
" Iya ma, mama tenang aja." ucap Febri.
" Iya mama akan mencoba teman, tapi mama tidak akan memaafkan Putra jika terjadi sesuatu pada dirimu." ucap mama Febri.
" Sudah lama, insya Allah Febri baik-baik saja di sini." jelasnya.
" Ya udah kamu hati-hati ya, assalamualaikum." ucap nama Febri kemudian sambungan telepon pun mati.
...----------------...
" Kenapa aku jadi merinding ya?" banyak Putra yang kini sudah kembali ke pantai.
" Mungkin ada yang sedang membicarakanmu." ucap Sakti yang baru saja lewat di dekat Putra.
" Ehh…" ucapnya yang kayak.
" Hahaha, ternyata kalau kaget kau lucu sekali." ucap Sakti dengan tertawa.
" Sakti, ngagetin aja. Kau ini buat aku kesel banget, udah deh sana mending lanjutin kerjaan biar cepat." ucap Putra.
" Siap ketua." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Putra.
Sakti dan teman-temannya pun kembali melaksanakan kegiatan, dan kini sudah tiba waktunya istirahat. Mereka pun segera mencuci tangannya kemudian memakan makanan yang sudah dibawa oleh Edo, mereka memakan makanan itu dengan bercanda dan tertawa. Mereka sangat tidak menyangka kegiatan seperti ini akan terjadi di antara mereka, karena biasanya di antara kedua jurusan ini hanya ada perdebatan semata.
Kini Sasya menyendiri di tepi pantai, ia tidak bisa berkomunikasi dengan yang lain. Ia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Andre, ia sebenarnya enggak untuk menerimanya. Tetapi ia tidak tega dengan Andre, apalagi yang dikatakan Andre memang adalah kebenaran. Dan sebenarnya ia sangat ingin mengikutinya, tetapi ia takut kalau kedua orang tuanya tidak mengizinkannya.
" Tampaknya kan sering memikirkan sesuatu?" tanya Edo yang tiba-tiba saja duduk di samping Sasya.
" Eh Edo, Iya nih aku sedang bingung." ucapnya dengan tersenyum.
" Kau bolehkah cerita sama aku, dan insya Allah aku akan memberikan solusi." ucapnya.
__ADS_1
" Baiklah, tapi kau jangan bosan ya." ucapnya mengingatkan terlebih dahulu.
" Iya, kau tenang saja. aku akan setia mendengarkannya, dan tidak akan bosan." jawab Edo dengan tersenyum.
" Baiklah, begini ceritanya. Tadi Andre datang menemuiku, dan ia menawarkanku untuk bergabung ke organisasi OSIS. Sebenarnya aku sangat ingin, tetapi aku takut orang tuaku tidak mengizinkannya." jelasnya.
" Kalau untuk bergabung dengan organisasi OSIS, itu tergantung dengan keputusanmu. Tetapi jika kau memang sangat ingin, dan alasanmu adalah karena kedua orang tuamu. Kamu tenang saja, aku akan membantumu untuk berbicara dengan kedua orang tuamu." jelas Edo.
" Beneran, kau mau membantuku untuk berbicara dengan mama dan papa?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya." jawabnya.
" Terima kasih." ucapnya dengan tersenyum dan menggenggam tangan Edo.
" Tampaknya mereka sudah ada kemajuan." ucap William yang tidak sengaja melewati mereka.
Tiba-tiba saja di tengah keheningan keduanya, suasana yang mulai memanas itu. Kini suasana itu mulai meredup, karena sebuah dering telepon dari handphone Edo. Edo pun segera mengambil handphonenya dari dalam sakunya, dan ternyata yang menelponnya adalah papa Sasya.
" Sepertinya kau sedang sibuk, kalau begitu aku pergi dulu ya." ucapnya yang kini beranjak berdiri.
" Halo, assalamualaikum om." ucap Edo untuk mengawali telepon.
" Waalaikumsallam, nak Edo bagaimana kondisi di sana?" tanya papa Sasya untuk memastika.
" Alhamdulillah situasi di sini baik Om." jawabnya.
" Syukur alhamdulillah kalau begitu, om mau tanya. Apakah Sasya sedang baik-baik saja, soalnya perasaan om sedang tidak enak." jelas papa Sasya.
