
" Mulai saat ini kau juga menjadi adik kami, jadi jangan sungkan dengan kami. Kami harap kau juga bisa merubah sikapmu, karena hal itu dapat berbahaya untuk mu dan juga orang banyak." ucap Amel dengan tersenyum.
" Aku akan berusaha untuk merubahnya kak, aku minta maaf karena telah menyakiti Andre. Sungguh aku tidak tau kalau ternyata dia adalah adikku." ucapnya yang merasa bersalah.
" Sudahlah, tidak ada gunanya menyesal. Lebih baik kita memikirkan soal kedepannya." ucap Cahaya dengan tersenyum.
" Ozi." panggil Ozan.
" Iya Pi." ucapnya dengan menoleh ke belakang.
" Oh, jadi om ayahnya Andre dan juga Ozi." ucap Amel dengan melihat Ozan keseluruhan.
" Iya, saya Ozan ayah dari Andre dan juga Ozi." jawabnya dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Amel dan Cahaya.
" Sepertinya om ini sangat sibuk, tampaknya ia sangat menjaga penampilan. Sudah dipastikan ia jarang di rumah, dan sudah pasti ia tidak mengetahui semua aktivitas anaknya." batin Amel.
" Saya Amel om, dan ini adik saya Cahaya." jelasnya.
" Terimakasih, saya tidak menyangka dapat bertemu dengan Putra saya lagi. Saya senang melihat kondisi Lulu yang sangat baik, kalian menjaga Lulu dengan sangat baik." ucapnya.
" Mama Lulu sudah menjadi mama kami, dan mama Lulu tidak pernah membanding-bandingkan antara kami dan juga Andre. Oleh karena itu kami sangat menyayangi mama." jelas Amel.
" Yang kalian katakan memang benar, aku saja yang bodoh dan bisa tertipu dengan seorang perempuan jahat, hiks…hiks." jelas Ozan dengan berderai air mata.
" Sudahlah om, percuma saja om mengatakan hal tersebut. Yang terjadi adalah takdir, dan kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan mama Lulu yang sangat baik dan menyayangi kami." ucap Cahaya, kemudian ia langsung memeluk Lulu.
" Yang kalian katakan memang benar, dan sepertinya aku sudah tidak ada hak lagi untuk Andre. Selama ini kalianlah yang berada di sisinya, sedangkan aku tidak pernah perduli dengannya. Jangankan berada di sampingnya, aku bahkan tidak mengetahui keberadaannya." jelas Ozan.
" Sudahlah mas, percuma menyesalinya. Sekarang lebih baik kita berdoa, agar Andre cepat membaik. Walaupun aku tidak yakin ia bisa menerima semua ini, tetapi setidaknya ia harus mengetahui semuanya." jelas Lulu.
...----------------...
" Tak ku sangka, ternyata Lulu itu mantan istrinya Ozan." ucap Yesya yang tidak percaya.
" Aku pun juga tidak mempercayai, aku jadi kasihan kepada Lulu." ucapnya yang merasa iba.
" Yang kau katakan memang benar, siapa yang tidak sedih. Apalagi ketika mengetahui, orang yang mencelakai putranya merupakan anak pertama yang tinggal bersama dengan mantan suaminya." ucap Yesya dengan menggelengkan kepalanya.
" Yang kau katakan memang benar, pastinya Lulu sangat sakit hati. Anak yang ia rindukan ternyata kini sudah berubah menjadi seperti itu, dan itu semua adalah salah Ozan. Ia selalu saja sibuk dan tidak memperdulikan Ozi, dan sekarang menjadi seperti ini." jelas Sarla.
" Ya begitulah Ozan, aku sangat kasihan kepada Ozi. Karena atas didikan Ozan, ia menjadi anak yang seperti sekarang." jelasnya.
__ADS_1
" Ya mau gimana lagi, ya kita berharap aja agar si Ozi bisa berubah." jawabnya.
" Aminnnn…" ucap keduanya serentak.
...----------------...
" Sungguh malang nasibmu Dre, aku kira hanya aku yang mengalami hal yang menyakitkan. Ternyata kau juga mengalaminya, tetapi kau selalu saja bisa tersenyum." batin Sasya.
" Kau sedang memikirkan apa Sya?" tanya Febri yang penasaran.
" Aku nggak lagi mikirin sesuatu kok." jawabnya dengan setengah mungkin.
