Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 42


__ADS_3

" Senyumnya sangat manis." batin Fatur yang tanpa sadar ikut tersenyum.


" Kau teman sekelasnya Putra ya?" tanyanya balik.


" Iya aku teman sekelasnya Putra, perkenalkan nama aku Fathur." ucapan dengan mengulurkan tangannya.


" Aku Arfia." jawabnya dengan menerima uluran tangan tersebut.


" Nama yang indah, sama dengan orangnya." ucap Fatur yang ia kira adalah batinnya.


" Terima kasih." balasnya dan membuat Fatur kebingungan.


" Eh dia bilang terima kasih, jangan-jangan kata-kata tadi keluar dari mulutku." batin Fatur yang cemas.


" Kenapa kau tiba-tiba panik?" tanya Arfia yang merasa heran.


" Nggak apa-apa, aku hanya teringat akan sesuatu." jawabnya dengan setenang mungkin.


" Oh begitu." jawabnya dengan tersenyum.


" Ternyata Fatur tidak seperti itu, apa yang dikatakan mereka terlalu dilebihkan." batin Arfia.


" Sebelumnya aku minta maaf, mungkin kau sudah mendengar tentang diriku. Aku tahu ini terlalu lancang, tapi entah kenapa aku merasa nyaman denganmu." ucapnya yang langsung to the point.


" Ya aku memang sudah mendengar apa kabarnya, tetapi setelah bertemu denganmu langsung. Aku rasa itu semua hanya dilebihkan, dan aku rasa kau memang orang yang baik." jawab Arfia dan Fatur pun tersenyum.


" Jadi, apakah kau mau lanjutkan hubungan denganku?" tanyanya yang langsung tanpa basa-basi.


" Maaf Fatur, aku rasa itu terlalu cepat. Bagaimana kalau kita berteman dulu, dengan seperti itu kita akan lebih mengenal diri kita masing-masing." jelas Arfia.

__ADS_1


" Yang dikatakan olehnya memang benar, dan tidak hanya diriku pemuda yang mendekatinya. Gadis secantik dan sebaik dia, pastinya memiliki banyak orang yang menyukainya." batin Fatur.


" Yang kau katakan memang benar, kalau begitu mulai saat ini kita berteman ya." ucapan dan artinya pun mengangguk.


...----------------...


" Itu anak buat aku emosi tahu nggak." ucap Putra yang tiba-tiba saja meledak saat melihat keduanya.


" Sudahlah Putra, namanya sikapnya dari awal memang kayak gitu. Jadi memang sulit diubah, perlahan-lahan pasti dia akan berubah." ucap Edo yang menenangkan Putra.


" Ya mudah-mudahan aja dia bisa berubah, dan dia juga bisa menjalin hubungan dengan Arfia. Karena aku sangat berharap mereka jadian, dan insya Allah dengan begitu dia bisa berubah. Dan tujuan awalnya, pasti akan tercapai. Dan kita tidak akan sering diejek sebagai Playboy, karena Playboy di tim kita sudah insaf." jelas Putra dan mereka pun mengangguk.


" Yang kau katakan memang sangat benar, aku juga sudah muak diejek Playboy. Padahal yang Playboy dan suka gonta-ganti pacar itu kan si Fatur, tapi kita juga kena imbasnya." jelas Andre.


" Ya sudah nasib kita, mudah-mudahan saja dia bisa insaf." ucap Putra.


" Ya udah kita banyak berdoa aja, aku sudah pernah jadi korban. Dan itu sangat menyakitkan, dan bahkan sampai sekarang ia masih enggan untuk dekat denganku." ucap Edo.


" Amin." ucap mereka serentak.


" Oh iya, kemarin aku nawarin saja untuk gabung ke anggota OSIS. Sebenarnya sih aku sangat berharap dia bisa gabung, karena dengan seperti itu dia juga akan lebih dekat denganmu Do." jelas Andre.


" Sudahlah, sepertinya dia tidak akan mungkin gabung." ucap Edo yang membuat mereka kaget dan bertanya-tanya.


" Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu?" tanya Andre yang penasaran.


