Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 35


__ADS_3

" Ada kendala apa?" tanya Putra.


" Tadi sih Sasya sedang tidak fokus, bahkan aku sampai di kacangin. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan penyebab yang membuat Sasya menjadi seperti itu, tetapi Sasya tidak mau memberi tahuku." ucap Edo.


" Yuada nanti kita tanya aja " ucap Putra.


" Sepertinya ia tidak akan mau menjawab, dan aku juga bingung. Tapi aku sangat penasaran, tetapi juga tidak ingin menyakitinya karena harus bercerita secara paksa." jelas Edo.


" Kalau begitu akan sangat sulit." jawab Putra.


" Ya mau gimana lagi, oh iya ngomong-ngomong dimana Wiliam?" tanya Edo yang tidak menemukan Wiliam.


" Lihat aja sebelah sana." jawab Putra dengan menunjuk sebuah tempat.


" Ya ampun, mereka lagi pacaran ya. Kasihan jadi obat nyamuk, hehehe." ucap Edo sambil tertawa.


" Bisa diam nggak itu mulut, atau mau aku tonjok." ucap Putra yang sudah sangat kesal.


" Eh iya maaf, jangan marah. Nanti Febri nggak mau sama mu, hehehe." ucap Edo dan membuat Putra menjadi kesal.


Tiba-tiba saja telpon Putra berdering, ia pun segera mengeluarkan dari sakunya. Raut wajahnya tampak tegang melihat nama yang tertera, Edo pun menjadi penasaran dengan siapa yang menelpon Putra.


" Siapa Put?" tanya Edo.


" Mamanya Febri." jawab Putra, kemudian langsung mengangkat panggilan tersebut.


" Halo, selamat siang ibu." ucap Putra untuk mengawali pembicaraan.


" Siang Putra, Febri mana ya. Dia nggak bisa di hubungi?" tanya mama Febri.


" Sekarang saya tidak di satu lokasi bu, Febri sedang ada di sekolah. Kalau begitu saya pergi ke sekolah dulu, nanti saya kabari." ucap Putra.


" Oh begitu, ya sudah. Tidak usa, ibu merepotkanmu. Bilang saja sama Febri untuk menghubungi saya ketika sudah tidak sibuk." ucap ibu Febri.


" Baik bu, akan saya sampaikan." jawabnya kemudian sambungan telepon pun mati.


" Wah, yang baru saja telponan sama calon mertua." ledek Edo.


" Eh siapa?" tanya Wiliam yang baru saja mendekat.

__ADS_1


" Ya Putra la." jawab Edo.


" Maksudku dia baru telponan sama siapa?" tanya Wiliam.


" Sama mamanya Febri." jawab Edo.


" Cie, gimana. Senang nggak, perasaan berdebar atau tidak?" tanya Wiliam.


" Apaan sih kalian, sana lakukan aja pekerjaan kalian. Nggak usa ganggu aku." ucapnya dengan tatapan sinis.


" Iya deh maaf, tapi bisa spell nggak perasaannya saat ini?" tanya William yang sedang menggoda Putra.


Putra tidak menjawab apapun, tetapi ia hanya tersenyum saja. Kini keduanya pun menyimpulkan, kalau Putra sedang sangat bahagia.


" Katanya nggak mau sama pariban, eh sekarang ditelepon sama calon mertua kok seneng-seneng. Jangan-jangan udah mulai suka nih sama paribannya." goda William.


" Apaan sih kalian, sana pergi nggak." ucap Putra denganmu ingin melempar handphonenya.


" Kalau udah nggak mau jangan dibanting, aku siap menerima handphone mu." ucap Edo dan membuat Putra tambah kesal.


" Kau." ucapnya dengan tatapan sinis dan keduanya langsung melarikan diri.


" Kaliankenapa sih, pakai lari-lari segala? di sini itu ada banyak orang, untung aja yang tertabrak aku. Kalau sampai tabrak itu orang lain, apalagi kalau sampai warga sini. Aku tidak tahu nasib kalian bagaimana, dan aku pastinya akan sangat kerepotan." ucap Andre dengan menggelengkan kepalanya.


