
Rapat pun berjalan dengan lancar, setelah rapat usai Putra dan William melakukan rapat berdua saja. Karena mereka harus melaksanakan hal yang sangat penting, karena mereka memiliki tanggung jawab sebagai ketua dan wakil ketua OSIS.
Para siswa yang lainnya keluar dari ruangan dengan sangat tertib, Edo dan teman-temannya kembali berkumpul di tongkrongan mereka. Dan mereka mulai menyusun rencana untuk mendekati Sasya kembali. kini mereka menjadi sangat bingung, karena otak dari semua rencana mereka kini tidak hadir bersama mereka. Yah benar otak dari mereka adalah Putra, si kocak yang memiliki banyak rencana.
" Kira-kira apa dong yang harus kita lakukan?" tanya Joko yang tidak mengetahui topik yang akan mereka bicarakan.
" Ntahlah aku juga tidak tahu, ini semua tuh gara-gara ini anak satu. Kalau aja dia nggak punya sifat dan karakter yang seperti itu, mungkin saja aku nggak akan menghadapi hal seperti ini." ucap Edo dengan menunjuk ke arah Fatur.
" Udahlah Edo, nggak usah marah. nasi udah jadi bubur, nggak akan bisa kembali lagi." ucap Joko menasehati Edo teman sebangkunya.
" Kau itu nggak pernah ngerasain Joko, jadi dengan enaknya kau berkata seperti itu." ucapnya yang masih kesal.
" Hahahaha, kau bilang aku belum pernah merasakannya. Kau salah besar Edo, aku sudah pernah merasakannya jauh sebelum dirimu." balas Joko dan membuat Edo tersentak.
" Aku nggak salah dengarkan Joko?" tanya Edo untuk memastikan.
" Nggak kok enggak salah dengar, aku memang pernah mengalami hal yang kau alami." ucapnya dengan menghalangi nafas.
" Kapan kau mengalaminya, kau aja nggak pernah cerita?" tanya Edo yang penasaran.
" Kejadian itu sudah lama, dan bisa dibilang kejadian itu terjadi waktu kita masih kelas 10." ucapnya dengan pasrah.
" Dan iyanya Si Joko ini nggak cerita sama kita, jadi aku nggak intropeksi diri deh hehehe." jawab Fatur dengan tertawa, sontak saja semuanya langsung menatap ke arah Fatur.
" Udah tau salah, intropeksi diri lah sekarang." ucap Edo yang sudah kesal.
" Iya deh aku bakalan intropeksi diri, tapi susah buat menjauhi mereka." ucapnya dengan tampang sedih.
__ADS_1
" Kamu bilang susah, kalau gitu sekarang pilih. lebih memilih dekat dengan mereka, atau dekat dengan kami." ucapnya yang kesal.
" Iya deh aku akan jauhi mereka, tapi kalian bantuin aku ya. Karena sangat sulit untuk merubah kebiasaanku itu." ucapan dengan tersenyum.
" Ya ampun Fatur-Fatur, kami nggak larang kalau dekat dengan cewek. Tapi nggak gonta-ganti juga pintar, kalau kau terus gonta-ganti bisa-bisa kami jomblo terus." ucapnya dengan menepuk pundak Fatur.
" Ta-tapi…" ucapatur yang tiba-tiba saja terhenti.
" Nggak usah pakai tapi-tapian, yang dikatakan Joko ada benarnya. kali ini yang menghadapi adalah aku, dan Joko juga sudah pernah menghadapinya. Coba Kau bayangkan jika Putra yang menghadapinya, apa yang akan dia lakukan kepada dirimu." ucap Edo meminta Fatur untuk membayangkan kejadian itu.
Fatur pun dalam sekejap hanyut dalam lamunan, ia pun membayangkan jika kejadian itu terjadi kepada Putra. Dan tiba-tiba saja wajah Putra yang sedang marah muncul di dalam benaknya, seketika Fatur pun menjadi takut. Putra adalah temannya yang terkenal kocak dan juga periang, tetapi Putra memiliki sisi kelam yang sangat mengerikan.
