Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 14


__ADS_3

" Joko kau pernah mengalaminya?" tanya Fatur untuk memastikan.


" Yap bener banget." jawabnya dengan mengangguk.


" Kau sedang bercanda kan?" tanyanya kembali, karena masih tidak percaya dengan jawaban Joko.


" Ngapain aku bercanda, nggak ada manfaatnya juga buat aku. Dan lagian yang kita bicarakan saat ini adalah permasalahan hati." jelasnya dan semuanya pun mengangguk.


" Terus kenapa kau nggak pernah cerita?" tanya Putra yang penasaran.


" Ya karena aku takut kalian nggak ada yang percaya, dan akhirnya kalian justru menjauhi ku." jawabnya dan semuanya pun mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran Joko.


" Ya amplop Joko, ya nggak mungkin lah. Justru aku malah senang kau ceritakan, jadikan kisah mu bisa menjadi pelajaran. Dan aku akan berubah, agar kisah yang kau alami tidak terulang lagi." jelas Fatur.


Tiba-tiba saja terdengar suara Edo yang sedang memanggil namanya, Fatur yang mendengar itu. Ia pun langsung berlari, karena ia sudah tau kalau Edo sedang marah padanya. Edo yang melihat Fatur berlari, ia pun langsung mengejar Fatur. Dan dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian, karena mereka berdua kejar-kejaran di lapangan olah raga. Dan menjadi tontonan bagi semua siswa yang ada.


Pak Rifki guru olahraga mereka, menjadi sangat kesal. Dan akhirnya memanggil mereka berdua ke ruang BP, keduanya pun di interogasi. Tetapi tidak satupun dari mereka yang mau menjawab kebenarannya, mereka berdua beralasan sedang bermain saja.


Pak Rifki yang sudah sempat mendengar gosip yang beredar, ia pun tidak bisa di tipu oleh keduanya. Dan kini justru mempertanyakan tentang gosip yang beredar kepada keduanya, karena ia masih sangat penasaran. Dengan jalan cerita dari kisah keduanya.


" Kebetulan kalian lagi ada di sini, bapak mau tanya. Gimana kelanjutan cerita antara kau Edo dengan Sasya?" tanya pak Rifki dan sontak saja membuat keduanya menjadi heran, dan bertanya-tanya dari mana pak Rifki mengetahui kisah itu.


" Kalian heran ya, kenapa saya bisa tau." ucapnya dan mendapatkan anggukan dari keduanya.


" Saya kan guru hits, jadi semuanya gampang bagi saya. Jadi gimana kelanjutannya?" tambahnya.

__ADS_1


" Bapak mau tau kelanjutannya, si Sasya ternyata mengira kalau saya sedang memprank dia." ucapnya dengan tanpa sadar meneteskan air mata, Untung tidak ada siapapun selain mereka di sana.


" Eh kenapa nangis, jangan nangis." ucap pak Rifki.


" Nta tuh pak, keliatannya kuat. Eh rupanya cengeng." ledek Fatur.


" Ya cemana nggak sedih pak, uda ngumpulin keberanian untuk ngungkapin perasaan. Eh rupanya masih di kira prank, dan paling sebelnya itu. Alasan dari kenapa bisa ngira prank, ya gara-gara anak satu ini yang suka prank bilang suka ke cewek." ucapnya dengan menunjuk Fatur, dan Fatur tidak ada berbicara ia hanya tertawa cengengesan.


" Waduh sakit banget tuh, kasihan banget kau. Gara-gara teman, jadinya cinta di tolak." ucap pak Rifki yang asal bicara.


" Ya mau gimana lagi pak, uda nasib. Hehehe." jawab Fatur sambil tertawa, dan membuat Edo bertambah kesal.


Fatur yang memperhatikan tatapan Edo yang mulai berubah, ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruang BK tanpa seizin pak Rifki. Edo pun ingin mengejar Fatur, tetapi pak Rifki menghentikan langkahnya. Edo pun akhirnya duduk kembali, dan tidak bersuara sama sekali karena melihat tatapan pak Rifki yang sangat mengerikan menurutnya.


