Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 27


__ADS_3

Sedikit pengenalan



Nama : Desi Eminolda


Karakter : Ceria dan tegas


Hobby : Berolahraga


Makanan kesukaan : Martabak manis


Minuman kesukaan : Es boba


...----------------...


" Tapi tetap saja, akan sulit meminta izin kepada orang tua kami." ucap Febri.


" Tapi maaf semua tidak bisa diubah, kalian sudah ditetapkan sebagai anggota divisi. Dan bila kalian keluar akan sangat sulit untuk mencari orang, apalagi kalian sudah ditentukan. Begini saja, kami yang akan bertanggung jawab untuk meminta izin kepada kedua orang tua kalian. Kami yang akan langsung hadir ke rumah kalian, untuk meminta izin secara langsung." ucap Andre.


Febri dan Sasya pun saling bertatapan, dan akhirnya mereka pun mengangguk. Pertanda setuju dengan perkataan Andre.


" Ya sudahlah, tapi benar ya. kalian yang akan meminta izin secara langsung pada orang tua kami." ucap Febri.


" Iya, kalian berdua tenang saja. Kami akan bertanggung jawab atas semuanya, dan kami juga yang akan meminta izin langsung kepada orang tua kalian. Agar kalian mendapat izin, dan acara dapat berlangsung dengan baik." ucap Andre dengan tersenyum.


" Ya sudah kalau begitu, kami permisi dulu ya Andre." ucap Febri.


Andre tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk saja. Keduanya pun langsung keluar dari ruangan OSIS, dan kini mereka kembali ke ruangan kelas. Sesuai dengan dugaan, saat mereka tiba di kelas. Bel pertanda pulang pun berbunyi, dan akhirnya mereka semua pun berhambur untuk pulang.


Setelah semua siswa pulang, Andre pun segera memanggil Putra dan juga Edo ke ruangan OSIS. Akhirnya mereka pun membicarakan tentang Sasya dan juga Febri, dan akhirnya mau tidak mau Putra dan Edo harus bertanggung jawab atas Sasya dan juga Febri. Edo sangat kesenangan, karena ia bisa berhadapan langsung dengan kedua orang tua Sasya tanpa rasa takut. Tetapi berbeda dengan Putra, ia justru merasa kesal. Karena ia harus bertemu dengan orang tua Febri, ia yakin nantinya dia pasti akan ditanyain hal-hal yang membuatnya pusing. Yang menjadi alasan itu semua adalah karena Febri adalah pariban dari Putra.


" nggak bisa orang lain aja kah?" tanya Putra.


" Tidak bisa Put, kalau kau yang meminta izin secara langsung. Aku yakin orang tua Febri pasti akan setuju." jelas Andre.

__ADS_1


" Kau begitu sangat yakin ya, biar kutebak. Pasti karena aku dan Febri pariban kan, makanya kau begitu yakin orang tua Febri akan setuju." ucap Putra dan mereka pun hanya tersenyum saja.


" Ye dasar kalian." ucap Putra yang kesal.


" Ayolah Put, ini semua demi keberlangsungan acara kita." ucap Andre.


" Iya deh, demi keberlangsungan acara kita." jawabnya yang malas.


" Nah gitu dong, itu baru Putra teman aku." ucap Andre dengan menepuk pundak Putra.


Tiba-tiba saja William pun tiba, ia pun melihat ketiga temannya sedang berada di ruangan OSIS. Ia pun merasa heran dengan teman-temannya, dan ia pun langsung duduk di sebelah Edo.


" Ada apa nih, Kenapa kalian berkumpul?" tanya William yang baru saja tiba.


" Kami sedang membicarakan dua orang anggota divisi, yang kemungkinan akan sulit untuk ikut dalam kegiatan kita." jelas Andre.


" Memangnya apa yang menjadi kesulitan mereka?" tanya Wiliam.


" Perizinan dari orang tua mereka." jawab Andre.


" Ya kita memang sudah membuat surat perizinan kepada orang tua, tetapi karena mereka hal itu juga masih akan sangat sulit. Jadi kami memutuskan untuk meminta izin secara langsung kepada kedua orang tuanya." jelas Andre.


