
Putra dan teman-temannya pun akhirnya kembali ke tempat Edo, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Edo sedang duduk bersimpuh di tanah. Mereka pun langsung mendekati Edo, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Edo, mengapa kau bisa seperti ini. Apa yang terjadi, dan di mana Sasya?" tanya Fatur yang memperhatikan sekitar.
" Sasya telah pergi dari sini, dan hubungan kami tidak akan pernah terjalin." ucapnya dan mereka pun menjadi kaget.
" Apa jangan-jangan yang dikatakan Anaya itu benar." ucap Putra yang tiba-tiba saja mengingat perkataan Anaya kepadanya.
" Yang dikatakan Anaya memang benar, tapi bukan itulah penghalang utamanya. Karena penghalang itu sebenarnya bisa diterobos, karena kita sebentar lagi akan segera lulus SMA." jelasnya dan membuat mereka tambah bingung.
" Lalu apa yang menjadi penghalangnya?" tanya Joko yang penasaran.
" Dia adalah orang yang menjunjung tinggi persahabatan, dan seperti yang sudah kau katakan Putra. Dan tebakanmu itu memang sangat benar, alasan ia tidak ingin bersamaku karena sahabatnya menyukaiku." ucap Edo.
" Jadi Wina menyukaimu, sungguh kasihannya dirimu. Kau sangat mencintainya, tetapi dia mementingkan perasaan sahabatnya. Walaupun kini hubungan persahabatan mereka sudah hancur, semenjak kejadian kau menembaknya." ucap Putra.
" Tidak adakah jalan lain untuk kalian bersama?" tanya Joko.
" Hanya takdir yang bisa menentukan itu, tetapi untuk saat ini tidak ada harapan. Karena luka itu masih membekas, dan ia tidak ingin menyakiti hati sahabatnya untuk yang kedua kalinya. Walaupun hubungan persahabatan mereka sudah kandas, dan mereka tidak mungkin menjadi hubungan persahabatan kembali." jelas Edo.
" Kalau begitu, usaha kita selama beberapa bulan ini sia-sia saja. Aku harap kau bisa melupakannya, walaupun memang sebenarnya itu adalah hal yang sulit." jelas atur dengan menutup pundak Edo untuk menenangkannya.
__ADS_1
" Yang kau katakan memang benar, usaha kita selama ini sia-sia saja. Dan aku harus berusaha untuk melupakannya, walaupun itu memang terasa sulit. Kalian bantu aku ya, ini semua terjadi hanya karena persahabatan." jelas Edo.
" Entah kenapa aku berpikir apa yang diambil oleh Sasya adalah hal yang benar, tiba-tiba saja aku membayangkan. Bagaimana kalau kita yang terjebak dengan satu wanita yang sama, akankah kita mempertahankan persahabatan kita sama seperti dia. Atau persahabatan kita akan hancur, ya walaupun aku rasa sahabatnya juga kurang gimana gitu." ucap Putra yang tiba-tiba saja membayangkan kalau kejadian yang dialami oleh Sasya dialami oleh ia dan juga temannya.
" Tiba-tiba saja aku juga terpikirkan akan hal itu, dan aku jadi takut kalau kejadian seperti itu malah menimpa grup kita." ucap Joko.
" Sudahlah kita bahas nya nanti saja, sekarang kita bawa Edo pergi dari sini dulu. Kalian apa tidak menyadari, kalau dari tadi kita sudah menjadi pusat perhatian." ucapan dan mereka pun langsung mengedarkan pandangannya kesakitan.
" Ternyata yang kau bilang benar, kalau begitu ayo kita segera pergi." ucap Joko yang merasakan tatapan orang di sekitarnya.
Mereka pun segera membawa pergi Edo, kini mereka pergi ke rumah Putra karena memang rumah Putra yang paling dekat dari tempat tersebut. Orang tua Putra kaget melihat penampilan Edo, tetapi mereka enggan untuk bertanya. Karena sepertinya itu masih sangat histeris, dan pastinya juga tidak akan bisa menjawab pertanyaan dari mereka.