" Edo, bapak tau sedang marah. Tapi tolong jangan buat keributan, bapak akan bantu agar kau bisa dekat dengan Sasya. Tapi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, itu kau saja yang pikirkan caranya." jelas pak Rifki dan membuat Edo tersenyum dengan sangat lebar.


" Nah ini baru Edo yang bapak kenal. Bapak senang melihat kau yang seperti ini." ucapnya dengan tersenyum.


" Makasih pak, kalau begitu saya boleh pergi pak?" tanyanya untuk memastikan, karena ia takut kalau pak Rifki akan marah padanya.


" Ya tentu silakan pergi, dan ingat jangan putus asa." ucapnya dengan tersenyum, kemudian Edo pun langsung pergi meninggalkan ruang BK.


Pak Rifki pun mulai menyusun rencana, dan bahkan ia juga berencana mengajukan guru-guru yang lain. Agar proses hubungan antara Edo dan Sasya cepat selesai, dan berita mereka tidak membuat keributan di setiap sudut sekolah ini.


...----------------...

__ADS_1


" Edo kau di apain sama pak Rifki." tanya Andre yang penasaran.


" Tenang aja, aku nggak di apa-apain kok sama pak Rifki." jelasnya.


" Syukurlah, tapi kok kau keluarnya lama banget. Padahal si Fatur uda duluan." ucap Putra yang penasaran.


" Ya cemana nggak cepat dia, orang dia melarikan diri." jawab Edo dengan menggelengkan kepalanya.


Semuanya langsung menatap ke arah Fatur, tapi Fatur seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dan kemudian ia pun melarikan diri, karena sudah merasakan suasana yang tidak enak. Setelah Fatur pergi, akhirnya mereka pun berkumpul dan mendengar apa yang dihadapi oleh Edo di dalam ruang BK.


Mereka tampak sangat antusias mendengarkan, hingga tanpa sengaja pak Rifki mendengarnya. Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening, tidak ada suara yang keluar. Walaupun hanya sepatah kata, dan mereka pun menjadi canggung.


" Kenapa kalian jadi diam, lanjut aja kali. Bapak ikut dong, bapak penasaran ni. Kira-kira apa rencana kalian sekarang, agar Edo dan Sasya bisa bersatu." tanya pak Rifki.


" Untuk sementara kami berharap sama bapak." ucapnya.


" Ya ampun, bapak kan hanya akan membantu sebisa bapak. Tapi untuk kelanjutannya itu tergantung sama kalian, karena kalian kan yang sering bersama." ucapnya dan mereka hanya mengangguk saja.


" Yang dibilang Pak Rifki benar, kalau kita hanya mengharapkan Pak Rifki itu akan sangat sulit." ujar Putra memberi tanggapan.


" Terus gimana dong, pikiranku udah mentok nih." ucap Joko.


" Kalian lanjutkan aja pembicaraan, bapak pergi dulu masih banyak kerjaan." ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka.


Mereka pun memulai diskusi kembali, tetapi tiba-tiba saja terdengar bunyi bel. Dan bunyi bel itu disertai dengan suara mikrofon, dan suara itu meminta seluruh anggota OSIS untuk kumpul di kantor OSIS. Akhirnya pun mereka menghentikan diskusinya, dan pergi untuk menjalankan tugasnya sebagai OSIS.

__ADS_1


Dalam sekejap mereka sudah sampai di depan kantor OSIS, dan mereka tersenyum dengan bahagia karena sudah banyak anggota yang berada di sana. Tetapi Putra melihat wajah dari William sangat tidak menyenangkan, karena willian la yang mengatur pertemuan itu. Seharusnya yang mengatur pertemuan itu adalah Putra, yang memegang jabatan sebagai ketua OSIS.


Putra yang menyadari kelalaiannya, Ia pun segera menghampiri William. Ia pun segera meminta maaf kepada William, dan juga berterima kasih karena ia telah menyusun pertemuan ini. Jujur saja ia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika William tidak menyusun pertemuan yang saat ini mereka lakukan.


__ADS_2