
" Kayak kau nggak kenal aja sama si Putra." ucap Edo.
" Ya karena aku sudah kenal, makannya aku bisa ngomong gini." jawabnya.
" Yauda la." ucapnya, kemudian juga ingin pergi.
" Eh tunggu kau mau kemana?" tanya Fatur.
" Mau pergi la, lagian ngapain juga aku disini." ucapnya.
" Eh tunggu, tadikan kau bilang kenapa si AP itu. Jadi sekarang siapa itu AP?" tanya Faktur.
" Ada deh, nggak seru la kalau kau tau." jawabnya kemudian juga pergi.
Fatur kini sangat kesal dengan kedua temannya itu, tetapi ia juga sangat penasaran dengan seorang gadis berinisial AP itu. Akhirnya ia pun pergi ke IPA 3, dan ia pun menemui temannya. Ia pun mencoba menanyakan siapa sebenarnya AP itu.
" Hai Reno." ucapnya yang kini berada di depan kelas IPA 3.
" Eh Fatur, tumben sendiri. Yang lain mana?" tanya Reno.
" Mereka lagi sibuk untuk kegiatan pengapdian masyarakat." jawabnya.
" Oh begitu, lalu kau kesini ngapain?" tanyanya.
" Aku ingin menanyakan tentang seseorang." ucapnya.
" Siapa itu?" tanya Reno yang penasaran.
" Kau tau siapa anak kelas mu yang berinisial AP?" tanya Fatur.
" AP, cewek ya?" tanyanya.
" iya." jawabnya dengan mengangguk.
" Kau lihat cewek yang disana!" ucap Reno, dengan menunjuk seorang cewek.
" Jadi itu AP?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya." jawabnya.
" Wau, dia sangat cantik." ucapnya.
" Ya dia memang cantik, tapi tunggu untuk apa kau menanyakan tentangnya?" tanya Reno untuk memastikan.
" Untuk soal itu kau juga akan tau nanti." jawabnya.
" Biar aku tebak, pasti kau mau dikenalkan dengannya biar tobat kan." tebaknya dan memang benar.
" Kau tau dari mana?" tanyanya yang kaget.
" Aku cuma nebak aja." jawabnya.
" Nggak mungkin, kau tau dari." tanyanya kembali untuk memastikan.
" Beneran aku hanya menebak si, tapi kalau kau mau mendekatinya itu sangat susa." jawabnya.
" Susa bagaimana?" tanyanya.
" Kalau itu, nanti kau juga akan tau sendiri." ucapnya.
" Yauda kalau kau nggak mau kasih tau, tapi aku mau tanya. Sebenarnya nama si AP itu siapa?" tanyanya.
__ADS_1
" Ya ampun, kau nggak tau namanya." ucapnya dengan mengeluarkan kepalanya.
" Nggak, hehehe." ucapnya.
" Dasar kau ini, ok namanya itu Arfia putri." ucap Reno.
" Thanks ya Ren." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Reno.
" Ye dasar, rasanya mau ku tonjok dia." ucap dengan menonjok tangannya sendiri.
...----------------...
" We, kira-kira aku terpilih nggak ya untuk jadi panitia?" tanya Wulan.
" Ntala." ucap Sasya.
" Kau ini ya Sya, jawaban mu nggak mengenakan banget." ucapnya
" Kan benar, untuk hal itu kita nggak ada yang tau." ucapnya.
" Sudahlah Wulan, aku yakin kau akan terpilih." ucapnya.
" Ya aku yakin akan terpilih, begitu juga dengan kalian." ucapnya.
" Apa." ucap keduanya serentak.
" Jangan macam-macam kau ya." ucap Febri memperingatkan.
" Tapi itulah kebenarannya, kalau aku terpilih. Aku akan ngajak kalian." ucapnya dan keduanya hanya menggelengkan kepalanya.
" Nggakkkk…" Teriak keduanya.
Edo yang mendengarnya pun segera melihat ke arah suara, dan ia pun melihat tiga sejoli yang kini sedang dalam situasi yang ia tidak mengerti. Dan kini perhatian tertuju ke Sasya yang sedang kesal, ia tersenyum melihat ekspresi Sasya.
" Woy, lagi liat apa?" ucap Fatur yang mengagetkan Edo.
" Kau ini, buat kaget aja." ucapnya yang kesal.
" Oh ternyata lagi lihat Sasya." ucap
" Is apaan si, ayo ke kelas." ajaknya dengan menarik Fatur.
...----------------...