Ia sangat takut melihat ekspresi Putra yang sangat mengerikan itu, sebelumnya ia juga sudah pernah melihat ekspresi tersebut. Ekspresi itu pernah dikeluarkan Putra sewaktu mereka masih SMP, dan jujur saja itu sangat menakutkan bagi Fatur. Dan ia tidak ingin kejadian itu terulang, dan apalagi melibatkan dirinya.
" Tidakkkkk." teriak Fatur yang tiba-tiba saja dan membuat semuanya terkaget.
" Maaf teman-teman, tadi aku tiba-tiba kebayang sama wajah Putra yang lagi marah." jelasnya dan mereka semua pun mengerti, karena mereka sudah berteman sejak SMP Jadi mereka juga sudah tahu sifat dan karakter Putra.
" Makanya nggak usah bertingkah, susah kan sekarang jadinya." jelas Edo.
" Sorry deh, aku akan berusaha berubah." ucap Fatur.
...----------------...
Putra dan juga William baru saja selesai berdiskusi, dan kini Putra ingin pergi menuju tempat tongkrongan mereka. Tiba-tiba saja Putra bertemu dengan Sasya, tetapi Sasya seperti enggan untuk berbicara dengannya. Tetapi dengan melihat ekspresi Sasha yang seperti ingin bicara dengannya, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Sasya.
" Hai Sasya, apa kabar. Ngomong-ngomong Wina mana ya?" tanya Putra dan langsung membuat ekspresi di wajah Sasya langsung berubah, kemudian langsung meninggalkan Putra.
__ADS_1
" William, aku salah ngomong ya?" tanya Putra kepada William, Karena ia merasa tinggal Sasya menjadi aneh.
" Kau ini nggak up to date banget ya." ucap William kemudian pergi meninggalkan Putra.
Putra pun menjadi heran, ia tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Wulan menghampiri Putra, dan ia pun mulai menjelaskan tentang kronologi kejadian itu.
" Ya kau salah lah Putra." ucapnya di hadapan Putra.
" Memang aku salah apa Wulan?" tanya Putra yang seakan tidak mengerti.
" Jangankan untuk bersama, untuk bertegur sapa saja Wina tak mau." jelas Wulan dan membuat Putra tambah kebingungan.
" Memang apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Putra yang memang tidak mengetahui situasinya.
" Ya karena siapa lagi, karena ulah temanmu lah Si Edo." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Putra.
Putra pun menjadi tambah heran, ia tidak mengetahui situasi yang terjadi. Kedua sahabat yang tampak akrab dari awal masuk sekolah itu, Kenapa tiba-tiba saja hubungannya menjadi renggang. Dan kini Wulan mengatakan semuanya adalah ulah dari Edo, pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepala Putra. Karena ia tidak menemukan jawaban, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi ke tempat tongkrongannya. Dan bertanya kepada teman-temannya, siapa tahu mereka mengerti apa yang dikatakan oleh Wulan.
...----------------...
" Nyebelin banget sih si Putra, udah tahu hubunganmu dan Wina renggang gara-gara temannya. Eh sekarang malah ungkit-ungkit itu." ucap Febri yang kesal melihat tingkah Putra.
" Udahlah Febri nggak usah dibahas, lagian semuanya udah terjadi. Nggak ada gunanya juga kau mau ngomel di sini, mending sana ngomong di hadapan dia." ucap Sasya yang malas mendengar celotehan sahabatnya Febri.
" Malas sih ngomel di hadapan dia, nanti kelihatan sama anak-anak dibilang aku pacaran lagi sama dia. Dan itu sangat menyebalkan." ucap Febri dengan tampang sedikit emosi.
" Siapa suruh kau jadi paribannya dia, hahaha." jawab saja dengan tertawa.
__ADS_1
" Iyalah tuh yang lagi senang, senang kalau lihat sahabatnya susah." ucap Febri yang kesal.