
Sasya tidak langsung menggubris omongan sang ayah, ia tetap berdiri di sana dan pandangannya menuju ke arah luar. Ayah yang merasa ada keanehan dari anaknya, ia pun melihat ke arah yang di lihat oleh putrinya. Dan ia pun menemukan sosok seorang pemuda, ayah Sasya merasa kaget. Anaknya tidak pernah bilang punya kekasih, tetapi tiba-tiba anaknya membawa pulang seorang pemuda.
" Se-selamat siang om." ucap Edo.
" Siapa dia kak?" tanya ayah.
" Dia Edo, dia teman sekolah kakak." jawab Sasya.
" Yakin cuma teman, bukan pacar kan?" tanya ayah dengan sorot mata yang tajam.
" Nggak ayah, dia cuma teman sekolah kakak." jawabnya dengan ekspresi sedih.
" Beneran, kakak tau kan apa konsekuensinya bilang berbohong." ucap ayah.
" Iya ayah, kakak nggak bohong." ucapnya.
Edo yang memperhatikan Sasya dan ayahnya, ia pun mulai merasa takut. Tatapan mata ayah Sasya sangat tajam, dan membuat ia merinding.
" Ok, karena Sasya bilang kau adalah teman sekolahnya. Lalu ada keperluan apa kau kesini?" tanya ayah.
" Baik ok, sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri saya. Perkenalkan nama saya Edo, saya teman sekelas Sasya. Tetapi kini saya di sini berbicara sebagai perwakilan OSIS, saya ditugaskan oleh ketua OSIS. Saya di sini ditugaskan untuk meminta izin kepada orang tua Sasya secara langsung, untuk kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilakukan sekolah. Dan om tenang saja, saya juga yang akan bertanggung jawab atas Sasya selama di sana." ucapnya dengan setenang mungkin.
" Ok, siapa tadi namamu?" tanya ayah Sasya.
" Saya Edo om." jawabnya.
" Pengabdian masyarakat, saya sudah sempat dengar sih. Tapi apakah putri saya harus ikut?" tanya ayah.
" Maaf pak, Sasya harus ikut. Karena nama Sasya sudah tercatat sebagai panitia kegiatan." jawab Edo.
" Apa, kakak daftar?" tanya ayah dengan menatap Sasya.
" Nggak ayah, kakak nggak daftar." jawabnya.
" Lalu kalau kakak tidak daftar, kenapa nama kakak tercatat sebagai panitia." ucap ayah yang kini emosi.
" Bu-bukan kakak yang daftar ayah, tapi Wulan yang daftarnya kakak sama Febri." jawabnya dengan menundukkan kepala karena mereka takut.
__ADS_1
" Apa bisa begitu ya, kau nggak usa bohong." ucap ayah kembali, dan kini Edo juga merasa takut.
" Kak nggak bohong ayah, ini kebenarannya." jawabnya dengan tanpa sadar meneteskan air mata.
" Ya sudah kalau begitu, jadi kau Edo ya." ucap ayah.
" Iya om saya Edo." jawabnya dengan tersenyum.
" Karena kejadian sudah seperti ini, saya akan izinkan anak saya. Tapi saya mau kau tinggalkan no telepon, agar saya bisa menghubungi mu. Dan bila ada lecet pada putri saya, kau ada orang pertama yang akan saya cari." ucap ayah, dan Edo pun mulai ketakutan.
Dag
Dig
Dug
Itu kini yang sedang dirasakan oleh Edo, jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
" Iya baik om, ini no telepon saya. Om bisa telepon saya kapan saja." ucap Edo dengan memberikan secarik kertas yang sudah ia siapkan sebelumnya.
" Ternyata kau sudah memperlihatkannya, saya suka dengan anak yang penuh persiapan." ucap ayah dengan tersenyum, dan sontak saja Edo menjadi kaget.
" Aku nggak sedang salah lihat kan?" batin Edo.
" Terimakasih om, kalau begitu saya izin pulang om." jawabnya dengan tersenyum juga, dan menyalami tangan ayah Sasya. Kemudian ia pun segera keluar.
...----------------...
