
Kini mereka pun pergi ke kamar jenazah, sang perawat langsung membawa mereka ke tempat Bintang. Perawat itu langsung membukakan kain putih yang menutupi wajah Bintang, Wahyu seketika langsung histeris tik ketika melihat wajah adik sama temannya itu. Ia langsung saja memeluk sang adik dan tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya.
" Kenapa adek tinggalin kakak sendirian dek?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.
" Tenangkan dirimu Wahyu, Bintang sudah tidak merasakan sakit lagi. Dan tragedi-tragedi seperti ini tidak akan terulang kembali, Bintang akan damai di sana." ucap Yesya untuk menenangkan Wahyu.
" Siapa saja yang menjadi korban dari semua ini Tante?" tanya Wahyu yang ang penasaran.
" Ada empat orang yang menjadi korban termasuk bintang, dua korban kondisinya sudah stabil walaupun belum sadarkan diri. Sedangkan satu korban lagi kondisinya masih belum bisa dipastikan, dan dialah adalah korban dari penculikan tersebut." jelas Yesya.
" Maksud tante pacar dari bintang sampai sekarang kondisinya belum bisa dipastikan, kalau seperti itu berarti ada kemungkinan dia juga pergi menyusul Bintang." jelas Wahyu dan Yesya pun hanya menganggap saja.
" Kalau begitu aku harus menemui keluarga dari pemuda itu tante, karena semua ini terjadi karena orang yang tidak bertanggung jawab. Yang sebelumnya merupakan pacar dari Bintang, pasti saat ini keluarga pemuda itu sangat bersedih." ucap Wahyu dengan mencoba menghapus air matanya yang menetes.
" Tentunya mereka sangat bersedih, kini seluruh keluarganya juga sudah berkumpul untuk menunggu kepulihan dari Andre." jelasnya dan membuat Wahyu menjadi penasaran dengan sosok Andre.
" Jadi ternyata pemuda itu bernama Andre." ucapnya dengan menatap Yesya.
" Iya, nama pemuda itu adalah Andre. Dan saat ini kondisinya masih belum bisa dipastikan, dokter mengatakan masih ada kemungkinan kalau kondisinya bisa kritis kembali." jelasnya.
" Orang tuanya pasti sangat terpukul, temani aku untuk bertemu dengan mereka Tante." ucapnya dan Wahyu pun segera menutup lagi wajah Bintang.
Kini mereka pergi menemui Lulu, alangkah kagetnya Wahyu ketika melihat Cahaya. Orang yang sangat ia cintai, tetapi menghilang sewaktu SMP.
" Cahaya." panggilnya dan Cahaya pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Wahyu, kau Wahyu teman SMP ku kan?" tanyanya untuk memastikan sambil melihat keseluruhan.
" Iya ini aku Wahyu, apa kabar kau?" tanya Wahyu yang menyembunyikan kesedihannya.
" Kondisiku sedang tidak baik, adik ku yang paling kecil masih di dalam." jawabnya dengan menunjuk ruang ICU.
" Apa jangan-jangan yang menjadi pacar Bintang adalah adiknya Cahaya ya." batin Wahyu.
__ADS_1
" Siapa nama adikmu?" tanyanya untuk memastikan.
" Namanya Andre." jawabnya dan Wahyu pun tersentak, ia tidak menyangka kalau dugaannya benar.
" Ada apa denganmu?" tambahnya yang melihat tingkah aneh Wahyu.
" Jadi adikmu adalah Andre, pacar dari adikku." ucapnya dengan pandangan yang sudah mulai buram.
" Apaaa…" ucap Cahaya yang kaget.
Mata Wahyu kini mulai meremang, dan tiba-tiba ia pun terjatuh. Semuanya menjadi sangat kaget, Yesya pun langsung memanggil perawat. Kini ia ketakutannya, ia baru saja kehilangan Bintang dan ia tidak mau kehilangan Wahyu.
Wahyu pun di bawah ke ruang rawat yang kosong, dan kemudian mereka semua menunggu Wahyu hingga sadar. Kini Cahaya sangat kasihan dengan Wahyu, ia sudah sangat yakin kalau Wahyu sedang terpukul. Ia saja sudah sangat terpukul ketika mengetahui adiknya masih belum sadarkan diri, apalagi Wahyu yang adiknya dinyatakan meninggal.
