Rela Walau Sesak

Rela Walau Sesak
Sasya 22


__ADS_3

" Sekarang semuanya perhatikan bapak, bapak akan memberikan contoh terlebih dahulu." ucap pak Rifki, kemudian langsung memberikan contoh.


" Wah, pak Rifki hebat banget. Kalau pak Rifki yang melakukannya sepertinya gampang ya." ucap Wulan.


" Iya, tapi kalau kita. Nta jadi apa kita, mungkin kayak karung beras. Hehehe." ucap Febri sambil tertawa.


" Kalian berdua ini ya, tapi yang kau bilang masuk akal juga Febri." ucap Sasya.


" Iya kan, apalagi kalau si Putra yang ngelakukan." ucapnya.


" Kau ya Feb, itu pariban mu loh." ucap Sasya dengan menggelengkan kepalanya.


" Ya terus kenapa, walaupun aku sama dia pariban. Tapi belum tentu aku akan jadian sama dia." ucap Febri dan Wulan juga ikut mengangguk, kini Sasya menjadi kebingungan sendiri dengan tingkah kedua temannya.


" Yauda deh terserah, dari pada mikirin itu. Mending kita pikirkan bagaimana kita saat tes nanti." ucap Sasya yang pasrah.


Pak Rifki pun memanggil satu demi satu, dan kini masih di giliran Edo. Edo berhasil dengan nilai penuh, dan hal itu membuat pak Rifki sangat senang. Dan ia juga berharap, semua siswanya bisa berhasil dengan nilai penuh


Tak terasa semuanya sudah selesai, pak Rifki terus memuji Edo. Dan semua siswa pun mengelilingi Edo, tetapi tidak dengan Wulan, Febri, dan Sasya. Ketiganya justru lebih memilih pergi ke kantin, dari pada mengelilingi anak OSIS yang sering di sebut pangeran sekolah itu.


Kini mereka pergi ke kantin belakang, yang tepatnya di samping mushalla. Atau lebih tepatnya di dekat lapangan voli, kini mereka bertemu dengan ibu kantin yang merupakan istri dari salah seorang guru jurusan IPS.


" Halo ibu." ucap Sasya.


" Halo juga, mau makan apa?" tanya ibu.


" Mie goreng 3 Bu." ucapnya.


" Tumben makan mie, biasanya juga nasi?" tanya ibu itu.


" Iya Bu, lagi kepingin." jawabnya.


" Kepingin apa betek?" tanya ibu itu dengan tersenyum.


" Kepingin la Bu, lagi aku mau betek sama siapa?" jawabannya.


" Sama si Edo la, hehehe." ucap ibu itu sambil tertawa dan kemudian pergi meninggalkan Sasya dan teman-temannya.


" Ya ampun Sya, ibu aja sampai tau. Pasti semua anak-anak juga tau." ucap Febri.


" Kan memang mereka uda tau, kau nggak ingat pas hari setelah dia chat aku?" tanya Sasya.

__ADS_1


" Oh iya, berita itu kan memang uda menyebar. Dan beritanya cepat banget nyebarnya, aku jadi ngebayangin gimana perasaan si Edo. Kira-kira dia malu apa nggak ya?" ucapnya dengan membayangkan.


" Mau dia malu apa nggak, itu bukan urusan ku." ucapnya.


" Kau kenapa gitu Sya, masih sensi ya?" tanya Wulan.


" Bukan gitu Wulan, aku waktu itu juga nggak ada nolak. Tapi aku memang bilang nggak tau, hehehe. Dan yang menyimpulkan nolak itu dia, dan yang nyebarin juga dia. Jadi mau dia malu atau nggak, itu semua kan ulah dia. Jadi dia harus tanggung resikonya dong." jelasnya dan keduanya hanya mengangguk.


" Hei Sya, tumben jam segini ada di sini." ucapnya yang baru saja datang.


" Memang nggak boleh ya?" tanya Sasya.


" Bukan nggak boleh, cuma tumben aja. Biasanya kan kau kesini di jam pulang sekolah, sebelum kau latihan marching band." ucap pemuda yang merupakan anak Pramuka tersebut.