Kini William dan juga Wulan juga sudah sampai di depan rumah Wulan, Wulan langsung saja membawa William untuk masuk ke dalam. Ia pun mempersilakan William untuk duduk, kemudian datanglah Kakak Wulan.
" Siapa kau?" tanya seorang laki-laki kepada William.
" Saya teman sekolahnya Wulan Kak." jawab William.
" Lalu untuk apa kau ke sini?" tanya Zepri Kakak Wulan.
" Eh kakak, Wulan nyariin kakak di dalam loh." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Ada apa sebenarnya dek?" tanya Zepri.
" Begini kak, esok adalah kegiatan pengambilan masyarakat." ucapnya.
" Lalu ada apa, kau tidak ikut kan dek?" tanya Zepri dan Wulan pun hanya diam saja.
" Maaf kak kalau lancang, sebenarnya tujuan saya ke sini untuk membicarakan tentang kegiatan pengabdian masyarakat itu. Wulan sudah terdaftar sebagai anggota panitia, jadi Wulan harus berangkat." jelas William.
" Apa yang kau bilang, untuk menjadi panitia kan harus mendaftar terlebih dahulu. Wulan kamu tidak mendaftarkan?" tanya Zepri dan bulan hanya tersenyum saja.
" Kamu mendaftar tanpa izin dari kakak." tambah Zepri dengan bilangan kepalanya.
" Maaf Kak, habisnya Wulan ingin pergi ke alam." ucapnya dengan menunduk.
" Seharusnya kamu izin sama kakak dulu dek, kamu itu masih anak-anak. Belum bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirimu, kamu main mengambil keputusan tanpa berkonfirmasi kepada kakak terlebih dahulu. Kamu tidak memikirkan kondisi fisikmu saat ini, belum lama kamu keluar dari rumah sakit. Dan sekarang kamu mau pergi begitu saja, kakak tidak tahu situasi di sana. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu di sana, siapa yang akan bertanggung jawab?" tanya Zepri dengan emosi dan juga menatap bulan dengan sinis.
" Ternyata benar sesuai dengan dugaan Putra." batin William.
" Maafkan Wulan Kak." ucapnya dengan meneteskan air mata.
" Kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi, kau tidak mungkin tidak pergi. Ya sudah Siapa namamu?" tanya Zepri yang kini menatap ke arah William.
" Nama saya William kak." jawabnya.
" Oke William ya, saya minta nomor teleponmu. Silakan tulis di handphone saya." ucap Zepri dengan menyerahkan handphonenya.
William pun segera mengetik nomor handphonenya di handphone milik Zepri, walaupun awalnya Zepri tidak mengizinkan Wulan. Tetapi dengan kehadiran William Zepri pun akhirnya mengizinkan Wulan, dan kini Zepri mempercayakan Wulan kepada William.
" Baik William, nomormu sudah saya save. Dan saya mohon maaf jika nanti saya akan terus menunggu dirimu, mungkin kau tidak mengetahui kabar ini. Tetapi Wulan belum lama keluar dari rumah sakit, dan sebenarnya ia belum boleh mengikuti kegiatan yang terlalu berat. Namun karena semuanya sudah terjadi, dan tidak bisa di cancel. Jadi saya titip Wulan sama kamu, dan saya mohon jaga dia baik-baik." jelas Zepri.
" Baik kak saya akan menjaga Wulan dengan sebaik-baiknya, dan saya tidak akan keberatan jika kakak selalu menelpon saya. Saya awalnya tidak mengetahui kondisi Wulan kak, setelah saya mengetahui kondisi Wulan Saya mengerti kalau kakak pasti akan selalu mengkhawatirkan Wulan. Jadi jika kakak cemas dan membutuhkan kabar apapun tentang bulan, kakak silakan telepon saya saja tidak perlu sungkan." jelas William dengan tersenyum.
" Terima kasih ya, saya titip adik saya." ucap Zepri.
" Iya kak, tidak masalah. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Wiliam dengan menyalim tangan Zepri.
Wiliam pun segera pulang, dan ia pun melaporkan kepada putra kalau permasalahan tentang Wulan sudah beres.
__ADS_1