
" Bolehkah aku mengetahui siapa dia?" tanya Uza yang penasaran.
" Aku tidak pernah mengenal dirinya, aku hanya berteman dengannya secara online saja. Dia adalah temanku yang mengajarkanku tentang banyak hal, dia mengajarkanku tentang sifat berkarakter yang tidak pernah terlihat oleh mata biasa. Ia memberitahukan ku bagaimana sikap pria yang sebenarnya, ia memberitahukan kepadaku kalau semua tata cara berbicara bisa diatur." jelasnya.
" Kalau begitu kau terlalu percaya kepada dirinya, apa yang ia katakan bisa saja adalah kebohongan. Apalagi kau belum pernah bertemu dengan dirinya, bisa saja dia melakukan itu hanya untuk dekat dengan dirimu. Dan padahal sebenarnya Ia ada di sekitarmu, tetapi kau tidak pernah menyadari kehadirannya." ucapnya.
" Yang kau katakan ada benarnya juga, tetapi aku tidak akan pernah menyesal. Karena penyesalan itu hanyalah percuma saja, kita lelah untuk menangisinya tetapi semuanya tidak akan pernah kembali seperti semula. Daripada kau menyesali sebuah hal, lebih baik kau merakit hal baru yang akan membuatmu menjadi bahagia." jelasnya dengan tersenyum.
" Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Uza yang penasaran.
" Sku mengetahui kalau gini di dalam hatimu sedang ada penyesalan yang cukup berat, kau sebenarnya sudah lama mencintai Bintang. Tetapi karena Bintang tidak mencintai dirimu, kau selalu saja berkorban dan kau rela hanya dianggap sebagai sahabat oleh dirinya. Dan kini kau telah menyalahkan dirimu sendiri atas kepergian Bintang, padahal semuanya bukanlah salah dirimu ini adalah takdir yang sudah dituliskan." jelasnya dan Uza pun kaget mendengar penuturan dari Sasya.
" Bagaimana kau bisa mengetahui apa yang sedang kupikirkan, atau jangan-jangan kau memang sudah mengetahuinya sejak awal?" tanyanya yang penasaran.
" Aku tidak mengetahuinya sejak awal, aku baru mengetahuinya dari tatapanmu barusan. Matamu mengatakan sirat penyesalan, dan di situ juga tertulis kalau kau sebenarnya mencintai Bintang." jelasnya.
" Apakah terlihat dengan sangat jelas?" tanyanya yang penasaran.
" Untuk orang awam hal tersebut tidak dapat terlihat, tetapi untuk diriku yang memang sudah sering merasakannya hal itu bisa terlihat dengan sangat jelas." jawabnya.
" Apa maksud dari perkataanmu, kau sudah sering merasakannya?" tanyanya yang bingung.
" Aku hidup dalam keluarga yang penuh dengan aturan, kata cinta hanyalah bulan belakang bagi diriku. Karena aku hanya bisa mencintai orang tersebut tetapi aku tidak bisa memilikinya, hal tersebut bukan karena tanpa alasan tetapi semuanya atas aturan yang telah diperbuat oleh kedua orang tuaku." jelasnya dan membuat Uza menjadi penasaran dengan sosoknya.
" Apa maksud dari perkataanmu ini, jujur saja aku masih tidak memahami makna dari perkataanmu?" tanyanya yang masih belum mengerti.
__ADS_1
" Aku tidak bisa menjelaskannya secara terperinci, lebih baik kamu cari tahu saja sendiri ya. Kau pasti akan mengetahuinya bila kau ingin mengetahuinya, tetapi bila kau tidak ingin mengetahuinya sudahlah jangan kau cari." jelasnya kemudian memberikan gelas berisi air karena acara makan telah selesai.
" Kau seperti menyimpan banyak rahasia, sepertinya rahasia yang kau miliki lebih banyak dari rahasia yang aku dan Bintang miliki. Bahkan di dalam matamu juga tersirat kesedihan, dan sepertinya kau tidak ingin memberitahunya kepada diriku. Aku akan menunggumu untuk memberitahunya kepada diriku, walaupun aku masih tidak tahu kapan hal tersebut akan terjadi." ucapnya dengan tersenyum.
