Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 21


__ADS_3

" Edo kau lupa ya, Sasya kan pernah nolak Paska waktu kita kelas 10." ucap Putra.


" Iya bener itu." ucap Fatur membenarkan.


" Oh iya aku lupa, tapi kan bisa aja sekarang Sasya berubah pikiran." ucap Edo yang merasa cemburu.


" Nggak mungkin Do, jangan bilang kau juga lupa alasan Sasya menolak Paska." ucap Fatur.


" Memang alasannya apa?" tanyanya.


" Ya ampun, kok bisa kau lupa. Alasannya itu, karena ia mau belajar dulu." ucapnya Fatur.


" Kau yakin itu alasannya?" tanya Putra.


" Terus apa dong?" tanya Fatur yang penasaran.


" Kalau menurut ku, itu cuma alasan. Yang sebenarnya ia tidak mau pacaran sama yang beda agama." ucap Putra mengutarakan argumennya.


" Eh yang kau bilang masuk akal juga, tapi untuk kebenarannya kita nggak tau." ucap Andre yang baru saja muncul di grup.


" Andre dari mana aja, kenapa kau baru muncul." ucap Edo.


" Pakai nanya lagi, aku kan si rajin. Hehehe." ucap Andre.


" Iyalah tuh yang anak rajin, kami ini yang B aja diam." ucap Joko.


" Udahlah kita hentikan percakapan kita di grup, nanti kalau ketahuan guru bisa gawat." ucap Putra mengakhiri percakapan mereka.


Semuanya pun kembali fokus ke pembelajaran, mereka belajar serius dengan kelompoknya masing-masing. Tak terasa jam pelajaran pun selesai, kini Sasya dan teman-temannya memilih untuk makan di kantin.


" Sya aku rasa Edo mulai mendekati mu." ucap Wulan.


" Iya, dan aku rasa kau juga sudah mulai nyaman dengannya." ucap Febri.


" Kalian berdua apaan sih." ucapnya yang kesal.

__ADS_1


" Udalah Sya, kami mendukung siapapun yang akan bersama dengan mu." ucap Febri.


" Kalian nggak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu." ucap Sasya dengan nada kesal.


" Kejadian apa?" tanya Wulan yang memang melupakannya.


" Alasan dari kita kehilangannya Sasya." ucap Sasya.


" Oh tentang itu, aku masih ingat kok." ucapnya.


" Terus kenapa kalian masih mau mendekatkan aku dengan Edo?" tanya Sasya.


" Ya karena kami lihat Edo sangat berusaha untuk dekat dengan mu." ucap Wulan, dan Febri hanya mengangguk saja.


" Apa iya, tapi aku rasa B aja loh." ucapnya.


" Gimana kalau kau coba buka hati untuknya." ucap Wulan.


" Tapi aku takut jadi permainan aja, dan sebenarnya aku uda janji sama orang tua ku, kalau aku nggak akan pacaran sebelum aku lulus SMA." ucapnya dan keduanya hanya menggelengkan kepalanya.


" Kalau seperti itu, aku pun juga ngga tau. Yauda kami nyera." ucap Febri.


" Ah nggak deh, nanti aku dicoret dari kartu keluarga." ucapnya


Keduanya yang mendengar itu pun tertawa, mereka tidak menyangka kalau tamannya sebegitu polos dan takut sama orang tuanya.


" Kenapa kalian tertawa?" tanya Sasya yang penasaran.


" Habis kau lucu, masa karena hal itu kau dicoret dari kartu keluarga." ucap Wulan.


" Ya mana tau, kan aku uda ingkar janji." ucapnya.


" Uda deh, nggak usa dibahas. Nanti nggak akan ada habisnya." ucap Wulan kembali.


Tiba-tiba saja bel pun berbunyi, pertanda waktu istirahat sudah habis. Mereka pun akhirnya segera masuk ke kelas, dan melanjutkan pembelajaran. Kini sudah berganti les, sehingga Edo tidak duduk di dekat Sasya lagi. Mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing, dan kini waktunya jam pembelajaran kimia.