" Sepertinya aku mendengar suara Edo dan Fatur." ucap Febri.
" Tapi nggak ada siapa-siapa disini selain kita." ucap Sasya.
" Mungkin perasaan mu aja." ucap Wulan.
" Ya mungkin." ucapnya yang bingung.
" Ya sudah ayo kita ke kelas, aku sudah bosan di sini." ucap Sasya yang lelah.
" Ayo." ucap keduanya serentak dan kemudian mereka langsung pergi menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, keduanya melihat Edo sedang bersama dengan Fatur. Wulan dan Febri pun merasa curiga, karena baru beberapa hari yang lalu mereka bertengkar.
" Gays, aku nggak salah lihat kan?". Ucap Wulan.
" Nggak, itu memang benar Edo dan juga Fatur." ucap Febri.
__ADS_1
" Aku jadi curiga, sebenarnya mereka sedang bertengkar atau nggak." ucap Wulan.
" Sudahlah, mungkin mereka sedang membicarakan tentang pengapdian masyarakat." ucap Sasya.
" Yang kak katakan masuk akal si, apalagi mereka berdua anak OSIS." ucap Febri.
" Kalian ini, kalau yang terjadi beberapa hari ini adalah akting bagaimana?" ucap Wulan.
" Sudahlah jangan berburuk sangka." ucap Sasya.
" Yasudah, terserah kalian." ucap Wulan kemudian langsung duduk di meja mereka.
...----------------...
" Edo, Fatur. Pengumuman panitia sudah keluar." teriaknya di depan pintu.
" Eh uda keluar." ucap Wulan yang langsung berdiri.
" Eh ada kalian juga, aku kira cuma Edo dan Fatur yang ada di kelas." ucap Putra.
" Inikan kelas, ya kalik cuma ada aku sama dia." ucap Fatur dengan ekspresi masih tidak enak.
" Fatur, jaga bicaramu. Tolong la, ini demi sekolah kita. Jadi tolong bekerjasama dulu, setelah ini terserah kalian." ucap Putra.
" Ok-ok, aku tau kok. Kalau bukan karena sekolah kita, aku pun juga ogah berbicara dengannya." ucap Fatur.
" Ayo terus, lanjutkan aktingnya." batin Putra.
" Sudahlah, kalau kau nggak mau satu kelompok dengan ku. Putra aku minta tolong, pindahkan aku ke divisi lain." ucap Edo.
" Iya, pindahkan saja dia." ucap Fatur.
" Kalian kira semudah itu, kalian nggak bisa pindah divisi. Semua sudah di atur, dan aku harap kalian bisa berteman lagi. Untuk kali ini saja, terserah kalau sudah selesai kegiatan kita nantinya.
" Apa nggak ada solusi?" tanya Fatur.
" Nggak ada, aku minta tolong sekali. Ini semua juga demi keberlangsungan kegiatan kita." ucap Putra.
" Iya." jawab mereka serentak.
" Put, tadi kau bilang uda pengumuman ya?" tanya Wulan.
" Iya Wulan, kau bisa lihat di mading." jawab Putra, Wulan pun segera berlari ke mading.
" Wulan, jangan lari. Nanti kau jatuh lagi." ucap Sasya.
" Kau seperti tidak mengenal saja Sya." ucap Febri.
" Aku sangat mengenalnya, karena itu aku mengantisipasi. Kalau dia sampai jatuh…kau tau kan maksudku." ucap Sasya dengan menatap ke arah Wulan.
" Ya aku mengerti, dan aku juga sangat takut dengan kak Zepri." ucap Febri yang tanpa sadar menyebut nama Kakak Wulan.
" Siapa itu kak Zepri?" tanya Fatur.
" Kak Zepri itu kakaknya Wulan." jawabnya Febri.
" Syukurlah kakaknya Wulan, hampir aja aku kira pacarnya Sasya." batin Edo.
" Memang kak Zepri menyeramkan ya?" tanya Putra yang sudah penasaran.
" Ya…lumayan." jawab Febri.
__ADS_1
" Dari nada bicara kalian, seperti kak Zepri itu sangat mengerikan. Kami jadi takut, dan juga penasaran dengan sosok kak Zepri." ucap Putra.
" Kalian akan bertemu dengan kak Zepri cepat atau lambat, lebih baik si kalian nggak ketemu. Tapi karena kegiatan ini, pastinya kalian akan bertemu. Dan buat mu Put, saranku siap-siap diteleponin terus." ucap Febri, dan membuat mereka heran.