Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 43


__ADS_3

" Sudah ku tebak, Itu semua hanya hoax saja." ucap Desi.


" Kau dengar berita tersebut dari mana?" tanya Sasya yang penasaran.


" Aku dengar dari fans kalian lah." ucap Desi yang membuat Sasya menjadi bingung.


" Hahaha, kau sedang bercanda ya." ucap Sasya dengan tertawa.


" Apakah tampangku terlihat sedang bercanda?" tanya Desi dengan tatapan sinis.


" Eh jadi beneran, tapi siapa fans kami. Sejak kapan kami punya fans, aku aja nggak pernah jadian sama Edo dan tiba-tiba langsung ada fans. Ya ampun, ini beneran nggak sih." tanya Sasya yang juga tidak percaya.


" Nanti deh kalau aku uda dapet situsnya, akan aku perlihatkan ke kau." ucap Desi.


" Yuada, aku tunggu ya." jawabnya dengan tersenyum.


" Oke, aman itu. Aku ke kelas dulu ya, dah." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Sasya.


" Aku jadi penasaran, sebenarnya siapa sih yang menyebarkan berita itu. Aku jadi penasaran, mudah-mudahan Desi segera menemukan akunnya." batin Sasya dengan berjalan menuju kelasnya.


" Woy, ngelamun aja." ucap Febri yang membuat Sasya kaget.


" Ya ampun, kau buat kaget aja." ucap Sasya.


" Kau sih, tapi apa sih yang mau pikirkan?" tanya Febri kembali.

__ADS_1


" Ceritanya aneh, tapi tadi aku baru aja di tegur sama Desi. Temanku yang anak IPS⁵ itu loh, kau ingat kan?" ucap Sasya.


" Oh si Desi, temanmu yang kau kenal saat masa MPLS bukan." jawab Febri.


" Iya benar." jawabnya singkat.


" Memangnya apa yang ia ceritakan, sampai-sampai kau kepikiran?" tanya Febri yang penasaran.


" Dia mengatakan, kalau ada kabar yang menyatakan aku dan Edo pacaran. Padahal kan kami nggak pacaran, Dia juga bilang. Kalau sudah ada, yang menjadi fans kami." jelasnya dan membuat Febri juga ikut terkaget.


" Sepertinya sudah banyak pendukung kalian nih, berarti sekarang keputusannya ada di kamu. Tapi aku masih ada yakin kau akan menerimanya, ya secara yang kita ketahui sifat Edo sangat bertolak belakang dengan sifatmu." jelas Febri dan Sasya pun mengganggu.


" Ya begitulah, tapi kau tahu kan prinsipku. jadi untuk saat ini itu tidak mungkin, dan lagian karena pernyataannya waktu itu aku dan juga Wina jadi bertengkar hingga kini." jelas Sasya yang tanpa sadar berderai air mata.


" Apakah hubungan kalian tidak bisa diperbaiki?" tanya Febri yang penasaran.


" Sepertinya Wina sangat tersakiti ya?" tanya Febri.


" Kalau aku jadi dia, aku pun juga pastinya tersakiti. Coba saja kau bayangkan, si Wina itu udah suka sama Edo dari awal masuk kelas. Tapi tiba-tiba si Edo malah nembak aku, jadi aku tahu sih rasa sakitnya. Tapi yang tidak enaknya, dia langsung mencampakanku begitu saja." jelasnya yang berderai air mata.


" Kau ini terlalu baik, kau tidak usah membela dia. dia itu sungguh tidak tahu diri, aku sudah mendengar cerita aslinya dari Widya. Dia itu awalnya adalah orang yang tidak mau berteman dengan siapa-siapa, dan akhirnya dia bertemu dengan kalian. Dan kebetulan setelah itu dia satu kelas dengan kita dan kemudian satu bangku denganmu, dia itu sudah ditolong tetapi melupakannya." jelas Febri yang sudah emosi.