" Jangan pernah pedulikan tentang urusan diriku, saat ini lebih baik kamu pedulikan urusan dirimu terlebih dahulu. Mungkin suatu hari nanti aku memang akan bercerita kepada dirimu, tetapi untuk waktu dan tempatnya aku masih tidak mengetahuinya. Itu semua pun akan terjadi bila kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali, tetapi bila ini adalah pertemuan kita yang terakhir aku tidak akan menyesal karena telah mengenal dirimu." ucapnya dengan tersenyum.
" Sepertinya kau adalah tipikal orang yang sangat menghargai pertemuan, dan aku sangat senang bisa mengenal dirimu. Walaupun pertemuan kita dengan cara yang tidak benar, karena pertemuan kita diawali dengan petaka." ucapnya yang memang mengatakan kebenarannya.
" Pertemuan kita memang diawali dengan petaka, tetapi petaka itu bukanlah keinginan kita. Mau sekuat apapun kita mengubah takdir kita, jika itulah yang tertulis di sana maka itulah yang akan terjadi." ucap Sasya dan Uza pun mengganggu.
" Kau memang sangat benar, aku yakin pasti banyak orang yang jatuh hati kepadamu. Tetapi kau bukanlah orang yang mudah untuk didekati, dan tidak semua orang bisa mengerti makna dan perkataanmu." ucapnya.
" Yang kau katakan memang benar, aku harap kita bisa bertemu dengan momen yang pas suatu saat nanti. Dan terima kasih ternyata kau masih bisa mengerti perkataanku, walaupun tidak semua kamu bisa mengertinya. Kalau begitu aku pergi dulu ya, sebentar lagi temanku akan datang untuk menjaga dirimu." ucapnya dengan tersenyum kemudian melenggangkan kakinya keluar dari ruangan rawat tersebut.
Tanpa disadari Sasya berselisihan dengan Edo, Edo terus saja memperhatikan Sasya tetapi tidak dengan Sasya yang hanya berjalan lurus. Uza pun menyadari tingkah aneh temennya itu, ia kini mulai menebak kalau ada sesuatu diantara keduanya. Tetapi ia tidak berani untuk mengatakannya, jadi ia hanya mengambil argumennya sendiri.
" Ya begitulah aku." jawabnya.
" Sepertinya kau sedang ada masalah ya?" tanyanya yang memperhatikan tingkah Edo.
" Tidak, aku tidak ada masalah kok." jawabnya dengan nada sendu.
" Kau tidak usah berbohong Edo, semuanya dapat terlihat di wajahmu. Saat ini kau pasti sedang ada masalah, dan tebakanku mengatakan kalau kau sedang ada masalah dengan Sasya." ucapnya dan sontak saja Edo pun menjadi kaget.
" Bagaimana kau bisa tau?" tanyanya yang penasaran.
__ADS_1
" Kan sudah ku bilang semua terlihat di wajahmu." jawabnya.
" Aku masih nggak percaya dengan omonganmu, jangan-jangan Sasya yang cerita ya." ucapnya.
" Bukan Edo, kau kan yang lebih mengena Sasya. Dia nggak akan mungkin mau cerita tentang urusan pribadinya, apalagi kepadaku yang baru ia kenal." jelas Uza.
" Yang kau katakan memang benar, jadi benar kau bisa melihat dari raut wajah?" tanyanya kembali yang penasaran.
" Ya itu lah yang ku miliki, jadi itu yang membuat ku bisa membantu Bintang selama ini. Walaupun sebenarnya ia tidak memberi tahukan ku, tapi aku bisa mengetahuinya." ucapnya.
" Tak ku sangka, kau memiliki kelebihan seperti itu. Sungguh hal yang luar biasa, tetapi apakah keluargamu mengetahuinya?" tanya Edo.
" Ya keluarga memang mengetahuinya, tetapi banyak teman-teman ku yang tidak mengetahuinya. Aku hanya memberi tahukan kepada orang-orang yang di bisa ku percaya." ucapnya dan membuat Edo terharu.
" Kita kan baru kenal, kenapa kau mau memberitahu ku. Padahal kita kita kenal dekat." ucapnya.
" Ya karena, dari wajahnya aku dapat mengetahui kau adalah orang baik. Jadi karena itu aku memberi tahukan kepada, karena aku tidak ingin berbohongm padamu." jelasnya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
__ADS_1
4. Azilla Aksabil Husna