Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 48


__ADS_3

" Yang dibilang Joko ada benarnya juga itu, kayak gitu aja suasana romantisnya dapat." ucap Fatur.


" Kalau gitu aku mohon bantuannya ya, mudah-mudahan saja aku diterima." jawab William dengan tersenyum.


...----------------...


Cahaya matahari yang indah, Wulan kini sedang sibuk membersihkan kamarnya. Tiba-tiba saja teleponnya berdering, ia pun segera mengangkat telepon tersebut.


" Halo, Ada apa ya William telepon pagi-pagi?" tanya Wulan yang merasa heran.


" Nanti siang kamu ada waktu nggak?" ucapnya yang bukan menjawab tapi justru bertanya.


" Nanti siang ya…kebetulan kosong si, memangnya ada apa?" tanya Wulan.


" Aku mau ngajak jalan, bisa kan?" ucapnya yang sebenarnya masih ragu-ragu.


" Oh gitu, bisa kok." jawabnya dengan tersenyum lebar.


" Yauda nanti siang aku jemput." ucap Wiliam.


" Oke." jawabnya kemudian sambungan telepon pun terputus.


" Hayo kenapa senyum-senyum?" tanya kakak Wulan yang baru saja datang.


" Nggak apa-apa kok kak." jawabnya yang tersipu.


" Nggak usa bohong, biar kakak tebak. Pasti itu telepon dari Wiliam kan, kakak tau kau suka sama dia dek." jelas sang kakak.


" Kakak tau dari mana, pasti ini ulah Sasya dan Febri kan kak?" tanyanya.


" Kakak tau bukan dari mereka, kakak mengetahuinya ketika melihat ekspresimu. Kan kemarin itu William sempat ke sini, di situlah kakak melihat tatapanmu yang berbeda kepadanya." jelasnya dan membuat Wulan tambah tersipu malu.


" Jadi kakak sudah tahu sejak saat itu, kenapa kakak nggak bilang dari waktu itu?" tanya Wulan.


" Kakak hanya tidak ingin kamu merasa malu dek, kakak cuma mau sampaikan satu hal padamu. Kakak tidak akan melarang engkau berhubungan dengan siapapun, dan kekerasan William adalah orang yang cukup tepat. Kakak merasakan bukan hanya kau saja yang jatuh hati kepadanya, tetapi ia juga merasakan hal yang sama padamu dek." jelasnya.


" Terimakasih atas dukungannya kak, mudah-mudahan apa yang kakak katakan adalah kebenarannya." jawabnya.

__ADS_1


" Kakak hanya ingin yang terbaik untuk mu dek, semoga saja kau bisa bahagia ketika bersama dengannya." ucap Zepri yang sangat khawatir kepada adiknya.


" Terimakasih kak." ucap Wulan kemudian langsung memeluk Zepri.


...----------------...


" Guys, aku sudah berhasil menghubungi Wulan. Kalau begitu aku mohon bantuannya sesuai dengan rencana kita semalam ya." ucap William di dalam panggilan grup tersebut.


" Kau tenang saja William, kau serahkan semuanya kepada kami. Mudah-mudahan saja kau bisa jadian dengannya, kami selalu mendukungmu." ucap Fatur.


" Terima kasih Guys." ucap William aku kemudian mematikan sambungan telepon.


Kini semuanya sedang sibuk mengerjakan rencana yang mereka rencanakan kemarin, Fatur dan yang lain sedang menyiapkan karangan bunga. Agar William dapat jadian dengan Wulan, mereka sangat berharap kalau William bisa jadian dengan Wulan. Dengan seperti itu langkah mereka untuk menyatukan Edo dan Sasya juga menjadi semakin dekat, karena Wulan dan Sasya adalah sahabat.


Di saat teman-temannya sedang sibuk menyiapkan semuanya, kini William sedang sibuk memilih pakaian yang pas untuk dirinya. Ia merasa kalau ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, dan ia tidak ingin mengecewakan momen ini. Ia sangat berharap kalau Wulan dapat menerimanya, dan akhirnya rasa yang ia pendam selama ini dapat dikeluarkan.