" Maaf Andre, kami sangat takut dengan Putra." ucap keduanya dan membuat Andre pun kebingungan.


" Memangnya Putra kenapa, dia itu kalau marah selalu beneran loh. Apa yang kalian lakukan, hingga Putra sampai marah?" tanya Andre yang penasaran.


" Kami nggak melakukan hal yang aneh kok, kami hanya…meledak dia saja." ucap Edo jujur.


" Ngapain kalian ngeledek dia, memangnya ada hal yang lucu ya? kalian ini, kayak orang nggak ada kerjaan aja." tanya Andre yang penasaran.


" Udahlah Andre, aku yakin kau pasti juga akan meledek dia kalau kau ada di sana." ucap William.


" Mengapa tampaknya kalian begitu yakin, memangnya apa sebab utama kalian meledek dia?" tanya Andre yang tambah penasaran.


" Tadi kami mergokin dia lagi teleponan sama camernya, jadi jiwa-jiwa menggoda kami kamu. Eh sekarang dia malah marah, dan kami harus segera melarikan diri." jelas Edo.


" Hahaha, ini beneran. Wah aku nggak nyangka, akhirnya sih raja jomblo akan menggandeng seorang wanita." ucap Andre dengan tertawa.

__ADS_1


" Tebakanku benar kan, pasti kalau kau di sana kau juga akan ikut melirik dia." ucap William.


" Tebakanmu sangat benar, dan aku merasa rugi karena tidak ada di sana. Padahal aku ingin melihat ekspresi wajahnya ketika teleponan dengan orang tua dari Febri." ucap Andre yang sangat antusias.


" Kalau begitu kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian. Agar kalian tidak diapa-apain oleh Putra, karena Putra memiliki sebuah kelemahan yang aku pegang." jelas Andre dan membuat keduanya penasaran.


" Wah aku nggak nyangka, bisa dong di Spil." bocah pilihan dengan tersenyum.


" Eh tidak bisa, ini hanya rahasiaku dengan Putra saja. Bila kalian ikut mengetahuinya, pastinya sangat tidak menyenangkan." ucap Andre kemudian pergi meninggalkan keduanya.


" Ternyata Andre sangat menyebalkan." ucap William.


" Dia masih bisa sangat menyebalkan dari ini, dan pastinya kau akan ingin memukul dia habis-habisan." jelas Edo dan membuat William kebingungan.


" Apakah ia seperti itu, tetapi tampaknya ia tidak seperti itu?" tanyanya dengan membayangkan sikap Andre.


" Kau masih belum mengetahuinya, pastinya kau akan sangat kesal ketika mengetahui sikap aslinya." jelas Edo.


" Aku jadi sangat penasaran, bisakah kau menunjukkan sikap Andre yang seperti itu dihadapan ku?" tanya Wiliam.


" Mohon maaf, hal itu sangat sulit. Nanti kalau sudah saatnya kau pasti akan menyaksikannya." ucap Edo.


" Nggak enak banget kau Edo." ucap Wiliam.


...----------------...


Putra kini menemui Febri, dan ia pun mengatakan apa yang sempat dikatakan oleh Mama Febri. Febri pun segera membuka teleponnya, dan benar saja Febri langsung menelepon mamanya.


" Assalamualaikum ma." ucap Febri untuk mengawali telepon.


" Waalaikumsallam, kau dari mana saja nak?" tanya Mama Febri yang khawatir.


" Maaf ma, Febri lagi sibuk. Jadi Febri lupa untuk lihat HP, maafkan Febri ya Ma." ucapnya.


" Ya udah nggak apa-apa sayang, tetapi setidaknya hubungi mama ya. mama sangat khawatir dengan dirimu." ucap mama Febri.


" Iya ma, Febri akan hubungi mama. Tapi sepertinya telepon kita harus diakhiri dulu deh ma, soalnya Febri lagi banyak kerjaan. Nanti malam Febri telepon mama deh, oke ma." ucapnya dengan nada membujuk.


" Ya udah, kalau begitu kamu hati-hati ya." ucap Mama Febri.

__ADS_1


__ADS_2