" Iya, kebetulan baru siap olahraga. Dan jadi laper, hehehe." jawabnya dengan tertawa.


" Ye kebiasaan, aku yakin pacarmu nanti dompetnya pasti akan cepat kosong." ucap pemuda itu.


" Apaan si kau Wahyu, memang apa hubungannya makan sama dompet kosong?" tanya Sasya yang memang tidak mengerti.


" Ya adalah Sya, dompet dia kosong karena sering jajani kau." ucapnya.


" Eh masuk akal juga." ucap Wulan.


" Anak IPA² ini ya, ngomongnya lembut tadi pedes." ucap Wahyu yang kesal.


" Masih mending, lagian yang kami omongin itu fakta. Nah dirimu, yang kau bilang belum tentu fakta. Apa mungkin semua anak IPS⁴ begini ya." ucap Edo yang baru saja tiba, dan Wahyu pun segera pergi. Dan semua yang ada di kantin, mereka tertawa melihat Wahyu yang kabur setelah kehadiran Edo.


" Thanks ya Do." ucap Febri.


" Iya gpp, lagian kita teman satu kelas." jawabnya.


" Ya niatnya si bagus, tapi kau nggak tau kan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?" ucap Sasya yang ambigu dan membuat Edo heran.


" Memang apa yang akan terjadi nanti?" tanyanya yang penasaran.


" Sudahlah, mending sekarang kau duduk. Biarkan yang akan terjadi nanti aja." ucap Sasya, Edo pun langsung duduk di kursi kosong yang berada di samping Sasya.


...----------------...


" We, aku malu di buat di Edo." ucapnya.

__ADS_1


" Memang dia bilang apa?" tanya ketua gang mereka.


" Dia bilang anak IPS⁴, kalau ngomong nggak sesuai fakta." ucapnya.


" Jadi maksudnya kita tukang bohong gitu?" tanya ketua.


" Ya begitulah bro." ucapnya.


" Awas aja dia, Wahyu tunjukkan dimana posisi Edo tadi." ucap ketua itu yang sudah emosi.


" Bara, tenang dulu." ucap temannya yang lain.


" Nggak bisa Gani, ini masalahnya ia membawa nama kelas. Kalau tadi cuma si kutu kupret ini aja, aku nggak masalah." ucapnya.


" Enak ajak aku di bilang kutu kupret, tapi yaudalah. Lagian aku nggak akan bisa ngelawan si Edo sendirian." batin Wahyu.


" Ok, kalau begitu kita jumpai si Edo. Tapi kau tenangkan diri dulu." ucap Gani.


Setelah cukup tenang, akhirnya Bara dan juga anak IPS⁴. Mereka menemui Edo, tetapi kini Edo sedang tidak di kantin. Edo kini sedang bersama dengan teman-temannya di lapangan basket, dan mereka menatap ke arah Edo dengan sinis.


" Eh ada Bara, main basket yuk!" ajak Putra.


" Aku kesini, bukan untuk main basket. Tapi ingat marah pada Edo." ucapnya to the point.


" Lho memangnya si Edo ada buat masalah apa sama kalian?" tanya Putra yang penasaran.


" Dia buat masalah sama kami." ucapnya dan Edo pun kaget.


" Eis tunggu, aku nggak ada buat masalah ya." ucapnya yang tidak terima.


" Nggak usa bohong deh, si Wahyu uda bilang ke kami." ucap Bara yang masih terbawa emosi.


" Bara, tenangkan dirimu." ucap Gani.


" Nggak bisa Gani, ini semua harus di selesaikan sekarang." ucapnya.


" Tunggu dulu, tadi kau baru dengar penjelasan dari Wahyu. Jadi sekarang kita dengan penjelasan dari Edo." ucap Putra.


" Yauda cepat, tapi kalau memang dia yang salah kau jangan halangi lagi." ucap Bara.


" Ia, kalau perlu aku bantuin menghajar dia." ucap Putra, dan semuanya percaya.

__ADS_1


" Edo, sekarang kau ceritakan semuanya." ucap Putra.


Edo pun langsung menceritakannya, dan bukannya mereda. Emosi Bara justru semangkin tinggi, dan kini Edo pun menjadi bingung


__ADS_2