Tanpa disadari kini sudah pukul 11.00 siang, persiapan semuanya sudah selesai. Kini William sedang mengendarai motornya menuju rumah Wulan, ia dengan setelan yang rapi dengan celana jeansnya dan kemeja berwarna hitamnya. Tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya ia sampai di rumah Wulan, ia pun mulai mengetuk pintu rumah Wulan. Dan saat ini yang keluar adalah Zepri Kakak, dia pun segera menyalami Zepri.


Tok


Tok


Tok


" Masuk dulu William." ucapnya mempersilahkan dan William pun langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


" Wulannya mana ya kak?" tanyanya dengan melihat sekeliling.


" Wulan masih bersiap, tunggu saja sebentar lagi dia selesai." jawabnya dengan tersenyum.


" Baik kak." jawab Wiliam.


Tidak lama setelah itu bulan pun segera keluar dari kamarnya, kini ia mengenalkan setelan dress berwarna biru, yang dipadukan dengan sepatu sneaker, dan juga tas selempang berwarna hitam. Wiliam terpana melihat Wulan, ia sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Wulan.


Zepri hanya melihat tingkah aneh Wiliam, ia tau kalau Wiliam menyukai adiknya. Ia pun segera menepuk pundak Wiliam untuk menyadarkannya.


" Kakak titip Wulan, dan jangan kau buat dia sakit hati." ucap Zepri dan membuat Wiliam kebingungan.

__ADS_1


" Maksud kakak bagaimana?" tanyanya yang masih belum mengerti.


" Kakak sudah tau kau menyukai Wulan, dan kakak harap kau tidak akan menyakitinya." jawabnya dengan tersenyum.


" Makasih kak, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kakak." ucapnya dengan tersenyum.


" Yes, kak Zepri sudah merestui. Sekarang tinggal jawaban dari Wulan yang akan menjadi penentu." batin Wiliam.


Kini Wulan pun sudah sampai, ia pun langsung melihat ke arah Wiliam. Dan ia tersenyum dengan sangat lebar, hingga membuat Wiliam tidak berkata apa-apa.


" Kak Wulan pergi dulu ya." udah pulang dengan tersenyum dan kini William pun langsung tersadar.


" Ya udah hati-hati ya, ingat pulangnya jangan terlalu sore." ucap Zepri dengan menulis kepala Wulan.


" Kakak tenang aja, Wulan nggak akan pulang terlalu sore. Ya kan Wiliam." ucap Wulan meminta persetujuan dari William.


" Iya kak, kakak tenang aja ya. William akan pulangkan Wulan sebelum sore, dan William janji nggak akan ada lecet sedikitpun pada Wulan." ucapnya dan Zepri hanya mengangguk saja.


" Kau ini ya Wiliam, yauda hati-hati ya." ucap Zepri dan mereka pun segera pergi.


Kini mereka sudah sampai di taman, Wulan sangat senang karena ini adalah pertama kalinya Wiliam mengajaknya keluar. Tiba-tiba saja Wiliam menggandeng tangannya, dalam sekejap jantung Wulan berdebar dengan sangat kencang. William langsung memperhatikan wajah Wulan, ia takut kalau Wulan akan marah ketika ia menggandengnya. Melihat respon Wulan yang tidak menolak di gandeng, Wiliam pun merasa senang.


Keduanya pun segera masuk ke dalam taman dengan bergandengan tangan, parah teman-teman Wiliam yang melihat keduanya. Mereka merasa seperti obat nyamuk, mereka berpikir kalau yang mereka buat akan sia-sia saja.


" We, kalian lihat mereka." tunjuk Joko kepada Wulan dan Wiliam.


" Wah mereka sudah sampai." ucap Fatur.


" Bukan itu yang mau aku tunjukkan." ucap Joko yang merasa kesal.


" Lalu apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Fatur.


" Coba kau lihat, mereka berdua sedang bergandengan tangan." ucapnya.


" Oh iya, aku baru menyadarinya. Jadi rencana kita akan berguna apa nggak ya?" tanya Fatur yang baru menyadarinya.


" Mau berguna atau pun nggak, yang penting niat kita baik untuk membantu teman kita." ucap Putra dan semuanya pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2