__ADS_1


" Baik anak-anak, untuk materi kali ini ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Ibu sudah menyiapkan kertas yang akan bertuliskan kelompok kalian. Nizam kesini, tolong keliling dan minta mereka ambil satu orang, satu kertas." jelas guru itu.


Nizam pun segera melaksanakan perintah guru itu, ia pun berkeliling ke setiap sudut meja. Setelah kurang lebih lima menit, akhirnya Nizam mengembalikan kertas yang tersisa ke meja guru.


" Baik, sekarang kalian bisa buka kertas tersebut. Kemudian kelompok 1 di ujung sebelah kanan, dan kelompok 4." ucap guru kimia tersebut.


Semuanya pun membuka kertas tersebut, kini di kelompok Sasya ada Putra dan Andre. Walaupun Edo bersedih karena tidak satu kelompok dengan Sasya, tetapi setidaknya sudah ada Putra dan Andre yang akan membantunya.


Semuanya sudah duduk di tempat yang sudah di tentukan, kini semuanya membahas materi yang diberikan dengan sangat aktif. Setiap kelompok berusaha untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan, dan membuat guru kimia tersebut merasa bahagia. Ia sudah mengetahui kecerdasan kelas tersebut sejak masih kelas X, karena ia pernah menjadi wali kelasnya.


" Ibu bangga sama kalian, dan ibu harap kalian bisa terus seperti ini. Dan menjadi orang sukses dikemudian hari, kemudian membanggakan nama sekolah kita." ucap guru itu.


" Amin." ucap mereka serentak.


" Baik karena jam pelajaran telah selesai, untuk tugasnya kalian diskusikan kembali mengenai materi selanjutnya. Dan minggu depan Ibu ingin salah satu kelompok untuk presentasi, seperti biasa Ibu tidak akan memilih kelompoknya. Tetapi kita akan mengajak, jadi semua kelompok harus sudah siap." jelas Bu Fitri yang merupakan guru kimia itu.


" Baik Bu." jawab semuanya serentak, dan Bu Fitri pun segera keluar dari ruangan kelas itu.


Kini giliran jam pelajaran Pak Rifki, begitu Bu Fitri keluar Pak Rifki langsung saja masuk. Pak Rifki langsung memerintahkan untuk mengganti dengan pakaian olahraga.


" Baik anak-anak semua, sekarang kalian ganti dengan pakaian olahraga. Hariini kita akan ujian praktek." Ucap pak Rifki yang baru saja masuk, dan membuat mereka semua kaget.


" Cepat sekali ujian praktek Pak, kami tidak tahu apa yang mau dipraktekkan." ucap mereka.


" Kalau hari ini tidak ujian praktek, maka nilai ujian praktek kalian tidak ada." Ucap pak Rifki kemudian langsung keluar dari kelas.


" Waduh mengerikan banget." ucap Wulan kepada Febri dan juga Sasya.


" Sudahlah, kita sudah tidak ada waktu lagi. Ayo cepat, sebelum Pak Rifki semakin marah." ucap Febri kemudian mereka langsung berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Tidak memerlukan waktu lama, kini mereka semua telah berbaris di lapangan. Dan di situ sudah ada matras, semuanya tampak bingung melihat matras tersebut. Karena mereka tidak mengetahui akan ujian praktek apa, bahkan hari ini yang hadir di kelas mereka cukup sedikit. Dan pastinya yang tidak hadir nilai ujian prakteknya akan tidak ada, dan itu akan berdampak buruk bagi mereka.


" Baik anak-anak seperti yang sudah kalian lihat, di sana ada beberapa peralatan. Hari ini kita akan praktek loncat indah." ucapan Rifki dan membuat semuanya kaget.


" Waduh loncat indah, gimana itu." ucap Nizam yang panik.

__ADS_1


" Kamu nanya aku, terus aku nanya siapa." ucapan tour yang berada di sebelah Nizam.


" Sudahlah kalian diam, nanti kalian dimarahin sama Pak Rifki." ucap Putra menenangkan keduanya.


__ADS_2