Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 40


__ADS_3

" Kau memang adalah orang yang baik, kini aku tahu mengapa Edo bisa menyukaimu." jelas Anaya.


" Eh maksudnya gimana, kenapa kau tiba-tiba membawa Edo?" tanya Sasya ya memang tidak mengerti.


" Mungkinkah tidak menyadarinya, tetapi kami sudah mengetahui. Edo itu sudah lama menyukaimu, tetapi dia tidak pernah berani untuk mengatakannya. Dan sekalinya dia mengatakannya, kau justru langsung menolaknya. Sungguh sangat kasihan, tapi kini aku mengetahui alasannya. Jadi aku tidak akan ikut ikut menghujatmu lagi, karena bila aku menjadi dirimu aku juga akan memilih apa yang kau pilih." jelas Anaya dengan tersenyum.


" Andai saja kau mengetahui penyebab awalnya, mungkin kau juga akan sepertiku. Bila karena orang tua saja, itu masih bisa dibilang mudah. Tetapi ada luka yang menggores, yang hingga kini masih belum bisa ku lupakan." batin Sasya dengan menatap Anaya.


" Sya, kenapa sih kau sering melamun?" tanya Anaya yang penasaran.


" Apa maksudmu?" tanyanya yang memang tidak mengerti.


" Kau sering melamun, dan jujur saja itu membuat kami takut. Kau kan tahu, saat ini kita sedang berada di alam bebas." jelas Anaya.


" Maafkan aku ya, aku nggak bermaksud membuat kalian cemas." jawabnya dengan selamat mungkin.


" Sudahlah, yang terpenting kau baik-baik saja." ucap Anaya.


" Terima kasih ya." ucapnya dengan tersenyum dan semuanya pun hanya mengangguk saja.


Kini mereka pun menghidangkan makanan, mereka dengan sigap memberikan makanan kepada para siswa yang datang. Setelah mendapatkan makanan, para siswa pun kembali duduk di dekat api unggun. Dan mereka melakukan games yang udah direncana, mereka ingin membuat games, banyak siswa yang sudah menantikan games yang akan dimainkan.


Semuanya tampak antusias mengikuti games, hingga tak terasa pukul 11.00 malam pun sudah. Akhirnya mereka pun diminta kembali ke tenda masing-masing, mereka semua kembali ke tempatnya dan tidur. Pukul 12.00 malam, tepatnya saat tengah malam. Semua siswa dibangunkan, dan mereka akan memainkan games kekompakan.


" Apakah semuanya sudah berkumpul?" tanya Andre yang merupakan ketua panitia.


" Sudah." jawab mereka serentak.


" Baik semuanya, kita akan memainkan games kekompakan. Dan satu tim terdiri dari 10 orang, untuk pembagian nama nanti akan dibacakan oleh William." jelas Andre dan semuanya pun mengangguk.

__ADS_1


Andre pun kembali menjelaskan sistem games tersebut, Setelah semuanya mengerti. Andre pun menyerahkan kepada William untuk membagi tim, William membacakan nama-nama tiap tim. Dan setelah hampir satu jam akhirnya semua tim sudah terbagi, Mereka pun memulai kegiatan.


Setiap tim mengitari pos-pos yang sudah ditentukan, terdiri dari tiga pos yang akan menjadi penentu. Hanya beberapa tim saja yang bisa lolos di pos ketiga yang yang akan bisa lanjut ke tempat peristirahatan, semuanya tampak antusias mengikuti games tersebut. Walaupun ada yang terlihat masih lelah, tetapi mereka tetap terus mengikuti games.


Para panitia merasa kasihan pada beberapa orang tersebut, karena tampak mereka hampir terjatuh ketika berjalan. Tetapi sesuai dengan aturan, mereka tidak diperbolehkan membantu para peserta. Akhirnya mereka hanya diam dan melihat para peserta saja, semua anggota divisi kembali mengerjakan tugasnya masing-masing. Terutama divisi konsumsi yang harus menyediakan minuman hangat, ketika para peserta tumbang.


" Ide Andre dan juga Putra sangat bagus ya." ucapkan Anaya dengan menatap Sasya.


" Ide mereka memang bagus, tapi aku merasa kasihan dengan mereka yang sedang mengantuk." jawabnya.