" Ya mau bagaimana, walau bagaimanapun dia adalah temanku. Dan aku tidak bisa marah padanya, apalagi kami sudah kenal pada saat masa mpls. Dan kemudian kami disatukan menjadi satu kelas, kami juga duduk sebangku selama 1 tahun." jelas Sasya.


" Tapi selama itu kau diperlakukan seperti orang bodoh, kau mau saja disuruh-suruh sama dia." ucap Febri yang memang sudah emosi.

__ADS_1


" Bukan seperti itu Feb Feb, Dia adalah orang yang sulit untuk bersosialisasi. Karena itu aku selalu berinisiatif untuk membantunya, agar dia tidak merasa canggung dan juga malu." jelas Sasya.


" Tetapi saat kau dipermalukan, dia bukannya membantu dirimu. Dia justru menertawakan dirimu, dan mengatakan kalau kau adalah orang yang sangat bodoh." jelas Febri dan membuat Sasya teringat dengan kenangan masa lalu.


" Yang kau bilang itu benar, dan kenangan itu sampai kini masih membekas dalam benakku. Tetapi entah kenapa aku tidak membenci dirinya, aku justru membenci orang yang telah merendahkanku itu." jelasnya dan membuat Febri pun teringat akan orang tersebut.


" Orang itu kan Edo, jadi bisa saja semua ini berhubungan dengan sakit hatinya Sasya." batin Febri.


" Aku jadi teringat dengan orang itu, tetapi sepertinya kita tidak mungkin membicarakannya saat ini. Karena aku yakin pasti saat ini ia sudah berada di dalam kelas, kita akan melanjutkan pembicaraan mengenai ini nanti siang saja." Febri dan Sasya pun hanya mengangguk saja.


Keduanya yang kini sudah berada di depan kelas, Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan kelas. Karena sebentar lagi sudah memasuki jam pembelajaran, dan pastinya hari ini mereka akan banyak membahas mengenai pengabdian masyarakat. Febri sudah mempersiapkan banyak kata-kata untuk dituliskan atau diceritakan, tetapi tidak dengan sia-sia yang tidak memikirkan apapun tentang kegiatan itu.


Mereka pun segera duduk di kursinya masing-masing, kini Wulan juga sudah tiba di kelas. Dan benar saja guru pun segera masuk, dan guru pun meminta mereka untuk menceritakan tentang kesan yang mereka rasakan saat pengabdian masyarakat.


Mereka pun menceritakan apa yang mereka rasakan saat pengabdian masyarakat, setelah kurang lebih satu les. Guru itu pun meminta mereka untuk menceritakannya di depan kelas, dan hal itu membuat mereka panik.


" baik karena sudah habis satu les, maka Ibu minta kalian untuk menceritakannya di depan kelas." ucap guru tersebut.


Satu demi satu Mereka pun bercerita di depan kelas, ada yang menceritakan tentang kelelahannya. Ada yang menceritakan tentang romansa percintaannya, ada juga yang menceritakan tentang perdamaian antara anak IPA dan juga anak IPS.


Guru itu menjadi sangat bahagia, karena impiannya akhirnya terwujud. Kini tidak ada lagi penghalang di antara anak IPA dan IPS, dan akhirnya kisah yang pernah ia alami akan tutup di sini. Ia masih tidak menyangka, ternyata ketua osis yang baru mampu memikirkan hal seperti ini.


" Ibu masih tidak menyangka, dengan rencana yang direncanakan oleh mereka. Akhirnya anak IPA dan anak IPS dapat bersatu, Ibu harap ini akan terus berlanjut." jelas guru itu.


" Amin." jawab semuanya serentak.

__ADS_1


Tiba-tiba saja telepon guru itu pun berdering, Ia pun segera mengangkat telepon itu. Dan alangkah kagetnya ketika mendapat berita itu, ia langsung berlari meninggalkan para siswanya. Sontak saja semuanya menjadi kaget, dan akhirnya ada yang mengejar Ibu tersebut.


__ADS_2