Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 75


__ADS_3

Kini mereka kembali ke rumah, dan Lulu sudah menelpon pembantunya yang baru saja kembali dari kampung untuk menyiapkan barang-barang Amel. Pembantu itu pun menangis dan langsung memeluk Amel, pembantu itu Sid di anggap seperti keluarga. Karena ia memang sudah berada di sana sejak Andre masih kecil, dan mereka saling menyayangi.


" Maafkan bibik non, karena bibik nggak bisa menyaksikan hari bahagia non." ucapnya dengan berderai air mata.


" Sudahlah bik, semuanya sudah terjadi. Bibik nggak boleh menyesalinya, lagian itu juga bukan kemauan bibik. Karena bibik sudah kembali, apakah keadaan anak bibik sudah membaik?" tanya Amel.


" Alhamdulillah non, dan itu semua berkat keluarga ini. Seandainya bibik bekerja di tempat lain, bibik nggak akan tau bisa mendapatkan majikan baik atau tidak. Dan bahkan keluar ini sudah menganggap saya seperti keluarga, ini adalah hal yang sangat membahagiakan untuk saya non." jelasnya.


" Alhamdulillah kalau bibik memang berpikiran seperti itu, kami juga senang bisa membantu bibik." ucap Cahaya yang kini datang menghampiri.


" Iya non Cahaya, semuanya adalah takdir yang membuat bibik menjadi bahagia. Apalagi semenjak kehadiran Nyonya Dan juga Aden Andre." jelasnya dengan tersenyum.


" Oh iya bik, bibi nggak penasaran sama suaminya Amel?" tanya Lulu.


" Saya sama sekali tidak penasaran nyonya, karena saya yakin dengan pilihan nyonya. Nyonya pasti memiliki orang yang terbaik untuk non Amel, dan saya yakin akan semua itu. Karena nyonya adalah Ibu yang baik, walaupun sebenarnya Nyonya bukanlah ibu kandung dari mereka." jelas membantu itu.


" Kamu terlalu melebih-lebihkan saya, jangan pernah berbicara seperti itu bik. Bagi saya mereka bukanlah anak sambung saya, tetapi mereka adalah anak saya sama seperti Andre. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya, jadi saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mereka." ucap Lulu yang tiba-tiba saja mengarahkan tatapan sinis ke arah Hasnan.

__ADS_1


" Bunda tenang aja, Hasnan akan menjaga Amel dengan baik-baik. Dan insya Allah hubungan kami akan bertahan hingga maut memisahkan, dan aku tidak akan mengecewakan apa yang sudah Bunda percayakan kepadaku." ucap hasnan dan membuat pembantu itu pun melihat ke arahnya.


" Ternyata pemuda ini adalah suami dari non Amel, rupanya cukup tampan dan sepertinya dia juga memiliki tanggung jawab. Pilihan dari Nyonya memang tidak salah, saya yakin dia pasti bisa melaksanakan apa yang ia katakan barusan. Saya harap ini adalah jalan kebahagiaan non Amel yang berikutnya, setelah ia keluar dari rumah keluarga besar ini dan membangun keluarga kecil yang bahagia." batin pembantu itu.


" Semoga saja kamu bisa melaksanakan apa yang kamu ucapkan Hasnan, sekarang kita masuk dulu untuk berbicara mengenai hal mendalam. Dan biarkan Amel membuatkan makanan terakhirnya untuk rumah ini, sesuai dengan tradisi yang ada di rumah ini." jelas lu lu dan Amel pun segera pergi ke dapur.


Semuanya duduk di ruang utama sambil berbincang, dan mereka menunggu suguhan yang akan dibawakan oleh Amel. Jujur saja Hasnan sangat menantikannya, karena ia akan mencoba masakan pertama dari istrinya. Dan hal tersebut membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang, karena ini adalah momen yang akan membuatnya teringat tentang suatu masa.


Setelah berkutik dengan sangat lama di dalam dapur, akhirnya Amel pun keluar dari dapur dengan membawa 3 mangkok makanan. Dan di dalamnya terdapat tiga jenis makanan yang berbeda pula, Hasnan sudah sangat menantikan untuk mencicipi rasa masakan tersebut. Amel meminta mereka untuk duduk di meja makan, agar ia bisa menyuguhi makanan tersebut.


" Tiba-tiba aku teringat dengan momen kita dulu." ucap Tomi dengan berbisik, dan hal tersebut membuat Jingga merasa malu.


" Jangan bahas hal itu di sini, aku sangat malu tahu dilihat di sama tante." jawab Jingga yang juga berbisik.


" Sepertinya kalian berdua justru bernostalgia, dan mengingat momen adat ini ketika kau baru pertama kali menikah Jingga." ucap Lulu dan Jingga pun menunduk.


" Nanti ketika Cahaya menikah agar juga pasti akan bernostalgia Tante." jawab Tomi dan semuanya pun tertawa.

__ADS_1


" Yang kau katakan memang benar Tomi, Tante juga sedang menanti-nantikan kabar pernikahan Cahaya." ucap Lulu dengan menatap ke arah Cahaya.


" Cahaya masih lama Bunda, Kak Amel aja baru menikah." ucapnya yang memang masih belum ingin menikah.


" Bunda tahu nggak soal itu, tetapi Bunda memang sudah menanti-nantikannya." ucap Lulu.


" Aku juga sudah menantikan kabar itu Tante, dari yang aku dengar katanya cahaya udah punya pacar ya. Dan dengar-dengar pacarnya itu merupakan teman smp-nya." jelas Tomi.


" Yang kamu katakan memang benar Tomi, dan mereka juga baru bertemu beberapa saat yang lalu. Memang sih kalau memikirkan untuk ke jenjang pernikahan itu masih terbilang lama, karena mereka masih belum lama dipertemukan kembali. Acara pertemuannya pun sungguh sangat aneh, mereka dipertemukan bukan karena suatu hal yang membahagiakan melainkan karena sebuah petaka." jelasnya dengan mengingat kejadian itu.


" Aku juga mendengarnya seperti itu tante, katanya pacar si Cahaya ini ternyata adalah kakak dari bintang. Dan bintang itu adalah merupakan korban dari kejadian yang juga dialami oleh Andre, dan Bintang adalah korban yang meninggal. Dari malapetaka mereka berdua malah bertemu jodoh, sungguh hal yang sangat sulit untuk dipercaya." jelas Tomi dengan menggelengkan kepalanya.


" Kau saja masih tidak percaya kan Tomi, apalagi Tante. Hari ini sungguh sangat sulit untuk dipercaya, di satu sisi Tante mendapatkan kabar duka dari Andre. Dan di satu sisi lagi dari kabar duka itu si Cahaya justru mendapatkan kabar suka, sungguh Tante bimbang harus berada di pihak yang mana." jelasnya yang memang juga bingung.


" Tante mendapatkan kabar suka dan juga kabar duka secara bersamaan, tetapi yang paling membuat tante tersakiti pastinya adalah kabar duka. Karena bahkan hingga kini Andre masih belum keluar dari rumah sakit, walaupun hal ini sangat menyedihkan tetapi apa yang mau dikatakan lagi." jelas Tomi.


" Ya begitulah Tomi, bukan hanya kami saja yang bersedih karena tidak ada kehadirannya di acara bahagia ini. Tetapi dia juga bersedih karena sebenarnya dia sangat ingin berada di samping Kakaknya ketika menikah, tetapi keinginan terbesarnya itu tidak bisa terjadi karena saat ini ia harus terbaring di rumah sakit." ucap dulu yang tiba-tiba saja berderai air mata.

__ADS_1


__ADS_2