" Mungkin lebih baik om berbicara dengannya, kebetulan saat ini dia sedang berada di sampingku." jawab Edo kemudian menyerahkan teleponnya kepada Sasya.
" Ikatan batin yang sangat kuat." batin Edo.
__ADS_1
" Kau baik-baik saja sayang?" tanya sang papa.
" Kakak baik-baik saja pa, memang kakak lagi sedang banyak pikiran. Tetapi papa tenang saja, kakak di sini aman-aman saja. Dan lagian di sini kan ramai, insya allah tidak akan terjadi sesuatu kepada kakak." jelasnya.
" Anak perempuan yang sangat dekat dengan papanya, sungguh idaman setiap lelaki." batin Edo dengan memperhatikan Sasya.
" Syukurlah kalau begitu, tetapi kamu sedang memikirkan apa nak. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, ikuti saja kata hatimu." ucap papa.
Sasya pun terdiam sejenak, kemudian ia memikirkan kembali pertanyaan dari Andre. Akhirnya ia pun memberanikan diri, ia tahu papanya pasti tidak akan setuju. Tetapi ia tetap ingin mencoba, walaupun harus mendapat pertentangan.
" Sebenarnya kakak sedang bimbang, sebenarnya kakak sangat ingin mengikutinya. Tetapi kakak takut papa tidak mengizinkannya, kakak takut papa marah." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.
" Katakan saja apa yang membuatmu bimbang, papa akan memikirkannya dengan baik-baik. Dan bila menurut bapak itu bisa, maka papa akan mengizinkanmu." jawab papa.
" Sebenarnya, kakak mendapatkan tawaran untuk bergabung ke organisasi OSIS. Dan sebenarnya kakak sangat ingin bergabung pa, tetapi kakak takut papa tidak mengizinkannya." jelasnya.
" Sebenarnya papa sangat ingin mengizinkanmu, tetapi masih ada hal yang harus dipertimbangkan. Saat engkau sudah bergabung di organisasi OSIS, pastinya kau akan sering pulang sore. Dan pastinya kita akan semakin jarang bertemu, dan belum lagi kau masih tergabung dalam organisasi marching band. Yang papa takut kan adalah, kau tidak bisa membagi waktu dan akhirnya jatuh sakit." jelas papa.
" Sebenarnya itu juga yang menjadi pertimbangan kakak pa, kakak jadi bingung harus memilih yang mana." ucapnya.
" Ikuti saja kata hatimu, dan ikuti mana yang terbaik untuk dirimu. Papa hanya bisa mendukungmu, untuk selebihnya kaulah yang berusaha untuk masa depanmu. Jangan pernah pikirkan omongan orang lain, pikirkan saja akan kesanggupan dirimu. Tidak usah pernah memikirkan omongan orang yang tidak jelas, karena masa depanmu ada di tanganmu." jelas papa dan Sasya pun mengangguk.
" Yang papa katakan sangat benar, kakak akan memikirkan dengan baik-baik. Dan akan berusaha mengambil keputusan yang terbaik, karena keputusan yang kakak ambil akan menentukan masa depan kakak." jawabnya.
" Itu baru anak papa, kalau begitu putuskan la dan ingat kakak juga harus bisa membagi waktu untuk sekolah dan bermain. Karena bermain itu sangat penting, jangan terlalu terfokus pada sekolah. Dan akhirnya kakak kehilangan masa remaja yang seharusnya kakak habiskan dengan bersenang-senang dengan teman-teman kakak." ucap papa kemudian sambungan telepon pun mati.
" Sepertinya kau sudah tenang setelah berbicara dengan papa mu?" tanya Edo yang sejak tadi setia menunggu Sasya menelpon papanya.
" Ya aku sudah tenang, dan aku sudah memutuskannya." jawabnya dengan tersenyum.
" Jadi Apa keputusanmu?" tanya Edo.
__ADS_1
" Kau nantikan saja, nggak seru kalau kau sudah tau." jawabnya dengan memberikan handphone Edo kemudian pergi meninggalkan Edo dengan tersenyum.
" Senyumanmu sangat manis, dan aku berharap aku akan selalu ada di saat kau mengembangkan senyumanmu." batin Edo dengan memandangi kepergian Sasya.