ya begitulah yang ia alami, aku juga merasa kasihan kepadanya. Tetapi kita jangan pernah menunjukkan rasa kasihan ini di hadapannya, karena ia sangat membenci jika ia dikasihani. Baginya semua hal sudahlah biasa, iya tidak pernah memperdulikan omongan orang tentang dirinya. Yang terpenting baginya Ia memiliki sahabat yang selalu ada di dekatnya, dan hal itu pastinya akan membuatnya sangat bahagia." jelas Yesya.


" Kalau seperti itu, aku akan mengatakan kepada anakku untuk bersahabat dengannya. Aku juga sangat tidak tega melihatnya, ketika melihatnya aku seperti melihat anak kakakku." jawab Sarla yang kelepasan.


" Apa maksudmu?" tanya Yesya yang penasaran.


" Sudahlah jangan dibahas lagi, aku tidak ingin membuka luka lama." jelasnya.


Kini dokter pun tiba, semuanya pun langsung mengerumuni dokter tersebut. Mereka semua sangat penasaran dengan kondisi pasien yang berada di dalam, mereka sangat mengkhawatirkan anak-anak mereka.


" Siapa keluarga dari Bintang?" tanya dokter tersebut.


" Saya sahabat dari orang tuanya dok, kebetulan keluarganya belum bisa sampai di sini saat ini karena masih di luar kota." jelas Yesya.


" Ternyata begitu ceritanya, kalau begitu saya hanya ingin mengabarkan satu hal. Dari keempat pasien yang ada di dalam, di antara mereka hanya bintang lah yang paling parah. Dan Bintang…" ucap dokter itu yang menggantung dan membuat semuanya penasaran.


" Ada apa dengan Bintang dong?" tanya Yesya yang khawatir.


" Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin." jawab dokter tersebut dan kini Yesya terjatuh dengan lemas.


" Bintangggggg…" teriaknya histeris.


" Kamu tenang Yesya." ucap Sarla menenangkan.


" Maafkan aku Gea, aku tidak bisa menjaga putrimu dengan baik." ucapnya dengan berderai air mata.


" Kamu harus tenang Yesya, kau juga harus memikirkan perasaan Wahyu. Dia pasti akan lebih sangat histeris, ketika melihat kondisimu seperti ini." jelas Sarla.


" Aku sudah gagal menjaga Bintang." ucapnya.


" Maaf bukannya aku ingin ikut campur, tetapi ini semua sudah jalan takdir. Kita juga tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi, tetapi Bintang sudah tenang di sana. Tolong ibu ikhlaskan Bintang, Bintang pasti akan tersedih ketika melihat kondisi ibu." ucap mama Andre.

__ADS_1


" Ini semua karena anak Ozan, karena ulahnya aku harus kehilangan Bintang. Walaupun bintang bukan terlahir dari rahimku, tetapi aku sudah menganggap bintang seperti anakku sendiri. Sejak kecil aku sudah mengenalnya, dan bahkan aku juga sudah berjanji kepada Gea untuk selalu menjaganya." jelas Yesya.


" Tenangkan diri ibu, saya tahu ini adalah hal yang cukup berat." ucap mama Andre untuk menenangkan.


" Ibu tidak usah menyuruh saya tenang dari tadi, memangnya ibu pernah merasakan apa yang saya rasakan." bentak Yesya.


" Saya juga pernah merasakan apa yang dirasakan, bahkan saya kehilangan dua nyawa sekaligus." jawab mama Andre dan sontak saja semuanya terkejut.


" Maaf bu, saya tidak mengetahuinya." ucap Yesya yang merasa bersalah.


" Tidak apa-apa bu, saya dulu kehilangan kedua putri saya dalam kecelakaan. Kedua putri saya itu bernama embun dan juga berlian, mereka berdua adalah anak yang sangat manja terutama kepada kakaknya Andre." jelasnya dengan berderai air mata.


" Andre, jadi ibu orang tuanya Andre pacar Bintang." ucap Yesya yang baru menyadarinya.


