
" Jangan ngambek dong." Ucap Sasya dengan memeluk Febri dari belakang.
" Yauda aku nggak akan marah, tapi aku mau dibelikan ice cream." ucapnya.
" Ok aman, pulang sekolah kita langsung beli." ucapnya.
William yang tiba-tiba lewat, ia merasa kalau tingkah Sasya sangat imut. Ia pun tersenyum dengan sangat lebar, dan tanpa sengaja Febri pun melihat ke arah Wiliam. Keduanya langsung bertatapan, Wiliam yang menyadari ia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Hadu kenapa sampai ketahuan si." batin Wiliam.
" Tapi tingkah mereka juga sangat imut, seperti anak kecil." ucapnya yang tidak sengaja di denger oleh Wulan.
" Tingkah siapa?" tanya Wulan yang baru tiba.
" Eh Wulan, bukan siapa-siapa kok." ucap Wiliam kemudian langsung pergi meninggalkan Wulan.
" Orang aneh, kenapa sih aku harus suka sama dia." ucapnya dengan menatap ke arah kepergian Wiliam.
" Mau di bantuin nggak?" ucap sebuah suara yang membuat Wulan kaget.
" Eh kalian berdua, buat kaget aja tau." ucapnya dengan tampang kesal.
" Hahaha, udalah sekarang mau di bantuin nggak?" tanya Febri kembali.
" Ya mau lah, tapi gimana caranya?" tanyanya.
" Nggak usa banyak tanya, kalau soal cara. Biar kami berdua yang pikirkan, gimana?" ucapnya untuk meyakinkan Wulan.
" Ok, thanks ya Gays." ucapnya dengan merangkul keduanya dan mereka pun tersenyum dengan lebar.
" Apa sih yang nggak untuk sahabat kami yang cantik, ya Sasya." ucapnya dengan meminta persetujuan dari Sasya.
" Tentu dong, apalagi sahabat kita cantik. Pastinya akan berjalan dengan lancar." ucapnya dengan mengedipkan mata genit.
...----------------...
Putra kini sudah sampai di tempat biasa ia dan teman-temannya berkumpul, ia pun menceritakan apa yang disampaikan oleh Wulan tadi. Kini keduanya menjadi tambah bingung, dan mereka tidak tau harus berbuat apa. Karena apa yang dilakukan oleh Edo, ternyata sudah membuat persahabatan Sasya dan Wina menjadi renggang.
__ADS_1
" Jadi gimana mau kita lanjutkan nggak?" tanya Putra yang penasaran.
" Ya karena semua sudah terjadi, jadi kita nggak bisa bilang apa-apa. Dan jangan buat semuanya sia-sia." ucap Fatur, dan semuanya menatap ke arahnya.
" Kenapa kalian menatap ku, sekarang ayo kita lanjutkan. Jangan sampai kita membuat masalah banyak, tetapi tidak ada hasil." tambahnya.
" Fatur, ini perasaan Lo. Bukan benda." ucap Putra dengan menatap sinis.
" Ya aku tau itu perasaan, tapi semuanya sudah terjadi. Sekarang tergantung Edo aja la." ucapnya dengan menatap ke arah Edo, dan kini semua juga menantikan jawaban Edo.
" A-aku mau lanjut, sampai kisah ku dan Sasya ketemu ujungnya." ucapnya dengan mengangguk ke arah teman-temannya.
" Ok, kalau itu keputusan mu. Kami akan membantu mu, hingga kisah ini ketemu dengan ujungnya." ucap Putra mewakili semuanya, kini semuanya mengangguk dan tersenyum. Mereka pun kemudian melakukan tos kebanggaan mereka.
...----------------...
" Jadi apa rencana kita?" tanya Sasya.
" Nggak tau, hehehe." ucapnya dengan tertawa.
" Maaf Sya, aku belum kepikiran." ucapnya masih dengan berlari.
" Terus kenapa kau memberi usul tadi, kasihan kan Wulan." ucapnya dengan masih mengejar Febri.
" Uda kalian berdua, nanti aja bahasanya. Sekarang kita masuk kelas, nanti bahaya kalau kita nggak masuk. Kalian sudah tau kan siapa wali kelas kita." ucap Wulan, kemudian berlari meninggalkan keduanya, Keduanya langsung tersentak. Dan kemudian mereka langsung berlari mengikuti Wulan menuju ke kelas mereka.
