
" Belum ngerti, atau mau nonton film di kelas?" tanya Sasya dengan tatapan curiga.
" Ih dasar, susah banget bohong sama kau. Tapi yang penting aku happy, tapi tunggu anak kelas unggulan seperti mu kok bisa tau kami sering nonton film di kelas?" tanya yang penasaran.
" Ya tau lah, aku kan punya banyak teman. Dan mereka sering cerita, kalau mereka malah belajar. Merasakan akan nonton film, ya walaupun itu tidak baik ya. Tapi aku nggak akan ngelarang, karena itu adalah kemauan kalian. Dan aku nggak ada hak untuk melarang." ucapnya dan mendapat anggukan dari Citra.
" Kau memang selalu the best, pantas aja mereka pada senang berteman dengan mu. Eh ternyata kau adalah orang yang tidak suka ikut campur urusan orang lain." jelas Citra.
" Lagian untuk apa aku ngelarang coba, kan nggak ada manfaatnya bagi ku. Ya paling aku kasih nasehat, siap itu terserah pada mu karena keputusan ada di tangan mu." jelas Sasya.
" Iya si, yang kau bilang memang benar." ucapnya.
Mereka pun terus berbincang, hingga mereka tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Kini Sasya berpenampilan sangat rapih, dan ia merasa kalau ada orang yang sedang memperhatikan ia. Tetapi ia tampak cuek, dan terus berjalan menuju ruangan kelasnya.
Setibanya di ruangan kelas, Sasya sudah ditunggu oleh Febri. Kini hubungan Sasya dan Wina sudah tidak seperti dulu, dan ia pun lebih dekat Febri. Wina menatap kehadiran Sasya, tetapi ia tidak sedikitpun menyapa. Sasya merasa kalau Wina sedang memperhatikannya, dengan baiknya Sasya pun menyapa Wina.
" Hai Wina, apa kabar?" tanyanya dengan tersenyum.
Wina bukannya menjawab sapaan dari Sasya, ia justru pergi meninggalkan Sasya. Febri yang merasa kasihan dengan Sasya, ia pun akhirnya menghampiri Sasya.
" Uda Sya, nggak usa di pikirkan. Sekarang saya terpenting, kita belajar aja. Dan jangan pedulikan Wina, aku yakin suatu saat nanti Wina pasti akan sadar." ucapnya dengan menggandeng Sasya.
" Cie mangkin cantik aja, gimana uda jadian belum sama Edo." ucap Putra yang baru saja datang.
" Nggak usa di bahas napa, oh iya tolong bilangin ke Edo ya put. "Makasih karena prank ya uda kau buat, dan pedih yang kurasakan." ucapnya kemudian ingin pergi.
" Maksudmu apa?" tanya Edo yang baru datang.
" Ya makasih, karena kau sudah ngeprank aku. Tentang kasus cinta kemarin. Makasih juga uda viralin, dan makasih uda buat hubungan ku dan Wina menjadi hancur." ucapnya dengan pergi meninggalkan Edo.
Putra dan Edo merasa heran dengan sikap Sasya, Sasya berkata hal yang menurut mereka sangat aneh. Kemudian mereka berusaha mengingat kata-kata Sasya, dan mereka menemukan kata kunci prank. Keduanya kini tertawa dengan sangat hebat, karena mereka mengetahui alasan Sasya menolak Edo. Dan alasannya adalah karena Sasya mengira Edo sedang prank dia.
__ADS_1
" Edo aku ketemu kata kunci." ucapnya yang membuat Edo kaget dan juga penasaran.
" Kata kunci apa?" tanyanya yang semakin penasaran dengan perkataan Putra.
" Selama ini kita akan kebingungan ya, kenapa si Sasya nolak kau. Sampai kau galau, hari ini aku dapat kata kuncinya." ucap Putra dan membuat Edo semakin penasaran.
" Iya yang kau katakan benar, jadi apa kata kuncinya?" tanya Edo yang tambah penasaran.