" Kau yakin dengan ucapan mu?" tanya Wulan yang juga penasaran.
" Aku yakin dong, lagian nggak ada gunanya juga berbohong." jawabnya dan keduanya pun mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu, tapi jangan pernah sembunyikan sesuatu dari kita ya. Lebih baik kami tau dari mu langsung, dari pada kami tau dari orang lain. Hal itu sungguh sangat menyakitkan, dan kami tidak ingin merasakannya lagi." ucap Febri dan mereka bertiga pun langsung berpelukan.
" Mereka bertingkah sangat bahagia, Sasya aku tidak akan menggangu kesenanganmu bersama dengan sahabatmu. Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan bagi ku, walaupun aku tidak bisa memilikimu." batin Edo yang menatap ketiganya.
" Sudahlah, ikhlaskan saja. Aku yakin kau pasti akan menemukan orang yang cocok untukmu." ucap Joko dan Edo pun mengangguk.
" Kenapa aku merasa seperti Teletubbies ya?" tanya Sasya.
" We, uda malam ni. Kita pulang yuk!" ajak Wulan.
" Pengennya si gitu, tapi masa kita tinggal si Febri." ucap Sasya yang tidak tega.
" Nggak masalah, kalian pulang aja. Aku masih mau nungguin Putra." jawabnya dengan tersenyum.
" Jangan begitu dong nak, kau juga harus menjaga kesehatan. Sekarang kau pulang saja, lagian besok kalian juga harus masuk sekolah." ucap Sarla yang tiba-tiba saja muncul.
" Ta-tapi…" ucapnya yang tiba-tiba saja terhenti karena di potong oleh Sarla.
" Tidak terima bantaan." ucapnya.
" Tapi tante, nanti tante bisa kecapean." ucap Febri yang memang tidak ingin pulang.
" Kau harus istirahat sayang, biar tante saja yang disini ya." ucap Sarla dengan mengelus kepala Febri.
" Yang dikatakan tante itu benar, sekarang kita pulang aja ya!" ucap Wulan.
__ADS_1
" Yauda deh, tapi besok sepulang sekolah Febri datang ke sini lagi ya tan." ucapnya dan Sarla pun mengangguk.
" Iya sayang." ucapnya.
Mereka bertiga pun segera pulang dari sana, kini di sana suasana menjadi hening. Semua orang sedang memikirkan, apa yang akan mereka jawab ketika Wahyu sampai esok hari. Semua tampak panik, mereka semua tidak tega untuk menyampaikan hal tersebut kepada Wahyu.
...----------------...
Matahari bersinar dengan benderang, kini tampak seorang pemuda bertubuh gagah sedang berlarian di koridor. Ia langsung mencari keberadaan Yesya, akhirnya setelah perjuangan panjang. Ia pun berhasil bertemu dengan Yesya.
Kini Yesya tampak kebingungan, ia tidak tau harus menjawab apa pertanyaan dari Wahyu. Wahyu langsung menghampirinya, dan mendekap tubuh Yesya. Kini ia histeris, setelah cukup tenang. Ia pun menanyakan keberadaan adik semata wayangnya itu.
" Bagaimana kondisi Bintang tante?" tanyanya yang khawatir.
" Aduh gimana ngomongnya ya." ucap Yesya yang bingung.
" Kalau ngomong itu yang jelas tante, jangan buat Wahyu penasaran." ucapnya dengan menatap Yesya dengan sinis.
" Sebenarnya Bintang…" ucapnya yang terhenti.
" Apa yang terjadi sama Bintang tante?" tanyanya dengan mengguncangkan tumbuh Yesya.
" Yang sabar ya Wahyu." ucapnya dan Wahyu kini berkaca-kaca.
" Tante, jangan bilang kalau Bintang sudah meninggal?" tanya dengan panik.
" Maafkan tante Wahyu, tante tidak bisa menjaga Bintang dengan baik." jawabnya dan kini Wahyu pun duduk bersimpuh, dengan derai yang sangat deras.
" Bintangggg…" teriaknya.
" Tante sedang bercanda kan?" tanyanya yang masih tidak terima.
Kini Yesya pun langsung memeluk Wahyu, ia tidak tega melihat kondisi Wahyu. Ia sudah menganggap Wahyu dan Bintang sebagai anaknya sendiri, dan kini mereka harus kehilangan salahsatunya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
__ADS_1
4. Azilla Aksabil Husna