Mereka pun tiba di kelas dengan nafas terengah-engah, sontak ketiganya menjadi pusat perhatian. Dan Nizam selaku ketua kelas, ia pun menghampiri ketiga. Ia menanyai ketiganya, karena ia merasa ketiganya aneh sekali.
" Kalian kenapa?" tanyanya.
" Kami gpp kok, cuma takutnya maam uda masuk." ucap Wulan mewakili, kemudian mereka pun langsung duduk di kursi masing-masing.
" Ya ampun, ku kira ada apa." ucapnya dengan mengeluarkan kepalanya, dan semua yang berada di kelas tertawa melihat tingkah mereka.
Tidak lama setelah itu maam pun tuba, mereka pun melanjutkan pembelajaran. Tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat, bel pulang pun tiba.
" Kalian mau kemana, selesaikan itu. Saya tunggu." ucap maam, dan mau tidak mau semuanya pun kembali duduk dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh maam.
__ADS_1
Satu demi satu mereka pun keluar dari ruangan kelas, kini tinggal Wina yang ada di dalam kelas itu. Ia pun kesulitan untuk menjawab tugas yang diberikan oleh maam, dan tiba-tiba saja ia teringat dengan kebiasaannya dulu. Yang selalu mencontek dengan Sasya, dan tanpa sadar air matanya pun menetes.
Kini Wina pun sudah selesai mengerjakan tugas-tugas, ia melihat Sasya bersama dengan Febri dan Wulan. Mereka bertiga sedang bercanda ruang, di bawah pohon Depan kelas mereka. Yang kebetulan juga menghadap ke lapang basket, dan saat ini Edo sedang bermain basket bersama dengan teman-temannya.
" Seharusnya yang di sana itu aku, dan itulah kegiatan yang sering kami lakukan." batin Wina kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Senangnya bisa melihat tawa mu." batin Edo.
" Edo ayo fokus, jangan mentang-mentang ada Sasya kau jadi tidak fokus. Ayo buktikan kalau kau itu profesional, ingat sebentar lagi kita ada pertandingan basket." ucap Fatur, temannya yang juga merupakan anak tim basket sekolah.
" Iya kau benar." ucapnya dengan tersenyum ke arah Sasya, kemudian ia melanjutkan bermain basket.
Tiba-tiba telpon Sasya pun berbunyi, ia pun semangkin penasaran mendengar Sasya menyebut nama laki-laki.
" Assalamualaikum kak Alam, ada apa ya?" tanyanya.
" Memang nggak boleh, kan kakak mau telepon adik kesayangannya kakak." ucapnya dari sebrang telepon.
" Ais kakak nggak enak banget, Sasya bukan anak kecil tau." ucapnya dengan memanyunkan bibirnya.
Edo yang melihat sikap Sasya, ia pun menjadi emosi. Fatur yang melihat Edo sudah emosi, ia pun menghampiri Edo. Dan menyuruh Edo untuk bersabar, dan ia berjanji akan mencari tau siapa orang yang menelpon Sasya.
" Sabar Edo, jangan perlihatkan kau sedang cemburu. Tenang aku akan bantu kau, untuk mencari tau siapa yang di telepon sama Sasya." ucapnya.
" Beneran ya." ucapnya dengan menatap ke arah Fatur.
" Iya Edo, kapan si aku bohong sama mu." ucapnya, kemudian mereka pun melakukan tos dan melanjutkan latihannya kembali.
Tiba-tiba saja ada segerombolan wanita yang datang menghampiri Sasya, dan mereka tampak sedang berpelukan.
" Hai Sasya." ucap salah satu dari mereka.
" Hai juga, jadi kan kita?" tanya Sasya.
" Jadi dong, kan kita uda lama nggak main. Jadi kita harus main bareng, kalau perlu sampai nginep." ucap Pena.
" Enak banget ya bilangnya nginep, kau mah enak. Tapi kami langsung di serampang sama orang tua kami." ucap Ira yang kesal dan mencubit tangan Pena.
__ADS_1