
" Makanya jangan pernah memandang seseorang dari fisiknya." ucapan turut memperingati.
" Jangan sok menasehati diriku, kau saja selalu memandang orang dari fisiknya." ucap Joko dan Fathur hanya tertawa saja.
" Kalian berdua ini sama saja, kita harus segera mencari kesempatan untuk meminta maaf. Jangan sampai Sasya marah kepada kita, dan takutnya ia tidak mau berbicara dengan kita. Terutama kepada dirimu Joko." ucap Putra.
" Aku sih tidak masalah kalau dia tidak mau berbicara denganku." ucap Joko.
" Mengapa kau berbicara seperti itu?" tanya Edo yang tiba-tiba saja angkat suara.
" Kalian melupakan suatu hal ya, aku kan sudah pernah bertengkar dengannya. Dan akibat dari pertengkaran itu aku satu tahun tidak berbicara dengannya, dan aku juga masih ingat alasan mengapa kami kembali berbicara." ucap Joko.
" Astaghfirullah, lama sekali kau tidak berbicara dengannya." ucap Edo yang kaget.
" Bahkan kalian juga tidak mengetahuinya, dia adalah orang yang sangat sulit untuk ditebak. Bila dia tidak menyukai seseorang, dia tidak akan kelihatan tidak menyukai orang tersebut. Bahkan ia tampak biasa saja seperti tidak terjadi apapun, dan membuat orang di sekitarnya tidak menyadari hal tersebut." jelas Joko.
" Aku tidak menyangka kalau dia ternyata orang seperti itu, kalau begitu akan sangat sulit untuk mendekatinya. Karena apapun yang terpikir di dalam memorinya tidak akan terlihat di dalam wajahnya, dan kita akan sangat sulit untuk mengerti orang seperti itu." ucap Putra yang angkat suara.
" Lalu bagaimana bisa Edo menyukainya, apa sifatnya yang membuat kau suka kepadanya Edo?" tanya Fatur yang penasaran.
" Tentunya karena kesabarannya, aku yakin sebenarnya ia sudah kesal dengan Paska. Tetapi ia tidak pernah marah kepadanya, dan bahkan ia selalu membantunya. Aku menyukainya saat dia kesal, tetapi ia tidak pernah mengutarakan kata-kata yang buruk kepada paska." jelas Edo.
__ADS_1
" Yang kau katakan memang benar, hanya dia seorang diri yang belum pernah marah kepada Paska. padahal sebenarnya tingkat Paska selalu membuat kita emosi, dan kalau bukan karena memandang ayah Paska yang merupakan seorang guru. Mungkin saja aku sudah menghajar Paska habis-habisan, karena ia selalu saja menguras kesabaranku." ucap Joko ya memang seringkali dibuat kesel oleh Paska.
" Kalian yang sabar, kalian tidak ingin menjadi seperti Sasya. Ia adalah orang yang sangat penyabar, karena itu aku bisa jatuh hati kepadanya." jelas Edo.
" Aku rasa dirimu salah Edo, Sasya bukanlah kepribadian penyabar. Tetapi ia hanya tidak ingin menunjukkannya saja, karena buktinya tadi ia langsung menamparku." jelas Joko.
" Yang kau katakan masuk akal juga, tapi kalau aku jadi Sasya aku juga akan melakukan hal yang sama. Yaitu aku akan menghajar orang yang menghina kakakku." jelas Putra dengan mengingat kejadian tadi.
" Yaelah, aku tahu aku salah. Tetapi bukan berarti kalian bisa menghujat ku, katanya kita sahabat tetapi kenapa baru begini saja kalian sudah menghujat ku." ucap Joko yang tidak terima.
" Kami tidak ada menghujatmu Joko, kami hanya mengatakan pendapat kami." ucap Putra.
" Kalian ingat nggak waktu kelas XI Kita pernah ada tugas buat drama?" tanya Joko.
" Iya kami mengingatnya, lalu apa hubungannya dengan itu?" tanya Fatur yang penasaran.
