Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 30


__ADS_3

Kini Edo beserta teman-temannya yang sedang berkumpul di tempat biasa, mereka pun menceritakan apa yang mereka rasakan ketika di rumah Sasya dan juga Febri. Edo menceritakan semuanya, tampak teman-temannya aku merasa gemetaran mendengar cerita Edo.


" Sepertinya ayah Sasya tampak mengerikan ya?" tanya Fatur.


" Ya begitulah, aku saja sampai gemetaran." jawab Edo.


" Tapi untungnya berhasil kan?" tanya Andre.


" Iya sih Dre berhasil, tapi aku gemetaran dulu di sana." jawab Edo.


" Tapi seneng kan, bisa dapat nomor camer." ucap Andre dengan menyinggung bau Edo, dan Edo pun hanya tersenyum saja.


* Camer : Calon mertua


" Tentu senang banget dong, tapi juga harus siap-siap mental tiap hari ditelepon." jawab Edo.


" Kalau siap-siap dia telepon aku pun juga." ucap Putra.


" Oh iya, gimana waktu kau izin dengan orang tua Febri?" tanya Andre yang kini menatap ke arah Putra.


" Ya begitulah, akan aku ceritakan.…" ucapnya


...----------------...


" Ayo put masuk, kebetulan itu mamaku di depan rumah." ucap Febri.


" Udah pulang Feb, Eh ini Putra kan?" tanya Mama Febri langsung berpaling ke arah Putra.


" Iya tante, saya Putra temannya Febri." jawab Putra dengan tersenyum.


" Tapi kalian pariban." ucap Mama Febri dengan tersenyum.


" Mama, jangan begitu ngomongnya." ucap Febri yang sedikit kesal.


" Iya maaf deh, tapi kalau boleh tahu ada apa ya nak Putra ke sini?" tanya Mama Febri yang penasaran.


" Begini tante, besok kan ada kegiatan pengabdian masyarakat. Jadi saya ingin memintakan izin secara langsung kepada tante, karena Febri adalah anggota panitia." jelaskan Putra dengan tersenyum.


" Oh jadi begitu, ya sudah tidak masalah. Nak Putra juga ikut kan?" tanya Mama Febri pada Putra.


" Iya tante, kebetulan saya kan ketua osis-nya." ucap Putra.


" Kalau begitu nggak masalah, kan ada nak Putra. Mama jadi tenang, masuk dulu sana buatkan minum untuk Putra." ucap Mama Febri dan membuat Febri kaget.

__ADS_1


" mah beneran, beneran nih Febri boleh ikut?" tanya Febri yang masih tidak percaya.


" Iya, kau boleh ikut." jawab Mama Febri dan Febri pun langsung memeluk mamanya.


" Ngapain peluk-peluk, sana buat teh dulu!" seru Mama Febri.


" Ma Febri boleh nanya lagi nggak, kenapa sih Mama tumben beri izin?" tanya Febri yang penasaran.


" Ya karena ada nak Putra, kalau ada dia Mama tenang." jawab mama.


" Karena itu aja ma?" tanyanya yang masih penasaran.


" Iya, memang apalagi menurutmu?" tanya Mama Febri.


" Kalau begitu saya pamit dulu ya Tante." ucap Putra yang hendak keluar dari rumah Febri.


" Iya nak Putra, hati-hati ya. Dan tolong dijaga Febri." ucap Mama Febri dan kemudian Putra pun langsung menyalami tangan Mama Febri dan ia pun langsung pulang.


...----------------...


" Begitulah ceritanya." ucap Putra.


" Enak banget ya dirimu Put, nggak perlu basa-basi langsung dapat izin." ucap Fatur dan Putra pun hanya tersenyum saja.


" Iya juga, karena status pariban itu justru mempermudah. Dan aku nggak perlu capek-capek ngomong a sampai z, hanya ngomong beberapa patah kata. Mamanya langsung mengizinkan aja, aku kira awalnya pariban itu nggak enak. Ternyata enak juga ya, walaupun ini bukan urusan tentang pacaran." jelas Putra yang baru menyadarinya.