" Pada saat kau memberi tawaran itu kepadanya, saat itu dia tampak sedang bimbang. Dia duduk di tepi pantai, dan aku pun menghampirinya. Saat itu dia tampak sedang kebingungan sekali, untungnya tiba-tiba saja papanya menelpon. Dan setelah berbicara dengan papanya, wajahnya tampak semringah. Dan papanya mengatakan, kalau dia harus mempertimbangkannya terlebih dahulu dan memilih yang terbaik untuknya. Apalagi seperti yang kalian tahu, Sasya itu masih tergabung dalam organisasi marching band." jelas Edo dan mereka pun mengangguk.


" Oh iya, aku nggak ingat loh kalau sasya masih anggota marching band." ucap Andre.

__ADS_1


" Makanya kalau apa-apa tuh coba dipikir dulu, kamu main nawarin dia masuk OSIS. Tetapi dia masih anggota marching band, kalau aku tebak. Pastinya ia akan tetap memilih marching band, karena walau bagaimanapun itu adalah tempat awal dia mengikuti organisasi." jelas Edo.


" Masuk akal sih, tapi masih ada kemungkinan ia masuk OSIS." jelas Andre.


" Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Putra yang heran dengan kepercayaan diri Andre.


" Kalian lupa ya, sebelumnya aku kan anak Pramuka." jawab Andre.


" Eh iya juga ya, kau saja bisa keluar dari Pramuka demi ikut organisasi OSIS. Jadi kemungkinan Sasya keluar dari OSIS juga besar, apalagi ketika dia di OSIS dia tidak melakukan kegiatan yang terlalu capek." jelas Putra.


" Tapi aku masih tetap dengan perkataan awalku sih, karena Sasya adalah tipe orang yang sulit bergaul. Jadi mungkin ia akan tetap mempertahankan posisinya di marching band, walaupun kini ia sudah kelas XII, dan ia juga tidak bisa sering bergabung di acara-acara besar." jelas Edo.


" Kalau ngomongin tentang kelas XII, sebentar lagi kita juga akan lengser. Karena kita sudah tidak mungkin mementingkan tentang urusan OSIS terus, apalagi sebentar lagi kita akan menghadapi ujian akhir sekolah." jelas Putra.


" Yang kau katakan sangat benar Put, kita juga tidak akan banyak berkutik di OSIS. Ujian sekolah sudah menunggu kita, dan perguruan tinggi juga sudah menunggu kita untuk mendatanginya." ucap Andre.


" Nah itu kalian sadar, jadi sepertinya Sasya tidak mungkin gabung ke OSIS. Karena kalau dia pindah dan gabung sama kita, itu juga sama saja. Karena sebentar lagi kita juga akan tamat, jadi percuma saja dia bergabung dengan OSIS." jelas Edo.


" Ya sudahlah kalau begitu, Put besok temani aku ya jumpain Sasya. Agar semua ini cepat selesai, aku pun sudah bosan dengan kegiatan ini. Dan aku ingin belajar, karena dalam waktu dekat kita juga akan melaksanakan ujian akhir sekolah." ucap Andre dan Putra pun mengangguk.


...----------------...


Pagi yang sangat cerah, mereka melakukan rutinitas mereka seperti biasa. Kini Sasya baru sampai di gerbang sekolah, dan seperti biasa ia bertemu dengan teman-temannya. Kini tanpa sengaja Ia pun bertabrakan dengan Desi, temannya yang merupakan anak IPS⁵.


" Sasya." panggil Desi yang baru saja diantar oleh ayahnya.


" Eh, selamat pagi Pak." sapa Sasya.


" Pagi Sasya, bapak pulang dulu ya." ucap Ayah Desi kemudian langsung pulang.

__ADS_1


" Kebetulan aku jumpa kau di sini, aku ingin bertanya tentang kelanjutan hubunganmu dan Edo. Soalnya banyak yang bilang kalian sudah jadian, apakah berita yang aku dengar itu benar?" tanya Desi.


" Aku nggak jadian kok sama Edo, memangnya kau dengar berita dari mana?" tanya Sasya yang merasa heran.


__ADS_2