" Ya karena tugas buat drama itu kami berbicara kembali, kan pada saat itu kami 6 orang. Di situ ada aku, Edo, Sasya, Wulan, Febri, dan juga Salsa." jelas Joko.
" Mengenai hal itu, sepertinya sekarang mereka tidak terlalu dekat dengan Salsa ya." ucap Fatur.
" Kalau menurutku bukannya mereka tidak terlalu dekat dengannya, tetapi mereka sedang malas karena ketika bersama dengan Salsa pasti akan membahas seorang cowok. Sedangkan mereka bertiga kan sangat jarang membahas hal tersebut, mereka bertiga sangat suka membahas pelajaran karena itu Salsa pastinya menjadi bosan bersama dengan mereka." ucap Putra yang tiba-tiba angkat suara.
__ADS_1
" Yang kalian katakan memang benar, mereka memang memiliki kepribadian yang berbeda. Lagian Salsa kan juga baru bergabung dengan kita saat kelas 2 SMA, dan pada saat itu yang mau menerima dia hanyalah Sasya dan juga teman-temannya. Tetapi mereka memang tidak terlalu sering membahas mengenai cowok, oleh sebab itu Sasha merasa bosan." ucap Joko.
" Dan sepertinya memang hanya mereka bertiga saja yang mau menerima si Salsa, secara si Salsa itu orangnya sangat tidak suka dikomentari. Tetapi tingkahnya selalu saja membuat orang kesal, siapa coba yang mau berteman dengan dirinya." ucap Fatur yang kini kesal sendiri.
" Sudahlah jangan membicarakan hal tersebut, mereka bertiga memang sangat baik mau menerima Salsa. Apalagi Sasya dia sangat penyabar, bahkan ia juga sanggup ketika berdampingan dengan Paska." ucap Edo yang tiba saja yang angkat suara.
" Mereka satu geng memang sangat penyabar, tetapi Salsa sangat berbeda dengan mereka. Dari awal kami sudah yakin kalau Salsa tidak akan mungkin sanggup bersama dengan mereka, dan kini memang terbukti kalau Salsa memang jarang berbaur dengan mereka bertiga." ucap Joko.
" Sepertinya engkau masih enggan membicarakan Sasya, kalau begitu kita pergi jalan-jalan ke tempat lain yuk." ajak Fatur.
" Apa nggak kita lebih baik pulang aja, takutnya nanti kita ketemu Sasya di jalan." ucap Joko yang khawatir akan bertemu dengan Sasya kembali.
" Yang dikatakan oleh Joko ada benarnya juga, bagaimana menurutmu Edo?" tanya Putra.
" Aku masih ingin jalan-jalan, karena suasana hatiku sedang kacau. Ya mudah-mudahan saja kita tidak akan bertemu dengan mereka kembali, kalaupun kita bertemu dengan mereka kita harus menjaga sikap. Terutama untuk kamu Joko, kamu jangan pernah memandang orang dari sebelah mata. Karena hal itu bisa membahayakan dirimu dan juga kami semua, karena saat ini kita adalah teman dan bila teman tersakiti pasti teman yang lain akan membalasnya." jelas Edo dan Joko pun mengangguk.
" Maafkan aku ya, aku janji tidak akan berbuat hal seperti itu lagi." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Sudahlah Joko, kita semua adalah teman. Dan sesama teman harus saling mengingatkan, dan aku berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Dan sepertinya hubungan kita dan juga Sasya akan hancur, kau lihat saja tampaknya tadi dia sangat marah." jelas Edo.
" Aku akan meminta maaf padanya, agar tidak terjadi kecanduan diantara kita semua. Aku juga tidak ingin karena aku kalian juga ikut bertengkar dengannya, ya walaupun dia adalah orang yang sangat profesional. Dia tidak pernah mau sangkut maut kan urusan pribadi dan urusan sekolah, bahkan aku masih ingat dia selalu bersikap biasa saja kepadaku seperti kami tidak mengalami suatu kejadian padahal kami sudah satu tahun tidak bercakapan." jelas Joko mengingat kejadian masa lalu.
__ADS_1