" Gitu semalam susah banget mintain tolong, kalau udah gini kan udah nyaman dan udah tenang." ucap Andre dan Putra hanya tersenyum saja.


" Sudahlah enggak usah dibahas lagi, yang penting semuanya udah beres kan?" tanya Edo.


" Eh tunggu, ngomong-ngomong William belum ngasih kabar." ucap Andre yang baru teringat akan William.


" William udah ngasih kabar ke aku, katanya urusan Wulan udah beres." jawab Putra.


" Terus kenapa kamu ngasih tahu aku, kalau tadi aku tak teringat. Dan rupanya tiba-tiba William dan Wulan belum beres, bisa gawat rencana kita untuk besok." ucap Andre dengan tatapan sinis.


" Iya maaf, aku kelupaan tadi." ucap Putra.


" Kalau begitu semuanya sudah beres ya, bisa dong kita kumpul jam 07.00." ucap Andre.


" Eh tidak bisa, aku hari jemput Sasya dulu." ucap Edo.


" Iya yang dikatakan sama Edo ada benarnya, kebetulan aku juga disuruh jemput Febri. Tapi sebelum jam 07.00 mungkin aku bisa datang, tapi untuk antar barang dulu ya. Baru setelah itu aku pergi untuk menjemput Febri, kau tahu cewek kan. Otomatis dandannya lama, dan mudah-mudahan saja kami tidak telat sampai di sini." jelas Putra.

__ADS_1


" Ya sudah, begitupun tidak masalah." ucap Andre.


" Kalau gitu balik yuk, udah malam ini. Besok kita harus berangkat pagi lagi kan, jangan sampai kita pada kesiangan. Dan bisa-bisa kita dihukum sangat parah, karena kita kan panitia." ucap Fatur dan semuanya pun mengangguk.


Mereka pun segera menaiki motornya, dan mereka pun kembali ke rumahnya masing-masing. Kini Putra sudah sampai di rumahnya, ia pun melihat wajah mamanya yang sedang tersenyum saat menonton televisi. Entah kenapa hatinya merasa nyaman, ketika melihat senyuman di wajah mamanya.


" Assalamualaikum ma." ucapnya kemudian langsung menyelam tangan mamanya.


" Eh anak mama udah pulang, gimana udah selesai untuk persiapan besok?" tanya Mama Putra.


" Sudah ma, ya sudah kalau begitu istirahat sana." ucap mamanya dengan rasanya.


" Baik ma." ucap Putra kemudian langsung masuk ke kamarnya.


...----------------...


Tiba-tiba saja ada panggilan video call masuk, Sasya yang tertidur pun terganggu dengan panggilan tersebut. Ia pun segera mengambil teleponnya, dan langsung mengangkatnya. Dan ternyata yang memanggil adalah Wulan ,dan di sana juga sudah tampak ada Febri.


" Halo Sya, kau pasti sudah tidur ya?" tanya Febri.


" Menurut kalian bagaimana?" jawab Sasya yang kesal.


" Jangan marah-marah dong, nanti cantiknya ilang loh." ucap Wulan.


" Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, ada apa nih jam segini kenapa malah video call. kalian kan tahu, kalau jam segini itu aku udah tidur." ucap Sasya yang kesal.


" Aku tuh mau bahas untuk kegiatan besok, lagian ini masih jam 10.00." ucap Wulan.


" Apa nggak bisa besok aja, iya ini memang jam 10.00. Tapi jam 10.00 malam bukan jam 10.00 pagi. Kalian ini, kayak nggak ada hari esok aja." ucap Sasya.


" Nggak bisa, kita harus bahas hari ini juga." ucap bulan yang kekeh.


" Ya udah deh, jadi ini apa yang mau dibahas?" tanya Sasya yang belum sadar sepenuhnya.


" Besok kalian bawa apa aja!" tanya Wulan, dan sontak saja Sasya pun menjadi emosi.


" Wulannn…" Teriak keduanya.


" Kau terserah mau bawa apa aja." ucap Sasya yang emosi.


" Iya bener itu, ganggu aja." ucap Febri yang juga emosi.


" Eh tunggu, jangan dimatikan!" seru Wulan dan membuat semuanya bingung.

__ADS_1


__ADS_2