" Ya begitulah bu, bagi saya Andre adalah anak musuh saya saat ini. Saat ini saya hanya memiliki Andre dan juga kedua kakaknya, dan saya sangat tidak ingin kehilangan Andre." jelasnya.


" Maafkan saya bu, saya tidak bermaksud untuk membuka luka lama." ucap Yesya.


" Jadi ibu orang tua Andre, teman anak saya yang diculik." ucap Sarla.


" Iya saya mamanya Andre." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


" Perkenalkan, saya Sarla uminya Putra." ucapnya dengan menjabat tangan mama Andre.


" Saya Lulu." jawabnya dengan menjabat tangan Sarla.


Tiba-tiba saja keheningan yang sejenak berubah menjadi tangis, seorang suster tiba-tiba saja berlari untuk mencari dokter dan sontak saja semuanya menjadi kaget.


" Apa yang terjadi?" tanya Joko yang berada di hadapan suster tersebut.


" Pasien bernama Andre mengalami kritis." ucapnya kemudian berlari mencari dokter.


" Andreee…" teriak Lulu.

__ADS_1


" Ibu dulu tenang dulu ya, kita sama-sama berdoa untuk Andre." ucap Sarla menenangkan.


" Ini semua salah anak Ozan." ucapnya dengan ekspresi marah kemudian ingin pergi.


" Edo, Joko. Segera kejar mamanya Uza, bila dibiarkan akan sangat bahaya." ucap Sarla dan keduanya pun langsung mengejar Yesya.


" Tolong selamatkan anak saya dok." ucap dulu dengan menggenggam tangan dokter.


" Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan anak ibu, lebih baik Ibu banyak berdoa ya." ucap dokter itu kemudian langsung masuk ke ruangan Andre.


" Nak, jangan tinggalin mama…hiks…hiks." ucapnya dengan berdarah air mata.


" Sudah ibu Lulu, lebih baik sekarang kita berdoa. Agar kondisi Andre baik-baik saja, dan Andre beserta juga teman-temannya bisa pulih kembali." jelas Sarla.


Kini dokter sedang melakukan tindakan kepada Andre, tampak raut wajah dokter itu sedang panik. Tetapi ia berusaha untuk tenang, karena kini nyewa Andre bergantung pada kesiapan dirinya dan juga takdir yang telah ditetapkan oleh sang pencipta. Ia terus saja berusaha, setelah perjalanan yang panjang akhirnya kondisi Andre kembali stabil.


" Alhamdulillah kondisinya sudah membaik." ucap dokter tersebut.


" Alhamdulillah tindakan kita berhasil." jawab suster yang tadi sempat panik.


" Tindakan kita memang sudah berhasil, tetapi kita harus tetap menjaga kondisinya agar tidak memburuk lagi. Saat ini kita bisa menanganinya, tetapi tidak tahu jika kondisi ini berbalik kembali. Tolong kamu jaga baik-baik kondisinya, dan untuk sementara waktu jangan biarkan siapapun untuk mendekat." perintah dokter itu dan suster itu hanya mengangguk saja.


" Baik dok." jawab suster tersebut.


Kini dokter itu pun segera keluar dari ruangan tersebut, ia pun segera memberitahukan informasi itu kepada orang tua dari Andre. Ibu dulu tampak senang dengan kabar tersebut, tetapi ia juga sedih karena tidak bisa melihat putra bungsunya itu.


" Apakah saya tidak bisa melihat Putra saya dok?" tanyanya yang memang mengkhawatirkan putranya.


" Maaf, tidak bisa ibu. ini semua demi kesehatan Andre, untuk saat ini tidak ada yang bisa menjenguk Andre. Andre hanya bisa dijenguk ketika kondisinya sudah pulih, paling tidak setelah dia sadar." jelas dokter itu kemudian pergi menuju ruangannya.


Tidak ada yang berani membantah satu kata pun dari dokter tersebut, mereka hanya memandang kepergian dokter itu. Dan terus saja berharap agar kondisi Andre cepat pulih, agar mereka bisa melihat Andre kembali.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.

__ADS_1


__ADS_2