" Kata kuncinya adalah…Sasya ngira kau ngeprank dia." jawabnya dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
" Apa aku nggak salah denger, Kenapa dia bisa ngira aku nge-prank dia?" tanya itu yang kebingungan.
" Kamu nanya?" jawab Putra yang sudah bosan.
" Aku serius, Eh ini malah diajakin bercanda." ucap Edo yang kesal.
" Mending tanya aja sih ke Mr. f*** boy kita." ucap Putra yang ambigu menurut Edo.
" Siapa lagi kalau bukan Fatur." ucap Putra.
" Oh iya, Fatur kan tukang gonta-ganti pasangan. Nggak sampai sebulan uda putus aja." ucapnya dengan mengingat tentang Fatur.
" Nah tu tau." ucapnya.
" Dasar Fatur, dia yang berbuat. Kenapa aku yang kenak." ucap Edo dengan tampang yang sangat mengerikan.
Putra yang melihatnya pun merasa takut, dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Edo. Karena ia tidak ingin menjadi sasaran amarah Edo, dan lebih baik ia memberi tahukan kepada teman-temannya kalau saat ini Edo sedang marah. Dan memberi tahukan agar teman-temannya menghindar dari Edo.
" We gawat." ucapnya yang baru saja sampai ke tempat tongkrongan mereka.
" Apa yang gawat Put?" tanya Joko yang kini berada paling dekat dengan Putra.
__ADS_1
" I-i-itu si Edo." ucapnya dengan gugup.
" Edo kenapa?" tanya mereka serentak.
" Edo lagi emosi berat." ucapnya.
" Loh menang apa yang membuat Edo bisa seperti itu?" tanya Fatur, yang seperti tidak merasa bersalah.
" Pakai nanya lagi kau Fatur." jawabnya dengan nada tinggi dan membuat semua orang terheran.
" Lah aku kan memang nggak tahu, kenapa kau malah marah sama aku." ucapnya lagi yang memang merasa kalau dirinya tidak tahu.
" Oke aku akan cerita sedikit ya, tadi itu kami ketemu sama Sasya…" ucapnya yang tiba-tiba saja dipotong oleh Fatur.
" Terus apa hubungannya sama aku?" tanyanya yang memotong.
" Aku belum siap ngomong Fatur, main potong aja." ucapnya yang merasa kesal kepada Fatur.
" Iya maaf ya udah lanjutin." ucapnya yang pasrah.
" Tadi itu aku ketemu sama Sasya, dan kalian tahu apa yang dibilang sama Sasya. Sasya bilang kalau hubungan persahabatannya ancur gara-gara prank yang dibuat sama Edo." jelasnya dan membuat semuanya kebingungan.
" Memang Edo ada ngeprank Sasya ya?" tanya Joko yang merasa heran.
" Sebenarnya sih nggak ada, tapi dia mengira waktu Si Edo nembak dia itu. Si Edo lagi nge-prank, makanya dia dengan santainya jawab nggak tahu berulang kali lagi." jelas Putra dan membuat semuanya tertawa dengan sangat hebat.
" Eh tunggu lalu apa hubungannya sama aku?" tanya Fatur yang baru menyadari apa sangkut pautnya dengan dirinya.
" Kan kau yang sering gonta-ganti pacar, dan kau juga sering nge-prank anak orang kan." jelasnya dan Fatur pun mengangguk.
" Eh tunggu, kalau gitu imag ku berpengaruh dong sama kalian. Dan berarti sekarang Si Edo lagi marah sama aku dong." ucapnya dengan berpikir dan semuanya hanya mengangguk saja.
__ADS_1
" Ai semengerikan itu kah, sampai Si Edo bisa ditolak. Apa jangan-jangan salah satu dari kalian juga pernah mengalami kayak Si Edo?" tanyanya untuk memastikan, awalnya tidak ada yang berani menjawab tetapi tiba-tiba saja cukup mengangguk. Dan sontak saja semua kaget dengan penuturan dari Joko.