" Tapi kegiatan seperti ini sangat menyenangkan, kegiatan seperti ini sungguh tidak terbayangkan. Aku bahkan heran, bagaimana bisa mereka bisa memikirkan konsep seperti ini." ucapkan Anaya.


" Kau merasa heran, kalau aku sih nggak heran. Kau pasti lupa ya, Andre kan sebelumnya adalah anak Pramuka." jelas Sasya.


" Oh iya, aku nggak ingat. Pastinya kegiatan seperti ini dia sudah sering melakukannya ya, pantas saja ia tampak sudah mengerti." ucap Anaya.


" Ya begitulah, jadi nggak usa heran ya." ucap Sasya.


" Sebenarnya mau kita ikut organisasi apapun, semua itu sama Nay. Disana pasti ada enaknya dan nggaknya, jadi kalau kau tanya seperti itu aku juga bingung harus jawab apa. Tetapi yang terpenting aku nyaman di sana, walaupun ada beberapa orang yang ngga cocok sama aku." jawab Sasya.


" Oh jadi gitu ya, kalau soal pertanyaan Andre kemarin gimana?" tanya Anaya.


" Aku sudah menyiapkan jawabannya, tapi maaf aku nggak bisa kasih tau kau." ucapnya dan Anaya pun mengangguk.


" Kalau soal itu aku ngerti kok, lagian aku juga nggak masalah. Aku yakin keputusan yang kau ambil pasti adalah keputusan yang terbaik untukmu." ucapnya dengan tersenyum.


" Makasih ya." ucapnya dengan memeluk Anaya.


" Perasaan yang menjadi dekat kalian aja ya, kami kenapa di lupakan." ucap Cahaya dan menyadarkan mereka.

__ADS_1


" Eh maaf, sini gabung." ucap Sasya dan mereka pun langsung berpelukan.


" Kenapa aku seperti melihat Teletubbies ya." ucap Putra dan membuat mereka melepas pelukannya.


" Gpp kali Put sesekali, hehehe." ucap Cahaya.


" Boleh, tapi nggak sekarang lah. Nggak kalian lihat kami pada kedinginan, kalian mah enak pelukan. Nah kami, mau pelukan sama siapa?" tanya Putra.


" Pelukan sama Febri aja." ucap Cahaya dan membuat Putri menjadi kesal.


" Put, maafkan Cahaya ya. Dia ini kalau punya mulut nggak bisa di rem, walaupun omongannya benar sih." ucap Anaya yang justru membuat Putra tambah kesal.


" Nggak ibu, nggak keponakan. Kalian berdua sama-sama buat kesal." ucapnya kemudian langsung pergi.


" Kalian ini, uda tau Putra lagi sensi. Eh kalian malah buat masalah." ucap Sasya dengan menggelengkan kepalanya.


" Maaf aku keceplosan." ucap Cahaya yang menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


" Ya udah deh, lagian semuanya juga udah terjadi." ucap Sasya.


" Nggak bisa gitu, aku harus minta maaf sama Putra." ucap Cahaya yang berusaha mengejar Putra, tetapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Sasya.


" Udahlah, nggak usah kau kejar. Saat ini Putra sedang dalam suasana hati yang buruk, dan bila kau mengejarnya kau pasti akan mendapat marahan yang sangat besar olehnya. Untuk saat ini, biarkan saja dia sendirian." jelas Sasya dan mereka semua pun mengangguk.


" Yang dikatakan oleh Sasya benar, lagian saat ini kita juga sedang banyak pekerjaan. Dari pada kau pergi untuk mengejarnya, lebih baik kau antarkan ini ke tiap pos." ucapan Anaya dengan menunjuk ceret besar yang berisi air hangat.


Cahaya pun segera pergi, mereka semua pun segera mengantar cara tersebut ke tiap pos dan juga siswa yang merasa tidak enak badan. Mereka dengan sigap berkeliling, dan memastikan kondisi teman-temannya.


Tidak terasa, kini mereka semua sudah selesai. Dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi, mereka pun berdiri untuk mengitari api unggun. Kemudian bernyanyi dengan sangat gembira, rasa lelah yang mereka rasakan seakan menghilang. Dan semua itu berganti dengan canda tawa mereka, mereka semua bergandengan tangan.

__ADS_1


Mereka semua terus mengitari api unggun, hingga terdengar adzan berkumandang. Yang beragama muslim pun segera pergi menuju masjid terdekat, sedangkan yang lainnya beristirahat di dekat api unggun.


__ADS_2