" Sangat rumit sekali sih, memangnya mereka siapa sih?" tanyanya yang penasaran dengan kedua orang itu.


" Mereka adalah Febri dan juga Sasya." jawab Andre.


" Apa, jadi mereka berdua sulit meminta izin. Lalu Wulan bagaimana?" tanya William yang baru teringat dengan sosok Wulan.


" Ngomong-ngomong tentang Wulan, tadi ketika di kelas kami sempat mengobrol dengan Febri dan juga Sasya. Dan mereka bilang Wulan juga sulit minta izin, dan pastinya harus ada satu orang dari kita yang bertanggung jawab atas Wulan. Dan selalu stand by bila kakaknya Wulan menelpon." jelas Putra dan membuat William panik.


" Apa, lalu siapa dong yang akan bertanggung jawab atas Wulan?" tanya William dengan melihat ketiga tangannya.


" Jangan aku, aku sudah mengambil tanggung jawab atas Febri." ucap Putra dengan menyilangkan tangannya di atas dada.


" Lalu siapa dong?" tanya William.

__ADS_1


" Kenapa tidak kamu saja, kan lumayan bisa sekalian PDKT dengan orang tuanya." ucap Andre dengan tersenyum.


" Wah-wah, ternyata ada yang lagi pdkt nih." ucap Edo dengan menyenggol William.


" Apaan sih kau, belum kali masih proses." jawab pilihan dengan jujur.


" Wah kok jujur banget ya, mudah-mudahan cepat jadian ya." ucap Edo dengan menjabat tangan Wiliam.


" Iya, kau juga ya." ucap William.


" Yah doain aja, mendekati Wulan tidak sesulit mendekati Sasya." ucap Edo dengan menggelengkan kepalanya.


" Siapa suruh kamu pilih Sasya yang cuek, kalau aku sih lebih suka sama Wulan yang manja." ucap William.


" Ih dasar kalian berdua, belum juga jadian. Udah bucin aja kalian." ucap Putra dengan menggelengkan kepalanya.


" Biarin aja, yang penting happy." jawab keduanya serentak kemudian mereka melakukan tos.


" Roman-romannya sebentar lagi aku akan jadi obat nyamuk kalian." ucap Putra yang kesal.


" Makanya cari pacar, biar nanti nggak jadi obat nyamuk." ucap William.


" Eh dasar kalian ini, buat aku kesal aja. Kalian kira cari pacar itu gampang, nyari yang cocok itu susah." ucap Putra kemudian pergi meninggalkan ruangan OSIS.


" Sepertinya itu anak sedang ngambek." ucap Andre dengan memperhatikan kepergian Putra.


" Udahlah Andre, kau seperti tidak terbiasa dengan Putra saja. Paling bentar lagi juga balik, dia kan nggak bisa marah lama-lama sama kita." ucap Edo dan Andre pun mengangguk.


" Enaknya jadi kau Edo, Kau mah udah berteman lama sama Putra. Dia marah dikit itu nggak berlaku apa-apa sama kamu, dan dalam waktu singkat kalian bisa baikan." ucap William yang merasa iri dengan Edo.


" Ya namanya juga udah lama kenal, kalau kau terus bergabung sama kami. Nantinya kau juga akan seperti itu, karena putra adalah orang yang sangat menghargai pertemanan." jelas Edo.


" Yang kau katakan benar juga, tapi jujur aku jadi penasaran dengan pertemuan awal kalian berdua." tanya William yang penasaran.


" Untuk soal itu, nanti saja saat ada Putra baru kami ceritakan. Jujur aku tidak nyaman menceritakannya bila tanpa Putra, karena hari pertemuan kami adalah hari yang sangat memalukan." jelas Edo dan membuat Andre dan juga William menjadi penasaran.

__ADS_1


" Ya udah deh nggak apa-apa, tapi beneran ya bakal diceritain." ucap Willy hamil yang menanti kepastian.


__ADS_2