Mereka langsung menuju ke kamar Putra, kini Edo dibaringkan di tempat tidur Putra. Dan mereka pun meninggalkan Edo sendirian, agar Edo bisa menenangkan pikirannya. Dan juga bisa melupakan Sasya, walaupun hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
" Ceritanya panjang umi, tetapi yang jelas Edo baru saja ditolak." jawab Putra.
" Oh jadi begitu ceritanya, kalau begitu umi tidak akan ikut campur. Tapi umi hanya ingin berpesan satu hal, jangan sampai ada cerita cinta di tolak dukun bertindak." ucap umi.
" Umi tenang saja ya, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi." ucap Putra.
" Syukurlah, umi harap apa yang kau katakan benar. Umi tidak mau terlibat dengan hal yang namanya sirik." jelas umi.
__ADS_1
" Umi tenang saja ya, lagian bila kami melakukan hal itu juga akan mendal." jawab Putra.
" Kenapa bisa mendal?" tanya umi yang memang penasaran.
" Ya karena wanita yang dicintai oleh Edo adalah wanita yang solehah, dan sebenarnya percuma saja kamu melakukan hal tersebut. Karena Edo sebenarnya ditolak karena kata persahabatan, bisa dibilang yang suka sama Edo itu sahabatnya dia tapi ditembak sama Edo malah dia umi." jelas Putra dan uminya pun hanya tertawa saja.
" Kejadian yang memang sering terjadi, biar umi tebak. Pasti saat ini sahabatnya yang suka sama Edo itu sudah mulai menjauhinya, tetapi ia masih tetap tidak ingin menyakiti sahabatnya itu." tebak umi dan Putra pun hanya mengangguk saja.
" Umi kok bisa tahu kalau jalan ceritanya seperti itu?" tanya Putra yang penasaran.
" Sebenarnya umi juga pernah mengalami hal tersebut, tetapi alhamdulillahnya umi dan hobimu berjodoh. Walaupun kami sudah dipisahkan begitu lamanya, kami pun akhirnya disatukan kembali. Yang dulunya kami tidak ingin menjadi satu karena adanya kata persahabatan yang bisa saja rusak, tetapi setelah sekian lama hati sahabat ini sudah mulai membaik dan akhirnya umi dan hatimu pun bersatu." jelasnya dan Putra pun mengangguk pertanda mengerti.
" Mudah-mudahan saja kisah Edo bisa sama seperti Abi dan umi, walaupun sudah berpisah begitu lamanya akhirnya bisa bersatu kembali." ucap Putra dengan tersenyum.
" Mudah-mudahan saja seperti itu, umi pun sebenarnya tidak tega melihat itu seperti itu. Apalagi umi sudah menganggap Edo seperti anak umi sendiri, umi jadi ikut bersedih untuknya." jelas umi yang tanpa sadar meneteskan air mata.
" Oh iya satu lagi umi, mungkin Edo akan menginap di sini. Umi kan tahu orang tua itu jarang ada di rumah, dan aku rasa lebih baik ia berada di sini. Karena aku takut dia melakukan hal yang nekat umi, dan kami tidak ingin kehilangan dia." jelas Putra dan uminya pun mengangguk.
" Umi mengerti apa yang kau katakan, umi juga tidak masalah ya tinggal di sini. Karena umi juga sebenarnya takut terjadi sesuatu padanya, secara pemilihan kondisinya sangat mengerikan. Sepertinya ia sangat mencintai wanita itu, tetapi wanita itu menolaknya hanya karena persahabatannya." jelas sama Putra yang masih menetap Edo dari selah-selah pintu kamar.
" Terima kasih umi." ucap Putra kemudian langsung memeluk uminya.
__ADS_1
" Tidak perlu berterima kasih sayang, kalau begitu udah lanjut dulu ya. Umi hari ini hari pengajian dan mungkin pulangnya sore atau mungkin malam, kalian jaga rumah dan jaga Edo baik-baik." ucap umi Putra dengan mengelus kepala putranya.