" Sungguh kasihan sekali kau Wahyu." batinnya dengan menatap Wahyu yang masih terbaring lemas.
" Dia Wahyu, pemuda yang pernah menjadi pacarmu sewaktu SMP bukan?" tanya Amel dan Cahaya pun mengangguk.
" Tak di sangka, ternyata dunia ini sangat kecil. Sekarang kalian di pertemukan lagi, walaupun waktu pertemuannya sangat tidak tepat. Tetapi kakak yakin kau pasti bisa bersama dengannya lagi, apalagi kau masih belum bisa melupakan ia." jelas Amel.
" Kalau untuk soal itu aku masih tidak tau kak, tetapi yang aku tau saat ini ia masih dalam keadaan berduka. Dulu ia menghilang karena kedua orangtuanya meninggal, dan sekarang kami harus bertemu di saat adiknya meninggal." jelasnya.
" Ya mau gimana lagi, ini semua adalah takdir yang sudah di tuliskan. Keputusan untuk melanjutkan atau tidak ada di tangan kalian berdua, kakak hanya bisa membantu lewat doa." jelasnya dan Cahaya pun mengangguk.
Setelah sekian lama, akhirnya Wahyu pun tersadar. Kini Yesya langsung menggenggam tangannya, dengan wajah yang sangat cemas. Wahyu yang melihat Yesya ia pun berasa bersalah, Yesya begitu sangat menyayangi ia dan juga adiknya.
" Terimakasih Tante." ucapnya dan Yesya pun tersenyum.
" Kau tidak perlu berterima kasih, bagi Tante kau sudah seperti anak Tante sendiri." ucapnya dan Wahyu pun berderai air mata.
" Tante memang adalah orang yang sangat baik, Wahyu dan Bintang sudah terlalu banyak merepotkan Tante." ucapnya.
" Kalian tidak pernah merepotkan, justru Tante senang ada kalian karena Tante hanya memiliki Uza saja." jawabnya.
__ADS_1
" Uza bagaimana keadaannya Tante?" tanyanya yang baru teringat dengan Uza.
" Kondisi Uza sudah lumayan membaik, sekarang jangan pikirkan yang lain. Kita pikirkan tentang Bintang saja dulu, Uza biar urusan Tante nanti." jelasnya dan Wahyu pun mengangguk.
Kini mereka pun segera mempersiapkan pemakaman untuk Bintang, kini mereka membawa pulang Bintang kerumah Yesya. Karena Paman dan Bibi mereka yang memang tidak pernah memperdulikan mereka, sudah banyak warga yang berkumpul di rumah duka.
" Kau yang tenang ya Wahyu, insyaallah Bintang bisa Husnulhothima." ucap salah seorang warga.
" Amin Pak." jawabnya yang masih berderai air mata.
" Sungguh sangat kasihan Wahyu, ia pergi untuk mencari uang. Semuanya ia lakukan demi pendidikan adiknya, tetapi kini ia harus melihat adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi. Dan bahkan Paman dan Bibinya tidak perduli sama sekali." ucap seorang warga.
" Yang kau katakan memang benar, sungguh sangat kasihan dia." jawab warga yang satunya lagi.
" Sudahlah, jangan berbicara yang aneh-aneh di rumah duka. Tolong hargai perasaan keluarga yang sedang berduka." ucap seorang ustadz menegur para warga itu.
" Maaf pak ustadz." ucap semuanya serentak.
" Ya sudah, lebih baik sekarang kita membantu alibait. Kasihan kalau hanya mereka saja yang mengurusnya, apalagi keluarga ini sudah sangat baik. Walaupun Bintang bukan putri keluarga ini, tetapi mereka sudah sangat menyayangi Bintang dan Wahyu seperti anaknya sendiri." jelas ustadz tersebut.
Kini semuanya pun berhamburan, mereka segera membantu mempersiapkan pemakaman, dari mulai melakukan Tazia kemudian juga ada yang mengecek makan. Dan ada juga yang mempersiapkan keranda dan juga kain kafan.
Semuanya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, dan kini sudah tiba waktunya untuk menyolatkan jenazah. Wahyu pun mengambil posisi sebagai imam, walaupun ia lemas karena adik semata wayangnya harus pergi duluan meninggalkannya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna
__ADS_1